
...Selamat membaca. ...
...Jangan lupa mampir ke Instagram aku @Kissa_Al07 ...
...See you di part selanjutnya...
...****...
Naya mengkerutkan keningnya ketika mendapat paper bag di atas meja kamarnya. Ia meletakkan handuk yang baru saja ia kenakan di kasur lalu mengambil paper bag tersebut. Tanpa ragu Naya melihat isi dalam paper bag itu seingatnya ini bukan miliknya.
Mata Naya melebar ketika mendapati gaun berwarna biru yang sempat pencuri perhatiannya di butik kemarin.
"Aku tidak membeli gaun ini, kenapa tiba-tiba sudah ada di sini?" monolognya bertanya-tanya.
Naya diselimuti keheranan dengan apa yang ia dapatkan namun satu nama seseorang muncul dalam kepalanya.
"Apa dia yang membelinya untukku?"
Setelah bergumam seperti itu Naya bergegas keluar dari kamar sambil membawa paper bag di tangannya. Wanita itu mengetuk-ngetuk pintu kamar yang bersampingan dengan kamarnya. Tak lama pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok Argio yang sudah rapi dengan pakaian formalnya dan aroma maskulin yang beraroma lembut.
"Ada apa?" tanya Argio datar. Mata pria itu melirik paper bag yang Naya bawa.
"Apakah Tuan yang meletakkan paper bag ini di kamar saya?" tanya Naya sambil memperlihatkan barang yang ia bawa.
"Hmm ..."
"Apa ini untuk saya?"
Argio menghela napas berat. Ia sedikit mencondongkan wajahnya pada Naya, membuat wanita itu mundur beberapa langkah. Bahkan aroma harum semakin menusuk ke indra penciuman Naya.
"Menurutmu gaun berwarna biru itu untuk siapa, hmm?"
Naya diam sambil mengulum bibirnya. Ia takut salah jawab dan terlalu percaya diri bila Argio membelikan gaun ini untuknya.
"Gaun itu sengaja aku belikan untukmu. Karna aku tidak ingin saat acara pertunanganku nanti kamu hanya mengenaikan pakaian biasa. Karna itu akan sangat memalukan untukku."
Setelah mengatakan itu Argio mendorong pelan tubuh Naya, hingga wanita itu menyingkir dari depan pintu kamarnya. Ia melangkah melewati Naya yang diam mematung.
Naya menunduk menatap paper bag yang ia pegang. Ia kira Argio membelikan ini karna tahu ia menginginkannya. Tapi sepertinya ia tidak boleh meletakkan harapan lebih dalam hatinya dengan kebaikkan pria tersebut.
Naya menghela napas berat. Namun, tak lama Naya memanggil Argio membuat langkah pria itu terhenti. Argio berbalik menghadap ke arah Naya.
"Ada apa lagi?"
Naya tak langsung menjawab. Ia melangkah mendekati Argio hingga berdiri tepat dihadapan pria tersebut.
__ADS_1
"Apakah saya boleh minta sesuatu?"
"Katakan, apa yang ingin kamu minta?"
Naya mengigit bibir bawahnya. Ia begitu ragu mengatakan ini tapi ia tidak mungkin hanya diam dan memendam semuanya.
"Bolehkah saya pulang sebentar menemui ibu saya? Saya sangat merindukan ibu ..." Suara Naya bergetar. Ia sangat merindukan ibunya dan tak sadar gumpalan air mata memenuhi pelupuk mata Naya. Apalagi mengingat ibunya baru saja sembuh setelah operasi.
Argio menyelipkan tangannya dalam saku celana dan menyorot tajam ke arah Naya."Sebelum tes DNA belum dilakukan kamu tidak bisa pergi ke mana pun."
"Tapi aku hanya pergi sebentar. Aku hanya ingin menemui ibuku. Lalu kenapa Tuan harus menahanku di sini? Kalau Tuan meragukan anak yang aku kandung darah daging Tuan, maka bebaskan aku dan tidak perlu melakukan tes DNA!"
"Aku tidak butuh pertanggung jawaban, Tuan!" pekik Naya dengan napas menggebu-gebu disertai emosi yang tak terkendali.
Rahang Argio mengeras. Ia melangkah maju hingga menubruk tubuh mungil Naya. Tangan besarnya mencengkram pipi Naya, membuat wanita meringis kesakitan. Argio menekan pipinya sangat kuat.
Kepala Naya dipaksa mendongak menatap Argio yang menjulang tinggi dihadapannya.
"Seharusnya kamu bersyukur aku masih ada niat bertanggungjawab. Perempuan rendahan sepertimu sangat mudah aku singkirkan, tapi aku masih punya hati untuk tetap mempertahankanmu dan membuktikan anak yang kamu kandung anakku atau tidak!"
"Jangan berpikir aku menahanmu di mansion ini karna kamu penting! Kamu tidak ada apa-apanya di mataku!"
Argio melepaskan cengkraman tangannya di pipi Naya dengan kasar. Wanita itu langsung memegangi kedua pipinya yang berdenyut ngilu dan meninggalkan bekas kemerahan. Air mata berguguran membasahi wajah Naya. Ia menatap Argio dengan tubuh bergetar hebat antara takut dan emosi yang tertahan dalam dadanya.
Argio memalingkan wajahnya. Berusaha menenangkan gejolak dalam dadanya. Ia mengepalkan kedua tangannya dan memejamkan matanya sejenak.
Bukan hanya fisiknya yang tersakiti tapi hatinya. Ia memang wanita biasa tapi pantaskah ia di perlakukan seperti ini.
"Sangat rendah ..." balas Argio setelah itu beranjak dari hadapan Naya.
Wanita itu menunduk menatap lantai marmer dengan lelehan air mata yang berjatuhan.
"Argio, kamu langsung berangkat?"
Langkah Argio terhenti Caesa melempar pertanyaannya. Ia menoleh menatap kedua orang tuanya tengah duduk di ruang makan dan tengah menikmati sarapan pagi mereka. Di sana juga ada Chelsea.
"Kemarilah Nak, sarapan terlebih dahulu setelah itu baru berangkat ke perusahaan," ucap Arga sambil melirik kursi di sampingnya.
Caesa melirik ke atas tangga."Di mana Naya?"
Raut wajah Argio berubah mendengar nama wanita itu di sebut.
"Aku harus segera berangkat!" Argio kembali melanjutkan langkahnya menuju ke pintu keluar.
"Ada apa dengannya? Apa suasana hatinya sedang buruk?" ucap Arga pada sang istri.
__ADS_1
Caesa menggidikkan bahunya." Aku pun tidak tahu. Anak itu sulit tertebak."
Chelsea menatap sosok Argio menghilang dari pandangan matanya. Kerutan halus timbul di kening wanita tersebut. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan apalagi ia menangkap perubahan raut wajah Argio ketika nama Naya di sebut.
"Chelsea ..."
"Iya, ada apa, Tante?" Chelsea menoleh pada Caesa di sampingnya.
"Kapan ayahmu kembali ke Indonesia? Sebentar lagi pertunanganmu dan Argio akan segera berlangsung."
"Satu hari sebelum acara pertunangan, Tante."
"Baguslah kalau begitu. Hari ini ruang tamu akan di dekor. Dan sepertinya hari ini kita akan sangat sibuk," ucap Caesa diserta kekehan ringan. Arga mengulas senyum menatap kedua wanita beda generasi itu.
Chelsea mengangguk diserta senyuman yang mengembang.
"Ooh ya. Semenjak kita menginap di mansion ini kenapa Naya jarang sekali keluar kamar dan bergabung dengan kita?" ucap Caesa menatap suaminya dan Chelsea bergantian.
"Mungkin Naya sungkan atau malu untuk bergabung dengan kita. Biarkan saja dia, mungkin dia lebih nyaman seperti itu," balas Arga.
Sementara wajah Chelsea terlihat tak suka setiap membahas tentang Naya. Ia benci dan tak suka dengan sesuatu yang berhubungan dengan Naya.
•
•
Naya menghindar ketika Merry hendak mengompres bagian pipi wanita tersebut. Pelayan itu tampak tak tega melihat memar di wajah Naya. Ia tak bisa membayangkan sekasar dan sekuat apa tuan Argio menekan kedua pipi Naya.
Ia tidak menyangka majikannya tersebut sanggup melakukan hal sekasar ini. Namun, ia sadar dengan emosi tuan Argio yang terkadang tak bisa dikendalikan bila sudah terpancing.
"Maaf bila saya lancang, apa yang sebenarnya yang terjadi sampai tuan Argio melakukan hal seperti ini pada Nona Naya?"
Naya tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang seolah mengurangi rasa sesak di dadanya.
"Bolehkah tinggalkan aku sendiri di kamar ini? Aku ingin menenangkan diriku. Bibi tidak perlu khawatir dengan keadaan ku, aku baik-baik saja," balas Naya disertai senyuman tipis walau pipinya terasa sakit.
Merry menatap sejenak pada Naya. Ia benar-benar kasihan dengan nasib wanita muda dihadapannya. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Naya setelah mahkotanya direnggut dan sekarang hamil.
"Baiklah."
Merry berbalik dan melangkah keluar dari kamar lalu menutup kamar tersebut. Air mata Naya langsung meluruh setelah Merry keluar dari kamar ini. Hatinya sangat sakit dengan ucapan Argio.
_______
Bagaimana part ini?
__ADS_1
Tandai kalau ada yang typo😁