
Hai semuanya! Apa kabar?
Terima kasih sudah mampir ke karyaku dan masih setia menunggu lanjutannya.
Maaf kali ini update agak lambat. Semoga nggak bosan menunggu ya. Kali ini partnya sangat panjang. Semoga kalian puas.
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.
Tandai kalau typođ
...~Happy Reading ~...
...â˘...
...â˘...
...â˘...
...â˘...
Napas Naya tersengal bersamaan dengan kedua matanya yang terbuka lebar kala merasakan sentuhan yang menjalar dibagian tubuhnya, membuat wanita itu terbangun dari tidur nyenyaknya. Sedangkan sang pelaku langsung menjauhkan dirinya setelah menghirup aroma manis tubuh Naya.
Wajah Argio terlihat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Apa yang Tuan lakukan?" Naya bertanya dengan suara sedikit tersendat. Ia segera menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut seolah melindungi tubuhnya. Ia merasa curiga pada Argio.
Tiba-tiba pikirin negatif muncul dalam kepalanya pada pria dihadapannya.
"Aku tidak melakukan apapun. Hanya memeriksa apa di tempatmu masih ada satu selimut lagi."
"Lagipula aku tidak semudah itu tergoda padamu. Jadi jangan berpikiran aku akan macam-macam," balas Argio tampak tersinggung ketika Naya menatap dirinya seperti pria mesum.
Naya tak berniat membalas ucapan Argio melainkan menundukkan kepalanya menghindari kontak mata dengan Argio. Lagipula ia belum bertanya apa-apa tapi pria itu langsung menyemburkan ucapannya.
Sementara Argio tampak mencari-cari sesuatu yang ia sendiri sudah tahu itu tidak ada diruangan ini.
"Aku terbiasa tidur dengan selimut," ucap Argio buka suara seolah memusnahkan pikiran negatif yang bisa saja muncul dikepala Naya padanya.
Ia tidak ingin wanita itu besar kepala setelah tahu ia menyentuhnya. Seharusnya ia tidak melakukan itu.
Sedangkan Naya menatap ke arah pendingin ruangan. Diruangan ini memang lumayan dingin dan ia merasakan itu. Naya melirik Argio yang masih berdiri disamping brankarnya.
Perlahan Naya menarik selimut yang menutupi seluruh tubuhnya lalu menyodorkannya pada Argio.
"Tuan pakailah selimut ini."
Kedua alis Argio bertaut dengan apa yang Naya lakukan. Dengan kasar ia mendorong selimut yang wanita itu sodorkan.
"Tidak perlu. Aku akan minta pada petugas rumah sakit."
Setelah mengatakan itu Argio keluar dari ruangan tersebut. Naya menatap sendu pintu yang kini tertutup rapat. Seharusnya pria itu tidak perlu menginap di sini dan bila dilihat pria itu seperti terpaksa menjaganya. Memikirkan hal ini membuat ia teringat ibunya. Bagaimana dengan kabar ibunya? Apakah ibunya baik-baik saja?
Naya membuang napas kasar.
"Aku ingin sekali pulang ke rumah. Tapi apakah tuan Argio akan mengizinkannya?" gumam Naya.
"Kenapa kamu harus hadir dengan cara seperti ini?" Naya mengusap perut datarnya dengan lirih. Ia tidak menyesali janin tersebut hadir dalam rahimnya tapi ia hamil diwaktu yang salah dan tidak tepat. Dan ia merutuki kebodohannya yang tidak langsung meminum pil KB setelah berhubungan.
Dan juga, beberapa hari ini kepalanya dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus terngiang-ngiang. Bagaimana kedepannya nanti bila anaknya sudah lahir? Apakah ia akan tetap bersama Argio apalagi bila terbukti anak yang ia kandung memang benar darah daging dari pria tersebut.
Sedangkan di tempat lain Argio mendudukkan dirinya di kursi. Ia meneguk air botol yang ia beli di minimarket dekat rumah sakit. Beruntung minimarket dekat rumah sakit tersebut buka 24 jam.
"Sepertinya aku sudah gila melakukan itu padanya," gumam Argio disertai kekehan ringan merutuki kebodohannya.
Entahlah ia tidak bisa mengenyahkan ingatannya saat melewati malam panas dengan Naya. Seolah itu sudah melekat di kepalanya.
Suara dering ponsel membuat perhatian Argio teralihkan. Ia menatap layar ponselnya setelahnya mengangkat sambungan telpon tersebut.
"Ada apa, Paman?"
"Aku hanya ingin menanyakan keadaanmu. Apa kamu baik-baik saja menginap di sana?"
Argio menghela napas kasar lalu kembali meneguk air putih dalam botol tersebut.
__ADS_1
"Kenapa harus menanyakan itu? Sebaiknya paman tidur tidak perlu memikirkan keadaanku."
"Kamu tahu Argio. Ini pertama kalinya kamu menginap di rumah sakit dan itu demi menjaga Naya_"
"Aku hanya menjalankan tanggung jawabku. Walaupun aku belum tahu anak siapa yang dia kandung."
Membahas ini membuat Argio membayangkan anak yang Naya kandung bukan anaknya. Tentu, sangat membuang-buang waktu ia merawat wanita tersebut.
"Argio! Apa kamu mendengarku?"
Suara keras Hendrik dari sambungan telpon membuat Argio membuyarkan lamunannya.
"Ya, aku mendengarnya. Sudah ya paman, aku ingin istirahat."
Argio langsung mematikan sambungan telponnya saat Hendrik hendak kembali berbicara.
Setelah cukup lama berada di minimarket Argio kembali ke rumah sakit dan masuk ke ruangan yang ditempati Naya. Saat memasuki ruangan tersebut matanya langsung tertuju pada wanita tersebut yang menatap langit-langit kamar.
"Kenapa dia belum tidur lagi?" bathin Argio.
Ia berharap saat kembali lagi ke ruangan ini wanita tersebut sudah tertidur kembali tapi malah sebaliknya. Naya langsung menatap ke arah pintu ketika Argio kembali masuk ke ruangan ini. Manik coklat Naya langsung tertuju pada kresek hitam yang Argio pegang.
Pria itu berusaha tak memperdulikan tatapan Naya padanya. Ia masuk ke ruangan itu lalu mendudukkan dirinya di sofa dan meletakkan kantong kresek hitam yang ia bawa di atas meja. Seolah menganggap kehadiran Naya tidak ada di ruangan itu Argio mengeluarkan sesuatu dari plastik kresek hitam yang ia bawa. Ia membeli beberapa cemilan termasuk nasi goreng dekat rumah sakit. Perutnya terasa sangat lapar.
Naya meneguk ludahnya kasar melihat Argio menyantap nasi goreng yang menguar aroma yang sangat sedap membuat perutnya keroncongan. Ia mengecap-ngecap ketika memperhatikan setiap suapan masuk ke mulut Argio.
Tangan Naya terulur mengusap perut datarnya. Perutnya terasa sangat perih dan lapar. Sedangkan Argio tak memperdulikannya. Entah dorongan dari mana Naya turun dari brankar lalu melangkah mendekati Argio. Ia duduk di samping Argio. Memperhatikan pria itu menyantap makanannya.
"Kenapa?" Argio menoleh ke samping.
Wanita tampak tersenyum canggung."Enak nasi gorengnya?"
"Hmm ..."
Argio kembali melanjutkan memakan nasi goreng itu seolah tidak peka apa yang Naya inginkan. Wanita itu merapatkan bibirnya dengan tatapan kecewa kala melihat nasi goreng milik Argio sudah habis. Ia berharap pria itu menyisakan sedikit untuknya.
"Sana tidur. Kenapa duduk di sini?" ucap Argio seolah mengusir. Pria itu membuang bungkus nasi goreng itu ke bak sampah. Naya yang melihat itu menatap nanar.
Naya bangkit dari tempat duduknya. Ia melangkah menuju brankar dengan langkah lesu. Ia benar-benar lapar. Perutnya seperti diremas.
Suara panggilan Argio membuat Naya berbalik badan. Kedua mata wanita itu langsung berbinar lalu kembali mendekati Argio dengan senyuman sumringah.
"Bila lapar langsung bilang jangan hanya diam saja," ucap Argio seraya menyodorkan satu bungkus nasi goreng. Ia tidak sejahat itu membiar Naya kelaparan.
Naya segera mengambilnya. Ia mendudukkan dirinya di samping Argio. Dengan tak sabaran ia membuka bungkusan tersebut lalu memakannya dengan tergesa-gesa. Argio memperhatikan Naya yang makan begitu lahap.
"Terima kasih, Tuan. Nasi gorengnya sangat enak," ucap Naya dengan mulut penuh makanan.
Argio diam tak membalas. Mata tajamnya terus memperhatikan Naya menghabiskan makanan yang ia berikan.
"Apa tadi pagi belum sempat makan sampai kamu makan seperti orang kelaparan?"
Naya menggeleng tanpa mengalihkan pandangan matanya dari nasi goreng yang ia makan.
"Baru dua udang saya makan, setelahnya saya sudah berada di rumah sakit."
"Kalau sudah tahu alergi udang kenapa masih di makan. Itu sama saja menyiksa dirimu sendiri."
Naya menoleh menatap Argio di sampingnya."Kata bibi Merry saya sedang mengidam makanya tidak bisa menahan diri untuk tidak mencicipi makanan yang saya inginkan."
"Mengidam?" Kening Argio bertaut.
Naya mengangguk. Ia menatap cemilan dalam plastik kresek di atas meja."Kalau tidak dituruti nanti anaknya bisa ileran."
Kali ini wanita itu tampak tak canggung berbicara dengan Argio.
"Ini untukku?" tanya Naya menunjuk cemilan di atas meja.
"Hmm ..." Argio hanya membalas dengan deheman singkat. Naya langsung mengambil semua cemilan dalam kantong kresek itu.
Naya tampak kekenyangan setelah menghabiskan nasi goreng yang Argio berikan. Ia menyadarkan tubuhnya di bahu ranjang.
"Sekarang kembali ke brankar."
"Iya. Tapi saya ingin duduk di sini dulu. Perut saya seperti mau meledak."
__ADS_1
"Terserah kamu saja." Argio memilih membuka ponselnya memeriksa pesan yang masuk.
â˘
â˘
"Hari ini pasien boleh pulang. Kondisinya sudah sangat membaik. Tapi lain kali jangan memakan sesuatu yang membuat alerginya kambuh," jelas dokter pria tersebut.
Naya mengangguk paham. Setelah memeriksa kondisi Naya dan memperbolehkan Naya pulang dokter itu keluar dari ruangan tersebut. Pagi-pagi Merry sudah datang ke rumah sakit setelah Argio menelponnya.
"Di mana Argio?" Naya tampak celingukan mencari sosok Argio yang sudah tidak ada di ruangan ini saat ia terbangun dari tidurnya.
"Tuan Argio sudah pergi. Ada urusan mendadak," jawab Merry.
Naya manggut-manggut mendengar jawaban Merry.
"Sekarang ayo kita pulang, Nona. Setelah sampai dimansion Nona langsung istirahat."
Merry menggiring Naya keluar dari ruang rawat.
"Aku tidak nyaman bila harus lebih lama lagi tinggal di mansion, Bi." Raut wajah Naya tampak keruh.
"Dia datang sebagai pelayan dan sekarang kembali lagi ke mansion dengan keadaan hamil anak tuan muda. Bukankah itu seperti direncanakan?"
Mengingat ucapan beberapa pelayan yang tidak sengaja ia dengar membuat dadanya terasa sangat sesak.
"Apa ada sesuatu yang membuat Nona tidak nyaman dimansion? Katakan saja pada saya."
Naya menggeleng. Ia tidak mungkin menceritakan hal ini karna bisa saja Merry akan mengadukannya pada Argio.
Kini, keduanya masuk ke dalam mobil yang sudah sejak dari tadi terparkir di lobby rumah sakit menunggu keduanya.
"Apa Nona Naya ingin membeli sesuatu sebelum kita sampai ke mansion?"
Naya yang tampak menikmati perjalanan pulang mereka menoleh menatap Merry di sampingnya.
"Tidak. Aku ingin langsung pulang."
â˘
â˘
Jam baru menunjukkan pukul 11 malam namun suasana dalam mansion itu tampak sangat sepi. Tampak seorang wanita mengenakan gaun tidur menuruni anak tangga dengan hati-hati karna pencahayaan dalam ruangan tersebut remang-remang.
Tenggorokan Naya terasa kering dan ia ingin minum. Biasanya Merry menyediakan air putih di kamarnya.
"Sepertinya semua orang sudah tidur," monolognya menatap sekitar ruangan yang sepi dan hening.
Naya melangkah menuju dapur. Ia benar-benar dibuat kagum dengan mansion ini bukan hanya besar dan luas tapi dapur di sini juga begitu mewah. Naya mengambil gelas lalu menuangkan air putih yang ia ambil dari kulkas.
Pergerakkan tangan Naya terhenti ketika mendengar langkah seseorang dibelakangnya. Naya terdiam sejenak dan setelahnya berbalik badan. Kedua mata wanita itu melebar ketika mendapati Argio sudah berdiri dihadapannya. Pria itu masih mengenakan kemeja yang tampak sudah kusut. Tampilannya juga sedikit berantakan dengan rambut yang tak tertata rapi. Bisa Naya simpulkan Argio baru saja pulang.
"Sedang apa?"
"Sa-saya sedang minum," jawab Naya gugup, sambil memperlihatkan gelas yang pegang.
Argio memperhatikan pakaian yang Naya kenakan membuat ia terpana. Gaun tidur yang tipis membuat ia bisa melihat jelas lekuk tubuh Naya termasuk pakaian dalam wanita tersebut. Rambut yang dicepol memperlihatkan leher jenjang Naya. Napas Argio mendadak memberat. Ia dengan pelan-pelan memperhatikan tubuh wanita dihadapannya termasuk bagian dada wanita itu.
Argio melangkah maju. Naya ingin mundur namun tatapan pria itu seolah membuat tubuhnya terpaku ditempat. Tangan Argio terulur menyentuh gaun tidur yang Naya kenakan.
"Gaun yang sangat indah. Siapa yang memberikannya?" tanya Argio serak tanpa mengalihkan pandangan matanya dari Naya.
"Da-dari Merry." Rasa takut mulai merambat dalam benak Naya apalagi tatapan Argio kali ini terlihat sangat berbeda.
"Akh ..."
Naya terpekik ketika Argio dengan gerakkan tak terduga merengkuh pinggangnya lalu menarik dirinya hingga tubuh keduanya merapat sempurna. Naya menelan ludahnya kasar. Apa yang ingin pria ini lakukan padanya.
"Aku sangat menyukai aroma tubuhmu," ucap Argio menghirup dalam bagian leher Naya.
Rasanya Naya ingin berteriak dengan apa yang Argio lakukan padanya.
_____
See you di part berikutnya:)
__ADS_1