
Shofia menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya.
"Nayla? Tama? Kalian ada di sini? Kapan kalian kembali dari Singapura?" Shofia bahagia melihat Nayla ada di depannya bersama sang suami-- Tama Satya.
"Kemarin, Shofia. Kami pulang ke Indonesia karena ingin tinggal di sini. Bagaimana kabarmu dan si kecil?" tanya Nayla yang tidak tahu kalau anak Shofia sudah meninggal dunia.
"Shofia? Haii ... Kenapa kamu tiba-tiba bersedih?" tanya Nayla. Gadis yang menutup tubuhnya dengan sempurna itu kebingungan melihat sang sahabat tiba-tiba bersedih.
"Nayla, bagaimana kalau kita ajak Shofia untuk istirahat sebentar di kafe," usul Tama yang tidak tega melihat wajah Shofia yang tiba-tiba pucat.
Nayla adalah sahabat Shofia yang dulu juga sama-sama mencintai Farhan. Namun, Nayla sadar bahwa cinta Farhan hanyalah untuk Shofia sahabatnya. Seiring berjalannya waktu, Nayla pada akhirnya menikah dengan Tama yang merupakan seorang mualaf.
"Baiklah, Mas." Nayla memapah Shofia menuju ke kafe yang tidak jauh dari tempat berdiri mereka. Setelah mendapatkan kursi, Nayla memesan minuman. Gadis yang sudah dianggap adik sendiri oleh Farhan itu, memesan teh hangat untuk Shofia.
"Shofia minumlah dulu. Ambil napas dalam-dalam lalu buang pelan-pelan. Maaf kami yang tidak tahu mengenai buah hatimu. Kami baru bisa pulang kembali ke Jakarta juga baru sekarang setelah usaha kami mengalami kemajuan. Sekarang katakan Shofia ada apa mengapa kau seperti begitu berat menahan beban?"
Shofia menyeruput teh hangat yang ada di depan mejanya. Rasa hangat sekarang sudah mulai membasahi kerongkongannya yang tadi kering dan serak.
"Terima kasih, Nayla. Maaf jika membuatmu cemas, aku hanya masih bersedih menerima kenyataan jika anakku yang lucu itu sudah meninggal dunia. Kau ingat bukan sewaktu aku melahirkan. Bayi kembar yang mana yang satu telah meninggal di dalam kandungan?"
"Benar, kita satu rumah sakit. Mana mungkin aku akan lupa," jawab Nayla mengenang saat ia bertemu Shofia di rumah sakit Singapura. Mereka berdua bertemu saat Shofia masih hamil anak kembar pertamanya.
Shofia merasa senang saat Nayla masih mengingat dimana dia dulu berjuang agar bayi yang tinggal satu bisa hidup hingga bisa dilahirkan di dunia.
"Bayi yang berhasil kami lahirkan dan rawat hanya bisa bertahan selama enam bulan saja. Dia begitu lucu dan menggemaskan. Memang benar kata orang jika anak kembar satunya sakit maka yang lain ikut sakit. Jika yang satunya meninggal maka yang lain tidak akan lama hidup di dunia."
Shofia kembali menunduk karena tidak sanggup mencegah air matanya yang lolos meluncur indah di pipinya.
"Maaf, Shofia. Kami tidak tahu musibah yang menimpa keluargamu. Kamu sedang berbelanja? Biasanya kau akan pergi berbelanja dengan kak Farhan. Kenapa dia tidak kelihatan? Apa dia sibuk di kantor?" tanya Nayla sambil menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Farhan.
Nayla tahu jika Shofia dan Farhan adalah pasangan yang tidak terpisahkan, kemana pun mereka akan pergi berdua. Namun, kali ini Nayla tidak melihat keberadaan Farhan di sisi Shofia.
"Mmm ... Aku belanja sendirian kok. Mas Farhan sedang sibuk saat ini. Oh ya, kalian juga berbelanja?" ucap Shofia mengalihkan pembicaraan.
Shofia menjawab dengan senyum yang dipaksakan. Shofiaa tidak mungkin bilang kalau saat ini Farhan sedang pergi bulan madu dengan Freya, apalagi di Cappadocia. Tempat mereka berbulan madu.
"Memang Farhan adalah pebisnis sejati. Dia pasti sibuk dengan bisnisnya!" celetuk Tama yang tahu bagaimana Farhan jika sedang bekerja.
__ADS_1
"Begitulah, Mas Farhan kalau bekerja sekarang lupa waktu. Maklum bisnis yang ditanganinya sangat banyak, belum lagi mengurus pondok pesantren," timpal Shofia membenarkan perkataan Tama sembari tersenyum kecut.
"Baiklah, aku permisi dulu. Apa kalian mau mampir ke rumah?" ajak Shofia basa-basi. Berbeda dengan hatinya yang menginginkan Nayla dan Tama tidak mampir ke rumah, dia tidak ingin rumah tangganya diketahui oleh Nayla dan Tama. Bisa-bisa, Nayla akan mengejeknya karena dulu Shofia bilang kalau dirinya tidak ingin dipoligami.
Nayla dan Tama saling bertukar pandang lalu keduanya tersenyum. "Maafkan kami, Shofia. Masih ada yang harus kami beli. Kami ke sini sedang berburu perlengkapan rumah untuk menghias rumah kami yang baru. Kapan-kapan kamu boleh datang ke rumah baru kami," ucap Nayla sambil tersenyum.
Wajah bahagia Shabrina dan Putra sebagai suami istri membuat Shofia teringat akan dirinya dulu yang bersama dengan sang suami menghias rumah berdua.
"Mmm ... Baiklah, kalian begitu aku permisi dulu. Takut mas Farhan mencariku," ucap Shofia berdusta. Dia pun beranjak dari duduknya.
"Ciee ... Kalian memang pasangan suami istri yang patut jadi teladan kami yang masih baru ini. Baiklah, hati-hati di jalan Shofia. Nomer ponsel kamu masih yang dulu bukan? Takutnya kau ganti nomer dan kita gak bisa ngobrol lagi," ucap Nayla ikut berdiri.
"Iya, masih yang dulu, kok. Belum berubah. Itu kan nomer sudah banyak klien dan kolega kami. Jadi masih aku pakai sampai sekarang!" jawab Shofia sambil tersenyum.
"Okey, Shofia. Nanti kita chat an ya ... Masih kangen nih. Kamu hati-hati di jalan ya ...."
"Iya, aku tunggu chat kamu ya ... Assalamu 'alaikum," ucap Shofia uluk salam sebelum pergi meninggalkan Nayla.
"Wa'alaikum salam," jawab Putra dan Shabrina serempak.
Shofia mengambil barang belanjaannya lalu pergi meninggalkan Nayla dan Tama yang masih menatap punggung Shofia hingga tidak nampak lagi.
Tama manggut-manggut mendengar kata-kata dari sang istri. "Iya, sepertinya begitu. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Sebagai teman dekati lah dia agar Shofia tidak menyimpan sendiri masalah dalam hati. Bisa menjadi penyakit di dalam tubuh jika semua masalah hanya dipendam dalam hati."
Nayla menoleh ke arah lelaki yang dulu bergelimang dengan dosa itu dengan senyum. Ternyata seorang pelaku maksiat jika sudah taubat maka akan lebih bijak karena menjadikan dosanya sebagai motivasi untuk mendapatkan ilmu ke arah yang lebih baik lagi dan lebih mencintai Tuhannya dengan tulus ikhlas.
Setiap dosa pasti akan menuntut sang pelaku untuk melakukan penebusan dosa. Hanya bagi yang sadar dan mau berubah, maka dia akan menjadi lebih baik dan lebih bijak dibanding dengan orang yang tidak melakukan dosa akan tetapi sombong.
"Mas, aku sungguh bahagia kau mau berubah demi aku, walau aku tahu perubahan itu memang dari hatimu sendiri, setidaknya aku merasa senang jika aku jadi bagian menuju taubatmu itu."
Dengan lembut Nayla memeluk sang suami. Lelaki dengan baju Koko dan celana panjang itu membalas pelukan sang istri kemudian mengecup pipinya dengan penuh kasih sayang. Wanita yang ia kira cacat seumur hidup itu dengan sabar menuntunnya untuk bertaubat dan menjadi mualaf.
"Ayo kita segera belanja perlengkapan rumah, biar kita bisa segera beristirahat," ajak Tama dengan senyum manisnya. Lelaki berhidung mancung dan berjenggot itu menggandeng sang istri dengan mesra.
Nayla dan Tama pun berjalan sambil bercanda, berbeda dengan wanita berhijab yang terus menerus menyeka air matanya seorang diri.
Shofia berjalan dengan tangan sesekali menyeka air mata yang hampir jatuh ke pipi. Dengan langkah gontai, Shofia kembali ke mobilnya, dia bingung harus melakukan apa jika sang suami tidak ada di sisinya.
__ADS_1
Deru mobil Shofia menghantarkan wanita berhijab sepinggang ini menuju ke rumahnya yang mewah dan megah. Akan tetapi walaupun megah dan mewah namun tidak ada cinta lagi di sana.
Shofia menatap rumah yang dulu ia dekorasi sendiri bersama sang suami, segala keceriaan dan kebahagiaan saat -saat itu terlintas jelas di dalam benak Shofia.
"Mas, Apa yang aku lakukan. Aku telah memasukkan duri dalam pernikahan ku sendiri!" gumam Shofia yang mendadak tersadar.
Apabila Freya ada di dekat Shofia maka Shofia akan bersikap apatis, semua keinginannya harus diikuti. Termasuk keinginan menjadikan Freya sebagai madunya.
Tiga hari kemudian.
Shofia duduk sendiri di meja makan, menatap kursi kosong yang biasa menjadi tempat duduk Farhan. Dari pintu luar terdengar suara dua orang berbeda jenis kelamin tertawa bersama.
"Assalamu 'alaikum, Shofia."
"Assalamu 'alaikum, Mbak."
Dua orang itu menyapa Shofiaa yang terkejut dan menatap keduanya dengan tatapan datar. Hari yang sudah dia prediksi sebelumnya.
"Wa'alaikum salam," jawab Shofia datar. Rasa nyeri menyerang hatinya saat Farhan memanggil dirinya dengan hanya menyebut nama saja.
"Maaf, Mbak. Kami berdua langsung istirahat ya," ucap Freya seakan pamer kemesraan di depan Shofia.
Shofia hanya diam tidak membuka suara. Shofiaa juga heran dengan dirinya, mengapa jika ada Freya seolah diri Shofia tidak mampu untuk melawan. Shofia menatap sang suami, menunggu apakah Farhan akan begitu saja ikut Freya atau menghampiri diri Shofia terlebih dahulu.
Harapan Shofia sia-sia, diri Farhan melengos meninggalkan dirinya. Tatapan Shofia kosong, ingin memanggil sang suami namun lidah terasa kelu. Hembusan napas berat Shofia mengiringi diri Shofia untuk melanjutkan sarapannya dan segera pergi ke kantor.
Selama perjalanan ke kantor, Shofia memikirkan dirinya yang entah mengapa selalu saja mengalah pada Freya ketika netra Shofia bersirobok dengan netra Freya. Berbeda dengan saat dirinya kin jauh dari Shofia. Rasa ingin mencabik dan memukul wajah Freya tiba-tiba datang.
Mobil Shofia sampai juga di kantor Barokah Group. Dimana Shofia kini diberi kepercayaan oleh sang ibu mertua untuk menjalankan perusahaan tersebut. Shofia berjalan dengan santainya, akan tetapi Shofia terheran dengan sikap para pegawai yang tidak biasa.
"Assalamu 'alaikum, Bu," sapa salah seorang security yang berdiri di depan pintu lobi.
"Wa'alaikum salam, Pak," jawab Shofia dengan senyum yang ramah seperti biasanya. Namun, berbeda dengan pegawai lain yang ia temui di sepanjang jalan parkir menuju ke lobi. Tatapan menghina ia dapatkan dari pegawainya.
"Ada apa mereka seperti itu? Apa yang terjadi, mengapa aku mendadak merasa asing dengan kantor ku sendiri," gumam Shofia di dalam hati.
Shofia menghela napas, sungguh pagi hari yang menurutnya sangat menyebalkan. Tanpa memerdulikan tatapan sinis para pegawainya, Shofia melangkah menuju ke ruang kerjanya. Namun Shofia sangat terkejut saat melihat ada yang berbeda dengan ruangan itu.
__ADS_1
"Apa-apaan ini? Mengapa ada tambahan meja lagi di samping meja kerjaku?! Apa maksudmu dari semua!!" Shofia mengerutkan dahinya tatkala melihat sebuah meja lengkap dengan kursi sama seperti miliknya sudah berada di ruang kerjanya.
Shofia dengan menahan amarah menekan bel untuk memanggil sang sekretaris. Berharap ada kejelasan tentang apa yang ia lihat di ruang kerjanya.