
Hai semuanya! Terima kasih mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.
Tandai jika ada typo:)
See you di part selanjutnya 🥰
...~Happy Reading ~...
...•...
...•...
...•...
...•...
Semilir angin sore menerpa lembut permukaan wajah Naya yang saat ini tengah duduk di sebuah kursi panjang yang berada di taman belakang mansion. Rambut panjang wanita itu berayun-ayun begitu indah mengikuti hembusan angin.
Manik coklatnya menatap lurus ke arah bunga-bunga yang bermekaran begitu indahnya. Semenjak tinggal di mansion Naya lebih suka menghabiskan waktunya di taman.
"Nona ingin makan sesuatu? Dari tadi siang Nona belum makan apapun."
Naya yang tampak melamun dengan sorot mata yang menampilkan kekosongan kini mendongak menatap Merry dihadapannya. Ia menggeleng lemah menolak tawaran pelayan yang selalu menemani dirinya. Semenjak mendengar Argio akan bertunangan membuat perasaannya memburuk. Entahlah, ia tidak memiliki perasaan apapun pada pria itu tapi hatinya seolah sakit dengan apa yang ia dengar.
Naya menghela napas panjang.
"Menurut Bibi apa aku terlihat sangat menyedihkan? Setelah semuanya terjadi aku merasa sudah tidak memiliki tujuan hidup lagi."
Yaa, semenjak kejadian naas yang menimpa Naya, ia merasa tidak memiliki masa depan lagi. Kuliahnya terbengkalai dan impiannya ingin mengangkat perekonomian keluarganya langsung pupus.
Dan, untuk apa ia dipertahankan dan diminta tinggal di sini demi membuktikan anak yang ia kandung benar-benar darah daging Argio sendiri dan jika itu terbukti bila anak yang ia kandung adalah anak pria itu apa yang setelahnya akan Argio lakukan? Berharap Argio memberikan pertanggungjawaban seperti menikahinya adalah hal yang sangat mustahil. Awalnya ia berpikir Argio akan menikahinya karna itu satu alasan yang ia pikirkan bila ia terbukti mengandung anak Argio.
Merry yang terdiam sejenak dengan pertanyaan Naya kini membuka suara."Saya tahu masalah yang Nona hadapi sekarang sangatlah berat dan membuat tujuan yang sebelumnya sudah terancang langsung pupus. Tapi Nona harus ingat, masih ada nyawa kecil yang menjadi alasan Nona Naya untuk tetap bertahan dan kembali membuat tujuan yang baru dalam kehidupan Nona."
Naya menatap ke arah perut datarnya.
"Dan saya yakin tuan Argio akan mempertanggung jawabkan semuanya," sambung Merry disertai senyuman hingga matanya terlihat menyipit.
Naya tertunduk dengan semburat kesedihan yang semakin kentara di wajahnya. Ia merasa ucapan Merry hanya hiburan semata untuknya. Merry mengantupkan bibirnya rapat melihat kesedihan semakin terlihat di wajah Naya. Apa ucapannya menyakiti perasaan nona Naya?
Terlalu larut dalam gejolak kesedihan yang Naya rasakan membuat ia tak menyadari seseorang menghampiri dirinya.
"Ekm ..."
__ADS_1
Suara deheman yang cukup keras membuat Naya mendongak, sedangkan Merry langsung menundukkan kepalanya ketika melihat orang tersebut. Chelsea berdiri dihadapan Naya dengan wajah angkuhnya.
"Kenapa Argio bisa memasukkan dan membiarkan perempuan asing sepertimu tinggal di mansion ini?" tanya Chelsea bersedekap dada.
Ada pancaran ketidaksukaan dari sorot mata Chelsea setiap melihat Naya. Sedangkan Naya tampak bingung dan gugup untuk menjawab pertanyaan tersebut. Ia tidak mungkin berkata jujur.
"Kenapa diam? Apa kamu bisu?" ucapnya terdengar ketus. Raut wajah Chelsea merenggut.
Naya tetap diam tak ingin menjawab namun memperhatikan lekat wanita dihadapannya yang terlihat sangat cantik dengan kulit putih pucat dan rambutnya yang berwarna pirang keemasan. Dari sisi manapun Chelsea terlihat cantik di mata Naya.
Lantas, alasan apa Argio menolak wanita secantik Chelsea untuk menjadi istrinya, pikir Naya.
"Kenapa dia diam saja? Apa dia benar-benar bisu?" gerutu Chelsea pada Merry lalu kembali menatap Naya.
"Sepertinya Nona Naya tidak enak badan," balas Merry sekenanya.
"Apa hubungannya dia tidak enak badan?"
Sengit. Merry tampak was-was dengan Chelsea. Dari awal pertemuan, Merry sudah melihat ketidaksukaan Chelsea pada Naya.
"Sepertinya Nona Naya harus kembali ke kamar. Ayo kita ke kamar Nona."
Merry mengajak Naya kembali ke kamar, tentu untuk menjauh dari Chelsea. Dari perangainya saja pelayan itu bisa menebak sifat calon tunangan tuan mudanya itu seperti apa.
"Aku tidak tahu kamu siapa dan alasan apa hingga kamu bisa tinggal di mansion ini. Tapi yang jelas jangan berani-beraninya menggoda dan mendekati calon suamiku, Argio!" peringat Chelsea penuh ancaman.
Setelah mengatakan hal tersebut wanita itu melepaskan cekalan tangannya yang meninggalkan bekas kemerahan pada pergelangan tangan Naya lalu melengos pergi dari sana.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Merry menatap khawatir sambil memeriksa pergelangan tangan Naya yang lecet.
Naya menggeleng disertai senyuman tipis."Aku tidak apa-apa, Bi."
Sepertinya kehadiran calon tunangan Argio akan membuat Naya tidak akan betah di mansion. Di tambah kehadiran kedua orang tua Argio membuat Naya semakin tak nyaman. Seharusnya ia tidak berada di tempat ini.
•
•
Mobil sedan hitam berhenti di depan pelataran mansion. Argio keluar dari mobil tersebut setelah seharian bergelut dengan pekerjaan yang menguras pikirannya. Pria itu melangkah lebar memasuki mansion.
Senyuman Argio tersungging ketika melihat sang bunda duduk santai bersama Chelsea. Dua wanita itu tampak sibuk mengobrol perihal acara pertunangan yang akan segera terlaksana termasuk apa saja yang akan mereka persiapkan.
"Bunda!"
Argio melangkah menghampiri Caesa yang tersenyum hangat menyambut kedatangan putranya. Argio mengecup pipi Caesa penuh sayang. Chelsea yang melihat itu tampak tersenyum. Ia membayangkan Argio memberikan kecupan yang sama seperti pada Caesa.
__ADS_1
"Kenapa kamu pulang terlambat hari ini?" tanya Caesa.
"Hari ini pekerjaan sangat banyak, Bun. Di mana Ayah?"
"Bunda tidak tahu, tapi kalau tidak salah ayahmu pergi dengan Hendrik keluar tapi Bunda tidak tahu ke mana."
Argio mengangguk samar dengan jawaban sang bunda.
"Argio, lihatlah foto gaun-gaun ini. Menurutmu aku cocok yang mana untuk acara pertunangan kita berdua nanti?"
Chelsea dengan wajah berbinar memperlihatkan foto-foto gaun yang akan ia pilih di ponselnya.
"Semuanya bagus," jawab Argio datar dan singkat.
Chelsea mengerucutkan bibirnya."Semuanya memang bagus. Tapi menurutmu salah satu diantara gaun di foto ini mana yang paling bagus?"
Argio menghela napas berat."Yang akan memakai gaun itu adalah kamu jadi pilihlah yang menurutmu paling bagus!"
"Argio, jangan seperti itu pada Chelsea." tegur Caesa.
"Aku sangat lelah. Aku ke kamar dulu."
Tanpa ingin memperpanjang perdebatan yang tidak ada gunanya Argio memilih ke kamar. Chelsea mendengus melihat pria itu pergi begitu saja tanpa memilih salah satu gaun untuknya. Kenapa Argio tidak bisa menampilkan sikap manis padanya?
Saat sudah menaiki lantai atas kedua kaki Argio melangkah mendekati kamar Naya. Tanpa ragu ia memutar tuas pintu tersebut. Kerutan halus muncul di kening Argio melihat Naya tampak lahap memakan sesuatu. Wanita itu tengah duduk menghadap balkon kamar. Tanpa Naya ketahui Argio melangkah masuk ke kamar itu.
"Apa yang kamu makan?"
Pertanyaan tiba-tiba Argio membuat Naya yang tampak menikmati buahan yang ia makan terkejut dan hampir menjatuhkan piring yang ia pegang. Ia menoleh ke samping dan mendapati Argio berdiri di sampingnya.
Naya tak langsung menjawab melainkan memperlihatkan isi piring yang terdapat buah nanas. Sontak hal tersebut membuat kedua mata Argio membulat.
"Siapa yang menyuruhmu makan nanas!" Nada suara Argio terdengar sangat marah.
"Me-memang kenapa? Aku sangat menyukai buah ini ..." Naya menjawab dengan mulut yang penuh buah nanas.
Prang!
Dengan gerakkan tak terduga Argio membanting piring yang Naya pegang yang kini sudah pecah di lantai dan buah nanas berserakan di lantai. Naya tampak ketakutan melihat wajah Argio yang terlihat sangat menyeramkan.
Apa kesalahannya?
______
Penasaran dengan kelanjutannya? Jangan lupa komen 🥰
__ADS_1