
Shofia berhenti menceritakan semua pada Farhan. Untuk masalah cincin yang ia temukan itu tidak Shofia katakan pada Farhan, karena belum bisa dibuktikan kalau cincin Itu benar-benar ada penunggunya.
"Seperti itu mas ceritanya, hari -hari yang Shofia lalui tanpa mas Farhan." Shofia menatap netra sang suami yang mulai berkilat karena marah.
Farhan mengepalkan kedua tangannya, dia menahan amarah pada Freya namun tidak bisa ia keluarkan mengingat saat ini Shofia sedang hamil. Dia akan segera mengurus semua atas apa yang sudah dilakukan oleh Freya istri keduanya.
Farhan menatap iba pada sang istri, begitu besar pengorbanan istri pertamanya itu demi kebahagiaan dirinya. Demi mendapatkan penerus keluarga Farhan, Shofia telah rela berbagi cinta dengan wanita lain. Namun sayang, wanita pilihannya itu tidaklah sesuai dengan apa yang ia harapkan.
"Shofia, terima kasih atas semua pengorbanan yang telah kau lakukan untuk mas, semoga pengorbanan mu ini mendapat balasan dari Allah, di mana setiap rasa sakit yang kau derita akan menjadi pencuci dosa dan memperberat amal kebaikan nanti di akhirat," ucap Farhan.
Farhan merengkuh tubuh sang istri yang tadi pingsan. Ita sang ibu melihat keduanya rukun kembali pun tersenyum, selama ini Ita akui jika sang menantu menyembunyikan semua masalah keluarganya karena tidak ingin aib sang suami terdengar oleh orang lain.
__ADS_1
"Sayang, begitu besar pengorbanan mu, mengapa kau tidak menjadikan umi sebagai bahu kedua setelah suami mu? Umi akan selalu ada untuk mu. Tidak perlu sungkan, jika anak menempuh jalan yang salah sudah menjadi kewajiban orang tua untuk meluruskannya." Ita mengusap surai rambut hitam Shofia penuh dengan kasih sayang.
"Maafkan Shofia, Umi. Shofia hanya malu karena semua atas keinginan Shofia, jadi mau minta bantuan umma dan abah, Shofia malu." Shofia menunduk karena tidak mampu menatap mata sang ibu mertua.
Ita paham, jika seseorang yang merasa bersalah maka mau minta bantuan pasti akan sungkan.
"Sudahlah, Shofia. Tidak apa-apa, umma paham. Hal yang paling penting sekarang adalah membentengi diri dari pengaruh negatif lagi. Saling menguatkan dan saling menjaga keharmonisan. Farhan sholat taubatlah, agar jiwamu tenang dan pengaruh sihir apapun hilang dari tubuh mu. Tubuh yang banyak mendzolimi orang lain akan mudah dipengaruhi oleh jin jahat," saran Ita pada sang anak.
"Baiklah, biarkan Shofiaa untuk sementara tinggal bersama umi, kamu tidak apa-apa 'kan jika Shofia tinggal bersama umi?" Ita menatap tajam pada sang anak dan dengan nada yang setengah memaksa. Ita tidak ingin calon cucunya kenapa -kenapa. Dengan adanya Shofia di rumah ini, maka perlindungan bayi Hera akan lebih terjamin. Pagar ghaib yang mengelilingi rumah Azlan masih terpasang dengan begitu kuat.
Farhan sangat hafal dengan nada perintah sang ibu, jika itu sudah menjadi perintah sang ibu, maka Farhan tidak bisa membantah. Termasuk jika Freya sang istri mencoba memengaruhi Farhan untuk tidak mematuhi perintah sang ibu, maka Farhan akan menolak bujukan sang istri.
__ADS_1
Seorang ibu adalah garda terdepan untuk keselamatan sang anak. Untuk itu Ita berupaya untuk membawa Farhan dalam perlindungan rumahnya. Rumah yang senantiasa terlindungi karena tidak ada kedzaliman di sana. Iya dan Azlan adalah sepasang suami istri yang sangat menjunjung tinggi tentang apa arti saling menghargai, saling menerima, saling mengingatkan dan saling terbuka.
Farhan terpaksa menyetujui apa yang sudah menjadi keputusan sang ibu, dia sangat menghormati ibunya. Hanya Ita yang mampu membuat seorang Farhan tunduk dan patuh.
"Baiklah, Umi. Farhan akan mengijinkan Shofia untuk tinggal bersama Umi di sini. Farhan akan sholat taubat dan sholat hajat. Agar apa yang menjadi doa dan harapan kamu bisa terkabul semua," jawab Farhan menatap sendu sang istri pertama.
"Kalau begitu ajak istrimu untuk makan siang, dia belum makan sedari tadi," titah Ita lagi pada sang anak. Dia mulai berpihak pada Shofia setelah mendengar semua cerita dari Shofia, Ita merasa Farhan telah berbuat dzalim pada Shofia. Mau tidak mau, Ita harus ikut campur dalam keselamatan sang cucu dan menantunya.
"Iya, Umi. Farhan akan mulai memperhatikan Shofia. Shofia, ayo kita makan," ajak Farhan membantu sang istri untuk berdiri
menuju ke meja makan.
__ADS_1
Ita menatap kesal pada Farhan, seharusnya dia yang mengambilkan makan untuk Shofia di meja makan. Bukan mengajak seperti itu, sudah tahu sang istri baru saja sadar dari pingsannya sudah diajak untuk berjalan.