
Shofia duduk di kursi roda dan Sari mengikutinya dari belakang. Mereka menuju ke ruang praktek dokter kandungan. Suasana ramai di rumah sakit membuat Shofia menghela napas. Ternyata banyak yang jatuh sakit. Untuk itu menjaga kesehatan merupakan hal yang utama.
"Nyonya, di depan ruang praktek sudah terlihat, kita ambil antrian terlebih dahulu," ucap sang suster.
Shofia mengangguk, lalu berkata, "Baik, Sus." Wajah Shofia bersemu merah, dia merasa grogi dan gugup dengan hasil pemeriksaan nanti, padahal hal itu sudah pernah ia alami saat hamil anak pertama. Namun, kehamilan yang sangat ia harapkan ini, membuat Shofia cemas. Perasaan takut dan bahagia melebur menjadi satu.
"Sari, aku merasa cemas setelah tahu Freya lah yang membuat diriku terkena guna-guna dan dirasuki oleh jin. Menurutmu apakah Freya akan bertambah kebenciannya padaku jika tahu aku hamil?" tanya Shofia lagi.
Sari terkejut, dia hampir lupa kalau Freya tidak suka jika sang madu bisa hamil. Dia pun terdiam untuk berpikir.
"Benar sekali, Nyonya. Jika nyonya Freya tahu pastilah dia akan berusaha untuk menggugurkan kandungan nyonya. Lebih baik kita rahasiakan kabar ini hingga nanti kandungan nyonya sudah kuat. Bagaimana, Nyonya? Kita akan minta perlindungan ustadz Zaki agar bayi yang ada di dalam kandungan nyonya selalu dilindungi."
Shofia mengangguk memahami apa yang dikatakan oleh gadis yang usianya terpaut tiga tahun lebih muda darinya itu.
"Apa yang kau katakan benar, Sari. Aku harus menyembunyikan kehamilan ini dari Freya dan Mas Farhan. Aku merasa tidak yakin jika aku memberi tahu mas Farhan, dia pasti akan cerita pada Freya. Hingga tiba waktunya kehamilan ini tidak bisa disembunyikan lagi, aku akan bilang pada mas Farhan," balas Shofia.
Semenjak hari ini Hera terlalu over protektif dengan kehamilannya. Hubungan dengan sang suami mulai jauh dan renggang. Ditambah Farhan terlalu memanjakan Freya akhir-akhir ini.
Pengaruh guna-guna susuk yang Freya pakai tidak mempan pada Shofia karena bantuan dari ustadz Zaki, namun masih berpengaruh pada Farhan. Karena Farhan masih dalam kendali Freya.
***
Keesokan harinya, suasana pagi yang tegang di dapur, membuat Shofia menangis.
Praang ...!
"Shofia! Kau kenapa ceroboh sekali! Aku tidak suka dirimu yang pemalas seperti ini! Semenjak kau menyerahkan semua urusan kantor pada Freya kau menjadi semakin malas! Kerjaan mu hanya tidur dan makan saja!" hardik Farhan pada Shofia yang tidak sengaja memecahkan piring yang akan dia gunakan untuk makan.
Farhan yang sedang sarapan pun menjadi terganggu.
"Maaf, Mas!"
__ADS_1
"Lagian kamu kenapa di rumah pakai jaket seperti orang sakit begitu, hah?!" suara Farhan meningkat dengan volume yang lebih tinggi dari sebelumnya, membuat Shofia menitikkan air matanya.
Shofia menggunakan jaket karena sedang menutupi kandungannya agar tidak diganggu oleh Freya. Selain menggunakan gamis yang longgar dan jilbab yang panjang sepaha, Shofia memakai jaket.
"Shofia baru tidak enak badan, Mas. Tidak kuat dengan AC rumah. Untuk itu Shofia memakai jaket jika di rumah," jawab Shofia dengan nada takut. Dia berharap Farhan tidak akan bertanya lagi.
"Terserah kau! Aku sudah tidak peduli denganmu. Kau sangat berbeda dari Freya, dia selalu memakai pakaian yang enak di lihat suami, bau badan wangi dan selalu ceria di depan suami. Tidak sepertimu yang membuat mata ini sepet, tidak betah lama-lama di dekat mu. Sudahlah, mulai sekarang mas akan lebih sering menginap di rumah Freya!!" Farhan berkata ketus dan tidak berperasaan.
Shofia semakin sedih mendengar semua yang dikatakan oleh Farhan. Tidak ada kata-kata yang indah untuknya. Setiap hari hanya mendapatkan cacian dan hinaan dari Ameer dan Hasna.
"Baik, Mas. Jika itu keputusan mu, Shofia akan terima. Semoga mas bahagia bersama Freya. Maafkan Shofia yang tidak bisa menjadi istri yang baik untuk mas Farhan," ucap Shofia sembari menangis tergugu, dirinya tidak tahu lagi harus bagaimana.
"Sudahlah, aku pergi dahulu!" Tanpa meminta maaf atau memberi kecupan selamat tinggal Farhan pergi begitu saja meninggalkan Shofia.
Shofia menatap punggung sang suami dengan tatapan sendu. Di waktu hamil seperti ini tidak bisa ia pungkiri kalau Shofia sebenarnya ingin dimanja oleh sang suami.
"Tidak apa-apa ya, Nak. Kita harus kuat, demi keselamatan mu juga. Umma yakin kita bisa melalui semua ini dengan baik." Shofia mengusap lembut perutnya yang masih datar.
Hari demi hari Shofia lalui dengan penuh kesabaran hingga perutnya tidak bisa ia tutupi lagi karena tentunya akan semakin besar dan membuncit. Perubahan tubuh Shofia membuat Farhan bertanya, "Shofia, aku perhatikan perutmu semakin besar dan membuncit. Apa kau sakit?"
"Mas, jika aku mengatakannya apakah kau mau percaya dan mau merahasiakan semua ini pada Freya?" tanya Shofia dengan perasaan takut dan cemas.
"Apa maksudmu? Mengapa aku harus merahasiakan semua ini pada Freya?" tanya Farhan dengan tatapan tidak suka pada Shofia.
"Iya, Mas. Karena aku ingin memberinya kejutan. Dia sangat menyayangi aku kan? Jadi aku ingin memberinya kejutan nanti. Bisakah mas melakukannya untuk Shofia sekali saja?" Shofia menatap Farhan dengan tatapan memohon. Dia berharap permohonannya itu dikabulkan oleh Farhan.
Farhan terdiam, mungkin tidak masalah jika Shofia ingin memberi kejutan pada Shofia. Toh, Freya pasti sangat bahagia dengan kejutan yang diberikan oleh Shofia.
"Baiklah, mas berjanji akan merahasiakan semua ini pada Hasna hingga kau sendiri yang akan memberinya kejutan. Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan pada mas," ucap Farhan melunak, dia merasa harus memberi kesempatan pada Shofia untuk mengatakan semua yang terjadi pada tubuh Shofia.
Shofia tersenyum mendengar ucapan Farhan. Setidaknya masih ada rasa sayang untuknya dari Farhan, walau itu hanya tinggal sedikit tidak seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Baiklah, Mas. Aku percaya kau akan menjaga rahasia ini." Shofia membuka jaket dan jilbab besarnya. Lalu menunjukkan perutnya yang semakin membuncit dan besar itu. Farhan menatap Shofia tanpa berkedip.
"Mas, aku hamil. Usia kandungan Shofia sudah enam bulan!" ucap Shofia dengan dada yang berdebar dan suara yang sedikit bergetar. Takut jika Farhan marah karena baru sekarang Shofia mengatakan padanya kalau dia sedang Hamil.
Farhan membulatkan matanya sempurna, mulut Farhan menganga menatap tajam ke arah perut Hera.
"Kau hamil? Benarkah kau hamil?" Farhan berjalan ke arah Hera yang berdiri di dekat kursi seberang.
Shofia mengangguk dengan air mata yang mulai membasahi pipi. Farhan mendekati Shofia, lalu memeluk dan mengusap perut Shofia. Ternyata Farhan masih memiliki rasa belas kasihan dan cinta untuk Shofia.
Shofia melongo, ketakutan yang semula ia rasakan ternyata salah. Shofia telah salah mengira jika Farhan tidak akan peduli dengan kehamilannya.
Farhan berjongkok, lalu memeluk dan mengecup perut Shofia. Aura positif dari sang bayi, mengalir hangat melalui wajah Farhan yang mencium perut Shofia. Farhan merasakan dirinya seperti mendapat sebuah kehangatan yang menyentuh hati dan membuat belenggu di dalam hati ada yang terlepas.
"Mas ... Mas Farhan tidak marah?" tanya Shofia dengan hati-hati. Dia masih merasa takut pada Farhan.
"Buat apa mas marah, Shofia? Mas sangat bahagia mendengar kau hamil. Sejak kapan kau menyembunyikan semua ini?" tanya Farhan.
"Maaf, Mas. Semenjak Shofia dinyatakan hamil oleh dokter. Shofia hanya ingin menjaga kehamilan ini agar tidak terkena ain dari orang yang tidak suka dengan kehamilan Shofia. Maaf jika Shofia baru sekarang mengatakan semua ini pada mas," ucap Shofia sembari mengusap air matanya.
"Maafkan, mas, Shofia. Mas terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang sangat banyak dan juga Freya yang terlalu banyak menuntut untuk di temani dan lagi putrinya juga sering sakit. Dia meminta mas untuk menemani anaknya."
Shofia hanya tersenyum, semua itu hanyalah alasan saja. Namun, Shofia senang karena Farhan bisa sedikit berubah mau memperhatikan dirinya. Itu sudah cukup untuk Shofia.
"Tidak apa-apa, Mas. Semua sudah baik-baik saja." Shofia memaklumi karena tahu, Farhan dalam pengaruh Freya.
Farhan bangkit dari duduknya, lalu mengajak Shofia untuk duduk di pangkuannya.
"Shofia, mas sangat bahagia mendengar kau bisa hamil lagi, berharap juga agar Freya juga hamil." Farhan mengusap dan mengecup kepala Shofia dengan penuh kasih sayang.
Mulai hari itu, Farhan sedikit berubah walau masih saja takut dengan Freya yang tiba-tiba merajuk dan ingin ditemani oleh Farhan. Terkadang menjemput Farhan paksa di kala Farhan sedang bersama Shofia.
__ADS_1
Kehamilan Shofia sudah diketahui oleh Freya, berbagai upaya telah Freya lakukan untuk menggugurkan kandungan yang ada di dalam perut Shofia. Seperti menuang minyak goreng di lantai dapur agar Shofia terpeleset. Bersyukur perlindungan dari ustadz Zaki membuat Shofia selalu selamat. Shofia sering mendapat bisikan halus yang memperingatkan Shofia agar selalu hati-hati.
Selain itu Freya juga menghubungi Yulia agar mengirim Guna-guna seperti sebelumnya, namun usaha Yulia juga gagal karena selalu dipatahkan oleh ustadz Zaki. Hingga kedua wanita itu pun menyerah, menunggu sampai bayi itu lahir ke dunia.