
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.
See you di part selanjutnya
...~Happy Reading~...
Naya terus melangkahkan kakinya sedikit tertatih-tatih dengan wajah pucat dan sorot mata yang tampak kosong. Sesekali ia mengusap air mata yang merembes dari pelupuk matanya yang tampak sembab. Wanita muda itu juga hanya berjalan kaki untuk pulang ke rumah, tidak ada uang sepeser pun yang ia pegang.
Naya terlihat sangat menyedihkan setelah mahkotanya direnggut lalu ditinggalkan begitu saja seperti seorang wanita murahan. Yang membuat wanita itu semakin hancur mahkotanya direnggut saat ia tidak sadar karna pengaruh minuman memabukkan itu.
Dengan tangan gemetar wanita itu memutar handel pintu rumah kontrakannya setelah satu jam berjalan kaki. Beruntung ibunya masih di rawat di rumah sakit, setidaknya ibu tidak tahu apa yang terjadi pada putrinya.
Naya memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Air mata wanita muda itu semakin meluruh ketika melepaskan semua pakaian yang melekat di tubuhnya. Bercak merah kebiruan tercetak jelas di sekujur tubuhnya. Dan bagian pangkal pahanya terasa sangat sakit.
Naya menarik napas dalam-dalam berusaha menenangkan dirinya. Bukankah ia memang berniat menjual keperawanan pada pria itu, tapi kenapa ia sangat hancur dan merasa tak terima mahkotanya di renggut. Sekarang ia merasa sangat kotor.
"Tenangkan dirimu, Naya. Anggap saja ini sebagai ganti dari uang 70 juta yang kamu pakai," monolognya pada diri sendiri.
Bukannya tenang Naya menangis semakin deras dan menjadi-jadi. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan yang berguguran butiran kristal bening.
•
•
Argio mengusap wajahnya kasar. Pikirannya selalu dipenuhi wajah wanita itu. Dan ada sedikit rasa bersalah dalam benaknya namun ia berusaha menepis rasa bersalah itu. Toh, Naya yang lebih dulu menggodanya. Lagipula ia juga sudah mengeluarkan uang puluhan juta untuk membantu wanita itu. Jadi, itu ia anggap sebagai imbalan untuk uang yang ia berikan.
Baginya Naya seperti tidak jauh beda dengan wanita penghibur yang ada di club tapi bedanya wanita itu masih perawan dan belum terjamah oleh lelaki manapun.
Argio membuang napasnya kasar dan berusaha untuk fokus pada pekerjaannya kali ini. Begitu banyak lembaran kertas di atas meja kerja pribadinya. Termasuk berkas untuk menyetujui kerja sama dengan perusahaan lain.
"Argio ..."
Suara serak Hendrik membuat Argio menatap sekilas pada pria yang kini masuk ke ruangannya. Ia kembali fokus pada lembaran kertas yang harus ia tandatangani.
"Kamu ke mana saja? Tiba-tiba pergi meninggalkan Bar tanpa memberitahu ku."
"Aku ada urusan mendadak. Bisakah paman keluar dari ruangan ini? Aku butuh ketenangan." Saat ini ia tak ingin diganggu termasuk diajak bicara.
Sebelah alis Hendrik terangkat sebelah. Ia melihat ada sesuatu yang berbeda dari Argio. Ia melangkah semakin mendekat pada pria yang memfokuskan pandangan matanya pada kertas yang ia pegang.
"Apa kamu ada masalah?" ucap Hendrik.
__ADS_1
Argio memejamkan matanya sejenak. Sungguh, kehadiran Hendrik membuat kepalanya semakin pusing.
"Apa Paman tidak paham dengan ucapanku? Tolong keluar dari ruangan ini! Jika tidak ada sesuatu yang penting jangan datang ke sini!" sergah Argio sedikit emosi.
"Baiklah, aku akan keluar. Tapi sebelumnya aku ingin memberitahumu, Chelsea ingin bertemu denganmu. Malam ini kalian berdua akan bertemu."
"Sudah? Sekarang keluar!"
Hendrik menggelengkan kepalanya pelan lalu setelahnya keluar dari ruang kerja pribadi Argio. Ia merasa pria itu terlihat sangat aneh. Marah-marah tidak jelas. Sementara Argio menyandarkan punggungnya di kepala kursi. Berusaha menenangkan sesuatu dalam dirinya memanas. Bukan apa-apa, ini baru pertama kali bagi Argio menjamah seorang wanita dan itu meninggalkan rasa bersalah namun berusaha di tepis.
Tak terasa malam pun tiba. Argio turun dari mobil sedan mewahnya setelah sampai disebuah restoran bintang lima yang cukup terkenal di kotanya. Pria itu melangkah lebar penuh wibawa dengan raut wajah yang mendatar. Tampak kemunculan pria itu mencuri perhatian para wanita yang mengagumi wajah tampan yang terukir sempurna di wajah Argio.
Seorang wanita dengan gaun cukup sexy yang ia kenakan segera bangkit dari tempat duduknya ketika melihat sosok Argio melangkah mendekat ke arahnya. Ia menampilkan senyuman terbaiknya pada Argio.
"Selamat malam Argio, akhirnya kita bisa bertemu. Silahkan duduk."
Dengan suara yang begitu lembut dan senyuman yang begitu manis Chelsea tampilkan. Wanita itu membenarkan gaun yang ia kenakan.
"Langsung keintinya," ucap Argio setelah mendudukkan dirinya.
Baru saja Chelsea hendak membuka suara Argio lebih dulu berbicara. Pria itu tidak ingin terlalu lama berinteraksi dengan Chelsea. Andai bukan karna kontrak proyek besar dengan orang tua Chelsea, ia tidak akan menemui wanita tersebut.
"Sebaiknya kita mengobrol santai dulu dan menikmati hidangan di restoran ini, Argio. Ini, aku sudah memesankan minuman untukmu."
Argio yang melihat itu segera mengalihkan pandangan matanya. Entahlah, ia tak bern*afsu melihat dada milik Chelsea.
"Silahkan di minum, Argio."
Chelsea kembali mendudukkan dirinya. Bukannya minum, pandangan mata Argio mengarah ke jalan raya. Alis pria itu mengkerut ketika melihat sosok Naya tengah berjalan kaki.
Ke mana wanita itu?
"Apa yang kamu lihat?" Chelsea mengikuti arah pandang Argio.
"Tidak ada. Sebaiknya kita bahas keintinya. Waktuku tidak banyak," ucap Argio sedikit mendesak.
"Tidak usah buru-buru seperti itu Argio, waktu kita masih banyak. Aku mengajakmu bertemu hanya ingin menghabiskan waktu berdua dan makan malam bersama," balas Chelsea dengan senyuman nakalnya.
Sejak pertama kali bertemu dengan Argio ia sudah tertarik dengan pria itu apalagi setelah tahu ayahnya menjalin kerja sama sebuah proyek besar dengan Argio.
Argio terperangah mendengarnya. Ia bangkit dari tempat duduknya membuat Chelsea mendongak."Jika tidak ada sesuatu yang penting tidak perlu mengajak bertemu. Pekerjaanku sangat banyak dan waktu ku terbuang sia-sia hanya untuk makan malam bersama denganmu!"
Chelsea ikut bangkit dari tempat duduknya menatap lekat Argio."Apa salah aku ingin makan malam bersamamu? Aku hanya ingin mengenal lebih dekat lagi dengan mu."
__ADS_1
Mendengar itu membuat Argio berdecih pelan.
•
•
Ibu Tini tersenyum senang ketika Naya datang menjenguknya. Hampir satu hari penuh Naya tak menemuinya. Tapi Tini paham dengan kesibukan sang putri yang tengah bekerja.
"Kamu sakit, Nay?" tanya ibu Tini ketika menyadari wajah pucat Naya dan jangan lupakan jaket dan syal yang melingkar dileher putrinya.
Naya yang mendengar itu hanya tersenyum tipis.
"Tidak, Bu. Hanya tidak enak badan saja," balas Naya membenarkan syal yang ia kenakan untuk menutupi bercak merah yang ditinggalkan Argio.
"Ibu hanya takut kamu sakit. Kalau kamu sudah sangat lelah jangan dipaksakan untuk bekerja. Nanti bisa sakit. Kamu sudah tanya dokter Renal, kapan Ibu bisa pulang?"
Naya menggenggam tangan keriput ibu Tini."Sebentar lagi Ibu pulang tapi untuk sementara masih masa pemulihan."
"Ibu mau cepat-cepat pulang, Nay. Sudah bosan dan sumpek di sini terus."
"Iya, nanti kita pulang setelah ibu benar-benar pulih, ya."
Sambil membuang napas kasar ibu Tini mengangguk. Dada Naya terasa sesak dan perih ketika mengingat hal yang baru saja menimpanya di tambah melihat ibu membuat ia merasa bersalah.
"Maafkan Naya, Bu. Mungkin ibu akan kecewa dan marah setelah apa yang terjadi dengan Naya." bathin Naya.
•
•
"Ini, uang tambahan untukmu dan tutup mulutmu jangan sampai menyebar luaskan atas apa yang baru saja kita berdua lakukan. Dan jangan lupa minum pil penunda kehamilan. Saya tidak sudi darah saya ada dirahim mu."
Argio memberikan selembar cek dengan nominal uang yang sudah tertulis di sana. Tiba-tiba saja pria itu datang menemui Naya ke rumah sakit setelah menemui Chelsea di restoran.
"Kenapa diam? Ayo ambil!" Argio sedikit kesal dengan Naya yang hanya diam seperti orang bodoh dimatanya.
Dengan ragu-ragu wanita itu mengambil cek yang pria itu berikan. Jujur, dalam hatinya ia sangat benci dan marah dengan Argio tapi ia tidak bisa berbuat apapun. Ternyata benar, yang ber-uang selalu memiliki kekuasaan.
"Aku harap kamu pergi dari kota ini!"
Naya terdiam sejenak. Ia yang takut menatap mata tajam Argio perlahan memberanikan diri menatap pria tersebut
"Kenapa harus pindah?"
__ADS_1
"Karna aku tidak ingin melihatmu di kota ini!"