
Naya mengkerutkan keningnya ketika merasakan hawa dingin yang membuat tubuhnya sedikit mengigil. Perlahan ia membuka mataqq, pandanganya tampak kabur namun perlahan semuanya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit kamar yang tampak asing baginya.
Perlahan ia bangun dari kasur tempat ia berbaring sekarang. Naya mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut kamar yang didominasi warna abu-abu. Kamar ini begitu luas dan mewah.
"Kenapa aku ada di sini?" gumamnya kebingungan.
Dengan badan yang terasa lemas Naya bangkit dari kasur. Sambil melangkah ke pintu keluar kamar, Naya berusaha mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi tapi semakin ia berusaha mengingatnya yang ada kepalanya semakin pusing.
Naya memutar handel pintu. Keningnya mengkerut kala melihat bagian luar kamar yang tak asing, ia seperti pernah ke sini. Ia melangkah mendekati bagian balkon dalam mansion tersebut. Matanya menatap ke lantai bawah di mana para pelayan tengah sibuk mengerjakan tugasnya. Dan matanya tertuju pada Merry yang tengah bicara dengan salah satu pelayan.
"Kenapa aku ada di mansion, Argio?"
Naya tampak terkejut ketika tahu dirinya tengah berada di mansion Argio. Ia mulai mengingat yang sebelumnya terjadi sampai berakhir di tempat ini. Naya melangkah mundur, raut wajah wanita itu tampak panik.
Namun, saat melangkah mundur punggungnya menghantam sesuatu membuat Naya refleks berbalik badan. Mata wanita itu membulat sempurna ketika melihat sosok pria yang selama ini ia hindari dan kini berdiri tepat di depan matanya.
"Mau ke mana?" tanya Argio berdiri tegap di hadapan Naya.
"A-apa maksud Tuan membawa saya ke sini? Bukankah urusan kita sudah selesai? Saya sudah menepati janji untuk pergi sejauh mungkin dari anda!" balas Naya mendongak menatap pria di hadapannya yang lebih tinggi darinya.
Argio sedikit memajukan wajahnya pada Naya yang refleks langsung mundur beberapa langkah.
"Iya, aku memang ingin kamu pergi jauh dariku. Tapi situasinya sekarang kamu sedang hamil. Aku ingin memastikan anak yang kamu kandung benar-benar anakku atau tidak."
Suara Naya tercekat ditenggorokan mendengar ucapan Argio. Ia mengira pria itu tidak akan peduli dengan kehamilannya bahkan berpikir pria itu tetap mengelak anak yang ia kandung darah daging pria itu. Sepertinya Argio takut ia membohonginya.
"Selama kamu hamil, kamu akan tinggal di sini sampai hasil tes DNA keluar. Bila anak yang kamu kandungan terbukti anakku, aku akan bertanggungjawab tapi jika bukan ... " Argio semakin memajukan wajahnya membuat Naya membuang muka."Kamu akan menerima akibatnya," sambung Argio tersenyum menyeringai.
Perlahan Naya memberanikan diri menatap manik hitam kelam Argio."Untuk apa melakukan tes DNA? Jelas-jelas anak yang saya kandung darah daging Tuan sendiri!"
Naya sangat tersinggung dengan ucapan Argio yang seperti menganggap ia wanita murahan yang bisa tidur dengan pria manapun hingga berpikir anak yang ia kandung bukan anaknya.
"Kita tidak bisa menebak sifat asli seseorang termasuk sesuatu yang dia sembunyikan. Dan bisa saja itu bukan anakku," balas Argio seraya melirik perut Naya.
Wanita itu menggeleng kuat. Ia melangkah mundur menjauh dari Argio. Namun, sepertinya isi pikiran Naya begitu mudah dibaca oleh Argio ketika Naya tiba-tiba saja berlari menjauh dari Argio. Pria itu segera mengejar Naya yang berlari menuju tangga.
"Akh ... lepaskan aku!"
Naya memberontak ketika Argio mengangkat badannya seperti karung beras. Pria itu tampak tak peduli dengan suara teriakan dan pukulan Naya dipunggungnya. Ia melenggang dengan santai membawa wanita itu ke dalam kamar.
"Akh!" Wanita itu terpekik ketika Argio menjatuhkannya ke kasur. Aroma maskulin yang terasa lembut menusuk ke indra penciuman wanita itu.
Naya beringsut menjauh dari Argio. Orang-orang asing menculiknya lalu membawanya pada pria brengsek ini. Ia merutuki tiga pria yang sudah membawanya ke sini.
__ADS_1
"Aku tidak ingin tinggal di sini! Aku ingin pulang."
Naya turun dari kasur namun lagi-lagi Argio mengangkat tubuh mungil itu lalu menghempaskan ke kasur empuk tersebut.
"Kamu tidak boleh pergi sampai tes DNA itu dilakukan," desis Argio dengan alis menukik tajam."Dan selama kamu hamil, kamu tidak boleh keluar dari mansion ini. Semua keperluan dan kebutuhanmu akan aku penuhi," jelas Argio.
Naya menggeleng, menolak keputusan Argio. Mau senyaman dan semewah apapun tempat yang ia tinggali sekarang ia tetap ingin pulang ke rumah. Ia tidak mungkin terpenjara di mansion ini dan meninggalkan ibunya.
"Aku tidak bisa. Bagaimana dengan ibu_"
"Tenang saja. Aldo sudah membereskan semuanya. Dan ibumu akan baik-baik saja, anak buahku akan menjaganya," sela Argio.
Argio tersenyum tipis melihat wanita di hadapannya tampak kehabisan kata-kata.
"Nikmati saja semua fasilitas yang ada di sini. Kamu di sini bukan pelayan tapi tamu. Pelayan akan memberikan apapun yang kamu inginkan."
"Jangan pernah berniat kabur dari sini." sambung Argio.
Setelah mengatakan itu Argio berbalik badan lalu melangkah keluar dari kamar meninggalkan Naya yang tampak melamun dengan tatapan kosong. Argio tidak akan melepaskan Naya sampai semuanya terbukti.
•
•
Argio tampak sudah duduk di kursi dekat meja makan. Mata pria itu fokus pada ipad yang ia pegang. Memeriksa email yang masuk. Satu hari ini ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bekerja. Ia tidak memiliki waktu sekadar liburan untuk menghilangkan kepenatan dengan dunia kerja yang membuat kepalanya sedikit pening.
"Makanannya sudah siap, Tuan," lapor Merry berdiri di samping sang majikan.
Argio menoleh sekilas menatap Merry lalu beralih menatap makanan yang tersaji di atas meja.
"Panggil perempuan itu untuk turun ke bawah."
"Baik, Tuan."
Merry segera menaiki lantai atas menuju kamar yang Naya tempati. Tak berselang lama Merry kembali ke lantai bawah bersama Naya yang tampak canggung. Beberapa pelayan menatap ke arahnya. Tentu menjadi pertanyaan besar dibenak mereka, ia yang merupakan mantan pelayan di mansion ini tiba-tiba tinggal di sini dan perlakuan seperti majikan.
"Silahkan duduk Nona Naya."
Naya tampak terkejut dengan sebutan Merry padanya. Pelayan berusaha 45 tahunan itu tersenyum ramah padanya. Dengan ragu-ragu Naya duduk di kursi yang berhadapan langsung dengan Argio.
Pria itu meletakkan ipad miliknya di meja. Ia menatap lurus ke arah Naya.
"Berapa usia kandunganmu?"
__ADS_1
Naya tampak seperti orang linglung ketika Argio melontarkan pertanyaan secara tiba-tiba.
"Sa-saya tidak tahu."
Jawaban seadanya yang dilontarkan Naya membuat Argio menghela napas berat.
"Besok Aldo akan mengantarkanmu ke rumah sakit atau dokternya langsung dipanggil ke sini. Jaga baik-baik kandunganmu. Minta yang kamu inginkan, tidak perlu malu-malu. Pelayan siap memberikan apapun yang kamu minta," papar Argio panjang lebar.
Dari setiap kata-kata yang terlontar dari mulut pria itu tersirat perhatian di dalamnya. Naya menatap pria itu sejenak. Sementara Argio mengisi piring kosong miliknya dengan makanan yang tersedia di atas meja.
"Ingin saya ambilkan Nona?" tawar Merry membuat Naya tersentak.
"Aku bisa sendiri," tolaknya.
Naya mengambil mangkok kosong di sampingnya lalu menuangkan soup daging. Ia hanya mengambil sedikit.
Argio melirik soup daging yang Naya ambil.
Huek!
Baru satu suapan sudah membuat perut Naya terasa bergejolak. Tanpa memikirkan sopan santun di hadapan Argio, Naya berlari ke arah wastafel lalu memuntahkan makanan yang masuk ke dalam mulutnya.
"Nona, anda baik-baik saja?" Merry memijit tengkuk Naya dengan penuh kekhawatiran.
Naya membasuh area mulutnya lalu menegakkan tubuhnya.
"Aku tidak apa-apa," ucap Naya tersenyum tipis.
Argio yang sedari tadi memperhatikan kini bangkit dari tempat duduknya lalu melangkah menghampiri Naya.
"Merry, buatkan makanan yang lain_"
"Tidak perlu Tuan!" Naya dengan cepat menyela ucapan Argio."Ini efek hormon kehamilan saja," ucap Naya yang kini tertunduk.
"Sekarang kamu ingin makan apa? Tidak mungkin kamu tidur dengan perut kosong."
"Saya tidak ingin makan, saya ingin istirahat saja."
"Tidak, harus tetap makan. Merry suruh pelayan di dapur membuatkan bubur untuknya. Buat seenak mungkin," perintah Argio yang diangguki Merry.
"Terima kasih, Tuan. Tapi seharusnya_"
"Tidak perlu mengucapkan terima kasih. Aku baik padamu karna kamu sedang hamil!"
__ADS_1
Mendengar ucapan Argio membuat Naya tersenyum kecut. Sepertinya ia terlalu percaya diri bila pria itu tulus baik padanya.