
"Kalau hanya bawa mobil ini itu masalah yang sangat kecil, apa dia sengaja ingin menguji kemampuanku? Aku akan perlihatkan kepada suamiku jika aku bukan cewek bego dalam hal mengemudikan mobil asal jangan suruh saya memasak atau pegang spatula dengan pisau dapur," gumamnya sembari melirik sekilas kearah Lion.
"Tapi… kalau dia hanya officer girl apa itu sangat mustahil bisa mengendarai mobil dengan jagonya seakan-akan seperti seseorang yang sangat terampil mengemudikan mobil seolah di atas sirkuit balapan saja," Lion yang menatap Gladys dengan keyakinan yang sedikit ragu.
Kekaguman Lion terhadap kemampuan dan skill istrinya semakin membuatnya tersenyum terus.
"Sepertinya aku harus berterima kasih kepada Liana dan selingkuhannya karena telah mencarikan aku istri kedua yang luar biasa," lirihnya yang sesekali menatap ke arah Gladys yang masih mengemudikan mobilnya untuk pulang ke rumah mereka.
"Ya Allah.. semoga pilihan aku menikah dengan Abang Lion adalah jalan aku menuju kebahagiaan, dan Papa jika tahu dia tidak akan marah," guman Gladys dengan wajahnya yang cukup serius jika kembali mengingat kejadian apa yang membuatnya harus pergi dari kehidupan kedua orang tuanya.
Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di rumah mereka.
"Abang, tidurkan Angel di kamar aku saja, jangan biarkan di kamarnya, kasihan kalau harus sendirian di dalam kamarnya gak ada yang temani," pinta Gladys yang menyarankan agar Angel bisa tidur bersamanya.
"Waduh… aku mau tidur bersama istriku kalau begini gagal dan harus aku tunda dulu, padahal sudah kangen ingin merasakan kembali itu bersamanya," Lion membatin sembari tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
Lion segera menggendong tubuh kecilnya Angel. Lalu berjalan ke arah lantai dua menuju kamarnya Gladys. Sedangkan Gladys segera mempercepat langkahnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Dia membersihkan terlebih dahulu ranjangnya sebelum menidurkan anaknya.
"Sini Abang, tidurkan Angel di sini saja!" pinta Gladys sambil menepuk ranjang king size-nya yang masih kosong melompong.
__ADS_1
Lion segera memenuhi permintaan saran dan arahan dari istri kecilnya yang penuh dengan misteri dan kejutan itu.
"Kamu hanya Istri siri dan bukan Ibu kandungnya Angel, tapi dari hari ke hari kamu memperlihatkan jika kamu lebih baik dan layak jadi Maminya Angel walaupun kenyataannya dia bukanlah darah dagingku," Lion menatap dengan seksama Gladys sambil membatin.
Gladys sedari tadi mengetahui, jika Lion mengamatinya dan selalu memperhatikan apa yang dilakukan olehnya. Tapi, dia berpura-pura tidak mengetahuinya saja.
"Sepertinya ada yang terjadi hubungannya dengan wanita ular itu, aku yakin hal itu dari wajahnya nampak sangat jelas terlihat," Gladys membatin.
Angel sudah tidur dengan nyenyak, Gladys membersihkan seluruh tubuhnya Angel terlebih dahulu lalu mengganti seluruh pakaiannya dengan piyama tidur khusus anak-anak. Gladys membersihkan dengan tissue basah terlebih dahulu kemudian dengan air hangat agar lebih bersih lagi.
"Dilihat dari segi umur kamu memang sangat muda, tapi sikap dan tindakan kamu melebihi dari Liana dari segi apa pun itu," lirihnya Lion.
"Sepertinya aku perlu mengetesnya dengan memasak karena tersisa itu keahlian yang belum aku ketahui dari perempuan cantik dan seksi yang sudah jadi istriku," gumam Lion.
Lion berencana untuk mengetes keahlian dan kemampuan Gladys di dalam dapur. Lion ingin mengetes Gladys dengan memasak makanan yang paling dia sukai.
Silahkan mampir juga ke Novel aku yang lain judulnya:
__ADS_1
Pesona Perawan
Dilema Diantara Dua Pilihan
Cinta dan Dendam
Cinta CEO Pesakitan
Ketika Kesetianku Dipertanyakan
Jangan Lupa untuk Rate Bintang 5, Favoritkan, Like setiap Babnya dan gift seikhlasnya..
Makasih banyak all Readers...
i love you full banget deh untuk kalian yang sudah mampir baca...
Jangan pernah bosan yah dengan karya recehannya Fania Mikaila AzZahrah daeng Sayang…
__ADS_1