Pelayan Perawan Milik Tuan Muda

Pelayan Perawan Milik Tuan Muda
Kembali Bertemu


__ADS_3

Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.


See you di part selanjutnya


Tandai bila ada typo



...


...~Happy Reading ~......


Langkah Naya terhenti ketika sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di hadapannya. Tak lama pintu mobil terbuka dan seseorang keluar dari sana. Mata Naya membulat sempurna ketika melihat wajah orang tersebut. Ia melangkah mundur dengan perasaan diliputi ketakutan dan cemas.


Argio menatap lurus ke arah Naya dengan tatapan yang dingin. Ia melangkah lebar ke arah wanita tersebut yang gemetar ketakutan. Naya hendak melarikan diri namun dengan cepat pria itu mencekal pergelangan tangannya.


"Lepaskan aku!" Naya berusaha melepaskan cengkraman tangan Argio di pergelangan tangannya.


"Apa kamu hamil?"


Tanpa ingin basa basi Argio langsung melontarkan pertanyaan membuat tubuh Naya seketika membeku dengan wajah yang menegang. Kedua matanya bergulir. Dari mana pria itu tahu ia hamil?


"A-aku tidak hamil. Lepaskan aku. Aku tidak ingin berurusan denganmu lagi!" ucap Naya sedikit lantang.


Senyuman miring terukir di bibir Argio. Namun, itu terlihat begitu menyeramkan bagi Naya. Wanita itu meringis ketika Argio sengaja memperkuat cengkraman tangannya di pergelangan tangan Naya.


"Benarkah? Kamu kira aku percaya? Anak siapa yang kamu kandung itu?"


Naya menatap sengit Argio. Pertanyaan pria itu seolah merendahkan dirinya seolah ia wanita murahan yang bisa tidur dengan pria manapun. Argio menatap lekat wajah Naya yang memerah karna marah.


"Kenapa diam? Apa karna terlalu banyak laki-laki yang menidurimu?"


Wajah Naya semakin merah padam dengan ucapan Argio yang semakin merendahkan dirinya.


"Iya! Aku memang hamil tapi anak yang aku kandung hasil perbuatanmu!" sembur Naya penuh emosi dengan pancingan Argio yang memojokkan dirinya.


Aura wajah Argio menggelap dan semakin datar. Naya yang menyadari itu mengalihkan pandangannya. Kenapa ia harus mengakui dirinya tengah hamil.


"Apa kamu yakin itu anakku? Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk meminum obat kontrasepsi agar darah dagingku tidak tumbuh dirahim mu!"


Naya mengigit bibir bawahnya kuat. Ia diam seribu bahasa. Ia tahu, ini semua salahnya tapi sungguh ia lupa untuk mengonsumsi obat penunda kehamilan itu. Ia mengira ia tidak akan hamil.


"Jawab!"


"A-aku lupa meminumnya ..."


Naya yang awalnya memberanikan diri melawan Argio kini menciut. Sikap Argio lebih mendominasi membuat Naya tidak berdaya dibuatnya ketika pria itu menggertak.

__ADS_1


"Benarkah? Atau ini hanya akal-akalan mu saja untuk membalas dendam?" tuding Argio semakin menajamkan tatapannya. Karna tidak menutup kemungkinan wanita itu ingin merusak reputasinya dengan cara seperti ini. Dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi.


Dengan cepat Naya menggeleng, membantah tudingan Argio. Tidak ada sedikit pun dalam pikirannya untuk melakukan balas dendam walau perbuatan pria itu sudah sangat keterlaluan padanya.


Argio menghela napas kasar."Aku tanya sekali lagi. Anak siapa yang kamu kandung?"


Lagi-lagi Argio kembali menanyakan itu. Ia tidak yakin anak yang dikandung Naya benar-benar darah dagingnya karna ia menyamakan Naya seperti wanita penghibur lainnya yang selalu siap melayani pria di atas ranjang. Argio berpikir semua wanita bisa ia dapatkan untuk menghangatkan ranjangnya dengan uang.


Sakit. Hati Naya terasa sangat sakit dengan pertanyaan pria itu. Pertanyaan yang sangat merendahkan dirinya.


"Saya hanya melakukan itu dengan Tuan. Bahkan Tuan orang pertama bagi saya. Tidak ada laki-laki manapun yang menyentuh saya kecuali Tuan," ucap Naya dengan tatapan serius yang ia layangkan pada Argio.


Pria itu menyipitkan matanya, mencari kebohongan dalam netra coklat itu. Namun, yang ia tidak mendapatkan secuil kebohongan pun yang tergambar dari balik mata coklat yang mulai berair itu.


Argio mendesis. Sementara Aldo memperhatikan keduanya dari dalam mobil, tak ingin ikut campur. Suasana diantara keduanya hening sejenak hanya terdengar deru napas Naya yang tersendat-sendat.


"Besok anak buahku akan jemputmu!" ucapnya tegas tanpa ingin mendengar bantahan.


Tanpa ingin memperpanjang obrolan dan pembahasan yang akan semakin menguras emosi, Argio beranjak dari hadapan Naya lalu kembali masuk ke dalam mobil. Namun, sebelum masuk ke dalam mobil Argio menatap sejenak Naya setelah itu masuk ke dalam mobil.


Bahu Naya merosot lemas setelah mobil sedan hitam yang Argio tumpangi sudah pergi menjauh.


"Apa yang akan terjadi selanjutnya? Kenapa aku harus hamil anak laki-laki itu."


Naya meremas perut datarnya. Seolah sangat menyesali darah daging milik Argio tumbuh dirahimnya.




"Akhirnya kamu pulang, Nak. Ibu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu." Ibu Tini melangkah menghampiri Naya."Kenapa hari ini kamu pulang terlambat?"


Naya merapatkan bibirnya sejenak sebelum menjawab ucapan sang ibu."Ada pekerjaan tambahan."


Ibu Tini manggut-manggut. Sementara Naya merasa bersalah karna lagi-lagi menciptakan kebohongan untuk menutupi semua yang ia sembunyikan. Ia hanya tidak ingin melihat ibunya  kecewa padanya dan semakin terbebani dengan masalah yang ia hadapi sekarang.


"Kamu pasti sangat lapar. Ayo kita makan."


Ibu Tini menggiring Naya ke meja bulat yang tampak sedikit kecil, hanya cukup menampung beberapa piring diletakkan di sana. Wanita paruh baya itu mengambil piring kosong lalu mengisi nasi dan kuah soup hangat kesukaan Naya.


Naya memperhatikan ibunya dalam diam dan tanpa sadar tangannya mengusap perut datarnya. Hamil tanpa ada ikatan pernikahan akan menjadi aib buruk yang mungkin akan perdampak sampai anak yang ia kandung lahir.


"Naya ... Naya!" Pekikan suara ibu Tini menyadarkan Naya dari lamunannya.


"Kamu kenapa?"


Naya menggeleng cepat."Tidak apa-apa, Ibu."


Ibu Tini menghela napas berat lalu mendudukkan dirinya berhadapan dengan putrinya. Naya mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya namun baru beberapa kali kunyahan ia langsung memuntahkannya membuat ibu Tini terkejut.

__ADS_1


Huek


Tanpa bisa di tahan Naya memuntahkan makanan yang ia makan bahkan seluruh isi dalam perutnya ia keluarkan. Perutnya bergejolak membuat ia mual dan muntah.


"Naya ..."


Ibu Tini mengusap-usap punggung Naya dengan penuh kekhawatiran. Ia mengambil segelas air putih lalu memberikannya pada Naya. Wajah Naya terlihat sangat pucat dengan keringat yang membasahi permukaan wajahnya.


"Ayo duduk dulu," ucap ibu Tini mendudukkan diri putrinya di kursi.


"Maafkan aku, Bu. Akan aku bersihkan," ucap Naya lemah sambil melirik muntahan yang mengotori lantai.


"Tidak perlu, sebaiknya kamu ganti pakaian lalu istirahat. Sepertinya kamu masuk angin. Nanti ibu buatkan teh jahe."


Tatapan Naya semakin redup dengan ucapan sang ibu.


"Andai ibu tahu aku seperti ini karna sedang hamil."




"Berarti dia tidak mencairkan cek yang aku berikan?" tanya Argio pada Aldo yang berdiri sampingnya.


Mata tajam Argio fokus pada layar laptop.


"Iya, Tuan."


Argio membuang napasnya kasar. Ia menyadarkan punggung tegapnya di bahu kursi. Ia tidak tahu apa yang ada dalam pikiran wanita itu. Ia memberikan cek dengan nominal yang cukup besar namun tidak dicairkan.


"Saya juga ingin menyampaikan informasi tentang Naya Greta."


Argio langsung menoleh."Katakan."


"Setelah kejadian malam itu dengan Tuan, Naya tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun. Lebih tepatnya perempuan itu memang membatasi berhubungan dengan laki-laki manapun. Dia juga tinggal disebuah kontrakan di tepi kota dengan ibunya yang satu bulan lalu menjalani operasi transplantasi paru-paru. Jadi, kemungkinan besar itu memang anak Tuan," ucap Aldo sehati-hati mungkin agar sang bos tidak tersinggung dengan ucapannya.


Tatapan Argio bergulir dengan alis mengkerut."Kamu yakin?"


"Sangat yakin Tuan, saya tidak mungkin sembarangan menyampaikan informasi pada anda. Kalau perlu tes DNA tetap dilakukan untuk semakin menyakinkan."


Argio menopang dagunya dengan kedua tangan.


"Apa anda ingin saya membujuk perempuan itu mengugurkan kandungannya bila terbukti itu memang anak Tuan?" ucap Aldo menawarkan. Karna bagaimana pun reputasi atasannya akan buruk bila kabar ini sampai menyebar.


"Tidak perlu. Itu menjadi urusanku. Kamu cukup mencari rumah sakit terbaik untuk melakukan tes DNA nanti. Besok, jemput perempuan itu, bila perempuan itu tidak mau ikut kalian, seret dia."


Aldo mengangguk dengan perintah Argio.


_______

__ADS_1


__ADS_2