Pembunuh Cantik Milik CEO Dingin

Pembunuh Cantik Milik CEO Dingin
The beginning


__ADS_3

Prolog


"Aarrgghhhhh …."


"Sakit, tolong hentikan. Keluarkan milikmu dariku!!"


"Ampun, ampuni aku huhu."


"Seseorang tolong aku, tolong selamatkan aku. Tolong!!”


Rose menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan kedua tangannya setelah membatalkan niat untuk berteriak meminta bantuan, air matanya yang mengalir deras menunjukkan betapa takut dan marah dirinya saat ini. Dua puluh menit yang lalu saat sedang dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya, secara tidak sengaja Rose melihat seorang gadis muda diseret secara paksa menuju ke sebuah deretan bangunan tidak berpenghuni di pinggiran kota Seattle. Rose memutuskan untuk tinggal di kota Seattle dan hidup secara mandiri setelah memilih untuk meninggalkan sang ayah dan keluarga barunya di Washington.


Merasa penasaran dengan apa yang dilakukan oleh orang-orang itu membuat Rose memutuskan untuk mengikuti mereka secara diam-diam, hingga akhirnya kini dia memilih untuk bersembunyi di balik tumpukan drum kosong tidak jauh dari kerumunan pria yang sedang memperkosa seorang gadis secara bergantian di atas meja biliar yang usang.


Jerit tangis gadis malang itu hanya mampu Rose dengar, tangisnya yang mengubah memohon ampun pada pria yang sedang memperkosanya secara bergantian itu membuat dada Rose menjadi sesak dan panas. Rose marah karena saat ini dia tidak bisa melakukan apa-apa, Rose tidak memiliki keberanian sebesar itu untuk membantu sang gadis yang terus saja meminta bantuan di tengah gempuran para pemerkosanya.


"Bertahanlah, aku akan lapor polisi," ucap Rose serak pasca menyelimuti tubuh gadis korban perkosaan dengan coat yang baru saja dia gunakan.


"Percuma, para polisi itu tidak akan merespon laporanmu. Polisi tidak akan berpihak kepada orang-orang seperti kita, apalagi seorang perempuan yang menjadi korban perkosaan sepertiku. Mereka pasti akan menyalahkan aku atas kejadian ini."


Rose mencengkram kuat tangan gadis malang yang saat ini terbaring lemah dalam kondisi yang sangat menyedihkan, aroma ****** yang menempel di seluruh tubuhnya begitu kuat sehingga memaksa Rose harus menahan diri untuk tidak muntah. Rose tidak mau membuat keadaan gadis yang sedang ditolongnya itu menjadi lebih parah.


"Kalau begitu aku akan membawamu ke rumah sakit saja, aku akan menghubungi ambulans," balas Rose lirih.


Gadis malang bermata hijau itu menganggukan kepalanya secara perlahan, merespon perkataan Rose yang baru saja memberikan Coat untuk membungkus tubuhnya yang telanjang.


Rose mengeluarkan ponselnya dengan tergesa dari dalam tas, tangannya yang dingin dan bergetar membuat ponselnya terjatuh ketika berhasil dikeluarkan dari dalam tas sehingga membuat Rose panik.


"Jesus, signal ponselku hilang," ucap Rose penuh sesal mengutuk kebodohannya yang sudah menjatuhkan ponselnya. "Tunggu disini, aku akan mencari signal di luar."


Gadis korban perkosaan itu menganggukan kepalanya secara lemah menggunakan sisa-sisa tenaganya, karena tidak memiliki banyak waktu Rose pun memutuskan untuk segera meninggalkan gudang itu untuk mencari signal di luar. Rose berharap sinyal ponselnya akan kembali setelah berada di luar ruangan.


Byur …


Rose langsung memalingkan wajahnya ke arah sungai dimana baru saja terdengar suara air beriak saat benda berat jatuh ke dalamnya.


Kedua mata Rose langsung terbuka lebar saat melihat penyebab suara yang baru saja didengarnya.


"No!!"


***


Prank ….


Sebuah piring berukuran besar jatuh tepat di depan kaki Nyx yang tengah mengingat kejadian enam bulan yang lalu buyar. Nyx yang baru bekerja dua bulan di bar itu lantas memalingkan wajahnya ke arah sang pelempar piring dengan tatapan bingung dan penuh tanya, pasalnya selama dua bulan ini Nyx merasa jika dirinya bekerja dengan sangat baik dan tidak memiliki musuh. Bahkan tidak ada satupun orang yang mengetahui nama aslinya hingga detik ini.


"Apa masalahmu?" tanya Nyx pelan pada sosok perempuan yang tengah berkacak pinggang di anak tangga tertinggi.

__ADS_1


“Lebih baik kau berhenti jika tidak mau bekerja,” hardik seorang perempuan berambut merah dengan tubuh gempal, mengabaikan pertanyaan yang diberikan Nyx.


Secara perlahan Nyx bangun dari tempat duduknya dan berdiri tepat di hadapan Carmen yang seluruh tubuhnya memancarkan aroma ganja yang begitu kuat, meskipun Carmen adalah keponakan pemilik bar tempatnya bekerja namun Nyx sama sekali tidak gentar ataupun takut kepadanya. Carmen yang sebelumnya begitu percaya diri bisa mengintimidasi salah satu pekerja yang sangat dibencinya itu melangkah mundur tanpa sadar, tatapan dingin yang dipancarkan sepasang mata indah Nyx membuat semua keberaniannya lenyap.


“A-apa yang kau inginkan, ini adalah bar milik pamanku. Kau tidak bisa menyakitiku,” ujar Carmen terbata berusaha keras menutupi ketakutannya.


Nyx tersenyum. “Aku hanya ingin memberikan alasan kenapa aku duduk ditempat ini seorang diri disaat bar masih sangat ramai seperti saat ini.”


Carmen menelan ludahnya dengan kewaspadaan yang meningkat, senyuman mematikan yang menghiasi wajah Nyx semakin membuatnya tidak tenang.


“Jangan bertele-tele, cepat katakan apa alasanmu duduk ditempat seperti ini saat bar tengah dipenuhi banyak pengunjung!!”


“Nyxie sedang mengambil jam istirahatnya, Carmen.” Dari arah belakang tiba-tiba terdengar seorang pria berbicara.


Carmen yang sedang berdiri di hadapan Nyx sontak membalik tubuhnya dengan cepat begitu mendengar namanya disebut oleh seseorang yang suara begitu dia hafal.


“F-frank.” Carmen mengeja nama sang pemilik bar yang juga paman kandungnya dengan penuh ketakutan, Carmen jauh lebih takut pada sang paman daripada ayah kandungnya sendiri. Masa lalu Frank yang begitu gelap menjadi salah satu alasan kenapa Carmen begitu takut kepadanya.


Pria bermata satu itu perlahan melangkahkan kakinya ke arah Carmen yang tengah membully Nyx, bukan menjadi rahasia lagi jika Frank sangat menyayangi Nyx. Kegarangan Nyx itulah yang menjadi salah satu alasan Frank kenapa dirinya begitu memuja gadis berusia sembilan belas tahun itu.


“Kenapa kau disini, apa ini jam istirahatmu?” tanya Frank dingin.


“A-aku…”


“Kembali ke dalam!!” bentak Frank keras.


Dengan langkah tergesa Carmen masuk kembali kedalam bar meninggalkan sang paman bersama Nyx berduaan, setelah Carmen benar-benar menutup pintu belakang Frank melangkahkan kakinya kembali ke arah Nyx yang masih berdiri pada posisinya.


“Bagaimana mungkin aku bisa marah, sementara aku tidak mendengar apa yang Carmen katakan sebelumnya,” balas Nyx seraya menunjukkan earphone wireless yang terpasang di telinganya.


“Good girl, kau benar-benar ouch…” Frank mengakhiri perkataannya dengan rintih kesakitan karena Nyx mencengkram tangan kanannya secara tiba-tiba saat dirinya coba menyentuh wajah gadis itu. “Nyx.”


Nyx yang malas berurusan dengan pria cabul itu lantas melepaskan tangannya dari tubuh pria itu dan mendorongnya dengan kasar sehingga membuat tubuh gempal Frank jatuh ke anak tangga.


“Jangan pernah coba untuk menyentuhku,” ucap Nyx serak penuh peringatan. “Aku bekerja ditempat ini sebagai bartender, bukan sebagai wanita penghibur.”


Setelah berkata seperti itu Nyx lantas bergegas masuk ke dalam bar meninggalkan Frank yang masih terduduk di anak tangga, Nyx sama sekali tidak memperdulikan teriakan Frank yang meminta bantuannya. Jika bukan karena ingin menyelesaikan hutang yang tertunda sudah pasti Nyx tidak akan mau menginjakkan kakinya di tempat kotor yang selama dua bulan ini menjadi tempatnya bekerja, ketika nyaris sampai di meja bartender tiba-tiba saja perhatian Nyx tercuri oleh sosok pria pria berambut blonde dengan tato naga di leher sebelah kanannya.


Sudut bibir Nyx terangkat. “Akhirnya kau muncul juga di tempat ini.”


Tidak mau kehilangan buruannya Nyx pun segera melepas dan melempar apron warna hitam yang melingkari tubuhnya ke lantai dan segera berjalan menuju lantai dansa untuk berbaur dengan para tamu yang tengah menikmati kerasnya music yang tengah dimainkan seorang DJ paling terkenal di kota Seattle yang malam ini menjadi tamu istimewa.


“Hei!!”


“Sorry.” Nyx langsung meminta maaf pada gadis yang tidak sengaja tertabrak olehnya. “Aku tidak sengaja.”


Gadis cantik dengan pakaian super mini yang sudah setengah mabuk itu tiba-tiba merangkul Nyx, seolah mereka adalah teman akrab. Nyx yang tidak menduga akan mendapatkan perlakuan semacam itu.

__ADS_1


“No.”


“Relax,” ujar gadis cantik seraya meletakkan jari telunjuknya di depan bibir Nyx. “Apa kau terburu-buru karena ingin berada lebih dekat ke meja DJ tampan itu?”


“Tidak.”


“Jangan mengelak, semua orang yang datang ke club malam ini adalah untuk melihat DJ Alan lebih dekat.”


Nyx menipiskan bibirnya. “Aku memiliki tujuan lain dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan DJ itu.”


“Tujuan lain, memangnya apa tujuanmu?”


“Kita tidak sedekat itu untuk saling berbagi informasi,” jawab Nyx ketus, satu detik setelahnya Nyx pun bergegas pergi dari hadapan gadis itu untuk melanjutkan niatnya. “Aku tidak mau penantianku selama dua bulan ini sia-sia, malam ini mereka harus membayar semua hutang yang sudah tertunda selama dua bulan.”


Dengan penerangan yang tidak begitu jelas akhirnya Nyx berhasil menemukan pria bertato naga yang sempat menghilang dari pandangannya, isak tangis gadis bernama Eva yang enam bulan lalu menjadi korban kebengisannya kembali berputar dalam kepala Nyx. Sumpah yang sudah Nyx ucapkan diatas pusara gadis malang itu pun semakin membuat Nyx bersemangat, tanpa merasa takut dengan banyaknya pria berbadan besar yang berada didekat pria bertato naga itu Nyx lantas mendaratkan bokongnya tepat di sisi buruannya.


“Hei!!”


“Apakah aku boleh duduk disini?” tanya Nyx pelan, merespon seruan yang cukup keras dari sang buruan.


Pria bertato naga itu sontak menatap Nyx dari atas sampai bawah, otak mesumnya bekerja dengan cepat saat menyadari betapa cantik gadis yang baru saja duduk disampingnya.


“Mana mungkin aku menolak permintaan gadis secantik dirimu.” Pria bertato naga itu menjawab pertanyaan Nyx sembari menggerakan tangan kanannya ke arah paha Nyx, beruntung Nyx begitu sigap sehingga tujuan pria mesum itu tidak tercapai.


“Aku tidak bisa disentuh,” ucap Nyx pelan. “Tidak ditempat seperti ini.”


Pria bertato naga yang nyaris meledak karena jawaban pertama Nyx sontak tertawa lebar ketika Nyx melanjutkan perkataannya, Nyx yang sudah sangat muak berusaha keras menahan diri untuk tetap bertahan meskipun sebenarnya dia ingin sekali membunuh pria itu saat ini juga.


“Jadi siapa namamu, manis.”


Nyx menipiskan bibirnya, memasang senyum palsu terbaiknya. “Curang, kau merebut pertanyaan yang ingin aku tanyakan.”


“Haha … kau benar-benar menggemaskan, baiklah kalau begitu. Aku akan memperkenalkan diri terlebih dahulu, namaku Felix. Felix Juan Brown, nama lengkapku.”


“Felix Juan Brown.” Nyx mengulang nama yang baru diucapkan oleh pria bertato naga yang lari dari tanggung jawabnya selama enam bulan.


"Kau mengeja namaku dengan baik," bisik Felix penuh nafsu. "Lantas bagaimana denganmu, siapa nama lengkapmu manis?"


Nyx mengeraskan kepalan tangannya saat Felix mendaratkan tangannya yang penuh dosa diatas lutut kanannya.


"Aku bisa dipanggil Nyx," jawab Nyx singkat seraya menahan tangan Felix yang coba meraba ke arah pahanya. "Kau harus mengeluarkan banyak uang jika ingin menyentuhku."


"Aku adalah pria paling kaya di kota ini, katakan padaku berapa banyak uang yang harus aku keluarkan untuk dapat menikmati tubuh indahmu ini, Nyx?"


"Tergantung."


"Tergantung apanya?"

__ADS_1


"Tergantung seberapa besar kekuasaanmu dikota ini," jawab Nyx pelan disertai senyum penuh arti.


Bersambung


__ADS_2