
Gladys dan Lion mengarahkan pandangannya ke arah orang yang datang pagi-pagi sekali ke rumah mereka. Hanya Angel yang tidak terpengaruh dengan kedatangan orang itu, karena baginya dia ada atau tidak ada baginya sama saja.
"Aku kira kamu tidak akan pulang ke sini lagi atau sepertinya kamu tidak menerima surat gugatan cerai yang aku layangkan untuk istri tidak tahu diri seperti kamu!" Sarkasnya Lion yang tanpa basa-basi langsung mengatakan apa yang sudah lama ingin dikatakannya di depan perempuan yang pernah dulu dicintai dan disayanginya itu sepenuh hatinya, tapi apa yang sudah dilakukannya tidak pernah sedikitpun dihargai.
Apa sebenarnya yang kau inginkan kasih sayangku, kesetiaanku, pengorbananku tak kau hiraukan.
Lion sudah muak dengan kelakuan mantan istrinya itu yang hanya menunggu ketukan palu mau atau tidak, setuju ataupun menolak mereka sudah resmi bercerai. Sudah banyak alasan yang cukup banyak untuk menggugat istrinya itu
Lidya berjalan ke arah Lion seolah dia tidak punya salah sedikitpun apalagi memiliki rasa malu, "Mas Lion, kenapa kamu bilang seperti itu, bukankah kita suami istri yang sah dan tidak pernah bertengkar sedikitpun, jadi kenapa Mas Lion tanpa angin tanpa sebab tiba-tiba mengatakan cerai," kilahnya Lidya.
Lion segera menghempaskan dengan kasar dan kuat tangannya Lidya yang sudah menyentuh pundaknya itu dengan tatapan matanya yang tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya dalam sekali terkaman saja.
__ADS_1
"Stop! Jangan sentuh saya tanganmu terlalu kotor untuk menyentuh tubuhku yang bersih dan steril!" Cibirnya Lion.
Gladys sama sekali tidak peduli atau menggubris perkataan dari perempuan yang memintanya dulu dengan menjebaknya untuk menikah dengan Lion padahal,ia berpura-pura saja tidak mengerti.
Lidya tidak menyangka jika dirinya ketahuan berbohong selama ini. Dirinya balik dari Eropa karena terpaksa, semua kartu ATM debet dan kreditnya diblokir oleh Lion seminggu yang lalu karena itulah dia harus dan wajib pulang untuk sementara waktu.
Tetapi, Ia tidak mengetahui jika kedatangannya sudah ditunggu-tunggu oleh Lion.
"Mas Lion kamu tidak punya alasan untuk menceraikan aku karena aku istri yang mas nikahi karena kemauan kedua orang tua kita dan juga kamu tidak punya pilihan selain harus mempertahankan pernikahan kita ini, apa kamu tidak kasihan dan peduli dengan nasib putri kita Angel Ayumi!?" Ucapnya Lidya dengan sedikit meninggikan volume suaranya itu.
Lion menangkupkan kedua tangannya di dagunya itu dengan tersenyum smirk.
__ADS_1
"Kamu bacalah berkas itu maka semuanya akan terjawab dengan jelas agar kamu tidak lagi membuang waktu dan tenaga untuk menolak perceraian kita!" Tegasnya Lion dengan menatap mencemooh ke arah Lidya.
Gladys segera membantu Angel untuk menyelesaikan sarapannya, karena anak seusianya tidak baik dan tidak cocok melihat pertengkaran orang dewasa.
"Angel sayang, sudah makannya kan? Kalau gitu Mama antar kamu sampai sekolah, salim dulu dengan papa, Mama masukin bekalmu di kotak ini," usulnya Gladis yang seperti tidak terpengaruh dengan perdebatan mereka malah mereka sangat santai dengan masalah keduanya itu.
"Ini Tuan Muda berkas yang Anda minta," imbuh Sam sambil menyodorkan dua buah map besar dan sebuah amplop kecil putih.
Lion melempar ke hadapannya Lidya tanpa perasaan sedikitpun. Hingga Lidya terhuyung ke belakang dengan serangannya tiba-tiba dari Lion yang tak terduga. Lidya melototkan matanya hingga seakan-akan akan keluar dari tempatnya kelopak matanya itu.
"Ini tidak mungkin, Mas Lion saya yakin Mas bersikap seperti ini karena dorongan perempuan itu kan!?" Teriaknya Lidya sambil menunjuk ke arah Gladys yang sudah hendak pergi ke arah pintu keluar sambil menenteng tas ransel sekolahnya Angel.
__ADS_1