
Pagi hari yang biasa bagi Shofia sebagai hari penuh semangat, tiba-tiba suasana pagi hari di kantor itu membuat dadanya terasa sesak.
"Assalamu 'alaikum, Nyonya," ucap sekretaris baru yang ditunjuk Shofia untuk menggantikan Freya.
"Wa'alaikum salam. Tolong kamu jelaskan siapa yang menaruh meja di ruangan saya ini!" ucap Shofia dengan nada yang sudah tidak enak didengar. Hatinya sudah tidak kuasa menahan sesak di dada.
"Maaf, Nyonya. Itu atas perintah tuan Farhan. Beliau menginginkan satu meja kursi kerja baru untuk nyonya Freya," ucap sang sekretaris menjawab pertanyaan Shofia dengan rasa takut yang mendera.
"Apa?! Dia menugaskan mu untuk menaruh meja di sampingku! Apa maksudnya?!" tanya Shofia dengan sorot mata yang syarat dengan kekecewaan. Farhan tidak ijin kepadanya terlebih dahulu, dan sepertinya Freya lah yang meminta Farhan melakukannya.
"Benar, Nyonya, saya ditugaskan Tuan Farhan untuk menyiapkan meja baru untuk nyonya Freya, beliau ingin agar nyonya Freyaa juga bisa ikut membantu mengawasi jalannya perusahaan. kami pun terpaksa menyetujuinya walaupun ternyata semua adalah hasil dari bujukan nyonya Freya."
Freyaa mendengarkan dengan seksama apa yang dikatakan oleh sang sekretaris, dia menjadi tahu jika dalang dari semua itu adalah si Freya. Shofia merasa kesal dengan keputusan Farhan yang secara pihak begitu saja menaikkan jabatan Freya.
"Astaghfirullah, apa yang terjadi kini sudah di luar batas kemampuan hamba. Tolonglah hamba untuk bisa keluar dari masalah yang pelik semacam ini?" pinta Shofia berdoa di dalam hati.
Shofia hanya bisa menghela napas kasar. Dia tidak mungkin melawan apa yang telah Farhan katakan pada sang sekretaris, karena semua yang ada di kantor ini adalah milik Farhan. Shofia tidak memiliki kuasa untuk menentang apa yang sudah Farhan perintahkan.
"Sudahlah, Maafkan aku. Aku hanya terkejut mendapati semua ini. Aku sadar siapakah diri ini, hanya sekadar tenaga untuk membantu kesuksesan perusahaan ini. Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan. Mengapa semua pegawai melihatku tidak seperti biasanya, Sari?" tanya Shofia.
Wanita dengan jilbab segitiga dengan bros bunga tulip di bahunya itu, bertanya pada sang sekretaris mengapa semua pegawai menatapnya aneh, tidak seperti biasa. Shofia merasa tidak nyaman di kantornya sendiri.
Gadis muda berusia 23 tahun dengan jilbab sebahunya itu menunduk. Dia ingin bercerita pada sang majikan akan tetapi takut jika akan menyinggung hati sang bosnya itu.
"Maaf, Nyonya. Maafkan saya, Anda belum melihat story Whats App milik nyonya Freya?" tanya Sari balik.
__ADS_1
"Story' WA?" ulang Shofia dengan alis yang menyatu menjadi satu di tengah.
"Benar, Nyonya. Story' What's Ap milik nyonya Freya," jawab Sari dengan tegas.
Wanita dengan kacamata tebal itu ikut prihatin dengan apa yang menimpa sang pimpinan. Bagaimana tidak Freya sudah mengunggah semua kemesraannya bersama Farhan di laman FB dan story' WA-nya.
Shofia bergegas melihat story Freya. Sepertinya Freya lupa mem-privasi story' nya dari Shofia. Atau mungkin memang disengaja? Entahlah Shofia hanya bisa menghela napas dalam-dalam.
Shofia membulatkan mata lalu menutup mulutnya. Shofia menggelengkan kepalanya melihat foto Freya dan Farhan yang begitu mesra dan sedikit norak. Freya memposting fotonya yang sedang suap-suapan dengan Farhan saat bulan madu kemarin. Selain itu juga saat Farhan memeluk Freya di atas balon udara.
Semua pose yang Shofia dan Farhan lakukan dilakukan juga oleh Freya. Bedanya Shofiaa tidak memamerkannya di media sosial, sedangkan Freya dengan percaya dirinya memposting semua foto yang dia lakukan saat bulan madu di status WA dan FB nya.
Bukan karena Shofia tidak mau memposting, akan tetapi Farhan melarangnya untuk posting karena takut terkena penyakit 'ain. Di mana sebuah penyakit atau musibah akan menimpa diri sosok yang ada di dalam foto atau video karena pandangan iri atau sakit hati dari prang lain yang tidak suka dengan apa yang kita posting.
Shofia tidak menyangka jika Farhan akan membiarkan saja Freya melakukan hal tersebut. Tidak seperti dirinya yang hampir kena marah karena ingin nekat posting foto. Farhan juga yang dulu melarang Shofia pamer ke media sosialnya, kata Farhan kemesraannya bukan untuk konsumsi publik, akan tetapi sekarang semua terbalik. Farhan tidak melarang Freya pamer di media sosialnya.
"Lalu apa hubungannya stori WA nyonya Freya dengan cara pandang para pegawai itu pada saya, Sari?" tanya Shofia kembali pada pertanyaannya awal tadi.
Sari lagi- lagi menunduk, gadis manis dengan hidung mancung dan tahi lalat di atas bibir itu, bingung mau mengatakannya bagaimana agar tidak membuat sang majikan sedih.
"Maaf, Nyonya. Sari takut jika Sari katakan pada nyonya nanti nyonya akan marah atau menangis." Sari tidak mampu menatap mata sang majikan. Orang baik yang memberinya pekerjaan di saat dia butuh untuk mencukupi kebutuhan berobat sang ayah.
Shofia menatap Sari dengan tatapan sendu, lalu berkata, "Tidak apa-apa, Sari. Aku tidak akan marah dan memecatmu. Katakan walau hal itu terasa sakit di hati, akan tetapi aku sudah terlatih untuk menerima rasa sakit itu. Katakanlah, kau tidak perlu takut." Shofia menatap lembut pada sang sekretarisnya itu.
Shofia mendekati Sari dan menepuk bahu sang sekretaris memberi keberanian pada Sari untuk mengatakan jujur kepadanya.
__ADS_1
"Baiklah, Nyonya. Semua pegawai yang menyimpan nomer nyonya Freya melihat tulisan di bawah caption foto.
'Wanita yang baik adalah wanita yang bisa memberikan keturunan pada keluarga suami dan pandai menjaga suami agar tidak dilirik wanita lain'
Begitulah, Nyonya bunyi tulisan di bawah foto nyonya Freya dan tuan Farhan berpelukan di ranjang mereka," ucap Sari. Dia pun menunjukkan foto itu pada Shofia.
"Apa?! Mengapa di storiku tidak ada? Apa foto itu dia privasi dariku?!" Ucap Shofia terkejut melihat foto Farhan dan Freya itu. Shofia membolak-balik dan scrol semua status WA Freya, namun pas di bagian itu tidak ada.
Ternyata Freya mem-privasi stori yang foto itu dari Shofia. Shofia mengepalkan tangannya kuat, lalu meminta Sari men-scrinshoot status itu dan dikirimkan kepadanya. Shofia akan menanyakan hal itu nanti pada Farhan. Sudah cukup Farhan harus diperingatkan agar bisa menegur Freya yang sudah keterlaluan.
"Kau kirim foto itu padaku, Sari. Pantas saja semua pegawai melihatku sebagai wanita yang bodoh dan lemah. Padahal merek mengenalku dulu sebagai wanita yang tangguh," ucap Shofia sembari menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Baik, Nyonya. Nanti akan saya kirim ke nomer nyonya. Nyonya, apa boleh saya memberi saran?" tanya Sari dengan tatapan yang tulus.
"Saran apa, Sari?" tanya Shofia dengan tersenyum. Baginya Sari masih terlalu muda untuk mengetahui semua masalah orang dewasa.
"Maaf, Nyonya. Saya tahu jika nyonya menganggap Sari masih muda dan belum berpengalaman. Akan tetapi mungkin ini bisa menjadi masukan untuk nyonya. Kakak saya dulu juga merasakan hal yang sama dengan nyonya. Suaminya berubah semenjak mengenal wanita lain. Dan wanita itu begitu menguasai diri kakak saya dan suaminya."
Shofia mulai tertarik, mendengar cerita tentang kakak Sari. Shofia pun mengajak Sari duduk di sofa karena ingin mendengarkan lebih banyak lagi tentang kakak Sari. Biarkan saja pekerjaan menumpuk yang terpenting Shofia mendapatkan pencerahan.
"Ayo kita duduk, Sari. Ceritakan lebih banyak lagi tentang kakakmu. Aku sangat ingin mendengarnya. Siapa tahu aku bisa menemukan solusi dari masalah yang aku hadapi saat ini," ucap Shofia tersenyum.
Sari menuruti perintah sang majikan, dia pun duduk di sebelah Shofia. "Baik, Nyonya. Semoga apa yang menimpa kakak Sari ini bisa memberi masukan pada masalah yang nyonya hadapi," ucap Sari memperbaiki duduknya agar lebih nyaman.
"Silakan ceritakan semua yang terjadi pada kakakmu," ucap Shofia.
__ADS_1