Pelayan Perawan Milik Tuan Muda

Pelayan Perawan Milik Tuan Muda
Naya Bukan Pelayan!


__ADS_3

Hai semuanya! Aku kembali lagi.


Semoga semuanya terhibur dengan cerita ini.


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.


Tandai kalau ada yang typo:)


...~Happy Reading~...


...•...


...•...


...•...


...•...


Naya terbangun dari tidurnya dengan wajah yang berseri-seri. Tidur wanita itu tadi malam sangat nyenyak. Ia menapakkan kedua kakinya ke lantai marmer yang terasa dingin di telapak kaki. Namun, baru hendak bangkit Naya tertegun sejenak, ia baru ingat tadi malam ia tertidur di mobil karna rasa kantuk yang tak tertahankan. Tapi sekarang ia sudah berada di kamar. Siapa yang membawanya ke kamar dan membaringkan di kasur?


"Nona Naya ..."


Suara Merry membuat lamunan Naya buyar. Wanita yang mengenakan dress bermotif bunga itu tersenyum hangat pada pelayan pribadinya tersebut.


"Ada apa, Bi?" tanya Naya ketika Merry menghampirinya.


"Hanya ingin menyampaikan perintah tuan Argio untuk menyuruh Nona Naya segera bersiap-siap untuk ikut pergi bersama. Tapi sebelumnya Nona sarapan terlebih dahulu."


Merry melangkah mendekati meja lalu meletakkan nampan berisi susu hangat dan roti panggang di sana.


"Memangnya tuan Argio ingin mengajak ke mana?" Naya kembali bertanya.


"Kalau tidak salah untuk ikut menemani nona Chelsea membeli gaun di butik. Karna sebentar lagi pertunangan  tuan Argio dan nona Chelsea akan segera digelar. Dan hari ini saya juga akan membantu-bantu pelayan lain menyiapkan dekorasi untuk pesta pertunangan nanti, Nona."


Naya terdiam. Untuk apa ia diajak membeli gaun sedangkan ia bukan siapa-siapa dari keluarga ini.


"Nona."


Panggilan Merry kembali membuat Naya tersentak.


"Iya, ada apa, Bi?"


"Jangan lupa diminum dan dihabiskan sarapannya. Oh ya, tuan Argio juga mengatakan Nona Naya harus habis minum susunya. Karna itu susu khusus untuk ibu hamil."


Naya langsung melirik ke arah segelas susu di atas meja. Ia tidak heran dengan perhatian yang diberikan, karna pria itu baik padanya karna ia sedang hamil.




Setengah jam berlalu akhirnya Naya sudah rapi dengan dress merah polos setelah sarapan pagi dan mandi. Wanita itu membiarkan rambut panjangnya sebatas bahu tergerai. Tak lupa mengolesi wajahnya dengan bedak dan lipstik setidaknya wajahnya tidak terlihat pucat. Naya segera keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga menuju ke ruang tamu.

__ADS_1


Saat sudah sampai di lantai bawah Naya sudah melihat pemandangan di mana Argio dan Chelsea duduk di sofa ruang tamu. Chelsea tampak menyandarkan kepalanya mesra dibahu kokoh Argio yang tengah sibuk mengutak-atik ponselnya.


"Tuan ..."


Suara lembut Naya membuat Argio mengalihkan pandangannya. Pria tersebut menatap sejenak Naya. Wanita itu menundukkan kepalanya ragu untuk bertatapan dengan Argio. Chelsea mendengus melihat Naya.


"Kenapa kalian belum pergi ke butik?"


Pertanyaan Caesa yang datang bersama suaminya membuat ketiganya menatap ke arah sepasang suami-istri itu. Wajah Chelsea yang terlihat masam kini berubah berseri-seri.


"Ini, kami bertiga akan berangkat Tante," ucap Chelsea dengan semangat.


Kening Caesa mengkerut. Ia bertukar pandang dengan suaminya, Arga. Lalu kembali menatap Chelsea.


"Bertiga? Bukannya hanya berdua, ya?"


"Tidak, Tante. Aku sengaja mengajak Naya. Kasihan dia sepanjang hari hanya menghabiskan waktunya di mansion," balas Chelsea terlihat sangat baik.


"Baguslah. Biarkan Naya ikut dengan Argio dan Chelsea," ucap Arga pada sang istri. Padahal Caesa ingin mengobrol banyak dengan.


"Ya sudah. Kalian bertiga hati-hati, ya."


Chelsea mengangguk semangat dan Naya tersenyum. Argio hanya diam seolah tak semangat untuk menemani calon tunangannya. Ada beberapa pekerjaan dan rapat yang harus di cancel hanya untuk menuruti keinginan Chelsea.


"Apa Mas yakin Argio akan bahagia dengan perjodohan ini?" tanya Caesa menatap sendu ketiganya yang sudah menghilang dari pandangan mata.


Arga mengusap-usap tangan Caesa yang melingkar dilengannya."Kenapa tidak, Sayang. Bukankah kita dulu dijodohkan dan sekarang kita berdua saling mencintai."


"Itu beda Mas. Kita menikah karna sama -sama menyetujui pernikahan tersebut," balas Caesa.


Meski sudah bertahun-tahun menikah kemesraan diantara keduanya tidak pernah memudar.




"Ambil ini!"


Chelsea dengan gerakkan tak terduga melempar tasnya ke arah Naya, beruntung Naya dengan sigap menangkap tas yang dilempar. Melihat hal itu membuat Argio memberikan lirikkan tajam.


"Apa?" Chelsea menatap Argio yang tampak tak suka dengan apa yang ia lakukan pada Naya."Aku mengajak Naya untuk membawa barang-barangku! Apa hal ini membuat kamu marah?" 


Chelsea menatap menantang pada Argio. Pria itu menatap Chelsea sejenak dengan mata yang menyorot tajam dan setelahnya memilih masuk ke dalam butik tanpa ingin memulai perdebatan dengan wanita tersebut. Chelsea segera menyusul Argio.


Saat memasuki butik yang cukup terkenal di kota tersebut ketiganya di sambut ramah oleh karyawan butik.


"Selamat datang di butik kami, Tuan Argio," ucap karyawan itu begitu ramah. Bahkan karyawan di butik ini sangat mengenal Argio karna Caesa selalu berlangganan di butik ini.


Argio mengangguk sebagai respon sementara Chelsea menatap liar ke segala penjuru dalam butik tersebut. Menatap gaun-gaun elit dan fashionable yang tersusun rapi. Chelsea melangkah mendekati gaun-gaun indah yang terlihat elegan dan anggun.


"Argio, menurutmu ini bagus tidak?" Chelsea memperlihatkan gaun berwarna merah menyala dengan renda yang rendah dan sangat kontras dengan warna kulit putihnya.

__ADS_1


Argio mengangguk mengiakan.


"Tapi menurutku ini terlalu sederhana. Bagaimana dengan gaun yang ini?" Wanita itu kembali memperlihatkan gaun berwarna gold tanpa lengan dengan taburan kristal.


Lagi-lagi Argio mengangguk seperti robot. Chelsea yang melihat respon biasa Argio membuat ia kesal. Ia merasa Argio seperti tidak benar-benar menyukai gaun yang ia pilih.


"Gaun yang sangat mahal dan mewah dibutik ini apa saja?" tanya Chelsea pada karyawan butik yang setia berdiri di sampingnya.


"Banyak, Nona. Mari ikut saya, akan saya perlihatkan gaun-gaun yang anda inginkan."


Chelsea mengikuti karyawan tersebut tanpa memperdulikan Argio. Bukannya senang ditemani Argio tapi malah dibuat kesal. Setelah kepergian wanita tersebut Argio melirik Naya yang sejak tadi memperhatikan gaun-gaun yang tertata rapi.


"Gaunnya sangat indah."


Naya menyentuh gaun berwarna biru malam itu. Kedua matanya melebar sempurna melihat harga yang tercantum pada gaun yang ia sentuh tersebut sontak ia langsung melepaskannya.


"Kamu menginginkannya?"


Pertanyaan seseorang membuat Naya terkejut dan berbalik badan, ia mendapati Argio sudah berdiri dibelakangnya.


"Ti-tidak, saya hanya melihat-lihat saja," balas Naya setelahnya hendak beranjak dari hadapan Argio, namun pria tersebut mencekal pergelangannya.


"Kenapa?" Kening Naya mengernyit.


"Tidak apa-apa." Argio langsung melepaskan cekalannya. Naya menatap heran pada Argio.


"Naya! Di mana kamu?" Teriakkan menggelegar Chelsea membuat Naya buru-buru menghampiri wanita tersebut.


"Ada apa, Chelsea?"


"Kamu dari mana saja? Aku mengajakmu di sini untuk membawa barang-barangku bukan keluyuran!" sentak Chelsea memicingkan matanya tajam.


Wanita berambut pirang itu menyerahkan beberapa gaun pada Naya. Chelsea memperlakukan Naya seperti pelayan.


"Ikuti aku, dan jangan sampai menjatuhkan gaun-gaun itu ke lantai. Paham?" 


Naya mengangguk. Ia sama sekali tidak keberatan membawa-bawa barang milik Chelsea. Walaupun sikap wanita tersebut cukup kasar padanya. Naya mengikuti Chelsea ke mana pun wanita itu pergi sambil membawa gaun-gaun yang akan dibeli Chelsea.


Chelsea tersenyum puas melihat Naya tampak kesusahan membawa begitu banyak pakaian miliknya. Namun, senyuman Chelsea langsung memudar ketika Argio merampas gaun-gaun yang Naya pegang.


"Tidak perlu membawa gaun sebanyak ini. Kamu sedang hamil, apa kamu lupa?" desis Argio berbisik tajam di telinga Naya.


Argio langsung menyerahkan gaun-gaun itu pada karyawan butik  untuk membawanya.


"Lebih baik Naya tidak usah diajak bila hanya membawa barang milikmu. Dia bukan pelayan!" Argio menatap marah dengan alis yang menukik tajam pada Chelsea. Pria itu benar-benar tak suka dengan sikap buruk Chelsea pada Naya. Apalagi Naya tengah hamil.


"Apa salahnya? Aku hanya meminta bantuannya __"


"Apapun alasannya aku tidak mengizinkannya!"


Para karyawan yang melihat itu mengantupkan bibirnya rapat tanpa ingin melerai perdebatan adu mulut itu. Chelsea merasa aneh dengan sikap Argio yang begitu memberikan perhatian berlebih pada Naya.

__ADS_1


______


Menurut kalian bagaimana dengan cerita ini? Terkadang aku takut cerita ini kurang diminati pembaca dan membosankan bagi kalian😁


__ADS_2