
Hai semuanya! Terima kasih sudah mampir
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan vote dan komen.
See you di part selanjutnya
Tandai bila ada typo
...~Happy Reading ~...
...•...
...•...
...•...
...•...
Satu bulan berlalu...
Tak terasa sudah satu bulan Naya meninggalkan kota yang merupakan tempat kelahirannya. Bukan karna takut dengan ancaman Argio, ia juga ingin melupakan semua masalah yang sudah menimpanya. Bahkan sudah satu bulan berlalu namun Naya tidak benar-benar melupakan kejadian pahit itu, seolah sudah melekat di kepalanya.
Namun, ia sedikit merasa tenang dan tak merasa tertekan seperti awal-awal kejadian pedih itu. Naya juga memilih untuk mengambil cuti kuliah, tentu hal tersebut ditentang oleh sang ibu. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak ingin mempersulit ibunya dan menambah beban mengeluaran yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keduanya dan membayar uang sewa rumah. Ia juga tidak memperbolehkan ibunya untuk bekerja.
Bahkan Naya juga tak menggunakan cek yang Argio berikan. Ia hanya menyimpan cek itu. Dan sekarang Naya bekerja sebagai pelayan self service. Beruntung ia mendapatkan pekerjaan setelah dua minggu pindah ke kota ini.
"Naya, kamu tawarkan minuman ini pada para tamu. Hati-hati membawanya," ucap Wulan memperingatkan.
Naya mengangguk lalu membawa nampan besar yang berisi minuman perasa yang akan ia tawarkan pada tamu undangan. Kebanyakan tamu yang hadir orang-orang penting dan sering muncul di televisi. Lebih tepatnya pesta ini dihadiri para pembisnis besar yang ada di negara ini.
"Silahkan minumannya, Tuan, Nyonya." Naya menawarkan minuman pada setiap tamu yang datang.
Mata coklat itu tak henti-hentinya berdetak kagum dengan dekorasi pesta yang sangat mewah. Ini pertama kalinya ia melakukan pelayanan self service dipesta sebesar ini.
"Minumannya tidak ada yang dingin?" pertanyaan seorang pria membuat Naya tertegun dari kekagumannya.
"Tuan ingin minuman yang dingin? Akan saya ambilkan," ucap Naya.
"Tidak perlu, ini saja." Pria itu meneguk minuman perasa berwarna merah itu.
"Sudah lama bekerja menjadi pelayan seperti ini?" tanyanya memperhatikan penampilan Naya dari atas sampai bawah.
"Baru seminggu saya bekerja menjadi pelayan."
"Benarkah? Padahal menampilan dan wajahmu sangat menarik."
Naya tersenyum kaku merespon ucapan pria itu. Ia mengalihkan pandangan matanya ke arah lain.
"Berapa umur mu?" tanya pria itu lagi.
__ADS_1
"22 tahun. Kalau begitu saya permisi." Naya memilih menjauh dari pria asing yang merupakan bagian dari tamu tersebut. Ia tak nyaman terus-menerus ditodong pertanyaan apalagi tentang kehidupan pribadinya.
Naya kembali menawarkan minuman yang ia bawa di dekat pintu masuk pada tamu undangan. Pandangan Naya mengedar, memperhatikan suasana pesta yang semakin ramai oleh para tamu. Namun, pandangan mata Naya terhenti pada sosok pria yang ia kenal.
"Jangan sampai ada darah saya dirahim mu."
Ucapan pria itu langsung terngiang-ngiang di telinga Naya. Ia melangkah mundur dan memilih untuk menyembunyikan dirinya dari Argio yang juga menghadiri pesta ini.
"Kenapa dia ada di sini?"
Naya berbalik badan, memilih menghindar dan menjauh dari Argio. Ia tidak ingin melihat maupun bertemu dengan pria itu.
Baru beberapa langkah berjalan, mendadak pandangan mata Naya memburam dan kepalanya tiba-tiba terasa sangat pusing. Dan ...
Prang!
Suara cangkir kaca yang terhempas ke lantai menarik perhatian orang-orang yang ada di sana. Pandangan Naya perlahan menggelap ketika orang-orang mulai mengerumuni dirinya yang sudah tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
•
•
"Eugh ..." Seorang wanita melenguh dan perlahan membuka matanya dengan rasa pusing yang kembali terasa.
Bau obat-obatan merasuk ke indra penciuman Naya yang kini terbaring dibrankar rumah sakit. Naya mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya di ruangan itu.
"A-aku di mana?" gumamnya pelan. Ia memegangi kepalanya yang terasa pusing dan perut bergejolak. Rasanya ia ingin muntah.
Naya langsung menoleh ke samping ketika mendengar suara seseorang. Wulan tersenyum tipis ketika Naya menatapnya.
"Tadi kamu pingsan setelah itu segera dibawa ke rumah sakit,"
"Kalau tidak enak badan bilang, Nay. Tidak usah memaksakan diri untuk tetap bekerja. Sekarang bagaimana keadaanmu? Apa kepalamu masih pusing?" tanya Wulan menatap Naya yang memegangi bagian kepalanya.
Naya mengangguk. Kepalanya memang sangat pusing ditambah perutnya bergejolak. Sebenarnya sudah dari pagi seperti ini. Tapi ia tidak mungkin libur bekerja sedang ia baru seminggu bekerja sebagai pelayan self service.
"Nay? Apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Bertanya apa?" Kening Naya mengkerut melihat raut wajah Wulan yang tampak berubah seolah memendam sesuatu yang ingin diutarakan.
"Kamu pernah tidur dengan laki-laki sebelumnya? Aku tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin bertanya."
Napas Naya tercekat di tenggorokan. Ia meremas sprei brankar. Kenapa tiba-tiba Wulan bertanya seperti itu padanya?
"Aku tidak pernah tidur dengan laki-laki manapun," jawab Naya sedikit tersendat."Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu?"
Wulan membuang napas kasar sebelum menjawab ucapan Naya."Dokter mengatakan kamu sedang hamil."
Detak jantung Naya berhenti persekian detak. Tubuhnya mendadak melemas. Wajah wanita itu berubah pucat. Naya menggelengkan kepalanya lirih. Ia tidak mungkin hamil.
__ADS_1
"Jangan bercanda, aku tidak mungkin hamil," ucap Naya terkekeh seolah ucapan yang Wulan lontarkan dianggap candaan.
Wulan menggenggam tangan kanan Naya yang terasa dingin."Kalau kamu belum siap cerita tidak apa-apa. Tapi yang jelas kamu sedang hamil, dan usia kandunganmu sudah dua minggu."
Naya mengigit bibir bawahnya kuat. Ia berusaha menahan air mata yang meluruh. Pikirannya melayang ke mana-mana. Tentu, kehamilannya ini akan menjadi aib dan apa yang ia sembunyikan selama ini dari ibunya akan terbongkar.
Wulan menatap iba pada Naya yang terlihat shock dengan wajah yang terlihat pucat. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Naya hingga hamil. Setahunya Naya belum menikah.
•
•
"Bagaimana?" Pertanyaan seorang pria yang duduk di jok belakang mobil dengan kedua tangan terlipat di atas dada.
"Dia positif hamil, Tuan."
Argio memejamkan matanya sejenak. Rasa kesal mulai menyelimuti benak pria itu. Ia yang melihat Naya jatuh pingsan di pesta, berpikir wanita itu hanya sakit biasa tapi nyatanya wanita itu sedang hamil. Ia juga tidak menduga akan kembali bertemu dengan Naya setelah ia meminta wanita itu untuk pergi sejauh mungkin.
"Dasar perempuan bodoh!" Umpatan keluar dari bibir Argio. Ia sudah mewanti-wanti wanita itu untuk meminum pil penunda kehamilan tapi sepertinya wanita itu memang sangat sulit untuk mengikuti perintahnya.
"Lalu apa yang ingin Tuan lakukan? Apa meminta dia mengugurkan kandungan nya?" tanya Aldo.
Argio menghela napas berat. Ia menyadarkan punggungnya di bahu jok mobil. Pria itu memejamkan matanya sejenak berusaha berpikir jernih untuk memutuskan semuanya.
"Sebaiknya lakukan tes DNA terlebih dulu. Bisa saja anak yang Naya kandung bukan anakku. Mungkin anak laki-laki lain," ucap Argio.
Karna bisa saja Naya juga tidur dengan pria lain setelah dengannya.
"Usia kandungan berapa bulan untuk bisa melakukan tes DNA?" tanya Argio pada Aldo.
"Setahu saya sekitar 15 mingguan, Tuan."
"Baiklah. Kita tunggu usia kandungan perempuan itu sampai 15 mingguan."
"Bila terbukti anak yang dia kandung adalah anak Tuan bagaimana?"
Mendengar itu membuat Argio memijit pelipisnya. Kepalanya semakin pusing memikirkannya. Baru kali ini otaknya benar-benar buntu untuk memecahkan masalah yang menimpanya.
"Kita selesai masalah tes DNA lebih dulu. Kamu cari informasi tentang Naya, termasuk laki-laki yang dekat dengannya."
Aldo mengangguk dengan perintah Argio.
•
•
"Ingin aku antarkan pulang, Nay?" tawar Wulan. Ia tak tega membiarkan Naya pulang sendirian dengan keadaan pikirannya yang kacau.
Apalagi setelah tahu mengandung, Naya lebih banyak melamun. Tentu, hamil tanpa ada status pernikahan akan menjadi masalah besar nantinya apalagi pria yang menanamkan benih dalam rahimnya tidak menginginkan anak yang dikandung. Terbukti dengan ancaman Argio yang tak sudi darah dagingnya dikandung Naya. Dan masalah semakin runyam dengan Naya yang tak meminum pil penunda kehamilan
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa pulang sendiri. Terima kasih sudah banyak menolong ku," balas Naya berusaha tegar di hadapan Wulan.
Wulan mengusap bahu Naya lembut. Seolah usapan yang ia berikan menyalurkan kekuatan untuk wanita tersebut agar lebih tegar lagi.