
Aku akan kaya mendadak kalau seperti ini," tuturnya yang tersenyum penuh kemenangan.
Dia segera mengambil hpnya lalu mengambil beberapa rekaman video serta foto dari mereka bertiga. Dia pun segera mengirim hasilnya ke hpnya atasannya itu.
"Bagaimana ini kalau sudah seperti ini jadinya, aku takut jika Tuan Besar marah besar dan murka setelah mengetahui apa yang sudah dilakukan oleh putri tunggalnya," lirihnya yang mulai gentar dan ketakutan menghadapi ulah Nona Mudanya.
Gladys dan Lion benar-benar menikmati masa kebersamaan mereka di kala siang itu menjelang sore hari. Harapan dan keinginan dari keduanya dari kedekatan mereka saat itu tiba-tiba muncul dan tersirat dari pikiran mereka.
"Aku berharap kamu bisa menjadi pengganti posisi Liana dalam hati dan hidupku, aku akan berusaha untuk melupakannya dan menggantikan posisi dia di dalam hatiku dengan hanya dirimu seorang," Lion membatin.
Mereka beranjak pulang ke rumah karena Angel terlelap dalam gendongan Papinya. Awalnya mereka akan menemani Angel yang awalnya sempat merengek meminta ditemani bermain di T Z tapi, karena lebih dulu tertidur sehingga, mereka memutuskan untuk pulang saja.
Mereka berjalan bergandengan tangan hingga ke arah tempat Parkiran. Gladys menatap ke arah tangannya Lion yang tiba-tiba menggandengnya berjalan beriringan.
"Ya Allah… bagaimana kalau ada yang melihat apa yang kami lakukan ini hingga ke telinganya Daddy, bisa gawat dan berabe," batinnya Gladys sambil sesekali celingak-celinguk ke kanan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang mencurigakan.
Gladys berusaha untuk melepaskan pegangan tangannya Lion, tapi usahanya gagal karena Lion semakin mengeratkan dan menguatkan genggaman tangannya.
Lion hanya tersenyum menanggapi apa yang coba dilakukan oleh istri sirinya itu.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu dari hidupku apa yang terjadi," lirihnya Lion yang sesekali melirik ke arah Gladys.
Hingga langkah mereka terhenti tepat di sekitar Parkiran. Lion melihat ke arah Gladys lalu meminta untuk segera membuka pintu mobilnya bagian belakang untuk menidurkan putrinya itu.
Gladys yang mengerti dengan maksud dari kode Lion segera berjalan cepat ke arah pintu lalu mengunci agar pintu tersebut terbuka. Lion dengan telaten dan penuh kehati-hatian menidurkan anaknya ke atas jok kursi mobil.
__ADS_1
Setelah itu dia menutup rapat pintu itu setelah memastikan posisi ternyaman yang dirasakan oleh Angel.
Gladys menyodorkan sebuah kunci mobilnya ke arah suaminya, tapi Lion hanya tersenyum dan mengembalikan kunci itu ke dalam genggaman tangannya Gladys.
Lion menolak keinginan dari Gladys untuk menjadi supir mobilnya. Karena, Lion ingin melihat dengan jelas dari dekat saat Gladys mengemudikan mobil balap yang baru beberapa hari dia beli dari luar negeri dengan harga yang lumayan cukup fantastis mahalnya.
"Aku?" Tanyanya Gladys yang menunjuk ke arah dadanya sendiri dengan wajah yang tidak percaya.
Gladys tidak percaya jika Lion memerintahkan kepadanya untuk mengendarai mobilnya hingga pulang ke rumahnya. Gladys melongok tidak percaya dengan permintaan dari suaminya itu.
Lion tidak peduli dengan tatapan matanya Gladys ataupun sikapnya yang masih tidak percaya dengan keinginannya itu. Ia masuk ke dalam mobilnya dan duduk di kursi penumpang lalu segera memasang seatbelt. Sedangkan Gladys masih berdiri mematung di tempatnya.
Lion kemudian membunyikan klakson mobil agar istrinya yang jadi manekin parkiran segera tersadar dari lamunannya. Gladys tersentak kaget mendengar suara klakson yang begitu bising dan nyaring bunyinya.
Lion tersenyum licik melihat istrinya yang sudah sangat yakin jika Gladys mengomel dengan berbagai umpatan ditujukan untuknya.
Dengan terpaksa dia masuk ke dalam mobilnya, awalnya ingin membanting pintu itu dengan sekuat tenaganya tapi, secepatnya dia menyadari dan mengurungkan niatnya karena teringat dengan Angel yang tertidur di jok belakang.
Dengan wajahnya yang ditekuk dan cemberut Gladys mulai menyalakan mesin mobilnya. Dia berniat untuk mengemudikan mobilnya dengan ugal-ugalan agar Lion kapok dan tidak akan menyuruhnya lagi dikemudian hari.
Mobil itu melesat membelah jalan raya ibu kota dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Apa yang dilakukan oleh Gladys sangat disukai oleh Lion dan sudah dia tunggu-tunggu sedari tadi.
"Aku ingin melihat langsung apa kamu benar-benar pandai mengemudikan mobil terbaru, yang hanya ada tiga di negara kita," Lion membatin lalu menatap tajam ke Gladys yang sudah santai dan enjoy dengan apa yang dilakukannya saat itu.
Gladys dengan mahir dan tangannya yang cekatan mengemudikan mobilnya dengan sangat baik seolah-olah Gladys bagaikan pembalap dan pengemudi yang sangat ahli di bidang otomotif. Lion tersenyum penuh arti melihat aksi yang dipertontonkan oleh Gladys.
__ADS_1
Untungnya rute jalan yang dilaluinya terbilang cukup sepi dari kepadatan kemacetan jalan Ibu kota Jakarta. Sehingga dia begitu asyiknya menikmati perjalanannya. Perlahan tapi pasti Gladys sudah melupakan rasa jengkel dan dongkolnya karena sudah menikmati apa yang sedang dia lakukan.
"Kalau hanya bawa mobil ini itu masalah yang sangat kecil, apa dia sengaja ingin menguji kemampuanku? Aku akan perlihatkan kepada suamiku jika aku bukan cewek bego dalam hal mengemudikan mobil asal jangan suruh saya memasak atau pegang spatula dengan pisau dapur," gumamnya sembari melirik sekilas kearah Lion.
"Tapi… kalau dia hanya officer girl apa itu sangat mustahil bisa mengendarai mobil dengan jagonya seakan-akan seperti seseorang yang sangat terampil mengemudikan mobil seolah di atas sirkuit balapan saja," Lion yang menatap Gladys dengan keyakinan yang sedikit ragu.
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
...1. Pesona Perawan...
...2. Dilema Diantara Dua Pilihan...
...3. Cinta dan Dendam...
...4. Cinta CEO Pesakitan...
...5. Ketika Kesetianku Dipertanyakan...
Jangan Lupa untuk Rate Bintang 5, Favoritkan, Like setiap Babnya dan gift seikhlasnya..
Makasih banyak all Readers...
i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca...
Jangan pernah bosan yah dengan karya recehannya Fania Mikaila AzZahrah daeng Sayang...
__ADS_1