
Suasana siang di teras masjid itu pun berubah menjadi tegang dan terasa gerah. Shofia yang berada dalam kuasa jin yang berwujud seekor ular, menatap angkuh pada sang ustaz. Jin itu mengira jika sang ustaz hanya memiliki ilmu yang rendah seperti pak ustaz pada umumnya.
"Sekali lagi aku perintahkan dirimu untuk keluar dari tubuh wanita ini, cepaaat ...!" Ustaz Zaki memerintahkan jin tersebut untuk keluar dari tubuh Shofia.
"Hahaha ... Tidak mau! Aku tidak mau keluar dari tubuh ini. Aku sangat memuja tubuh yang aku tempati, dia sangat harum dan menggoda. Aku terlanjur mencintai dan ingin memiliki dirinya!" tolak sang jin yang ternyata jin itu menyukai tubuh Shofia dan akan menjadikan Shofia sebagai istrinya.
"Baiklah! jangan salahkan aku jika kau harus aku musnahkan! Karena kau sendiri yang meminta untuk aku musnahkan! Peringatan yang aku tawarkan, tidak kau indahkan! Allahu Akbar!!" teriak ustaz Zaki menyebut nama Sang Maha Pencipta.
"Aaaargh ... Panaaas!!"
Shofia berteriak kesakitan, tubuhnya terasa dibakar oleh api yang sangat panas. Shofia terus merintih menahan sakit sekujur tubuhnya. Sedangkan Ustaz Zaki terus berusaha untuk menyerang dan membuat jin yang ada di dalam tubuh Shofia itu keluar.
"Sssh ....!"
Shofia mengeluarkan suara desis -an panjang. Tubuh Shofia menggelinjang, berputar tidak karuan menahan sakit dari bacaan ayat suci dari sang ustaz.
Ustaz Zaki semakin mengeraskan suaranya, sedangkan tubuh Shofia selalu gagal untuk menyerang ustadz Zaki karena ada semacam kekuatan yang melindungi tubuh sang ustadz.
Lama mereka bertarung, akhirnya jin dalam diri Hera melemah karena sudah kalah. Melihat hal itu ustadz Zaki tidak menyia-nyiakan waktunya, dia segera menekan ubun-ubun Shofia seraya terus melafalkan ayat suci Al-Quran dan dzikir. Dengan bantuan Sari yang memegangi tubuh Shofia, ustadz mulai menarik perlahan jin dari tubuh Shofia.
__ADS_1
"Aaaaa ...!"
Lolongan panjang yang keluar dari mulut Shofia menandai berakhirnya pertarungan antara ustaz Zaki dan jin yang bersemayam di dalam tubuh Shofia.
Perlahan tubuh Shofia melemas dan ambruk ke lantai. Dia tidak sadarkan diri. Sari membantu sang Ustadz dengan menutupi tubuh Shofia dengan kain jarik.
"Tutupi tubuh temanmu itu, biarkan dia tidur hingga bangun. Saat ini tubuhnya hanya perlu istirahat. Jangan kau tinggalkan dia karena aku yakin pasti dia akan merasa bingung." Sang ustadz memerintahkan Sari untuk terus menunggui Shofia hingga Shofia nanti terbangun dengan sendirinya.
"Baik, Ustadz. Sari akan menunggu di sampingnya," ucap Sari mengangguk.
Sari pun merapikan kain jarik yang menutupi tubuh Shofia. Sari merasa lega karena jin yang berada di dalam tubuh Shofia bisa dikeluarkan dengan mudah.
"Aargh ... Kepalaku pusing!" teriak Shofia membuka matanya.
"Nyonya ... Nyonya sudah sadar?" tanya Sari membantu Shofia untuk duduk.
__ADS_1
"Apa yang terjadi Sari? Dimana kita sekarang?" ucap Shofia bingung. Apa yang dikatakan sang ustadz ternyata benar, jika Shofia bangun maka akan merasa bingung.
Sari tersenyum, dia menyodorkan sebotol air mineral pemberian sang ustadz.
"Nyonya ... Minumlah, air ini akan membuat tubuh nyonya kembali segar," ucap Sari dengan tersenyum memberikan air putih pada Shofia.
Shofia menatap Sari dengan pandangan terima kasih. Saat ini Shofia sangat membutuhkan air minum. Tenggorokannya terasa agak sakit karena mengeluarkan suara yang bukan keinginannya, melainkan keinginan jin tersebut.
"Terima kasih, Sari." Hera menerima botol air mineral dengan senyum yang masih agak aneh. Shofia menenggak habis air itu hingga tandas. Tenggorokannya yang kering dan sakit perlahan mulai sembuh setelah minum air putih dalam botol tersebut.
"Alhamdulillah, segar sekali tubuhku," ucap Shofia mengambil napas dalam-dalam. Rasa sejuk menjalar dari kerongkongannya turun ke seluruh tubuhnya.
"Nyonya sudah baikan?" tanya Sari dengan wajah yang penuh harap.
"Aku sudah lebih baik, Sari. Katakan apa yang terjadi tadi? Aku hanya ingat saat sang ustadz berbicara padamu dengan tulus," jelas Shofia sembari mengingat semua memory saat dia datang ke rumah sang ustaz.
"Nyonya sama sekali tidak mengingat apapun yang telah terjadi saat ustadz melakukan rukyah pada nyonya?" Sari bertanya lagi untuk memastikan jika Shofia tidak tahu apa yang sudah terjadi saat sang ustadz melakukan rukyah pada Shofia.
__ADS_1