Pelayan Perawan Milik Tuan Muda

Pelayan Perawan Milik Tuan Muda
Jangan Merokok!


__ADS_3

Hallo semuanya! Apa kabar? Semoga sehat dan bahagia selalu, ya!


Siapa yang nunggu lanjutan cerita ini?


Maaf baru bisa update sekarang 🤭


Visual Argio sudah aku post di Instagram @Kissa_Al07 dalam bentuk video pendek .


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.


Tandai kalau typo.


Besok kalau nggak sibuk update lagi.


See you di part selanjutnya ❤️


...~Happy Reading~...


...•...


...•...


...•...


...•...


Argio bersandar pada body mobil sambil menyesap rokok yang terapit diantara jari tengah dan telunjuknya. Asap rokok yang berembus membuat Naya menutup hidungnya. Ia mendongak menatap Argio di sampingnya. Pria itu menatap lurus ke arah jalanan yang dilewati para pengendara.


Argio tiba-tiba saja menghentikan mobilnya di pinggir jalan yang minim rumah penduduk ataupun bangunan-bangunan seperti toko. Pria itu melirik ke arah Naya di sampingnya.


"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Argio menyadari tatapan Naya.


"Kapan kita pulang? Kenapa tiba-tiba Tuan menghentikan mobil di tempat seperti ini?"


Naya menatap sekitar yang tampak sepi hanya ada beberapa pengendara yang lewat dan satu lampu jalan menerangi tempat mereka berdua berdiri sekarang.


"Tunggu sebentar. Lebih baik kamu makan jajanan yang kamu beli tadi," titah Argio memerintah.


Naya menatap ke arah dalam mobil yang terdapat satu kantong besar belanjaan yang berisi jajanan. Bukan Naya yang membeli belanjaan sebanyak itu tapi Argio, pria itu marah ia membeli dua snack dan berakhir pria itu sendiri yang memilihkan jajanan tersebut untuknya.


Naya menghela napas pelan dan tak lama perutnya bergejolak kelaparan. Ia melirik Argio yang menatap ke arah jalanan aspal. Pria itu semakin kuat mengisap rokok yang tengah ia nikmati sekarang.


Naya beranjak dari samping Argio lalu mengambil kantong belanjaan dalam mobil. Ia kembali menghampiri Argio.


"Ini," Naya menyerahkan kantong plastik besar berisi belanjaan pada Argio.


"Kenapa memberikannya padaku?  Kamu makan jajanan yang barusan di beli tadi!"


Naya mencebikkan bibirnya. Ia mengambil salah satu snack kentang lalu membuka bungkusnya. Baru hendak membuka mulut Argio kembali memerintah.


"Aku membeli soda, ambilkan di kantong belanjaan tadi."


Naya menghela napas pelan. Tanpa ingin membantah ia mengambil barang yang Argio perintahkan lalu menyerahkannya. Wanita itu mulai memakan snack kentang yang barusan ia buka. Udara malam ini terasa dingin dan menusuk ke pori-pori. Hembusan asap rokok milik Argio menerpa permukaan wajah Naya, membuat dada wanita tersebut terasa sesak ketika menghirup asap rokok tersebut.


Naya menjauh dari Argio hingga berjarak membuat Argio yang tengah meneguk soda, kembali menoleh ke arah Naya.


"Kenapa menjauh?"

__ADS_1


"Dada saya sesak menghirup asap rokok."


Argio yang mendengar itu terdiam sejenak namun setelahnya ia menjatuhkan batang rokok yang masih menyala itu lalu menginjaknya dengan sepatu hitam mengkilapnya. Naya yang melihat itu tertegun sesaat melihat pria itu menginjak batang rokok tersebut.


"Kenapa Tuan suka merokok?" tanya Naya mulai memberanikan diri.


Argio menunduk menatap Naya di sampingnya. Naya memang bertubuh pendek dan tinggi badannya hanya setinggi dada Argio. Terlihat mungil namun menggemaskan.


"Menghilangkan stres," balas Argio seadanya. Sebenarnya ia tidak ingin membahas hal tak berguna seperti ini.


"Tapi merokok membahayakan. Merokok memang bisa menenangkan tapi efeknya hanya sementara, nikotin yang memberikan rasa tenang sesaat itu."


"Lalu, aku harus menghisap apa bila bukan rokok? Bibirmu?" Ucapan frontal Argio membuat Naya menutup bibirnya.


Mendadak wajah Naya memerah dan rasa panas mulai menjalar ke seluruh wajahnya.


Pria itu tersenyum miring melihat reaksi wanita mungil di sampingnya. Hening. Tidak ada suara lagi dari keduanya. Namun, Naya kembali membuka suara.


"Kan bisa diganti dengan permen. Tuan harus menyayangi diri Tuan. Jangan biarkan paru-paru Tuan rusak hanya karna mencari ketenangan dan menghilangkan stres dengan rokok," nasehat Naya.


Argio menukikkan alisnya tajam pada Naya."Ternyata kamu lumayan cerewet!"


Wanita itu menggeleng."Bukan cerewet, tapi saya peduli dengan Tuan."


Argio mengusap-usap dagunya dengan tatapan yang terus menyorot ke arah Naya."Jadi kamu peduli dengan ku?"


Naya mengangguk. Pada siapapun ia pasti peduli apalagi tentang kesehatan. Argio menghadapkan dirinya pada Naya. Ia melangkah maju mendekati wanita tersebut.


"Tu-tuan mau apa?" Naya mundur beberapa langkah dengan perasaan was-was ketika Argio semakin mengikis jarak diantara mereka berdua.


"Kamu bilang merokok bisa diganti dengan permen?"


Dengan cepat Naya mengangguk.


"Tapi di sini tidak ada permen, aku ingin sekali kembali mengisap rokok?" ucap Argio dengan senyuman seringainya.


"Bagaimana diganti dengan bibirmu saja?"


Kedua mata Naya membola sempurna mendengar hal tersebut. Ia langsung mengantupkan bibirnya. Sepertinya ia salah memberi nasehat pada pria tersebut. Naya mundur menjauh dari Argio dan hendak melarikan diri namun pria itu dengan gerakkan cepat menarik pergelangan tangan Naya.


"Bukankah kamu peduli padaku, hmm?"


Argio merunduk dan hendak meraih bibir Naya.


"Jangan Tuan ..."


Naya berusaha menghindar dari serangan pria tersebut. Argio merapatkan tubuhnya pada Naya yang tidak bisa mundur lagi karna terhalang mobil. Ia menangkup wajah Naya hingga tatapan keduanya bertemu. Matanya menatap bibir Naya yang tampak gemetar ketakutan bahkan wajah wanita itu berlumuran keringat. Beberapa menit dalam posisi seintim itu, Argio menjauhkan dirinya dari Naya.


Pria itu berdecih."Tidak usah peduli ataupun ikut campur urusanku. Ingat, kamu bukan siapa-siapa. Bahkan sangat mudah menyingkirkanmu dalam hidupku!" ucap Argio dengan sarkas.


Naya tertunduk dalam mendengar ucapan Argio. Setelah dibuat ketakutan dengan perlakuan pria tersebut sekarang ia dibuat merasakan sesak di dadanya. Namun, apa yang Argio ucapkan memang benar, ia hanya orang asing dan tak sepatutnya ikut campur. Tapi salahkah ia peduli?




Mobil yang Argio kendarai sudah sampai dipekarangan mansion setelah 30 menit dalam perjalanan. Argio menoleh ke samping, dan mendapati Naya yang tertidur nyenyak. Tangan pria itu terulur menyingkirkan beberapa helaian rambut yang menutupi wajah Naya. Ia menatap sejenak wajah damai tersebut. Sorot matanya menyiratkan sesuatu yang sulit diartikan.

__ADS_1


Mata Argio beralih menatap bagian perut Naya yang tertutup dress. Perasaannya bergejolak, membayangkan bagaimana bila anak yang dikandung wanita tersebut adalah anaknya. Ia mungkin sudah menyiapkan rencana kedepannya tapi rencana yang dirancang bisa berbelok dan tak sesuai harapan.


Setelah beberapa menit dalam mobil kini Argio keluar dari mobil. Ia membuka pintu mobil lalu dengan hati-hati mengeluarkan Naya dari dalam sana lalu menggendongnya. Wanita muda itu tampak menggeliat ketika tubuhnya terasa terbang. Argio segera melangkah masuk ke dalam mansion.


"Argio!"


Suara keras seseorang membuat pria itu menoleh. Wajah Argio yang datar kini semakin datar melihat sosok Chelsea melangkah menghampirinya dengan raut wajah bersungut-sungut.


"Kalian berdua dari mana saja? Dan kenapa kamu menggendongnya? Dia punya kaki seharusnya_"


"Diam," desis Argio menatap melotot pada wanita dihadapannya.


Melihat itu membuat Chelsea semakin geram penuh kecemburuan. Ia menatap tajam pada Naya yang tidur begitu nyamannya dalam gendongan Argio.


"Enak sekali perempuan itu bisa merasakan pelukan dan gendongan dari calon suamiku!" bathin Chelsea.


"Sebentar lagi kita akan bertunangan dan kamu malah menggendong perempuan lain dihadapan ku! Apa kamu tidak memikirkan perasaan ku, Argio?"


Argio memutar bola matanya malas. Pria itu memilih melanjutkan langkahnya namun Chelsea dengan cepat menahan lengan Argio membuat langkah pria itu terhenti.


"Apalagi Chelsea? Dan pelankan suaramu," ucap Argio dengan suara yang pelan, tak ingin Naya sampai terbangun.


Wajah Chelsea terlihat memerah karna emosi yang menggumpal dalam dadanya."Aku tidak suka kamu dekat dengan Naya. Dia orang asing dan kamu calon suamiku, Argio ..."


Chelsea tampak hendak menangis. Ia benar-benar tidak rela Argio dekat dengan wanita manapun termasuk Naya.


"Kita bicarakan ini nanti, aku antar Naya ke kamar dulu."


Argio kembali melanjutkan langkahnya. Chelsea yang melihat Argio meninggalkan dirinya menghentakkan kakinya penuh kekesalan.


"Naya sialan!" umpat Chelsea.


Argio dengan penuh ke hati-hatian membaringkan Naya ke kasur. Wanita itu langsung memeluk guling dan mencari kenyamanan dalam posisinya. Tak lupa pria itu menyelimuti sebagian tubuh Naya.


Argio berbalik dan keluar dari kamar itu. Baru saja keluar dari kamar ia langsung mendapatkan pelukan mendadak dari Chelsea. Wanita itu memeluknya begitu erat.


"Lepaskan, Chelsea!" Argio berusaha melepaskan pelukan wanita tersebut. Namun, pelukan Chelsea semakin erat.


"Aku tidak mau!" kekeh Chelsea seraya menghirup dalam aroma maskulin tubuh Argio yang memabukkan.


"Aku sangat lelah, lepaskan pelukanmu ini."


"Aku tidak mau, Argio. Kamu saja bisa menghabiskan waktu bersama Naya berjam-jam. Kenapa denganku tidak mau?"


Argio memejamkan matanya berusaha meredam gejolak penuh kekesalan pada wanita seperti Chelsea. Ia tidak bisa membayangkan menjalani rumah tangga dengan Chelsea.


"Sekarang mau mu apa?" Menyerah. Argio memilih menyerah. Semakin ia keras maka Chelsea akan lebih keras lagi.


Senyuman terukir dari bibir Chelsea. Sambil memainkan kancing baju Argio ia menatap wajah tampan pria tersebut.


"Aku ingin malam ini kita tidur bersama," balas Chelsea sambil mengigit bibir bawahnya sensual.


"Tidak bisa!" tolak Argio mentah-mentah. Ia masih waras, tidak mungkin ia tidur satu kasur dengan wanita seliar Chelsea.


_____


Bagaimana, sudah panjangkan partnya?

__ADS_1


__ADS_2