
Hai semuanya! Bagaimana kabarnya? Semoga semuanya baik-baik saja dan selalu bahagia.
Terima kasih masih setia menunggu:)
Maaf ya updatenya agak lambat. Tapi besok aku akan update lagi.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.
Tandai kalau ada typo
...~Happy Reading~...
...•...
...•...
...•...
...•...
Setelah satu jam berada di butik akhirnya Chelsea sudah mendapatkan gaun sesuai keinginannya. Seharusnya hari ini merupakan hari yang sangat menyenangkan bagi Chelsea apalagi beberapa hari lagi pertunangannya dengan Argio akan berlangsung. Tapi, dengan kehadiran Naya di tengah-tengah mereka berdua membuat Chelsea merasa Naya sebagai ancaman yang nyata apalagi melihat sikap yang Argio tujukan pada wanita tersebut sangat berbeda. Menyebalkan!
Niatnya yang ia memberikan pelajaran pada Naya malah berakhir membuat emosinya meradang.
"Argio, bagaimana kita restoran dulu? Aku sangat lapar," adu Chelsea sambil memeluk lengan Argio manja.
Naya yang berjalan dibelakang keduanya hanya memperhatikan interaksi antara Argio dan Chelsea. Terkadang menatap sekitar. Jujur, ia benar-benar tidak nyaman berada di tengah-tengah keduanya. Namun, ia merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya ketika melihat Chelsea memeluk dan bermanja-manja pada Argio.
"Ya sudah, kita makan di restoran sebrang jalan," balas Argio menatap restoran yang bersebrangan dengan butik yang mereka datangi.
Chelsea mengangguk semangat dan semakin mengeratkan pelukannya di lengan Argio. Pria itu melirik sekilas pada Naya yang berjalan di belakangnya.
"Jangan terus melamun!" Ucapan Argio yang ditujukan pada Naya, membuat wanita itu tersentak.
Chelsea menoleh ke arah Naya lalu tersenyum sinis.
"Iya, Tuan," balas Naya dengan suara yang pelan lalu menundukkan pandangan matanya ke bawah. Entahlah kepalanya tiba-tiba terasa pusing dan perutnya bergejolak.
Kini, keduanya sudah memasuki restoran. Mereka bertiga di sambut ramah oleh pelayan. Argio melangkahkan kakinya menuju ke meja yang kosong. Pria itu selalu melirik ke belakang seolah memastikan Naya masih mengikutinya.
Ketika ketiganya sudah duduk di kursi masing-masing, pelayan datang lalu memberikan buku menu makanan yang akan mereka pilih.
"Argio, kamu mau yang mana?" Chelsea memperlihatkan buku menu makanan pada calon tunangannya tersebut.
"Aku tidak makan, kamu saja yang pesan."
Chelsea mengerucutkan bibirnya. Wanita itu memilah-milah menu makanan dan minuman yang tertera. Tatapan Argio beralih pada Naya.
"Kamu ingin makan apa biar sekalian dengan Chelsea," tawar Argio pada Naya.
Wanita itu menggeleng."Saya tidak makan. Cukup air putih saja."
Sebelah alis Argio terangkat mendengar itu. Meskipun begitu pria tersebut mengabulkan apa yang Naya minta. Chelsea menyebutkan makanan dan minuman yang ia pesan pada pelayan.
"Tuan ingin pesan apa?" tanya pelayan wanita yang kini beralih pada Argio.
"Makanannya sama' kan saja dan satu air putih botol." Pelayan restoran itu mengangguk setelah mencatat pesanan yang diminta.
"Kalau begitu tunggu sebentar, pesanan akan segera diantar."
Argio mengangguk. Chelsea mengeluarkan ponselnya dari dalam tas. Ia mengirimkan foto gaun yang ia beli pada Caesa. Naya tampak diam dengan perasaan canggung. Ia menatap sekitar yang begitu ramai oleh pengunjung restoran.
__ADS_1
"Argio ..."
"Hmm?"
"Bagaimana setelah bertunangan dua minggu kita langsung menikah saja? Aku tidak ingin menunggu lebih lama," ucap Chelsea dengan suara yang terdengar manja.
Argio diam tak langsung menjawab. Ekor matanya melirik Naya, raut wajah wanita itu tampak berubah ketika mendengar ucapan Chelsea. Argio menipisnya bibirnya.
"Kita lihat saja nanti."
Senyuman Chelsea mengembang sempurna. Ia menyandarkan kepalanya dibahu kokoh Argio. Hari ini pria itu tampak tak protes dengan sentuhan yang Chelsea berikan. Tatapan Argio terus mengarah pada Naya. Seolah melihat reaksi Naya saat melihat ke arahnya.
Naya memalingkan wajahnya menatap ke arah lain. Lebih baik ia menolak ajakkan Argio untuk menemani mereka berdua daripada harus terjebak seperti ini. Melihat kemesraan keduanya membuat sesuatu dalam dirinya terasa sakit.
Tidak lama pesanan ketiganya datang. Kening Chelsea mengernyit ketika Argio memberikan makanan yang ia pesan pada Naya.
"Makanlah, jangan sampai kamu pingsan dan menyusahkan ku!" Argio memberikan satu piring spaghetti karbonara pada Naya.
"Lho? Kenapa dikasih ke Naya? Itukan punya kamu," ucap Chelsea dengan wajah merenggut.
Argio menoleh pada Chelsea."Aku masih kenyang."
Chelsea mengerucutkan bibirnya dan menatap sinis ke arah Naya. Mendadak nafsu makannya jadi hilang. Memangnya apa yang Naya miliki hingga Argio begitu baik pada Naya?
"Kenapa diam? Ayo makan," desak Argio kala Naya terpaku menatap ke arahnya.
Naya menatap makanan dihadapannya sejenak. Dengan ragu-ragu ia menyuapkan makanan tersebut dalam mulutnya. Bibir Argio menipis memperhatikan Naya. Pria itu seolah melupakan sosok Chelsea yang duduk di sampingnya dan kini tengah terbakar oleh api cemburu.
•
•
Setelah dari restoran ketiganya langsung pulang ke mansion. Argio tidak bisa berlama-lama menemani Chelsea karna harus mengurus pekerjaannya di perusahaan.
Wanita itu menggeleng disertai senyuman tipis."Tidak usah, Bi. Hanya pegal aja. Sekarang badanku mudah sekali merasa lelah."
"Itu karna Nona Naya sedang hamil. Efek hamil itu membuat badan jadi cepat lelah saat melakukan aktivitas."
"Begitu, ya?"
Merry mengangguk.
"Nona ingin mandi? Nanti saya siapkan air hangat untuk Nona."
"Tidak usah, Bi. Aku bisa sendiri. Aku juga tidak ingin terus merepotkan Bibi."
"Saya tidak merasa direpotkan apalagi tuan Argio sudah menugaskan saya untuk terus menemani Nona Naya dan memberikan apapun yang Nona minta."
Naya menghela napas pelan. Ia mengulum bibirnya. Jujur, ia sangat tidak betah berada dalam mansion ini. Ia merasa terpenjara dalam mansion yang megah ini. Ia ingin kembali kehidupannya yang seperti dulu, menjalani kehidupan sebagai mestinya.
"Bi?"
"Iya, Nona? Apa Nona membutuhkan sesuatu?"
Naya mengangguk dengan tatapan yang tampak redup.
"Bibi bisa bantu aku keluar dari mansion ini?"
Pupil mata Merry membesar mendengar permintaan Naya.
"Hanya sebentar, aku ingin melihat keadaan ibuku setelah itu aku akan kembali lagi ke sini," sambung Naya penuh harap. Ia sangat merindukan ibunya.
__ADS_1
"Maaf Nona, untuk permintaan yang ini saya tidak bisa mengabulkan. Tuan Argio akan marah besar bila saya membiarkan Nona keluar dari mansion."
Naya tertunduk dengan sorot kesedihan yang kentara. Merry merasa kasihan melihat kesedihan yang terbingkai di wajah Naya. Ia benar-benar tidak berani melanggar aturan tuan Argio.
"Kalau begitu saya permisi. Jika Nona membutuhkan sesuatu langsung panggil saya."
Setelah berpamitan Merry segera keluar dari kamar. Naya menatap sendu pada pintu yang kini sudah tertutup rapat.
"Aku sangat merindukan ibu ..." Suara Naya terdengar serak dan lirih.
Sepertinya di mansion tidak ada satu orang pun yang ingin membantunya. Mereka semua sangat patuh pada Argio hingga tak berani melanggar aturan pria itu. Padahal ia hanya ingin menemui ibunya setelah itu ia akan kembali lagi. Andai malam itu tidak terjadi dan ia tidak hamil mungkin ia akan berkumpul dengan ibunya sampai saat ini.
•
•
Angin malam berhembus menerpa permukaan wajah seorang pria. Langit malam ini terlihat begitu indah dengan taburan bintang dan sinar rembulan. Helaan napas panjang terdengar dari Argio.
Ia kembali menyesap rokok di jarinya sambil memandangi langit malam. Ia duduk di kursi yang ada di balkon dan sesekali meminum kopi panas yang baru saja diseduh.
"Sepertinya kamu banya pikiran, Argio?"
Argio melirik melalu ekor matanya kala Hendrik melangkah mendekat. Pria itu berdiri di samping Argio.
"Apa kamu memikirkan Naya?"
Tanpa ragu Argio mengangguk mengiakan. Ia mendongak menatap Hendrik yang berdiri di sampingnya.
"Dua bulan lagi usia kandungan Naya akan memasuki empat bulan dan saat itu aku akan melakukan pembuktian."
Hendrik terkekeh membuat kening Argio mengernyit.
"Untuk apa melakukan pembuktian seperti tes DNA, itu sudah jelas anakmu. Bukankah Naya tidak pernah menjalin kedekatan dengan laki-laki mana pun. Dan bukankah Aldo sudah memberikan data-data tentang Naya."
"Jadi untuk apa meragukan Naya. Apa kamu tahu Argio, sikap kamu yang seperti ini akan melukai Naya apalagi meragukan anak yang Naya kandung. Walau aku tidak mengenal dekat Naya, tapi aku yakin dia perempuan yang baik," sambung Hendrik.
Argio membuang putung rokoknya ke bak sampah sambil menghela napas berat.
"Aku tahu, tapi aku butuh bukti untuk menyakinkan diriku," balas Argio."Sebaiknya Paman carikan rumah sakit terbaik dan tercaya untuk melakukan tes DNA nanti karna aku tidak ingin masalah ini sampai bocor."
"Baiklah. Tapi kamu harus ingat dengan perkataan ku tadi."
Argio tak membalas ucapan Hendrik, ia menatap ke arah lain seolah tak ingin memperpanjang obrolan mereka berdua.
•
•
Dengan hati-hati Argio membuka pintu kamar hingga tak menimbulkan suara. Tatapannya langsung mengarah pada punggung mungil yang membelakanginya dan tampak tertidur sangat nyenyak. Argio melangkah masuk ke dalam kamar tersebut lalu menutup pintunya.
Sambil membawa paper bag hitam ia mendekat pada kasur yang ditempati Naya. Pria itu meletakkan paper bag yang ia bawa di atas meja dekat kasur.
Mata hitam Argio memandangi wajah Naya yang tertidur begitu nyenyak. Wajah wanita itu terlihat damai. Setiap ia memandangi wajah Naya selalu muncul gelenyar aneh dalam hatinya.
"Sepertinya aku tidak bisa lebih lama membiarkan mu tinggal di mansion," gumam Argio pelan. Ia merasa Naya akan menjadi ancaman yang membuat ia tidak ingin melepaskan wanita tersebut.
_____
Jangan lupa mampir ke Instagram
@ Kissa_Al07 untuk mendapatkan informasi terupdate tentang cerita ini?
__ADS_1
Bagaimana dengan bab ini? Apakah mereka berdua bisa bersatu?