
Amela claudia sudah menjalin hubungan satu tahun lebih bersama gio yang sekarang berada di aceh,hubungan yang di halangi oleh jarak, yang tak tau rindu kapan bertemu, tentang kesetiaan yang di uji oleh waktu, tentang kasih yang di hati atau yang di depan mata, egois atau bertahan.
Amel hanya bisa mengirim pesan dan menunggu kapan waktu itu datang, waktu dimana ia bersama kekasih hatinya yang ia mimpikan hidup bersama di masa depan,
Kadang ia juga cemburu melihat orang yang jalan atau genggam tangan bersama laki laki nya, orang orang itu tertawa bahagia seperti kata pepatah dunia milik kita berdua,
Amel sudah di padang, ia sudah kembali kerja di rumah sakit ternama di padang sebagai perawat,
ia sempat ngobrol lewat vidio call dengan ayrin dan ratu,
ia juga tau tentang hubungan ratu dan rizky, ia hanya bisa berdoa terbaik untuk teman nya ratu.
ada pesan masuk dari gio,
"sayang aku besok kerja ke jakarta,
pesan singkat yang di kirim gio sebelum ia siap siap mengemasi barang barang nya.
Amel yang membaca pesan nya mengangkat satu alis dan masih merasa kenapa mendadak sekali.
"Baiklah, hati hati, klau udah sampai kabarin aku,
**balas amel dengan cepat, dan meletak kan hp nya ke saku, lalu dengan teliti memeriksa data pasien yang akan ia tangani.
__ADS_1
Sementara itu gio mencoba menghubungi abel yang tak pernah di angkat telvon atau membalas pesan nya, itu hampir membuat nya frustasi, karena tujuan nya ke jakarta hanya untuk bertemu dengan abel.
Abel sudah kesal dengan gio yang terus menganggu nya dengan menelvon berkali kali, sudah beberapa kali ia ganti nomor, tapi gio tetap saja dapat nomor nya, entah dari siapa, atau bagaimana,
Alvi yang berada di sebelah nya, tertawa kecil melihat wajah abel yang kesel, ya makin cantik, siapa yang tidak akan tertarik**,
"*pantasan gio tergila gila sama kamu bel
"maksud kamu?
"iya kamu makin cantik kalau lagi marah*,
Abel langsung tersenyum dan tersipu malu, ia langsung mencubit lengan alvi dengan manja,
"*Aaawu sakit tau, di puji itu bilang makasih bukan di cubit,
Mereka sedang berada di cafe terdekat yang sering ayrin kunjungi untuk menikmati coklat hangat saat ia lagi bete atau sendiri,
cafe ini terletak di ujung jalan, dengan suasana tenang, bernuansa alam yang cocok untuk menenangkan pikiran dengan alunan musik pop, yang galau menyentuh hati,
Seperti biasa saat ayrin merasa banyak pikiran, ia akan mampir ke cafe jatuh hati untuk menikmati coklat panas kesukaan nya.
Ayrin sudah memesan dan mencari tempat duduk untuk menikmati langit yang penuh bintang, mata nya terhenti melihat sosok yang sangat ia kenali, sedang tertawa dengan wanita di hadapan nya, sungguh pemandangan yang merusak suasana hati, langit mungkin saja indah dengan bintang bintang nya saat ini, tapi hati seseorang kini sudah mendung dan mungkin sudah hujan,
__ADS_1
Saat ayrin langsung membuang pandangan nya, seseorang itu memanggil nya, dan menghampiri nya,
"ayok rin,gabung sama kami, **ucap gadis yang memakai dress warna moka, kulit nya yang putih, menambah kecantikan nya malam ini,
laki laki yang duduk di meja 24 memperhatikan ayrin, melihat ayrin yang memakai baju kaos maron dengan celana levis, sebenar nya sangat lah cantik di mata laki laki yang memperhatikan nya dalam diam**, .
"*ga usah abel, itu meja ku,
"gabung saja*! **ucap laki laki yang sedang memperhatikan kedua wanita ini
ayrin pun duduk di sebelah alvi, begitu pun dengan abel yang duduk di hadapan mereka, suasana mulai sedikit canggung, hanya diam untuk beberapa saat, hingga abel yang memulai pembicaraan**,
.
"kalian mantan pacar ya?
**pertanyaan itu membuat ayrin dan alvi saling pandang, dan serempak bilang nggak,
Ayrin sebenar nya merasa tidak nyaman berada di sini, di tambah alvi hanya bicara dengan abel, dan mereka hanya menceritakan masa lalu mereka, sungguh membosankan **.
"**oh aku ingin pulang, " bisik nya dalam hati,
Ayrin berdiri dan tidak sengaja menyenggol gelas yang ada di meja hampir mengenai kaki nya, tapi dengan cepat alvi menarik nya ke pangkuan nya, dan langsung melihat kaki ayrin**,
__ADS_1
"kamu ga papa? ada yang kena? **tanya nya yang sedang memperhatikan kaki ayrin dengan seksama,
abel yang melihat itu tersenyum sinis, sedang kan ayrin jantung nya deg deg an hampir mau lepas, karena tangan nya masih di genggam alvi**.