
Hai semuanya! Apa kabar? Terima kasih masih setia membaca karyaku❤️
Aku semakin semangat untuk update karna pembaca semakin bertambah dan karna komentar kalian semua
Semoga kalian tidak bosan membaca karyaku sampai akhir.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan like dan komen.
...~Happy Reading~...
...• ...
...•...
...•...
...•...
Suasana ruangan mendadak begitu mencekam bagi Naya. Ia tidak berani menatap sepasang mata tajam yang menyorot ke arahnya. Kedua tangannya masih meremas sprei seolah menyalurkan rasa gugup bercampur takut.
"Sepertinya kamu sangat senang mencari masalah."
Setelah beberapa saat dilanda keheningan Argio membuka suara. Dengan sedikit keberanian Naya melirik Argio yang berdiri di samping brankar.
"Kamu memiliki alergi, tapi tetap memakan sesuatu yang membuat alergi mu kambuh! Apa kamu tahu itu sangat membahayakan kandunganmu?"
Wajah Naya menekuk dalam mendengar ucapan Argio yang menyalahkan dirinya atas kondisi buruk yang ia alami sekarang. Yaa, ucapan pria itu memang benar. Tapi ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencoba udang tersebut. Seolah ia memiliki keinginan kuat untuk sekadar mencicipinya.
"A-aku hanya ingin mencicipi_"
"Sama saja! Ternyata kamu bukan hanya lemah tapi sangat bodoh!" ucapan Argio membuat dada Naya terasa panas."Gara-gara kamu dilarikan ke rumah sakit aku harus kembali lagi ke Jakarta."
Naya merasakan dadanya terasa sangat sesak dengan ucapan Argio yang terselip hinaan.
"Maaf ..."
Hanya kata itu yang keluar dari mulut Naya. Ia tidak berniat menyusahkan semua orang termasuk Argio. Ia hanya ingin menuntaskan hasratnya mencicipi makanan tersebut.
Argio menghela napas berat. Ia menatap wajah Naya yang tampak mendung. Apa ucapannya sangat kasar? Tapi menurutnya apa yang ia ucapkan demi kebaikan wanita itu.
Argio melangkah mendekati sofa yang ada di ruangan itu lalu menjatuhkan tubuhnya di sana. Pria itu melepaskan jaket hitam yang melekat di tubuhnya.
"Merry, cepat ke sini," ucap Argio memerintah melalui sambungan telpon lalu memutuskan panggilannya.
Naya hanya bisa pasrah terbaring di atas brankar dalam ruangan yang hanya terdapat dirinya dan Argio. Ia benar-benar canggung dan gelisah berduaan dalam ruangan ini. Apalagi tatapan yang Argio berikan seperti mengintimidasi.
Tidak lama pintu ruangan itu kembali terbuka. Mata Naya tampak berbinar melihat sosok Merry kembali masuk ke dalam ruang rawatnya. Setidaknya ia tidak berduaan dalam ruangan ini bersama Argio.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Merry menghampiri Argio.
"Pulanglah, biar aku yang menginap di sini menjaga perempuan ini." Argio menunjuk Naya melalui lirikkan mata.
Merry mengangguk."Baik, Tuan."
__ADS_1
"Apa kamu sudah menanyakan kondisi kandungannya? Apa baik-baik saja?"
Merry mengangguk.
"Semuanya baik-baik saja, Tuan. Hanya saja Nona Naya tidak boleh kembali mengonsumsi udang karna akan sangat berpengaruh pada kandungannya."
Argio manggut-manggut mendengar penjelasan Merry.
"Sekarang pergilah."
Merry diam ditempatnya tak berniat beranjak membuat sebelah alis Argio terangkat.
"Kenapa?" tanya Argio tampak heran.
Merry menatap sejenak pada Naya."Apa Tuan yakin menginap di sini?"
"Tentu saja. Apa aku terlihat bercanda?"
Merry mengantupkan bibirnya rapat dengan jawaban sang tuan muda.
"Baiklah Tuan, saya permisi undur diri."
Merry melangkahkan kakinya keluar dari ruangan namun ucapan Naya membuat langkah pelayan itu terhenti.
"Aku ingin Merry saja yang menginap di sini dan menjagaku!" ucap Naya dengan lantang tak peduli dengan lirikkan tajam Argio.
Ia tidak ingin berduaan dalam ruangan ini bersama Argio. Karna itu akan membuat ia dilanda kecanggungan dan tak bebas melakukan apapun di sini.
"pulanglah Merry."
Wanita itu melirik Argio yang kini sibuk mengutak-atik ponselnya sambil bersandar santai dibahu sofa. Ia tidak tahu alasan apa hingga pria itu memilih ikut menginap di sini. Naya menghela napas panjang. Lagipula ia hanya alergi bukan sakit parah, tapi kenapa harus menginap di rumah sakit.
Tenggorokan Naya terasa sangat kering dan ia butuh air minum. Matanya melirik segelas air putih yang berada tidak jauh dari brankar. Ia kembali melirik Argio.
"Sepertinya aku akan dianggap tidak sopan bila meminta pertolongannya," gumam Naya.
Apalagi setelah Argio menyalahkannya atas nasib buruk yang ia alami sekarang, membuat ia segan meminta bantuan pada pria itu.
Naya berusaha bangkit dari brankar hingga posisinya berubah menjadi duduk. Entah kenapa tubuhnya terasa sangat lemas, apa mungkin karna obat yang disuntikkan dokter pada tubuhnya? Perlahan Naya menapakkan kedua kakinya ke lantai. Baru hendak melangkah Naya jatuh tersungkur membuat Argio yang tengah fokus dengan ponselnya menatap ke arah Naya yang berusaha kembali bangkit.
"Apa yang kamu lakukan?" Suara serak Argio membuat Naya mendongak menatap pria itu.
Pria itu geleng-geleng kepala melihat tingkah Naya. Argio bangkit dari sofa lalu melangkah menghampiri Naya dan kini Ia berdiri tepat di hadapan Naya yang masih duduk di lantai.
"Senang sekali rupanya membuat ulah," ucap Argio sinis.
Naya menggelengkan kepalanya."Saya hanya ingin mengambil air minum. Saya haus," balas Naya sambil menatap ke arah segelas air putih.
Mendengar itu membuat sebelah alis Argio terangkat. Ia melirik segelas air putih yang terletak tidak jauh dari brankar.
"Ingin minum?"
Naya mengangguk cepat. Argio tersenyum tipis.
__ADS_1
"Kalau begitu cepatlah bangun dan ambil air minumnya," ucap Argio yang terdengar seperti memerintah.
Gelombang halus muncul dikening Naya. Ia berpikir pria itu akan mengambilkan air minum untuknya. Dengan susah payah Naya bangkit dari lantai lalu melangkah mengambil segelas air putih yang terletak di atas meja. Ia merasa kedua kakinya sangat lemah seperti jelly.
Argio bersedekap dada memperhatikan Naya mengambil air putih. Wanita itu tampak sangat kehausan ketika berhasil mengambil segelas air putih lalu meminumnya sampai tandas. Manik hitam kelam Argio terpaku pada bibir Naya. Melihat bibir itu membuat ia teringat bagaimana rasanya yang manis sangat berbeda dengan bibir wanita lain yang pernah berciuman dengannya. Kini, mata Argio turun memperhatikan lekuk tubuh Naya. Dibalik pakaian yang sederhana tersembunyi sesuatu yang begitu indah dan ia tidak sepenuhnya melupakan malam panas yang mereka berdua lewati.
"Sial. Apa yang aku pikirkan."
Argio menggeleng-gelengkan kepalanya, melenyapkan pikiran kotor yang terlintas dalam pikirannya. Ia kembali menatap Naya yang kembali menuangkan air putih dalam gelas. Sepertinya wanita itu sangat kehausan.
"Jika anak yang dikandung perempuan itu memang anakku, entah bagaimana rupanya. Semoga saja tidak mirip dia. Pasti akan jelek," gumam Argio menghina rupa wajah Naya.
Naya memang tidak terlalu cantik bila disandingkan dengan wanita yang pernah dikencani Argio. Tapi, Naya memiliki sesuatu yang menciptakan gelenyar aneh dalam benak Argio saat pertama kali melihatnya.
Naya tampak risih dengan tatapan Argio yang terus menyorot ke arahnya. Termasuk tatapan pria itu yang menelisik penampilannya. Ia berusaha mengabaikannya. Wanita itu kembali melangkah ke brankar.
"Ada apa dengan laki-laki itu? Apa ada yang aneh dengan penampilan ku?" bathinnya.
Naya memeriksa penampilannya. Menurutnya biasa saja tidak ada yang aneh.
Argio memijit pelipisnya dan kembali mendudukkan dirinya di sofa.
•
•
"Jadi, Argio memilih menginap di sana?"
Merry mengangguk mengiakan ucapan Hendrik. Raut keterkejutan tidak bisa pria itu sembunyikan ketika mendengar penjelasan Merry tentang Argio yang memilih menghabiskan malamnya di rumah sakit.
"Aneh sekali anak itu."
Hendrik dibuat terheran-heran dengan sikap Argio.
"Maaf bila lancang, Tuan Hendrik. Sepertinya tuan Argio merasa sangat bertanggung jawab atas nona Naya. Seperti yang Tuan tahu, sekarang nona Naya sedang hamil," balas Merry seolah memecahkan keheranan Hendrik pada Argio.
Semua penghuni dalam mansion ini tentu sudah mengetahui tentang kehamilan Naya yang tengah mengandung anak dari majikan mereka. Dan tentu, mereka harus tutup mulut untuk menjaga rahasia besar ini agar tidak tersiar pada orang luar.
"Benarkah? Menurutku Argio tidak sebaik itu. Tapi entahlah mungkin Argio benar-benar ingin bertanggungjawab atas keadaan perempuan itu."
"Anak itu suka sekali mencari masalah dan sekarang membuat anak dengan mantan pelayannya sendiri. Aku tidak habis pikir," ucap Hendrik memijit pelipisnya.
Merry hanya diam menyimak ucapan Hendrik tanpa berani ingin membalas ataupun berasumsi atas kesalahan yang tuan muda buat pada wanita malang itu.
•
•
Jam sudah menunjukkan pukul 12 malam namun Argio tampak tak bisa tertidur termasuk menutup matanya. Pria itu tampak tak biasa berbaring di sofa. Lehernya terasa sangat sakit dan pegal. Entahlah kenapa ia memilih untuk menjaga wanita tersebut dan menginap di sini.
Argio bangun dari sofa lalu merenggangkan tubuhnya. Ia menatap ke arah Naya yang tertidur begitu pulas. Pria itu bangkit dari sofa lalu melangkah menghampiri Naya. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya menyelaraskan dengan Naya yang terbaring di brankar.
Matanya menatap menelisik pada tubuh Naya. Tangannya terulur mengusap pipi Naya lalu turun mengusap bibir wanita tersebut. Tangan Argio semakin tak terkendali hingga turun menyentuh bagian dada Naya. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, lalu menghirup aroma manis pada bagian leher Naya.
__ADS_1
_____
Bagaimana? Apa penasaran dengan kelanjutannya?