Pembalasan Termanis

Pembalasan Termanis
13. berusaha tetap Waras


__ADS_3

"Nah nyonya muda silahkan dilihat" ucap dokter wijaya sambil


menyerahkan cermin kepada Meira lalu mendengarkan penjelasannya


wajah sisi kanan terbentur dan tergores panjang,diawal tim dokter


memperkirakan Hanya luka gores dipermukaan kulit tapi ternyata lukanya cukup


dalam dan tulang pipi sedikit retak jadi tim dokter spesialis bedah plastik


memutuskan melakukan beberapa penyesuaian pada tulang rahangmu kanan dan kiri


terbentur ke air dengan keras membuat hidung Meira terkena, hingga agak


susah napas, jadi kami juga laksanakan rekonstruksi hidung juga lalu untuk


penyempurnaan dilakukan sedikit facelift


"cantik" ucap Tina terpukau


"ini bukan aku, kenapa kalian nggak kembalikan ke wajah asliku aja, ini


semua palsu, ini bukan aku" tangis Meira melihat wajahnya yang berubah


"Memey" ucap Eros menenangkannya meira


"maafkan kami,tapi itu tidak bisa kami lakukan, lukanya sedikit


menyulitkan, jadi kami hanya bisa harapkan agar nyonya muda bisa beradaptasi


dengan wajah yang baru" ucap dokter wijaya


"tapi ini bukan aku,aku nggak mau kembalikan wajahku" Meira hanya


bisa menangis


"kata siapa, dengar... " potong Eros menenangkan


"sama aja, dimataku wajah ini ataupun wajah yang lalu adalah milikmu


memey Meira, dan bukan wajah yang membuatmu terlihat baik atau buruk,masih sama


kamu adalah dia,dia adalah kamu" ucap Eros


"tapi keluargaku nggak akan mengenaliku" ucap Meira


"jangan takut,aku yakin mereka mengenalmu bukan hanya karna wajah


cantikmu kan, suatu hari nanti mereka pasti mengenalimu karena sikapmu, dan


kita nggak lakukan oplas pada sifatmu kan" hibur Eros


"sudah jangan nangis,yang sudah terjadi nggak bisa dirubah, kuatkan


hatimu dan yang harus slalu kamu ingat adalah kenapa wajah ini harus


dirubah" ucap Eros tetap menghibur Meira


"apapun itu selama itu kamu,aku akan sangat bersyukur, dan aku akan


slalu menjagamu" ucap Eros dalam hati, menguatkan hatinya berusaha tetap


menutupi rasa sesalnya atas perubahan wajah Meira, wajah yang slalu menemaninya


melalui masa masa terberatnya


"Eros bergeserlah sedikit kami akan membuka perban di badan nyonya muda


" ucap Dokter wijaya sambil mendekati meira


"tunggu, selain tina, dokter wijaya dan orang perawat wanita semua


keluar"ucap Eros tiba tiba


Eros teringat luka memanjang di d*d* dan perut istrinya\, dia hanya seorang


suami yang tradisional yang tidak aku mengijinkan sembarang orang melihat tubuh


istrinya

__ADS_1


"astaga Ponakan,mereka ini dokter, kami akan memandangnya sebagai


PASIEN" ucap Dokter wijaya geli


"Tapi tidak berlaku pada istriku" jawab Eros tanpa ditawar


Bandi dengan sigap memandu tim yang lain untuk keluar


“baik sekarang kita buka perbannya" ucap Dokter wijaya diikuti perawat


lain


"tunggu"ucap Meira


"kamu juga keluar" ucap meira gugup


"nggak,aku suamimu dan aku sudah melihat semuanya jadi mulaiah buka


perban itu" ucap Eros dingin


"astaga...."ucap Dokter wijaya


besar kemerahan ada tepat di atas d*d* kanan meira cukup membuatnya kecewa


dan meira Pun langsung menutupinya parut itu dengan sedih


"apa terlihat menjijikkan" tanyanya sedih dan bersiap menerima


kenyataan


"badanmu indah dan nggak ada satupun bagian tubuhmu yang


menjijikkan" ucap Eros membesarkan hati Meira, tapi meira masih tertunduk


sedih


"kita harus melakukan operasi lagi intuk menutupinya" ucap dokter


wijaya tenang


"tidak,aku nggak mau ada operasi lagi" ucap Meira sedih,


mengingatkanku pada penghianatannya untuk berhati hati" lanjut meira


memantapkan hati


"Memey, kamu tetap sempurna tanpa ataupun dengan parut itu" ucap


Eros sambil mengecup tangan meira yang masih menutupi parutnya


"apa kamu percaya aku,aku bisa membuat parut itu tetap bersamamu dan


terlihat lebih indah, tapi kamu akan merasa sedikit sakit pada proses


pembuatannya" ucap Eros lembut


"apa itu"tanya Meira ingin tau


"aku akan membayar seniman tatto terbaik untukmu,itu pun kalau kamu


mau" ucap Eros


"aku nggak takut sakit, tapi" ucap Meira


"gimana kalo temporary tattoo,saya bisa menggambarnya" ucap Tina


Tiba tiba memberi saran


"baiklah, beli alat alat dan bahan terbaik minta Artur mengantarmu agar


lebih cepat" perintah Eros


"Meira perbanmu sudah dibuka,om akan resepkan benerapa obat untuk jaga


jaga,dan om permisi dulu ya" ucap Dokter wijaya memberi mereka waktu untuk


bicara


"jadi setelah 6 bulan dengan semua perban ini,apa kamu mau mandi"

__ADS_1


tanya Eros


"apa aku bau?"tanya Meira malu


"badanmu slalu bersih,hanya ada bau obat" ucap Eros sambil


memerintahkan pegawaimya untuk menyiapkan air hangat untuk mandi


"tina tolong bantu aku ya, eh..." ucap Meira kaget


Eros membopongnya dengan mudah dan membawanya ke kamar mandi. Lalu mendudukkan


meira di toilet dan dengan sangat santai melepaskan paka*an dal*m Meira yang


tersisa. Meira sangat malu dan merasa sedih,wajahnya pasti aneh,kakinya lumpuh


dia sudah tak semenarik dulu


"jangan berpikiran aneh,folus pada penyembuhanmu"ucap Eros dari


seberang,


Eros memang terlihat tenang tapi tangannya gemetaran gugup mengingat


tindakan yang baru dia lakukan


"sudah" tanya Eros sambil mendekati Meira


"sekarang aku akan membawamu berendam" ucapnya sambil menggendong


Meira dengan lembut.


Eros berjalan ke arah bathtub lalu dengan pakaian yang masih lengkap dan


tetap membopong Meira\, Eros masuk ke air.dan mendudukkan Meira yang t*l*nj*ng


di pangkuannya


"kamu...segernya" ucap Meira


setelah 6 bulan hanya berbaring di tempat tidur, Air hangat menyentuh badannya


yang terlihat pucat, meira bergerak dengan gelisah, ini pertama kalinya dia


dipangku seorang pria, ia sangat sadar tubuhnya ada diatas tubuh Eros.


"diamlah,aku masih berusaha menjaga kewarasanku" ucap Eros dengan


nada tersiksa


"ternyata aku nggak sejelek itu" ucap Meira pelan kepercayaan


dirinya yang sempat hilang muncul kembali


"aku bisa kok berendem sendiri,nanti kalau sudah selesai aku bisa


memanggil tina" ucap Meira salah tingkah, dia memang anak nakal tapi dia


belum pernah sedekat ini dengan lawan jenisnya


"nikmati saja, anggap aku juga butuh berendam,tapi kita nggak boleh lama


lama,kulitmu belum terbiasa" ucap Eros pelan


"kak" panggil meira pelan


"aku bukan kakakmu" kawab Eros tepat di telinga Meira, meira


merasa gelisah hingga tanpa sadar menggerakkan badanna


"tenanglah"ucap Eros dengan suara dalamnya


"jadi gimana aku harus memanggilmu" tanya Meira malu


"kamu bisa memanggilku apa aja asal bukan kakak, suami,sayang atau Eros


juga nggak masalah" ucapnya tenang


"Eros, apa yang harus aku lakukan berikutnya" tanya Meira pelan

__ADS_1


__ADS_2