Pelayan Perawan Milik Tuan Muda

Pelayan Perawan Milik Tuan Muda
Diculik?


__ADS_3

Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.


See you di part selanjutnya


Tandai bila ada typo


...~Happy Reading ~...


...•...


...•...


...•...


...•...


Ibu Tini membantu Naya berbaring ke kasur. Tubuh wanita muda itu begitu lemas setelah memuntahkan isi dalam perutnya. Bahkan kepalanya sangat pusing.


"Sekarang kamu istirahat, Nak. Ibu akan membuatkan teh jahe untukmu," ucap ibu Tini mengusap penuh kasih sayang kepala Naya.


Wanita itu mengangguk lemah dengan kedua mata terpejam merasakan rasa pusing yang semakin menjadi-jadi. Ia merasa rumah ini seperti berputar-putar. Ibu Tini keluar dari kamar menuju dapur.


"Bila aku terus seperti ini bagaimana bisa bekerja ..." gumam Naya merutuki keadaannya sekarang. Apalagi ia menjadi tulang punggung.


Sekitar beberapa menit ibu Tini kembali masuk ke dalam kamar membawa secangkir teh jahe hangat. Minuman ini sangat cocok untuk masuk angin termasuk meredakan kondisi saluran napas dan hidung tersumbat.


"Ayo minum dulu, Nak." Wanita paruh baya itu membantu Naya bangkit dari kasur lalu memberikan secangkir teh jahe hangat.


"Sebaiknya besok libur saja bekerjanya. Ibu tidak tega melihat kamu bekerja dengan keadaan seperti ini."


Naya meletakkan cangkir yang menyisakan setengah teh jahe di atas meja.


"Aku tidak bisa libur, Bu. Mungkin besok aku akan kembali pulih." Naya tersenyum meyakinkan.


Ibu Tini menghela napas berat."Tapi kondisi kamu sangat mengkhawatirkan. Gejalanya sangat mirip seperti orang hamil."


Uhuk!  Uhuk!


Naya tersendak ludahnya sendiri mendengar ucapan yang ibunya lontarkan.


"Naya, kamu tidak apa-apa?" Ibu Tini mengusap-usap dada Naya. Ia kembali memberikan teh jahe pada putrinya


"Aku tidak apa-apa, Bu. Aku ingin istirahat," ucap Naya ketika batuknya mulai mereda. Ketakutan muncul dalam benaknya dengan ucapan sang ibu.


"Ya sudah, sekarang istirahat."

__ADS_1


Ibu Tini menutupi setengah tubuh Naya dengan selimut tipis berkarakter Hello Kitty ketika putrinya sudah berbaring. Naya benar-benar bersyukur memiliki orang tua seperti ibunya yang sangat perhatian. Walaupun harus mengorbanan dirinya sendiri untuk memulihkan ibunya dari penyakit yang di derita.


Setelah ibunya keluar dari kamar, Naya menatap atas langit-langit kamar. Menerawang bagaimana ke depannya nanti. Tangannya kembali terulur mengusap perut datarnya. Ia masih tidak menyangka tengah hamil. Seolah semuanya hanya mimpi.


"Apa yang harus aku lakukan pada janin yang aku kandung sekarang? Apa harus digugurkan?"


Ide gila itu terlintas dalam kepala Naya. Apalagi mengingat respon Argio yang tak percaya ia mengandung anak pria itu. Apa ia semurahan itu di mata Argio? Mengingat itu membuat dada Naya terasa panas.




Suara ketukan pintu berkali-kali terus berbunyi di depan pintu. Ibu Tini yang pagi-pagi sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan pagi dan bekal untuk Naya segera membuka pintu.


Wanita paruh baya itu mematung sejenak dengan tatapan bingung melihat tiga pria dengan pakaian formal sudah berdiri di depan pintu.


"Kalian siapa?" tanya ibu Tini memperhatikan satu-satu pria di hadapannya.


"Perkenalkan saya Aldo." Aldo mengulurkan tangannya yang disambut ibu Tini.


"Begini, saya ke sini ingin menjemput Naya. Bos ingin bertemu dengannya. Ada urusan penting yang ingin dibicarakan," ucap Aldo begitu sopan.


Alis ibu Tini mengkerut."Maksudnya bos tempat Naya bekerja?"


Aldo terdiam sejenak setelahnya mengangguk.


"Apa langsung dibawa ke mansion?" tanya salah satu dari pria yang ikut menemani Aldo menjemput Naya.


Aldo mengangguk."Iya, Tuan Argio meminta kita langsung membawanya ke mansion."


Pasalnya jarak ke mansion dari rumah ini membutuhkan waktu dua jam karna beda kota. Tapi bila Argio sudah memerintah semuanya harus terlaksa.


"Memangnya siapa yang mencariku?"


Aldo menghentikan obrolannya ketika mendengar suara wanita yang menjadi incaran mereka bertiga.


"Kamu lihat dulu, katanya bos kamu ingin bertemu."


Keduanya bersama-sama berjalan menuju ke pintu. Naya terdiam beberapa saat ketika melihat tiga orang pria sudah berdiri di depan pintu. Ia melirik sekilas pada sang ibu dan kembali merotasikan tatapannya pada tiga pria di hadapannya.


"Ada keperluan apa kalian mencariku?" Naya melontarkan pertanyaan.


"Bos ingin bertemu," jawab Aldo disertai senyuman ramah.


Setahu Naya bosnya tak memiliki anak buah seperti ini. Dan ia tak sepenting itu hingga bos ingin bertemu dengannya.


"Bisakah anda ikut dengan kami? Bos kami sudah menunggu. Setelah semuanya selesai saya akan mengantarkan pulang kembali."

__ADS_1


Naya kembali terdiam sejenak. Namun, setelahnya ia mengangguk tanpa menaruh rasa curiga wanita itu kembali masuk ke dalam rumah mengambil tasnya. Setelah berpamitan dengan sang ibu, Naya mengikuti tiga pria itu masuk ke dalam mobil.


"Memangnya bos ingin bertemu dengan ku ingin membicarakan apa? Lalu sejak kapan kalian bekerja? Kenapa aku tidak pernah melihat kalian?" Rentetan pertanyaan terlontar dari mulut Naya. Beruntung kondisi wanita itu mulai pulih walau masih merasakan pusing dan mual.


"Anda cukup diam, anda akan mengetahui semuanya setelah bertemu dengan bos," ucap Aldo.


Naya menatap ke arah jalan raya. Kerutan halus muncul di keningnya. Setahu nya ini bukan jalan menuju ke tempat kerjanya.


"Kenapa lewat sini? Bukannya tempat kerja ada di sana."


Aldo saling melempar pandang dengan dua anak buahnya.


"Kalian siapa?" ucap Naya mulai menaruh curiga. Ia menjaga jarak dengan seorang pria bertubuh besar yang duduk di sampingnya.


Sekelibat ia teringat dengan ucapan Argio kemarin yang akan menjemputnya. Apa jangan-jangan ini anak buah Argio?


"Kalian suruhan Argio?"


Tidak ada jawaban dari tiga pria itu membuat Naya semakin yakin tiga pria itu anak buah Argio. Ia berusaha membuka pintu mobil yang melaju dengan kencang di jalan tol. Namun, percuma pintu mobil itu terkunci.


"Kalian ingin membawaku ke mana?" pekik Naya.


"Bertemu dengan tuan Argio. Kami tidak akan menyakiti, hanya ingin membicarakan sesuatu," jawab Aldo melirik Naya dari kaca spion dalam mobil. Raut wajah wanita itu tampak cemas.


Naya tak menelan mentah-mentah ucapan pria asing yang tengah menyetir mobil itu. Ia tak yakin Argio hanya sekadar ingin membicarakan sesuatu padanya sampai menyuruh anak buah pria itu untuk menjemputnya.


"Apa yang kamu lakukan!" sentak salah satu pria yang duduk di samping Naya, ketika wanita itu nekat membuka kaca mobil dan hendak keluar dari sana.


"Lepaskan aku! Aku tidak ingin ikut kalian!" Naya melepaskan lilitan tangan seorang pria yang mendekap tubuh mungilnya.


Wanita muda itu tampak brutal berusaha melepaskan diri. Bukan apa-apa, ia teringat dengan ibunya dan ia takut tidak bisa kembali pulang.


"Aku ingin pulang, lepaskan _"


Kesadaran Naya langsung lenyap seketika ketika mulut dan hidungnya di bekap dengan sebuah sapu tangan yang sudah diberi cairan obat bius.


"Kerja bagus," puji Aldo.


Mobil yang kendarai Aldo sudah keluar dari jalan tol. Tak lama mobil itu sudah sampai di area mansion.


_____


Bagaimana? Mau lanjut? Semoga nggak bosen ya.


Jangan lupa mampir ke akun Instagram aku @khazana_va untuk mendapatkan informasi terupdate cerita ini.


See you di part selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2