Pelayan Perawan Milik Tuan Muda

Pelayan Perawan Milik Tuan Muda
Calon Tunangan


__ADS_3

Hai semuanya! Apa kabar?


Apa masih setia menunggu lanjutan cerita ini?


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.


Bila ada typo tolong tandai


...~Happy Reading~...


...•...


...•...


...•...


...•...


"Lalu bagaimana bila anak yang dikandung Naya bukan anakmu?" Hendrik kembali melontarkan pertanyaan. Ia menatap lekat Argio.


"Dia akan mendapatkan ganjaran atas kebohongannya itu," balas Argio.


Nyatanya Argio takkan semudah itu melepaskan seseorang yang sudah bermain-main padanya termasuk menciptakan kebohongan yang menyangkut reputasinya. Jika Naya berbohong tentu ia akan memberikan pelajaran yang Naya sendiri takkan bisa melupakannya.


"Ah, sepertinya obrolan kita berhenti sampai sini. Hari ini aku harus pergi ke rumah orang tuaku. Apa Paman ingin ikut?"


Hendrik menggeleng."Tidak. Aku di sini saja. Kamu tahu sendiri, jika aku ikut ke rumah orang tuamu tentu ayahmu akan bertanya macam-macam perihal dirimu."


Argio tersenyum miring."Paman cukup berbohong saja, apa susahnya."


"Ayahmu mirip seperti dirimu tidak menyukai kebohongan."


Argio tertawa mendengarnya."Terserah paman saja."


Pria itu bangkit dari sofa lalu kembali ke kamarnya di lantai atas. Langkah Argio terhenti kala melewati depan kamar Naya. Ia melangkah mendekat lalu tangannya terulur memutar handel pintu kamar yang ditempati Naya, ia sedikit penasaran dengan keadaan wanita tersebut. Saat pintu terbuka yang Argio lihat Naya tampak tenang berbaring di kasur dengan handuk kecil yang sudah dibasahi dengan air dingin lalu diletakkan di keningnya. Sepertinya wanita itu tertidur.


Melihat keadaan Naya yang tampak baik-baik saja Argio kembali menutup pintu kamar itu, sebelum pintu kamar tertutup rapat. Suara barang jatuh membuat pergerakan tangan Argio terhenti. Ia kembali membuka pintu kamar itu lebar dan melihat Naya tiba-tiba bangkit dari kasur lalu berlari ke arah kamar mandi. Handuk kecil yang menempel di kening Naya terjatuh ke lantai.


Huek!


Wanita itu kembali memuntahkan lendir bening dari dalam mulutnya. Rasanya cairan dalam tubuhnya terkuras habis karena muntah terus-menerus sedangkan yang dikeluarkan hanya lendir bening.


Naya tersentak ketika merasakan sentuhan hangat ditengkuknya yang dipijit begitu lembut. Meskipun begitu ia tampak tak memperdulikannya. Sekitar beberapa menit, rasa mual itu sedikit berkurang. Naya membasuh wajahnya yang tampak pucat. Ia tidak tahu kenapa tubuhnya selemah ini setelah hamil.


"Akh!"


Naya berteriak histeris bahkan hampir jatuh terjengkang bila pinggangnya tidak direngkuh begitu erat. Mata wanita itu melotot kaget ketika mendapati Argio sudah berdiri dibelakangnya saat ia berbalik badan.


"Ke-kenapa Tuan ada di sini?" ucap Naya tersendat-sendat . Ia melirik tangan Argio melingkar di pinggangnya.


"Seharusnya aku yang bertanya, apa setiap hari selalu mual?" Argio balik bertanya. Sedari tadi ia memperhatikan Naya begitu lemas setelah memuntahkan cairan dalam tubuhnya.


Kini, mata Argio menelisik penampilan Naya. Dan ia baru menyadari badan wanita tersebut terlihat sangat kurus. Bahkan tampak tak menarik di matanya. Bagian bawah mata yang menghitam dan wajah yang pucat. Sangat berbeda sekali saat pertama kali bertemu dengan wanita itu sebelumnya.


Naya mengangguk lemah, mengiakan ucapan Argio. Toh, keadaannya sekarang memang seperti ini.


"Tuan bisa melepaskan saya?" ucap Naya seraya melirik tangan Argio yang masih setia melingkar di pinggangnya.


Mendengar itu Argio buru-buru melepaskan rengkuhannya. Mendadak suasana menjadi canggung.


"Sekarang cepat keluar, sudah tidak mual lagi' kan?"


Naya mengangguk dan segera melangkah keluar dari kamar mandi tapi tiba-tiba kakinya terpeleset karna lantai yang basah. Namun, dengan cepat Argio langsung menangkap tubuh ringkih itu dalam pelukannya sebelum tubuh Naya menghantam lantai dan itu membuat posisi mereka berdua sangat dekat.

__ADS_1


"Kenapa kamu sangat ceroboh sekali. Bagaimana kandunganmu kenapa-kenapa!" Pria itu tampak mengomel penuh kekesalan sementara Naya diam seribu bahasa.


Mendadak kedua kaki Naya terasa lemas dengan posisinya dalam pelukan Argio. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu dengan jelas dan aroma maskulin yang begitu candu.


"Astaga, baru kali aku bertemu dengan perempuan selemah dirimu!"


Dada Naya terasa panas dengan ucapan Argio. Ia tidak mungkin selemah ini bila tidak dalam kondisi hamil. Ingin rasanya membalas ucapan pria itu namun ia takut ucapan yang ia lontarkan akan membuat pria tersinggung.


Naya refleks mengalungkan tangannya pada leher Argio ketika dengan gerakkan tak terduga Argio mengendongnya . Pria itu keluar dari kamar mandi lalu membaringkannya ke kasur.


"Andai kamu tidak hamil dan tidak selemah ini aku tidak mungkin menggendongmu. Makanlah yang banyak, badanmu sangat kurus dan itu sangat menyakiti mataku. Dan kamu terlihat sangat jelek."


Lagi-lagi Argio berkomentar tentang penampilan Naya dan secara terang-terangan body shaming.


"Maksudnya aku jelek, begitu? Bahkan kalau aku cantik sekali pun itu bukan untuknya." bathin Naya menggerutu kesal.


Naya hanya bisa membalas ucapan pria itu dalam hati.


"Kenapa melihatku seperti itu?" ucap Argio menyadari tatapan lekat Naya padanya.


Wanita itu menggeleng. Dan mengalihkan pandangannya ke arah lain. Argio menghela napas berat.


"Hari ini aku akan pergi dan mungkin akan menginap. Bila kamu ingin apapun dan butuh sesuatu minta dengan Merry. Ini, untukmu."


Argio menyerahkan kartu kredit pada Naya membuat wanita itu mengernyit heran.


"Belilah apapun yang kamu inginkan termasuk keperluanmu tapi jangan pernah berniat kabur. Aku memperbolehkanmu keluar dari mansion ini tapi harus dikawal."


"Tidak perlu, Tuan. Aku_"


"Ambil saja. Jangan membantah!"


Argio menarik tangan Naya lalu memberikan kartu kredit itu dengan paksa.


Naya mengganguk."Tidak Tuan. Saya tidak membutuhkannya."


Argio berdecih mendengar ucapan Naya."Aku memberikan cek itu untuk memenuhi kebutuhanmu bukan untuk di simpan. Dan tidak usah pura-pura tidak butuh uang, semua orang tentu memerlukan uang."


Argio tersenyum miring menatap dalam manik coklat milik Naya. Sementara wanita itu mengalihkan pandangannya tampak risih dengan tatapan Argio padanya.




"Argio, putraku!"


Wanita berusia 50 tahunan itu langsung berhambur memeluk putranya. Caesa, wanita itu memeluk lalu mencium pipi Argio penuh kerinduan. Ia sangat merindukan putranya setelah suaminya meminta Argio untuk tinggal di kota Jakarta dan mengelola bisnis mereka.


"Bagaimana kabarmu, Nak?" tanya Caesa seraya menguraikan pelukannya.


"Aku sangat-sangat baik, Bunda. Dan aku sangat merindukan Bunda," balas Argio disertai senyuman hangatnya.


Caesa mengusap pipi putranya.


"Syukurlah kalau begitu. Sekarang ayo masuk. Bunda sudah lama menunggu kedatanganmu."


Caesa menarik tangan Argio, menggiringnya masuk ke Villa yang begitu megah.


"Seharusnya Bunda tidak perlu menunggu ku diteras, cukup duduk manis di dalam Villa."


"Tidak. Bunda tidak akan tenang sampai melihat langsung mobilmu masuk ke area Villa. Sekarang ayo kita ke ruang makan, ada seseorang yang sudah menunggumu."


Caesa membawa Argio ke meja makan dan di sana tampak seorang wanita mengenakan dress merah menyala yang tampak kontras dengan kulitnya. Wanita itu tampak menyadari kehadiran Argio dan segera bangkit dari tempat duduknya. Senyuman manis menghias wajah cantiknya.

__ADS_1


"Argio, akhirnya kamu datang juga."


Chelsea, wanita itu berhambur memeluk Argio. Wanita yang dulu mengejar dan berharap Argio menjadi kekasihnya kini telah berhasil jadi miliknya dan tak lama lagi akan menjadi suami.


Tubuh Argio diam terpaku. Sementara Chelsea begitu erat memeluk pria tersebut. Perlahan Argio membalas pelukan calon tungannya tersebut. Caesa yang melihat itu tidak bisa menyembunyikan senyum bahagiaannya dan sebentar lagi putranya akan bertunangan.


Chelsea tampak tersenyum malu-malu ketika pelukan mereka berdua terlepas ditambah ada calon ibu mertua yang memperhatikan. Mungkin ia akan menjadi wanita yang liar bila Caesa tidak ada diantara mereka berdua.


"Sekarang ayo duduk dulu."


Kini, ketiganya sudah duduk di kursi masing-masing. Dan di meja sudah terhidang beberapa menu makanan.


"Chelsea sudah lama menunggu kedatanganmu. Bahkan dia yang memasak makanan ini," ucap Caesa memuji Chelsea dihadapan Argio.


Respon Argio hanya tersenyum tipis menatap ke arah Chelsea.


"Tante bisa saja. Aku memang sudah biasa memasak," balas Chelsea.


"Bun, di mana Ayah?" Argio baru menyadari ketidakhadiran ayahnya, Arga.


"Ayahmu berada di taman belakang. Kamu tunggu di sini. Biar Bunda panggilkan."


Caesa bangkit dari tempat duduknya dan segera menuju ke taman belakang menyusul suaminya. Kini, diruangan itu hanya ada Argio dan Chelsea.


Tangan Chelsea tanpa ragu merambat menyentuh bagian paha Argio setelah Caesa benar-benar meninggalkan ruangan tersebut.


"Aku benar-benar tidak sabar kita segera menikah, Argio," ucap Chelsea terdengar sensual.


Argio menyingkirkan tangan Chelsea dengan kasar dari pahanya membuat wanita itu mendengus.


"Jaga tanganmu itu!"


Pria itu benar-benar tidak suka wanita yang terlalu liar dan agresif seperti Chelsea. Seharusnya ia tidak menyetujui permintaan bundanya untuk menjadikan wanita ini istrinya. Ia sudah dewasa dan mampu memilih wanita yang tepat menjadi istrinya namun perjodohan yang orang tuanya ciptakan tidak bisa ditolak.


"Aku calon istrimu dan tidak masalah menyentuh _"


Ucapan Chelsea terjeda ketika suara dering ponsel milik Argio yang berbunyi. Argio langsung mengangkat sambungan telpon.


"Ada apa?"


"Tuan, Nona Naya dilarikan ke rumah sakit," ucap Merry dari sambungan telpon. Suara Merry terdengar sangat panik.


Raut keterkejutan tampak jelas dari wajah Argio membuat sebelah alis Chelsea terangkat. Wanita itu tampak penasaran dengan apa yang dibicarakan Argio melalui sambungan telpon tersebut.


"Bagaimana bisa?"


"Saya tidak tahu, Tuan. Baru sebentar saya tinggalkan, Nona Naya sudah pingsan. Wajahnya juga terlihat sangat merah."


Argio mengusap wajahnya kasar. Baru ia tinggalkan beberapa jam masalah sudah terjadi menimpa wanita itu.


"Sekarang dia sudah di rumah sakit?"


"Sudah, Tuan. Sekarang sedang diperiksa dokter."


"Apa terjadi sesuatu?" tanya Chelsea ketika sambungan telpon sudah Argio matikan.


"Tidak ada," balasnya singkat.


_____


Bagaimana dengan part ini? Mau lanjut?


See you di part selanjutnya, ya:)

__ADS_1


__ADS_2