Pelet Maduku!

Pelet Maduku!
Bab. 35


__ADS_3

Silvi menatap tidak suka pada Freya yang bertanya ke persoalan pribadinya. Sudah diketahui sejak dahulu jika Doni dan Silvi sudah lama bercerai.


"Maaf, Freya. Semua adalah urusan pribadiku yang tidak bisa bunda katakan pada siapapun. Yang jelas, suami bunda sudah tidak bersama bunda lagi. Kami memiliki kehidupan sendiri- sendiri," tandas Silvi.


Freya tersenyum kecut, dia sangat malu karena baru pertama kali ini ada orang yang tidak bisa ia pengaruhi dengan susuk yang ia miliki.


"Sudahlah, Freya. Lebih baik kita istirahat, hari sudah semakin larut." Yulia mengajak Freya untuk beristirahat di kamar.


Freya pun mengikuti Yulia dengan patuh, dia tahu jika suasana hati ibu asuh Yulia sedang tidak enak.


"Aneh sekali, mengapa bunda Yulia tidak terpengaruh dengan susuk yang aku pakai?" tanya Freya di dalam hatinya. Dia tidak paham jika rumah itu memiliki kekuatan pagar ghaib yang telah Yulia pasang.


Freya berjalan dengan langkah yang masih menyimpan banyak sekali pertanyaan, sesekali dia menoleh ke salah satu makhluk jin yang ada di salah satu sudut rumah. Jin itulah yang bertugas mematahkan segala ilmu sihir yang memasuki rumah Silvi.


"Astaga! Mengerikan sekali jin itu?" Pekik Freya sembari menutup kedua matanya dengan kedua tangannya karena merasa takut.


Jin yang ada di sudut ruangan itu juga menatap balik ke arah Freya. Tangan yang dipenuhi dengan bulu hitam yang panjang, kuku yang memanjang hitam. Mata bulat seperti bola ping -pong, hidung yang menyerupai hidung kerbau, bibir merah tebal dengan taring di kedua ujung bibir tersebut.


Jin itu mengeluarkan seringai yang membuat Freya benar-benar ketakutan. Tidak bisa ia tutupi lagi hampir ia menjerit karena takut.


"Aaaa ...!" jerit Freya tertahan.


"Kamu kenapa Freya?" tanya Yulia santai. Dia sudah tahu jika Freya akan ketakutan.


"Iii ... Itu!" Freya menutup kedua matanya sambil menunjuk ke arah jin yang mengerikan itu.


"Oh, itu ... Itu adalah jin penjaga rumah ini. Kau tidak perlu takut, dia hanya ingin memberi hormat pada majikannya!"


"Benarkah?!" Freya membuka matanya.


"Memang wujud asli jin itu mengerikan seperti itu, tapi jika kau memandang dengan sudut pandang yang lain, dia akan terlihat seperti sosok lelaki tampan yang memakai pakaian layaknya seorang prajurit," jelas Yulia sambil terus berjalan menuju ke kamarnya.

__ADS_1


Freya mencoba mengikuti apanyang dikatakan oleh Yulia kalau dia harus memandang jin itu dengan sudut pandang yang berbeda. Alam pikiran yang ada di otak Freya bekerja, memberi sugesti pada mata Freya sehingga jin yang ia lihat menjadi sosok lelaki tampan dengan pakaian layak ya seorang prajurit keraton pada jaman dahulu.


"Wah ... Ternyata benar yang kau katakan Yulia, jin itu berubah menjadi sosok lelaki yang sangat tampan. Ketampanannya melebihi ketampanan artis Korea!!" ucap Freya dengan girang. Rasa takut yang tadi ia rasakan sudah menguap berganti dengan rasa kagum.


Yulia hanya tersenyum sinis, dia tidak peduli pada apa yang dilakukan oleh Freya. Freya tidak tahu jika Yulia juga merupakan bagian dari keluarga jin, hidupnya sudah ia gadaikan untuk menjadi pengabdi dan pengikut Ki Sanca.


Tidak hanya satu jin yang ditemui oleh Freya, setiap sudut rumah Silvi ada penjaganya.


"Freya, ini kamar mu. Hati-hati jika ada yang mengetukmu ingin mengajakmu bermain maka jangan kau ikutin. Hari sudah menjelang larut malam, semua jin peliharaanku minta dibebaskan. Jadi aku harap kau harus berhati-hati, jangan ladeni mereka dan jangan buat mereka marah. Jika mereka marah maka kau akan kena masalah! Aku tidak bisa membantumu, kecuali jika jin itu sendiri yang bersedia melepaskan dirimu!"


Glek!


Freya merasa dirinya telah salah mengambil keputusan untuk ikut Yulia ke rumah bundanya yang mengerikan ini.


"Astaga, mengapa aku begitu bodoh mau ikut Yulia ke sini! Hah! Bisa-bisa aku mati berdiri karena ketakutan!" ucap Freya di dalam hati. Dia pun segera masuk ke dalam kamar dan menguncinya dari dalam.


Yulia yang melihat kelakuan Freya pun hanya tertawa geli. Freya ternyata belum menyadari jika hidupnya kini dipenuhi oleh jin yang selalu mengikutinya kemana pun Freya pergi.


"Hiii ... Mengapa hawanya menjadi dingin seperti ini?" ucap Freya lirih. Dia menarik selimutnya hingga menutupi wajahnya.


"Freyaaaa ... Ayo kita main ... hihihi ....!" suara wanita yang lembut diakhiri dengan tawa yang melengking tinggi terdengar di telinga Freya.


"Alamak! Dia sudah datang. Kata Silvani aku harus diam jangan mau mengikuti ajakannya!" gumam Freya di dalam hati.


Freya hendak membaca surat Al fatihah untuk mengusir jin yang dia kira jahat itu.


"Audzubillahi minnas syaithonirrojiim ...."


Hanya baru Taawudz, tenggorokan Freya sudah kering tidak bisa digerakkan untuk berbicara lagi. Freya lupa jika Yulia memberi tahu juga kalau tidak boleh membaca surat dalam Al-Qur'an walau hanya satu ayat saja.


Freya membulatkan matanya, dia merasa kesakitan di tenggorokannya.

__ADS_1


"Astagaa ... Aku lupa jika tidak boleh membaca satu ayat Al-Qur'an pun di dalam rumah ini!"


Seru freya di dalam hati. Dia menyadari kecerobohannya. Ternyata di dalam alam pikiran Freya masih di beri kesempatan oleh Allah untuk bertaubat, tapi sayang sekali sepertinya kesempatan yang Allah berikan dibuang begitu saja oleh Freya.


Perlahan selimut yang Freya pakai ada yang menarik dari bawah. Freya semakin ketakutan, tubuhnya menggigil seperti orang yang sedang kedinginan.


"Apalagi ini!! Mengapa mereka tidak berhenti menggangguku! Mana sekarang kebelet pipis lagi!" gerutu Freya di dalam hati.


"Freyaa ... Ayo kita maaiin ... Bukankah kau sudah menjadi anggota keluarga kami? Hihihi ...!" suara perempuan melengking tinggi kembali terdengar di telinga Freya.


Tubuh Freya semakin menggigil hebat, dia sudah tidak kuat untuk menahan rasa takut yang ada di dalam hatinya. Namun, Freya bersyukur karena tiba-tiba suara itu hilang.


Belum lenyap rasa takutnya, Freya kembali dikejutkan oleh sosok lelaki yang tiba-tiba duduk di tepi ranjangnya.


"Freya, jangan takut. Aku adalah suamimu," ucap lelaki yang duduk di tepi ranjang Freya.


Freya lagi-lagi membulatkan matanya lebar-lebar, telinganya ia tajamkan. Namun, tetap Freya tidak merubah posisi tidurnya. Selimut yang tadi ditarik oleh si jin perempuan, sudah ia benarkan lagi hingga rapat menutupi seluruh tubuhnya.


"Freya a, bukalah selimutmu! Aku adalah suamimu," ucap lelaki itu dengan lemah lembut. Di setiap alunan katanya membuat hati Freya merasa tenang dan terlindungi.


Perlahan Freya mengintip dari balik selimut, dia memperhatikan dengan hati-hati lelaki yang duduk di tepi ranjangnya itu.


Freya terkejut lelaki yang ada di tepi ranjang itu adalah Farhan yang terlihat jauh lebih muda dan segar.


"Mas Farhan!!" pekik Freya dengan hati yang penuh kebahagiaan, dia merasa jika dirinya benar-benar dihadapkan dengan sosok lelaki yang kini menjadi suaminya. Freya lupa akan peringatan yang Yulia berikan.


Lelaki yang duduk di tepi ranjangnya itu tampak kaku, wajahnya terlihat pucat. Ia menoleh ke arah Freya lalu tersenyum. Semua gerak -geriknya kaku seperti robot. Tatapan matanya kosong seperti tidak bernyawa.


Freya membuka selimutnya dan menghampiri sosok lelaki yang menyerupai Farhan itu. Jika Freya bisa berpikir jernih, harusnya dia tahu jika tidaklah mungkin jika Farhan bisa sampai di tempat itu.


Lelaki itu tersenyum menyambut Freya dengan merentangkan kedua tangannya. Berharap jika Freya mau masuk ke dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2