
Hai semuanya! Apa kabar?
Kali ini aku update lagi!
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.
Tandai kalau ada yang typo
...~Happy Reading ~...
...•...
...•...
...•...
...•...
Suara dentingan sendok dan garpu mengudara dan mengisi keheningan di ruang makan tersebut. Saat semua orang begitu menikmati hidangan yang disantap berbeda dengan Argio yang diam tanpa ingin menyentuh makanannya. Kepalanya dipenuhi Naya. Ia memikirkan nasih wanita tersebut. Ah, entahlah ia begitu memikirkan Naya.
"Bagaimana pekerjaanmu di perusahaan sekarang?"
Pertanyaan yang dilontarkan Arga membuat Argio langsung menatap sang ayah yang duduk berhadapan dengannya. Wajah Argio benar-benar duplikat Arga membuat dua pria itu terlihat sangat mirip.
"Semuanya berjalan dengan baik, Yah."
Caesa hanya menyimak obrolan antara ayah dan anak itu sambil menikmati makanannya.
"Kamu selesaikan semua urusan pekerjaan di perusahaan karna dua minggu lagi kalian berdua akan bertunangan. Ayah tidak ingin saat acara pertunangan berlangsung kamu sibuk mengurus pekerjaan," ucap Arga menatap Argio dan Chelsea bergantian.
Chelsea tersenyum lebar mendengar ucapan calon ayah mertuanya. Ia menoleh menatap Argio di sampingnya.
"Urusan pekerjaan bisa aku limpahkan pada Aldo, Yah."
"Malam ini kamu akan menginap di sini' kan?"tanya Caesa sembari mengusap ujung bibirnya dengan tissu.
Argio terdiam sejenak sebelum menjawab namun setelahnya menggelengkan kepalanya membuat Chelsea yang duduk di samping Argio memasang wajah kecewa. Padahal ia ingin menghabiskan waktu berdua dengan Argio. Jarak tempat tinggal yang cukup jauh membuat Chelsea tidak bisa selalu menemui Argio setiap hari.
"Aku ada urusan. Aldo baru saja mengirimkan pesan, besok aku harus terjun langsung melihat proyek yang sudah rampung," balas Argio.
"Kenapa tidak Aldo saja yang meninjau ke sana?" sahut Arga.
"Tidak bisa, Ayah. Harus aku sendiri yang ke sana. Mungkin lain kali aku menginap di sini."
Caesa tidak bisa menyembunyikan raut kekecewaan diwajahnya tidak jauh beda dengan Chelsea. Hampir tiga bulan Argio tidak pulang ke rumah dan sekarang datang hanya sekadar mengobrol, makan bersama, dan setelahnya kembali pulang ke kota Jakarta. Sebagai ibu, ia ingin menghabiskan waktu dengan putra semata wayangnya. Bahkan kerinduan beberapa bulan ini belum sepenuhnya terobati.
Argio yang menyadari wajah sang bunda yang tampak suram kini mengulurkan tangannya menggenggam tangan Caesa.
__ADS_1
"Aku janji akan kembali lagi ke sini setelah urusan pekerjaan ku sudah selesai, Bunda."
Dengan lemah Caesa mengangguk. Arga mengusap punggung istrinya lembut. Ia tahu apa yang Caesa rasakan sekarang apalagi istrinya sangat menyayangi putra semata wayang mereka berdua. Memang, setelah Argio menyelesaikan kuliahnya Arga langsung meminta putranya untuk terjun mengelola perusahaan.
"Lalu, bagaimana dengan rencana membeli cincin? Membeli gaun dan kemeja? Dua minggu lagi pertunangan kita berdua Argio."
Setelah memilih diam beberapa saat kini Chelsea membuka suara dan tampak protes dengan kesibukan Argio yang menyampingkan urusan pribadi. Apalagi ini menyangkut urusan pertunangan mereka berdua.
"Masih ada banyak waktu untuk mengurus itu semua, lagipula aku akan kembali lagi ke sini," balas Argio.
Chelsea mendengus pelan. Hatinya sangat kesal namun berusaha tetap terlihat tenang didepan Caesa dan Arga.
"Betul ucapan Argio, Chelsea. Masih ada banyak waktu. Dua minggu bukan waktu yang singkat untuk mempersiapkan acara pertunangan kalian berdua. Masih banyak waktu untuk membeli cincin dan gaun. Bagaimana Bunda saja yang menemanimu memilih cincin?" tawar Caesa.
Kedua tangan Chelsea terkepal dibawah meja. Ingin menolak pun tawaran calon mertuanya maka ia akan terlihat tidak sopan dan egois. Dengan terpaksa ia tersenyum dan mengangguk mengiakan tawaran Caesa.
Ada rasa lega dalam benak Argio, ia memang berniat menginap di sini untuk beberapa hari. Namun, mendengar kabar tentang kondisi Naya sedikit mengusik hati dan pikirinnya. Bahkan setelah Merry menelponnya satu jam lalu, pelayan tersebut tidak lagi menghubunginya sekadar menginformasikan tentang kondisi Naya sekarang. Ah, memikirkan ini membuat perasaan jadi tak karuan.
•
•
"Bagaimana kondisinya?"
Merry langsung menodong pertanyaan pada dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Naya.
Terlihat Naya belum sadarkan diri dan kini tengah terbaring dibrankar. Kulit wanita muda itu yang awalnya merah-merah kini kemerahan sedikit berkurang termasuk ruam-ruam yang muncul di kulit.
Dokter pria yang diperkirakan berusia 40 tahunan itu begitu rinci menjelaskan kondisi Naya. Sementara Merry tampak terkejut dengan penjelasan dokter tersebut.
"Kenapa nona Naya tidak mengatakan dia alergi udang?" gumam Merry pelan. Sudah pasti tuan muda akan minta penjelasan penyebab wanita itu jatuh pingsan.
Andai ia tahu wanita itu alergi udang, sudah ia larang untuk memakannya.
Setengah jam berlalu akhirnya Naya sadar. Wanita itu mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya dalam ruangan yang ia tempati sekarang. Aroma obat-obatan langsung merasuk ke indra penciuman Naya.
"Eugh ..." Naya tampak melenguh dan semakin mempertajam pandangan matanya. Ia menatap sekitar ruangan yang tampak sangat asing baginya.
"Nona Naya! Akhirnya Nona sadar." Merry yang melihat Naya sudah sadar langsung bangkit dari sofa yang tersedia dalam ruangan tersebut. Bahkan ruangan yang Naya tempati merupakan ruang rawat VVIP.
"Nona ingin apa?" Merry menahan kedua bahu Naya ketika hendak bangkit dari brankar.
"Kita ada di mana?"
"Sekarang Nona berada di rumah sakit. Tiba-tiba saja Nona pingsan. Kenapa Nona Naya tidak mengatakan dari awal bila Nona alergi udang?"
Mendengar itu Naya langsung mengantupkan bibirnya rapat. Mendadak lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan Merry. Melihat keterdiaman Naya membuat Merry menghela napas pelan.
__ADS_1
"Lain kali Nona beritahu saya makanan yang tidak Nona suka termasuk membuat Alergi Nona kambuh. Saya takut tuan muda akan marah bila tidak becus menjaga Nona."
Mendengar itu membuat Naya merasa sangat bersalah.
"Maafkan aku, Bi. Tiba-tiba saja aku ingin sekali makan udang."
Merry tersenyum."Sepertinya Nona sedang mengidam. Tapi bila mengidamnya membahayakan Nona, sebaiknya jangan terlalu dipaksakan."
Dengan lembut Merry menjelaskan. Bagaimana pun tanggungjawab menjaga Naya sudah dilimpahkan sepenuhnya padanya. Apalagi kondisi wanita tersebut tengah hamil.
"Tapi Bibi tidak mengatakan apapun tentang kondisiku pada Tuan Argio' kan?"
Ludah Merry langsung tercekat di tenggorokan mendengar itu.
"Em ... saya_"
Pintu terbuka sedikit kasar membuat Merry dan Naya langsung menatap ke arah pintu. Mata Naya membulat sempurna dengan raut penuh keterkejutan melihat Argio berdiri diambang pintu. Pria itu melangkah lebar masuk ke dalam ruangan itu yang tiba-tiba hening hanya terdengar suara langkah kaki Argio.
"Apa yang terjadi dengannya?" Argio bertanya dengan nada tak bersahabat seraya melirik Naya sekilas.
Merry mengusap tengkuknya untuk menyamarkan rasa gugup yang melanda. Ia tidak menyangka tuan muda akan langsung menyusul ke rumah sakit.
Tanpa sadar Naya meremas sprei brankar dengan perasaan takut. Melihat raut wajah Argio yang tampak berbeda menciptakan sebuah ketakutan yang membuat tubuhnya membeku.
"Nona Naya mengalami alergi karna memakan udang. Saya benar-benar tidak tahu Nona Naya tidak bisa mengonsumsi_"
"Dan kamu kenapa memakannya bila alergi?"
Ucapan Merry langsung terpotong ketika Argio beralih membentak Naya. Pria itu melotot tajam.
"Sa-saya ..." Naya mengigit bibirnya kelu dan tak sanggup melanjutkan ucapannya. Apalagi nada suara Argio terdengar sangat kasar ditelinganya.
"Tuan, ini salah saya. Seharusnya saya_"
"Bila aku sedang bicara tidak ada yang boleh bicara apalagi memotongnya!"
Lagi-lagi Argio memotong ucapan Merry membuat pelayan itu mengantupkan bibirnya. Ia hanya ingin menyelamatkan Naya.
"Merry, sekarang keluar dari ruangan ini. Aku ingin bicara berdua dengan Naya," perintah Argio.
Mendengar itu Naya langsung menatap ke arah Merry lalu menggelengkan kepalanya meminta pelayan itu tetap berada di sini. Meski memohon lewat lirikkan mata Merry tetap keluar dari ruangan itu membuat perasaan Naya tak karuan. Pelayan itu tidak berani membantah ucapan Argio.
_____
...Bagaimana? Mau lanjut?...
...Untuk sementara aku tidak bisa update tiap hari karna kesibukan di real life. ...
__ADS_1
...Terima kasih banyak pada kalian semua karna sudah berkenan membaca karya receh ini. Semoga kalian semua terhibur....
...Sampai jumpa di part berikutnya🥰...