Pelakor Pilihan

Pelakor Pilihan
26. Murka Lion Lie Dirgantara


__ADS_3

Liana selalu berdalih dan berkilah kalau dia sakit dan harus setiap hari keluar cekup dan terapi atas penyakitnya yang diidapnya hampir lima tahun lamanya. Padahal itu hanya alibi dan tipu muslihatnya saja.


Liana tidak mengurus dengan baik putri semata wayangnya karena terlalu sibuk dengan kekasih sekaligus selingkuhannya itu.


"Semoga Nona Angel mendapatkan perhatian khusus yang tulus dari Nyonya Gladys karena kasihan sejak lahir hingga sekarang seolah-olah kehadirannya Angel sama sekali tidak pernah diinginkan oleh Liana ibu kandungnya sendiri," batinnya Seruni baby sitter nya Angel.


Di tempat lain seseorang sedang menahan diri dari amarahnya yang sudah menggebu dan membuncah di dada dan kepalanya. Orang itu sudah sangat murka dan semakin bertambah amarahnya setelah mengetahui satu persatu kenyataan yang berhasil memukul berat hati dan pikirannya.


"Lampard!!" Teriaknya dengan wajahnya yang memerah serta kedua bola matanya yang melotot seakan-akan ingin melompat dari dalam kelopak matanya itu.


Rahangnya mengeras, urat-urat lehernya menonjol dan jakunnya naik turun hingga darahnya mendidih dan jantungnya memompa dengan sangat cepat.


Dia adalah Lion Lie Dirgantara seorang pengusaha muda sukses, ganteng tajir melintir dalam keadaan emosi yang memuncak di dalam dadanya.


Dia tidak bisa duduk setelah mengetahui dan membaca lembaran hasil tes DNA Putrinya. Dan semakin ditambah parah saat dia mengetahui jika di malam pertamanya, dia dijebak oleh istrinya sendiri.


Hari itu malam pertamanya tapi, herannya dia dan Liana minum sampai mabuk hingga hilang kendali dan kesadarannya waktu itu.


"Liana!! Aku tidak menyangka kamu itu bukanlah perempuan baik-baik tapi, kamu adalah wanita ular yang sangat berbisa dan berbahaya, aku tidak menyangka hampir lima tahun kamu membohongiku dan menipuku," geramnya dengan meremas salinan kertas foto copy hasil tes DNA tersebut dengan sangat kuat hingga menjadi bentuk buntalan kertas.


Pintu ruangan itu terbuka lebar dan masuklah Lampard ke dalamnya. Dia sedikit was-was dan ketakutan melihat rupa dari sosok CEO perusahaan tempat dia bekerja.


"Apa yang terjadi dengan Bos?" gumamnya yang sedikit gentar dan takut jika sedang melakukan kesalahan yang fatal.

__ADS_1


Lion melirik sekilas ke arah Lampard yang berdiri sambil menundukkan kepalanya. Dia sama sekali tidak berani untuk menatap Lion apa lagi untuk bertatapan langsung.


"Lampard!! Bawa kemari dokter gadungan itu yang sudah berani bermain denganku yang telah bersekongkol dengan Liana menipuku selama ini," perintah Lion yang tidak ingin dibantah sedikit pun dengan suara yang cukup menggelegar memenuhi seluruh pelosok dan penjuru ruangan kantornya.


"Baik Bos," balasnya Lamprad yang sudah ingin berbalik meninggalkan ruangan tempat itu sudah diselimuti dengan aura amarah dan kebencian yang cukup besar.


"Tunggu!! Kamu harus membawanya hidup-hidup ke hadapanku dan satu hal lagi telpon Noah untuk mulai detik ini menjadi pengawal bayangan dari Nyonya Muda Gladys dan laporkan semua yang dia lakukan apa pun dan sekecil apapun," pinta Lion yang masih berdiri di depan sudut mejanya.


"Baik Tuan perintah akan saya laksanakan sesuai dengan petunjuk dari Bos," sahutnya Lamprad.


"Pergilah dan jangan sekali-kali melakukan kesalahan apa pun itu jika tidak hidupmu yang akan jadi taruhannya," tuturnya Lion dengan penuh ketegasan.


Lampard segera keluar dan meninggalkan ruangan itu yang sudah sangat terasa mencekam yang dipenuhi dengan aroma kebencian dan dendam yang membara.


Prang… Buk…


"Aku akan membalas kalian berdua!! Aku tidak akan bisa tenang jika kalian masih bebas menghirup udara segar dan menikmati kekayaanku, aku tidak akan biarkan hal itu sampai terjadi!!" murka Lion lalu merogoh saku celananya untuk mengambil gawainya.


Dia kembali menghubungi nomor handphone anak buahnya yang bertugas mengawasi apa saja yang dilakukan oleh Liana dan Arjuna selingkuhannya.


"Ingat apa pun itu segera laporkan kepadaku dan awasi mereka jangan sampai lengah sedikit pun," jelasnya lalu segera mematikan telponnya secara sepihak tanpa basa-basi lagi.


Lion menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu mengusap wajahnya dengan gusar. Air matanya akhirnya luruh juga padahal sedari tadi ia sudah berusaha untuk menahan dan menekan dirinya untuk tidak lemah, cengeng dan kalah dari keadaan untuk jatuh kedalam keterpurukannya.

__ADS_1


"Liana aku sangat mencintaimu,apa seperti ini balasan yang aku dapatkan haaa!!!" Teriaknya sembari melempar foto Pernikahannya yang ada di atas meja kerjanya.


Prank… bruk… bedebug…


Foto dalam figura itu hancur lebur mengenai tembok yang tidak bersalah.


"Apa salahku padamu Liana?? Apa kurangnya diriku selama ini!! Dasar wanita luck nut!!" Pekiknya dengan emosi yang semakin tinggi hingga Lion mengamuk di dalam ruangan kerjanya.


Untung saja ruangan itu dilengkapi dengan fasilitas peredam suara sehingga apa pun yang terjadi di dalam sana tidak akan ada yang tahu apa yang sedang dilakukan oleh pemilik perusahaan tersebut.


Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:


...1. Pesona Perawan...


...2. Dilema Diantara Dua Pilihan...


...3. Pelakor Pilihan...


...4. Cinta CEO Pesakitan...


...5. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...


Makasih banyak all Readers...

__ADS_1


i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca...


Jangan pernah bosan yah dengan karya recehannya Fania Mikaila AzZahrah daeng Sayang...


__ADS_2