Pelet Maduku!

Pelet Maduku!
Bab. 23


__ADS_3

Bab. 11. Story WA.


Sari mulai bercerita apa yang pernah kakaknya alami.



"Kakak saya dulu merasakan apa yang Anda rasakan saat ini nyonya. Orang yang sudah dia anggap sebagai sahabat ternyata tega mengkhianati kakak saya yang bernama Lira. Sahabat kak Lira menggunakan susuk di bibirnya agar kak Lira dan suaminya mau menuruti kata-kata wanita itu."



"Susuk? Apa itu susuk? Aku pernah mendengarnya, tapi belum tahu detail apa itu susuk." Shofia mencoba mengingat dimana ia pernah mendengar tentang susuk.



"Susuk itu benda berisi jin yang ditanam di dalam bagian tubuh tertentu agar bisa keluar auranya. Misal di bibir maka siapapun orang yang ia ajak bicara maka akan mudah terpengaruh. Tapi apabila susuk itu ditanam di mata maka siapapun yang melihat mata orang itu akan terpesona lalu tunduk patuh pada orang tersebut," jelas Sari dengan bersemangat. Dia merasa senang jika bisa membantu sang majikan.



"Benarkah, seperti itu? Apa susuk itu juga bisa membuat orang yang melihat atau ia tuju menjadi merasa takut dan segan?" Shofia semakin tertarik dengan apa yang terjadi pada kakaknya Sari.



"Benar, Nyonya. Di sebagian lain ada yang rela melakukan kejahatan atau bunuh diri jika orang yang memakai susuk itu menyuruhnya." Sari mengingat apa yang pernah dia dengar tentang susuk.



"Ngeri juga ya!" Shofia bergidik ngeri. Memang hal ghaib itu tidak akan bisa dicerna oleh akal sehat, akan tetapi tetap ada.



"Benar, Nyonya. Sangat mengerikan. Orang yang terpengaruh susuk atau pelet wanita atau lelaki yang memakai susuk akan merasa bingung karena dia akan tersadar jika jauh dari pemakai susuk, dan akan kembali terpengaruh jika dekat dengan pemakai susuk itu," imbuh Sari menguatkan apa yang ia tahu tentang susuk.



Shofia tercengang karena ternyata begitu besar pengaruh susuk pada orang yang dituju. Pikiran buruk melintas di dalam benaknya. Shofia pun bertanya bagaimana cara untuk menghindar dari pengaruh Freyaa. Shofia menganggap Freya telah memakai susuk. Apa yang Shofia rasakan hampir sama dengan tanda-tanda orang yang terkena pengaruh susuk.



"Sari, kalau boleh tahu bagaimana kakak mu bisa menyelamatkan suaminya dari wanita itu?" tanya Shofia lagi.



"Prosesnya lama, Nyonya memakan waktu hingga lima bulan. Tergantung dari seberapa besar ilmu yang dimiliki sang dukun yang memasang susuk itu," jawab Sari ingat jelas berapa lama sang kakak sembuh dari pengaruh susuk.



"Maksudnya?" Shofia mengerutkan alisnya.



Wanita muda itu tersenyum melihat sang majikan begitu antusias mendengar cerita darinya. Sari berharap sang majikan mendapat solusi dari masalahnya.



"Maksudnya, dukun itu adalah orang yang memasang susuk pada seseorang. Nah dukun itu memiliki ilmu hitam yang tinggi atau tidak. Jika ilmunya tinggi maka prosesnya lumayan lama, sedangkan jika ilmu hitam dukun itu rendah maka waktu yang dibutuhkan untuk sadar tidak lama."



"Oh begitu, baiklah saya paham. Lalu kalau kakak mau sendiri mengapa butuh waktu lima bulan? Apa karena ilmu dukun wanita itu tinggi?"



"Benar, Nyonya. Kata ustadz yang menangani kakak saya, ilmu dukun yang memasang susuk sahabatnya lumayan tinggi. Butuh waktu lama untuk membersihkan dari diri kakak."



Shofia manggut-manggut, di dalam hatinya dia ingin melakukan pembersihan diri, walau ia tahu jika sang mertua bisa melakukan. Akan tetapi dia malu untuk meminta tolong. Takut jika tuduhan Shifia pada Freya tidak benar.



"Sari, maukah kau mengantar saya pada ustadz itu?" tanya Shofia lagi. Dia benar-benar penasaran apakah dirinya juga terkena pengaruh susuk dari Freya.


__ADS_1


"Tentu saja, Nyonya. Kapan Anda mau ketemu ustadz itu?" tanya Sari dengan senang hati.



Sari adalah sosok gadis yang memiliki jiwa sosial yang tinggi. Dia senang membantu siapapun yang butuh pertolongannya. Selain itu dia juga cerdas dan menyenangkan jika diajak bicara.



"Sari, apa jadwal saya sekarang?"



"Bentar, Nyonya. Akan saya lihat jadwal Anda dulu." Sari beranjak dari duduknya untuk mengambil draft jadwal Shofia yang ada di meja kerjanya.



Shofia menghela napasnya kasar, kedua tangannya memijat pelipisnya yang berdenyut. Dia bertekad kalau hari ini Shofia harus mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya. Kecurigaan - kecurigaan yang selama ini menyergap dalam hatinya akan segera tuntas hari ini juga.



Tak ... Tak ....



Suara sepatu high heels milik Sari terdengar. Wanita berhijab sedada itu begitu anggun dengan seragam muslimah yang ia pakai. Semua pegawai wanita memang diwajibkan untuk memakai hijab jika ingin bekerja di Barokah Group.



"Nyonya, ini jadwal Anda. Hari ini tidak ada jadwal meeting. Hanya nanti sore ada meeting dengan supplier dari luar negeri."



"Masih nanti sore kan? Dan perjalanan ke tempat ustadz itu berapa jam?"



"Hanya dekat, Nyonya. Kurang lebih satu jam jika tidak macet, kalau macet bisa dua jam."




Sari tersenyum kecil mendengar sang majikan memanggil sang madu dengan nenek gayung.



"Baiklah, Nyonya. Saya akan bersiap dan bilang pada staf kalau kita akan pergi karena ada acara penting." Sari berlalu dari depan Shofia. Shofia sendiri pun benagkit dari duduknya untuk bersiap.



Setelah selesai merapikan penampilannya, Shofia dan Sari pergi dengan menaiki mobil Shofia. Beruntung hari ini Shofia tidak pakai sopir, jika tidak maka sopir itu pasti akan cerita pada Farhan apa yang dilakukan oleh istrinya.



Deru mobil Shofia membelah jalanan yang mulai sepi. Semua sudah pada masuk ke kantor dan sekolah masing-masing.



"Sari, kira-kira berapa bayaran yang harus saya siapkan untuk ustadz itu?" tanya Shofia sambil terus fokus mengemudi sesuai petunjuk dari Sari.



"Ustadz itu tidak mau dibayar, kecuali jika nyonya mau berinfak untuk masjid yang saat ini sedang ia kelola."



"Wah, benarkah? Mulia sekali hati ustad itu. Pasti istrinya juga sangat baik," ucap Shofia lagi.



"Nyonya, Ustadz itu duda. Dia belum mau menikah lagi karena hatinya masih belum mau menggantikan sang istri."


__ADS_1


"Duda? Oo ... Setia sekali dia. Rata-rata lelaki itu tidak bisa lama-lama menduda. Mereka butuh pelampiasan, benar begitu?" Seloroh Shofia sambil tertawa renyah.



Sari ikut tertawa, dia merasa bahagia melihat sang majikan bisa tertawa setelah beberapa hari senyum pun tidak ada di bibir indah sang majikan.



"Nyonya, nanti setelah lampu lalu lintas itu kita belok kanan dan masuk 200 meter. Nah, kita akan sampai di sebuah masjid besar. Di belakang masjid itulah rumah sang ustadz." Sari memberi petunjuk arah pada sang majikan.



Shofia mengangguk, setelah lampu hijau menyala, Shofia melajukan mobilnya belok ke arah kanan. Bisa dilihatnya sebuah masjid yang hampir selesai dibangun.



"Kita sudah sampai, Nyonya. Kita lewat samping saja," ucap Sari mengajak Shofia setelah turun dari mobilnya.



"Baiklah," jawab Shofia mengikuti langkah Sari.



Shofia dan Sari berjalan beriringan menuju ke bagian belakang masjid. Tampaklah rumah sederhana dengan halaman yang tidak luas tapi asri dilihat. Di sana ada seorang gadis kecil berjilbab. Pipi tembemnya membuat Shofia menjadi gemas.



"Assalamu 'alaikum gadis cantik, Abah ada di rumah?" tanya Sari pada gadis kecil itu.



Merasa ada yang uluk salam, gadis kecil itu menoleh ke arah sumber suara.



"Wa'alaikum salam, Tante. Abah balu mandi. Aisyah panggilkan Abah dulu ya ...." jawab anak kecil berusia tiga setengah tahun dengan cadelnya.



Shofia sangat gemas dengan anak perempuan itu. Jiwa keibuannya meronta ingin memeluk gadis kecil itu. Namun sayang, belum dipeluk gadis kecil itu sudah lari ke dalam memanggil sang ayah.



Tidak berapa lama kemudian, seorang lelaki dengan usia lima tahun lebih tua dari Farhan pun datang dari dalam.



"Assalamu 'alaikum, Ustadz," sapa Sari.



"Wa'alaikum salam, kamu Sari kan? Oh ya silakan kita duduk di teras masjid saja. Mumpung pekerja pada libur," jawab sang ustadz yang masih mengingat wajah familiar Sari.



"Libur ustad? Bukannya ini hari harusnya mereka masuk?" tanya Sari lagi.



"Ah, biasa. Jika dana habis maka pekerja libur dulu. Ayo, kita ke sana," ajak lelaki dengan gamis Pakistan berwarna putih. Wajah teduh sang ustadz membuat siapapun akan merasa nyaman jika berada di dekatnya, termasuk Sari.



"Baik, Ustadz," jawab Sari. Dia pun mengajak Shofia yang sedari tadi terdiam. Ada perasaan takut berdekatan dengan sang ustadz. Aura positif dari sang ustadz, membuat sisi hati Shofia merasa panas. Hawa panas itu membuat Shofia mengeluarkan keringat dingin secara berlebihan. Mata Shofia juga tidak fokus, ingin rasanya Shofia pergi dari tempat itu, akan tetapi tangannya terus dipegang oleh Sari.



"Silakan duduk, katakan ada apa nak Sari mencari saya?" tanya Sang ustadz sambil menggendong sang putri yang sedari tadi tidak mau lepas dari gendongannya.



"Sari membawa teman yang ingin berkonsultasi dengan ustadz, sama kasusnya dengan kakak Sari dulu, Tadz," jelas Sari menerangkan apa maksud tujuannya datang menemui ustadz muda itu.

__ADS_1



Sang Ustadz menatap ke arah Shofia. Aura negatif memancar dari diri Shofia, bayangan hitam bisa ia tangkap sedang bergelayut di pundak Shofia.


__ADS_2