
Bab. 18. Tumbal
Freya dan Yulia saling menatap dan tersenyum penuh makna, buruan mereka sudah ada di tangan. Freya pun melakukan mobilnya menuju ke rumah gadis cantik dengan poni di depannya itu.
"Dimana rumah mu, Dek?" tanya Freya pada Minah. Gadis yang diajak bicara Freya tidak menjawab, dia masih asyik memandangi interior mobil Freya.
"Rumahku catnya berwarna kuning, Kak," jawab Minah setelah selesai mengamati keindahan mobil Freya.
"Kamu tinggal bersama siapa?" tanya Yulia bergantian dengan Freya.
"Aku tinggal bersama nenek dan kakak lelakiku," jawab Minah dengan tersenyum. Freya membelokkan mobilnya menuju ke sebuah rumah yang bercat warna kuning dengan halaman depan yang lumayan luas.
Freya dan Yulia semakin merasa senang, Minah adalah seorang anak yatim piatu sehingga memudahkan diri mereka untuk membawa Minah tanpa ada yang menghalanginya.
Minah mengajak Freya dan Yulia turun dari mobilnya diikuti oleh Minah.
"Kak, ayo masuk. Aku perkenalkan kakak pada nenek," ajak Minah pada Yulia dan Freya.
"Terima kasih, Minah." Jawab keduanya dengan senyum seringai yang sulit dijelaskan. Kedua wanita dewasa dengan niat jahat di dalam hati mereka itu melangkah mengikuti Minah dari belakang. Sesekali keduanya saling menatap aneh dan tersenyum menyeringai.
"Assalamu alaikum, Nek. Minah pulang!" teriak Minah memanggil sang nenek. Memang sang nenek sudah berkurang pendengarannya karena usia sang nenek juga sudah lanjut, berada dikisaran antara 70 tahun dan 75 tahun. Orang desa sulit mengingat kapan mereka tepat dilahirkan.
Sang nenek yang berada di dapur tidak membalas teriakan Minah sang cucu tersayang karena pendengarannya berkurang.
Merasa tidak ada yang menjawab salamnya, Minah pun akhirnya memilih masuk ke dalam rumah langsung menuju ke dapur. Dilihatnya sang nenek sedang asyik memasak untuk makan malam mereka.
"Nek ... Assalamu 'alaikum," ucap Minah mengulang dalamnya pada sang nenek sambil menepuk bahu neneknya.
__ADS_1
Wanita yang memiliki rambut yang sudah memutih itu menoleh ke arah sang cucu. Cucu perempuan satu-satunya yang ia miliki.
"Minah? Wa'alaikum salam," jawab sang nenek setengah terkejut.
"Nenek, Minah membawa tamu dari jauh. Ayo Minah kenalkan pada mereka," ucap Minah dengan tersenyum.
"Teman dari jauh? Siapa mereka? Apa kau mengenalnya? Hati-hati dengan orang asing yang tidak kita kenal, Minah," jawab nenek dengan postur tubuh yang sudah mulai bungkuk.
"Tidak, Nek. Mereka berdua adalah orang yang baik, mereka mengajak Minah untuk naik mobil mewah mereka. Biasanya kan kalau ada orang kaya yang bawa mobil, mereka akan marah jika kita mendekati mobil mereka, sedangkan dua kakak ini malah mengajak Minah untuk naik mobil mewah mereka," jelas Minah dengan penuh semangat.
"Benarkah? Wah ... Baik betul mereka, sebentar nenek cuci tangan dahulu. Kau buatkan mereka teh hangat, agar mereka tidak kedinginan. Nenek yakin mereka dari kota dan tidak terbiasa dengan suhu dingin di desa ketika hari menjalang malam," tutur sang nenek meminta Minah untuk membuatkan minuman untuk Freya dan Yulia.
Di desa itu memang tidak ada yang memiliki mobil, sehingga ketika ada mobil masuk ke desa, para warga berdatangan untuk melihatnya. Tidak jarang ada juga yang dengan sengaja mendekat dan memegang body mobil.
"Nenek akan menemui tamu kita terlebih dahulu, nanti kalau tehnya sudah jadi kamu bawa ke depan," imbuh sang nenek sembari merapikan penampilannya. Kebaya lusuh dengan bawahan jarik sebagai ciri khas desa tersebut.
Setelah merasa cukup rapi dengan penampilannya, sang nenek pun berjalan ke depan, menuju ruang tamu mereka yang hanya berukuran 2×3 meter persegi itu.
Freya dan Yulia sudah merasa gerah di ruangan yang menurut mereka sangat sempit itu. Di kota, hanya kamar pembantu saja yang ukurannya sempit. Kamar mandi mereka lebih besar dari kamar tamu milik Minah
"Assalamu 'alaikum, selamat sore, Nak. Perkenalkan saya Lasinah neneknya Minah," kata sang nenek menghampiri dan menyalami kedua wanita yang terlihat cantik dan modern itu.
"Wa'alaikum salam, selamat sore, Nek. Maafkan kami yang mengganggu nenek sore-sore begini. Kenalkan saya Freya dan teman saya Yulia. Kami datang dari kota ingin ke rumah keluarga Yulia yang tidak jauh dari desa ini," ucap Freya dengan ramah.
__ADS_1
Freya adalah sosok yang pandai dalam bergaul, sikapnya membuat siapapun yang baru ia temui akan simpati dan kagum kepadanya.
"Oh, kalian dari kota. Maafkan tempat kami yang tidak layak ini. Mungkin kalian tidak betah karena terbiasa di tempat yang bagus," ujar sang nenek merendah. Dia tahu jika orang kota pastilah memiliki rumah yang mewah karena mobil mereka pun juga mewah.
"Eh, biasa saja, Nek. Tidak perlu sungkan. Ibu saya juga sama rumahnya tidak beda jauh dengan sini. Kami maklum jika memang suasana di pedesaan sangat berbeda dengan di kota. Oh ya, apakah nenek tinggal berdua saja dengan Minah di sini?" tanya Yulia.
Yulia ingin menyelidiki apakah benar jika Minah masih perawan karena jaman sekarang sulit ditemui gadis remaja yang masih perawan walau itu di desa sekalipun.
"Syukurlah kalau begitu, nenek tinggal bertiga yaitu nenek, Minah dan kakak lelaki Minah yang sebentar lagi akan menikah. Nenek bingung harus bagaimana, karena cucu lelaki nenek diterima kerja di kota, dan mau menikah. Dia meminta nenek untuk ikut tinggal di sana bantu dia menjaga rumah. Tapi masalahnya ...." Sang nenek menjeda perkataannya karena merasa dia seperti kebingungan.
"Masalahnya apa, Nek?" tanya Freya yang ingin tahu masalah apa yang sedang dialami oleh nenek itu.
"Masalahnya, nenek tidak mungkin meninggalkan Minah sendiri di desa ini, sedangkan untuk mengajaknya ke kota, itu juga tidak mungkin karena rumah kakaknya tidaklah besar. Kakaknya juga belum kuat untuk membiayai kehidupan empat orang jika nanti dia menikah," ucap Lasinah dengan wajah yang sedih.
Yulia dan Freya tersenyum. Mereka seperti mendapatkan angin segar.
"Nek, usia Minah kan sudah remaja, dia bisa dinikahkan dengan lelaki di desa ini, jadi ada yang menjaga Minah setidaknya," saran Yulia. Dia sebenarnya hanya ingin tahu apakah Minah masih perawan atau tidak, hingga dia bertanya menuju ke arah tersebut.
"Kasihan Minah. Dia masih lugu, belum pernah dekat dengan lelaki manapun. Pekerjaan sehari-hari nya hanya membantu nenek di ladang. Semua masakan kami ambil dari ladang kami. Minah sosok pemalu tidak seperti teman yang lain, bahkan Minah termasuk sosok yang tertutup, tidak percaya diri," keluh sang nenek.
"Minah gadis lugu ya, Nek. Pasti dia masih perawan," ucap Yulia tanpa sadar.
"Maksud nak Yulia? Apa nak Yulia meragukan kalau Minah masih perawan?" tanya Lasinah dengan raut wajah yang tidak suka. Dia sangat tahu jika cucunya itu masih perawan.
"Mm ... Maksud saya bukan begitu, Nek. Maksud saya Minah ... Minah masih perawan dan tentu banyak lelaki yang mengincar dirinya, nah itu ... Banyak lelaki yang mengincar Minah," ucap Yulia meralat ucapannya dengan gugup. Hampir saja dia keceplosan dengan niatnya datang ke desa itu.
__ADS_1
Lasinah manggut-manggut memahami ke mana arah bicara Yulia. "Oh, begitu. Memang benar. Banyak lelaki yang mendekati Minah, akan tetapi Minah tidak mau dengan mereka.