Pelayan Perawan Milik Tuan Muda

Pelayan Perawan Milik Tuan Muda
Sadar Akan Posisi


__ADS_3

"Kamu sedang hamil dan seharusnya tidak mengonsumsi buah nanas yang membahayakan kandungan!" bentak Argio menatap penuh kemarahan.


"Apa kamu sengaja melakukan ini semua?" tuding Argio.


Naya menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Menurutnya mengonsumsi buah nanas tidak membahayakan kandungan itu hanya mitos. Melihat keterdiaman Naya membuat Argio semakin geram.


"Merry!" Teriakan Argio menggelegar memanggil pelayan yang ia tugaskan menjaga Naya.


Suara keras Argio membuat Caesa dan Chelsea yang ada di lantai bawah tampak terkejut. Kedua wanita itu saling pandang dan setelahnya bangkit dari sofa lalu menyusul naik ke lantai atas.


"Ada apa Tuan memanggil saya?" Merry berjalan tergopoh-gopoh ketika Argio memanggilnya.


Pelayan itu melirik Naya yang tampak cemas bercampur takut di hadapan Argio. Tidak lama Caesa dan Chelsea memasuki kamar yang di tempati Naya.


"Ada apa Argio? Kenapa kamu berteriak?" tanya Caesa menghampiri putranya dengan raut wajah begitu penasaran.


Argio tak menghiraukan ucapan sang bunda, tatapan matanya lurus ke arah Merry.


"Kenapa kamu memberikan dia buah nanas? Bukankah itu tidak boleh."


"Sa-saya tidak memberikan dia buah nanas_"


"Aku sendiri yang mengambil buah nanas itu didapur. Jadi, jangan salahkan Merry," sela dan jawab Naya.


"Kamu ini kenapa Argio? Dia hanya makan nanas itu bukan yang hal yang membahayakan kecuali dia sedang hamil," timpal Caesa yang diangguki Chelsea.


"Kamu terlalu berlebihan mengkhawatirkan perempuan asing seperti Naya!" tambah Chelsea.


Argio mendengus tak mengindahkan ucapan bundanya maupun Chelsea. Ia langsung menarik pergelangan tangan Naya lalu menariknya keluar dari kamar.


"Argio! Mau kamu bawa ke mana Naya?" Caesa berteriak memanggil Argio yang dengan langkah lebar membawa Naya yang berjalan terseok-seok mengikuti langkah lebar pria itu ke lantai bawah.


"Tuan ingin membawa saya ke mana?"


"Ke rumah sakit!"


Argio membuka pintu mobil yang terparkir di pelataran mansion langsung memerintahkan Naya masuk ke dalam. Tak ingin banyak bertanya lagi Naya langsung masuk ke dalam mobil.


"Sudah dua kali kamu melakukan yang hal sama. Kamu ini bodoh atau terlalu polos?" sembur Argio pedas.


Pria itu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan mansion. Naya yang mendengar itu menoleh ke samping.


"Tapi, bukannya memakan buah nanas tidak bahaya untuk kandungan?"


"Aku lebih tahu darimu!" sela Argio membuat Naya langsung mengantupkan bibirnya rapat.


Suasana dalam mobil seketika langsung hening. Naya tak berani kembali bersuara. Menurutnya Argio terlalu berlebihan hanya perkara buah nanas.


Argio menghentikan mobilnya ketika lampu merah menyala. Pria itu menghela napas berat. Ia merogoh saku celana mengambil ponselnya yang sudah beberapa kali bergetar karna menerima beberapa pesan. Naya melirik Argio sekilas.

__ADS_1


"Kalau anak yang saya kandung bukan anak Tuan bagaimana? Apa yang akan Tuan lakukan?"


Pertanyaan tiba-tiba Naya membuat Argio langsung menoleh. Pria itu menatap lekat Naya.


"Aku akan melepaskanmu."


Wajah Naya sedikit berbinar. Ada keinginan besar dalam hatinya terlepas dari jeratan Argio. Terlebih setelah tahu Argio sudah memiliki kekasih. Ia sadar posisinya sekarang bukan siapa-siapa.


"Setelah aku memberikan hukuman yang setimpal atas kebohongan yang kamu lakukan." Wajah Argio menyeringai mengatakan hal tersebut.


Napas Naya langsung tercekat di tenggorokan. Argio menipiskan bibirnya melihat wajah tegang Naya. Suara klakson mobil dari belakang membuat Argio kembali menjalankan mobilnya ketika lampu jalan berubah hijau.




"Anda tidak perlu khawatir. Makan buah nanas tidak membahayakan kandungan kecuali dia mengonsumsi dengan jumlah cukup banyak," jelas dokter Ira disertai kekehan ringan.


"Apa Dokter yakin?"


Dokter Ira mengangguk yakin. Argio melirik Naya yang duduk di sampingnya, wanita itu tampak menyunggingkan senyuman seolah tengah mengejeknya.


"Tapi saya salut dengan anda yang sangat perhatian dengan keadaan istri dan kandungannya."


"Dia bukan istri saya!" bantah Argio membuat dokter Ira mengantupkan bibirnya rapat.


"Ooh, saya kira dia istri anda." Dokter Ira tampak salah tingkah.


Keduanya keluar dari rumah sakit lalu kembali masuk ke dalam mobil setelah berkonsultasi perihal buah nanas pada dokter kandungan.


"Walau dokter mengatakan tidak bahaya mengonsumsi buah nanas kamu tetap tidak boleh memakannya. Dan jangan berpikir aku bersikap seperti ini karna benar-benar tulus memperhatikan mu, aku hanya memandang anak yang kamu kandung."


Ucapan Argio sedikit membuat dada Naya terasa sesak dan perih. Walaupun ia tahu Argio takkan mungkin bersikap baik padanya dengan tulus tapi kenapa rasanya sangat perih mendengar ucapan Argio. Pria itu kembali menjalankan mobilnya. Naya menatap ke arah luar jendela mobil dengan sorot mata yang menyiratkan kesedihan.


Selama diperjalanan sesekali Argio melirik ke arah Naya yang hanya diam melamun. Tatapan wanita itu terlihat kosong dan wajah yang begitu suram. Argio menepikan mobilnya di depan minimarket. Naya yang menyadari mobil berhenti langsung menoleh ke arah Argio.


"Kenapa berhenti?"


"Turun."


Setelah mengatakan itu Argio turun dari mobil. Naya masih diam di tempat duduknya seolah enggan keluar. Namun, suara ketukan di kaca mobil membuat Naya menatap sosok Argio yang berdiri di samping pintu mobil, menunggu ia keluar.


"Ayo cepat keluar! Kenapa masih diam?" Argio tampak menggerutu di luar mobil.


Dengan setengah hati terpaksa Naya membuka pintu mobil lalu keluar dari sana.


"Tidak usah memasang wajah cemburut. Wajahmu semakin jelek!" ejek Argio yang terdengar serius membuat hawa panas mulai menyelimuti mata wanita hamil yang begitu sensitif itu.


Argio menarik pergelangan tangan Naya lembut memasuki minimarket yang tampak ramai oleh para pembeli. Naya menatap sekitar minimarket dengan wajah cemburut. Argio mengambil keranjang belanja lalu memberikannya pada Naya.

__ADS_1


"Pilihlah jajanan yang kamu inginkan," ucap Argio.


Naya menggeleng. Wanita tampak tak berminat. Argio berdecak.


"Tidak usah menolak. Masih untung aku masih baik padamu!"


Naya menghela napas panjang. Wanita itu berjalan ke arah rak yang tersusun berbagai jenis jajanan dan makanan instan. Ia menatap jajanan yang akan ia ambil. Argio mengikuti dari belakang memperhatikan Naya.


"Dari tadi kamu hanya melihat saja, cepat ambil jajanan yang kamu mau. Waktuku akan terbuang sia-sia bila kamu terlalu lama di sini!" ucap Argio ketus.


Naya mengambil dua jajanan sembarang lalu memasukkannya ke dalam keranjang.


"Sudah," ucap Naya mendekat ke arah Argio.


Pria itu menatap dua bungkus snack yang Naya ambil.


"Ini terlalu sedikit, kamu kira aku membawamu ke sini hanya untuk membeli dua snack ini?"


Naya mendongak menatap Argio yang lebih tinggi darinya.


"Bukankah Tuan meminta saya agar lebih cepat? Sekarang kenapa saya masih di marahi? Jika Tuan tidak berniat mengajak ke sini lebih baik usah," lirih Naya setelahnya berjalan melewati Argio menuju kasir.


Argio langsung terdiam. Ia menoleh ke arah Naya yang sudah mengantri di kasir.




"Tante, kenapa Naya bisa tinggal di sini? Bukankah dia orang asing?" tanya Chelsea begitu penasaran dengan kehadiran Naya di mansion tersebut.


Caesa yang tengah menikmati kue cake buatan pelayan menatap ke arah Chelsea."Argio bilang Naya adik sahabatnya. Dan dia menitipkan Naya di sini. Tapi Argio tidak mengatakan alasan sahabatnya menitipkan Naya."


"Dia itu sudah besar untuk apa di jaga dan dititipkan di sini. Aneh sekali," gerutu Chelsea.


Caesa mengulas senyum tipis."Tidak apa-apa Naya tinggal di sini. Tante juga tidak mempermasalahkan hal ini."


Wajah Chelsea semakin masam. Ia merasa ini ada yang janggal. Dulu, saat ia ingin menginap di sini Argio menolak mentah-mentah dan sekarang dengan mudahnya ia menerima perempuan asing di tempat ini. Dada Chelsea terasa panas bila membayangkan wajah Naya.


"Chelsea kamu kenapa?"


Wanita berambut pirang keemasan itu tampak terkejut kala Caesa menyentuh bahunya. Ia dengan cepat menggelengkan kepalanya.


"Tidak apa-apa, Tante. Hanya mengantuk saja. Tapi kenapa Argio dan Naya belum pulang juga? Ini sudah sangat malam."


Wanita paruh baya itu mengidikkan bahunya."Tante juga tidak tahu, mungkin sebentar lagi mereka berdua akan pulang."


Chelsea jadi risau dan cemas memikirkan Argio dan Naya, terlebih mereka pergi berdua entah ke mana. Rasa cemburu tiba-tiba menjalar dalam benak Chelsea. Ia mengepalkan kedua tangannya.


______

__ADS_1


Bagaimana dengan part ini? Apa mau lanjut?


__ADS_2