
"Tidak, aku tidak ingat sama sekali. Memang nya apa yang terjadi?" tanya Shofia lagi. Dahinya berkerut, menatap penuh harap pada Sari.
Shofia sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Apa yang baru saja dia alami, tidak ia ingat sama sekali.
"Nyonya, nyonya telah dirasuki jin yang berupa ular. Sosok itulah yang selama ini menguasai diri nyonya. Setiap kali nyonya berhadapan dengan nyonya Freyaa, pasti nyonya akan merasa kasihan, tunduk patuh pada nyonya Freya."
"Pantas saja, jika aku berada di dekat Freya maka sikapku pun berubah menjadi sangat yakin, percaya apa dikatakan oleh Freya, entah itu baik atau buruk, apa yang dikatakan oleh Freya."
Shofia menerawang jauh saat ia berdekatan dengan Freya. Sebelumnya Shofia tidak merasa sedekat itu dengan Freya hingga tiba saat Freya membelikan minuman air mineral yang diberikan oleh Freya.
"Sari, aku tidak menyangka jika Freya tega melakukan ini, itu pertanda jika Freya berniat buruk pada keluargaku," ucap Shofia bersedih karena dirinya telah berhasil di guna-gunai oleh Freya.
"Memang begitulah, Nyonya jika diri sudah tidak bisa mengendalikan hawa nafsu maka kita akan mudah tergoda oleh syaithan. Hal serupa juga terjadi pada diri nyonya Freya. Perasaan untuk memiliki apa yang dimiliki oleh nyonya Shofia, membuat nyonya Freya gelap mata."
Sari yang masih berusia lebih muda dari Shofia memberikan nasehat yang menunjukkan bahwa pemikiran Sari lebih dewasa daripada Freya.
Shofia termangu mendengar apa yang dikatakan oleh Sari. Dia baru menyadari bahwa sikapnya selama ini yang selalu menunjukkan kebaikan Farhan pada Freya ternyata salah.
"Sari, aku akui kebodohanku. Aku tidak memungkiri jika aku bersalah. Aku telah mengatakan semua kebaikan diri mas Farhan pada Freya hingga Freya ingin memiliki mas Farhan. Astaghfirullah ...!" Shofia menangis terisak menyadari bahwa semua ini adalah kesalahannya.
"Sudahlah, Nyonya. Semua masih bisa diperbaiki." Hibur Sari.
Shofia pun sedikit merasa tenang mendapatkan semangat dari Sari. Tidak berapa lama kemudian. Perut Shofia terasa mual, kepalanya pusing lalu pingsan.
"Nyonya?!! Ustaaadz ... Tolong ustaaadz ...!" teriak Sari memanggil sang ustadz untuk meminta tolong. Dia panik melihat Shofia yang tiba-tiba jatuh pingsan.
Ustadz Zaki menghampiri Sari yang terlihat panik. Dia melihat Sari memangku Shofia.
"Ada apa, Sari?!" tanya Ustadz Zaki pada Sari.
"Ustadz, nyonya Shofia pingsan Ustadz ... Tadi dia sudah sadar, setelah kami bicara dia tiba-tiba mau muntah dan langsung pingsan!" jawab Sari menceritakan apa yang terjadi pada Shofia.
Ustadz Zaki memeriksa denyut nadi Shofia. Memakai sarung tangan dari karet.
__ADS_1
"Denyut nadinya lemah, sebaiknya kita antar ke rumah sakit terdekat," ucap ustadz Zaki pada Sari.
"Ke rumah sakit? Siapa yang akan antar kami ustadz, kami tidak bawa sopir. Tadi yang bawa mobil adalah nyonya Shofia sendiri," ucap Sari panik. Dia sendiri belum bisa mengemudikan mobil.
"Baiklah, saya yang akan mengantar kalian. Kita bawa dulu nyonya Shofia ke mobil, setelah itu kita bawa ke rumah sakit," ucap sang ustadz memberi perintah pada Sari.
"Lalu bagaimana dengan Aisyah, Ustadz?" Dari mengkhawatirkan anak dari duda tersebut.
"Aisyah akan saya titipkan tetangga sebentar. Tidak apa-apa, dia sering main ke rumah tetangga itu," ucap sang ustadz.
Sari pun mengangguk pasrah. Dia hanya bisa menyerahkan semua pada ustadz Zaki. Setelah menitipkan anaknya, ustadz Zaki pun pergi mengantar Shofia dan Sari ke rumah sakit. Dengan kecepatan sedang, ustadz Zaki mengemudikan mobil Shofia hingga ia sampai di rumah sakit.
"Dok! Tolong ...." teriak ustadz Zaki di depan pintu ruang IGD.
Para dokter dan suster segera membantu membawa Shofia naik ke brankar dan membawanya masuk ke dalam ruang IGD. Gegas para dokter memeriksa Shofia.
"Maaf, Keluarga pasien mohon menemui dokter," ucap Salah satu suster.
"Iya, Sus." Sari menghampiri suster yang memanggil tadi.
"Silakan menemui dokter, Nona."
"Baik, Sus."
Sari mengikuti kemana langkah sang suster menuju ke dalam ruangan UGD. Di sana Shofia sudah sadarkan diri.
"Nyonya, Anda tidak apa-apa?" tanya Sari panik.
"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Shofia tersenyum.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Hasil pemeriksaan dokter sepertinya pasien sedang hamil. Kondisinya baik, hanya mungkin saja dia tadi terlalu kelelahan hingga pingsan tidak sadarkan diri. Sekarang saya rujuk untuk periksa di poli kandungan."
Sari dan Shofia melongo, mereka tidak menyangka jika akan mendapat berita yang sangat membahagiakan ini. Berita yang sangat diharapkan sejak dulu oleh Shofia. Pasalnya, berulang kali Shofia terlambat datang bulan satu Minggu, pasti esoknya keluar darah banyak menggumpal lagi. Dan itu terjadi setelah Shofiaa bercerita dengan Freya.
"Benarkah, bos saya ini sedang hamil?" tanya Sari kurang yakin atas apa yang ia dengar.
"Benar, Nona. Maka dari itu saya rujuk ke poli kandungan sekarang juga agar tahu perkembangan janinnya melalui USG." sang dokter menjawab sembari menuliskan surat rujukan.
"Nyonya! Anda hamil! Selamat, Nyonya!!" pekik Sari gembira sembari memeluk Shofia.
"Sari ... Saya beneran hamil?" tanya Shofia tidak percaya.
"Kita akan yakinkan semua setelah nanti kandungannya nyonya di USG," jawab Sari bersemangat. Penantian sang majikan terkabul juga. Sungguh berita yang sangat membahagiakan bagi Shofia.
"Baiklah," ucap Shofia menuruti kata dokter sembari mengusap perutnya yang masih datar.
"Nak, akhirnya kau datang juga ke rahim umma. Sungguh ini adalah suatu keajaiban dari Allah, Nak ... Umma akan berjuang demi kamu," ucap Shofia di dalam hati sembari mengusap perutnya.
"Silakan, Nyonya. Anda akan diantar suster menuju ke ruang praktek dokter kandungan," ucap dokter UGD yang merupakan seorang wanita cantik dan masih muda.
"Terima kasih, Dok," jawab Sari dan Shofia kompak. Kedua wanita itu saling berpandangan, ada binar bahagia yang yang terbit di sudut mata Shofia.
"Mari silakan, Nyonya," ucap sang suster dengan kurus roda yang siap mengantar Shofia menuju ke poli kandungan, tempat sang dokter kandungan praktek.
"Terima kasih, Sus," jawab Shofia dengan senyum yang terus menghiasi wajahnya yang cantik alami.
"Selamat, Nyonya. Jika terlambat sedikit pastilah kita akan kehilangan bayi tersebut. Jin itu akan membunuh semua janin yang tumbuh, memang tugasnya menghalangi nyonya untuk memiliki keturunan," ujar ustaz Zaki memberi ucapan selamat pada Shofia.
"Alhamdulillah, Ustaz.Sungguh ini karunia yang luar biasa. Sari, aku ucapkan banyak terimakasih. Kamu tepat membawaku menemui ustaz Zaki. sehingga janin ini bisa diselamatkan," ucap Shofia mengusap perutnya yang masih datar.
"Alhamdulillah, Nyonya. Sari hanya tidak ingin apa yang terjadi pada kakak Sari, tidak terjadi pada Anda, Nyonya," jawab Sari dengan senyum yang merekah. Bersyukur bisa memberikan manfaat bagi sang majikan..
__ADS_1