
Mendengar apa yang dikatakan oleh sang nenek bahwa Minah tidak pernah berdekatan dengan laki-laki manapun, Yulia dan Freya pun tersenyum dengan senang. Apa yang menjadi buruannya ternyata ada di depan mata. Seketika Yulia memberanikan diri untuk bertanya tentang Minah.
"Minah memang gadis baik ya, Nek. Dia bisa menjaga diri dari lelaki . Sifatnya yang tertutup menjadikan Minah istimewa," ucap Yulia sembari menatap ke arah nenek tua dengan senyum khasnya itu.
"Benar sekali, dia gadis yang baik. Benak tidak bisa jauh darinya, berharap kelak ada yang mau menjaganya dengan tulus." Sang nenek menerawang jauh membayangkan jika Minah sudah menikah dengan lelaki yang benar-benar tulus mencintai dan melindunginya.
Minah keluar dengan baju berisi empat gelas teh hangat. Dengan tersenyum ramah dia menata gelas itu di atas meja.
"Silakan diminum, Kak. Maaf hanya ada teh hangat saja," ucap Minah dengan ramah. Dia terlihat lugu dengan penampilannya itu.
"Terima kasih, Dek. Kau sungguh baik," ujar Freya yang senang dengan cara Minah yang sopan menyajikan minuman di meja.
"Nek, apa boleh saya ajak Minah untuk tinggal di Jakarta?" tanya Yulia pada sang nenek. Dia ingin segera membawa Minah untuk kembali ke Jakarta.
__ADS_1
Nenek tua berambut putih dan kulit keriput itu menjadi terkejut. Dia tidak menyangka jika kedua tamu yang baru saja ia kenal sudah berani mengajak Minah ke Jakarta. Kota yang besar dengan kehidupan yang keras.
"Apa?! Kalian ingin mengajak Minah ke Jakarta?" tanya nenek mengulang perkataan Yulia.
"Iya, Nek. Kami ingin mengajak Minah ke Jakarta. Di sana kami akan menyekolahkan Minah hingga ke jenjang kuliah. Minah apakah kau mau ikut dengan kami?" tanya Yulia pada Minah yang sedari tadi menyimak apa yang dikatakan oleh Yulia dan neneknya.
Minah menatap wajah sang nenek dengan penuh harapan. Mayang memang sejak dahulu ingin sekali pergi melihat kota Jakarta yang sudah lama ia impikan itu. Diam-diam Minah memiliki impian suatu saat bisa ke Jakarta. Dia ingin melihat keindahan Monas dan bermain di wahana bermain dunia fantasi dan juga melihat keindahan dunia laut di Sea World.
"Saya sangat senang bisa ke Jakarta, Kak. Akan tetapi jika nenek tidak mengijinkan maka saya pun tidak bisa pergi ke Jakarta. Semua tergantung ijin dari nenek," jawab Minah sembari menatap ke arah sang nenek.
Lasinah yang mendapat tatapan penuh harap dari sang cucu, akhirnya luluh juga. "Baiklah, jika Minah ingin ke sana. Nenek berharap nak Yulia dan nak Freya mau menjaga dan melindungi Minah dari segala mara bahaya. Minah adalah satu-satunya cucu perempuan nenek. Bagaimana nak Yulia dan nak Freya. Apakah kalian mau menjaga dan melindungi Minah?" tanya Lasinah dengan tatapan memohon pada Yulia dan Freya.
__ADS_1
Tidak disangka dan tidak dikira, apa yang Yulia dan Freya inginkan bisa begitu mudah ia dapatkan. Ini adalah kesempatan yang sangat mereka nantikan.
"Tentu saja, Nek. Kami berdua akan menjaga dan melindungi Minah dengan baik. Tidak ada yang bisa menyentuh Minah jika ada kami," ucap Freya dengan penuh keyakinan. Hatinya sangat bahagia, misinya segera selesai dan akan bisa kembali ke Jakarta.
"Baiklah, kapan kalian akan berangkat?" tanya Lasinah. Dia sudah yakin dengan keputusannya. Keputusan yang akan membuat Lasinah menyesal seumur hidup telah percaya pada orang yang salah.
"Minah, bagaimana kalau besok kita berangkat?" tanya Yulia yang bersemangat karena tujuannya tercapai. Dia tidak mengira jika akan semudah itu mendapat gadis yang akan ditumbalkan pada Ki Sanca.
"Boleh, besok tidak apa-apa. Boleh kan nek jika besok Mayang ikut kak Yulia dan kak Freya ke Jakarta?" tanya Minah pada sang nenek.
Lasinah terdiam, sama sekali tidak terpikirkan jika cucunya menginginkan secepatnya bisa berangkat ke Jakarta. Lasinah heran mengapa sang cucu yang begitu lucu ingin secepatnya ke Jakarta. Lasinah tidak tahu apa yang disembunyikan oleh cucunya.
"Boleh, jika kau sudah merasa yakin, cucuku. Apakah kau tidak ingin menunggu kakakmu terlebih dahulu, besok siang dia sudah kembali," jawab Lasinah. Lasinah berpikir jika sang kakak lelaki Minah ada maka Minah akan memikirkan sekali lagi untuk ke Jakarta.
__ADS_1
Minah terdiam, sebenarnya bisa juga ingin berpamitan terlebih dahulu pada Rudi -- kakak lelakinya. Lelaki berusia 20 tahun dengan perawakan tinggi dan kulit putih. Banyak gadis desa yang mengincar menjadikan Rudi sebagai suami mereka.