Pembunuh Cantik Milik CEO Dingin

Pembunuh Cantik Milik CEO Dingin
shock


__ADS_3

Matahari sudah menampakan ketangguhannya sejak dua jam yang lalu, namun Xander belum juga memejamkan kedua matanya sedikitpun. Informasi yang diberikan oleh Antonio tadi malam benar-benar membuatnya tidak bisa tidur hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari tahu kasus bunuh diri seorang gadis bernama Eva di dekat dermaga beberapa bulan lalu.


“Kasus lanjutan Eva Marie Carter ditolak karena tidak ditemukannya kejanggalan pada jenazah seperti yang diklaim ibunya, Nyonya Allen Carter.”


Xander kembali membaca salah satu artikel tentang Eva yang cukup menggemparkan kota Seattle beberapa bulan lalu melalui laptopnya, terlalu sibuk pada pekerjaan membuat Xander tidak tahu tentang adanya penemuan jenazah wanita muda di pinggiran dermaga dalam keadaan setengah telanjang beberapa bulan lalu.


“Apakah benar gadis ini diperkosa dan dibunuh oleh Harry dan teman-temannya?” ucap Xander bicara sendiri sembari terus menatap foto Eva semasa hidupnya, meskipun Eva cukup cantik namun gadis itu bukanlah selera seorang Harry Portland karena itu Xander sedikit meragukan keterangan yang disampaikan Antonio tadi malam. Pasalnya Xander tahu seperti apa wanita-wanita terdahulu seorang Harry Portland itu.


Brak …


“Jezz.”


Untuk kedua kalinya Antonio masuk ke ruang kerja Xander dengan begitu kasar, pintu yang terbuat dari TigerWood itu bahkan sampai bergetar hebat pasca menghantam dinding akibat kerasnya dorongan yang dilakukan oleh Antonio sebelumnya.


“Sorry sorry,” ucap Antonio cepat seraya mengangkat kedua tangannya ke udara. “Ada informasi penting yang harus segera kau dengar.”


“Informasi penting?”


“Ini tentang gadis yang tadi malam kita bahas.” Antonio melanjutkan perkataannya dengan penuh semangat. “Ibunya … ibu gadis itu ditemukan tidak bernyawa pagi ini.”


Hening ….


Kalimat terakhir yang diucapkan oleh Antonio terproses cukup lama di kepala Xander.


“Wanita tua itu ditemukan mengambang di dermaga yang sama seperti anaknya, polisi yang sudah datang ke tempat itu memberikan pernyataan bahwa wanita itu sudah bunuh diri.”


*****


Dengan menggunakan pakaian casual yang tertutup Nyx ikut membersihkan halaman sekeliling gereja bersama seorang calon pendeta yang juga tinggal di gereja.


"Apakah kau sudah mendapatkan pekerjaan baru, Nyx?"


Nyx memalingkan wajahnya ke arah pria muda yang baru saja berbicara kepadanya sambil tersenyum. "Belum, aku masih menikmati hari-hari kebebasanku. Berbulan-bulan bekerja di tempat seperti itu benar-benar membuatku menjadi zombie."


"Bukankah sebelumnya aku sudah memperingatkanmu," balas Oliver sambil tersenyum lebar. "Meskipun kau di sana hanya bekerja sebagai bartender namun tetap saja tempat itu sedikit banyak memberikan pengaruh buruk terhadap tubuhmu, entah itu karena asap rokok yang kau hirup ataupun udara dingin dari air conditioner yang ada di tempat itu. Untuk selanjutnya lebih baik kau mencari pekerjaan lain yang lebih nyaman entah itu dari segi waktu maupun jarak dari tempat ini."


"Sepertinya dalam waktu dekat ini aku akan meninggalkan gereja ini."

__ADS_1


"Hah?"


"Aku sudah berbicara dengan father Philip beberapa hari yang lalu dan beliau memperbolehkanku keluar dari tempat ini kapanpun aku mau," imbuh Nyx kembali sambil menyeka keringat yang berkumpul di keningnya.


"Kau serius?"


Nyx mengangguk pelan. "Sangat serius."


"Apakah sudah terjadi sesuatu sehingga kau memutuskan untuk pindah dari tempat ini?"


Masih teringat jelas dalam kepala Oliver bagaimana awal mula pertemuannya dengan Nyx sepuluh bulan lalu, dimana gadis itu nampak sangat kebingungan mencari tempat tinggal hingga akhirnya Father Philips menawarinya tempat tinggal di gereja yang akhirnya menjadi kamarnya selama sepuluh bulan terakhir.


"Aku sudah terlalu lama tinggal di tempat ini, aku juga sudah banyak sekali merepotkan Father Philips. Akan menjadi sangat tidak nyaman jika aku terus-menerus berada di tempat ini, seharusnya sejak awal aku tidak menerima tawaran Father Philips untuk tinggal di rumah ibadah."


Oliver ikut menjatuhkan dirinya di atas rumput tepat disamping Nyx. "Apa yang terjadi pada kita adalah sebuah suratan yang dibuat oleh Tuhan termasuk pertemuanmu dengan Father Phillips dan gereja ini, jika kau memang sudah menemukan tempat tinggal yang lebih layak maka pergilah. Kau berhak tinggal di tempat yang jauh lebih nyaman untuk gadis seusia mu, tapi kau tetap harus berkomunikasi bersama kami di sini."


"Tentu saja, aku tidak akan mungkin melupakan kebaikan kalian semua," balas Nyx cepat.


"Kalau begitu ayo kita lanjutkan pekerjaan ini kembali setelah itu aku akan membantumu berkemas."


Oliver tersenyum lebar. "Sudah-sudah, jangan terus memujiku seperti itu. Semakin cepat kita bekerja semakin cepat pula pekerjaan ini selesai, lagipula matahari juga sudah sangat tinggi kita bisa kehabisan cairan jika bekerja lebih dari tiga jam di bawah sinar matahari yang panas ini."


Nyx merespon perkataan Oliver dengan sebuah anggukan kecil sebelum akhirnya beranjak bangun dari atas rumput untuk kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, Nyx memutuskan untuk meninggalkan gereja karena merasa bersalah dan takut. Meskipun saat ini tidak ada yang mengetahui perbuatannya kecuali dokter Angel namun Nyx tetap waspada, dia tidak mau menyeret orang-orang baik yang sudah beritanya tempat tinggal di gereja selama sepuluh bulan terakhir ini. Nyx tidak mau merusak nama baik Father Philips, karena itulah Dia memutuskan untuk keluar dan mencari tempat tinggal yang lain. Lagipula uangnya lebih dari cukup untuk menyewa sebuah apartemen tipe satu kamar di pusat kota Seattle seperti ini.


Setelah tiga puluh menit berlalu akhirnya pekerjaan Nyx dan Oliver selesai, Oliver pantas mengajak Nyx untuk membersihkan diri sebelum berkemas. Sebenarnya Nyx tidak memiliki banyak barang, namun karena dia tidak mau membuat Oliver kecewa mau tidak mau dia akan mengizinkan teman baiknya itu untuk membantunya berkemas sebelum meninggalkan kamar berukuran tiga kali dua meter itu.


"Hanya ini saja?" tanya Oliver kaget begitu masuk kedalam kamar Nyx yang sudah rapi.


Tidak pernah masuk ke kamar itu sejak Nyx datang membuat Oliver sangat kaget ketika melihat perubahan drastis pada kamar itu. Pasalnya sebelum Nyx datang kamar itu hanyalah tempat untuk menyimpan berkas-berkas dan beberapa kain tidak terpakai.


Nyx mengangguk sambil tersenyum. "Aku tidak memiliki banyak barang, hanya satu tas ransel ini sajalah barangku."


"Nixie…"


"No, jangan menangis," ucap Nyx tegas. "Aku bukan pergi untuk selamanya, kita pasti akan bertemu lagi dalam waktu dekat karena aku akan tetap beribadah di gereja ini setiap hari minggu. Aku juga belum berpamitan pada Father Philips."


Kedua mata Oliver terbuka lebar. "Kau belum berpamitan kepada Father Philip tapi sudah memutuskan untuk keluar dari gereja ini, kau tidak sedang bergurau, bukan?"

__ADS_1


"Aku sudah berpamitan kepada Father Philips melalui telepon sebelumnya dan beliau mengizinkanku untuk keluar dari tempat ini, tapi dengan catatan aku harus tetap datang untuk beribadah setiap hari minggu seperti yang kau katakan tadi," jawab Nyx jujur.


"Sudah berpamitan pada Father Philips terlebih dahulu rupanya, pantas saja kau sudah berkemas lebih awal," balas Oliver sarkas.


Nyx tertawa geli. "Bukankah sebelumnya aku sudah mengatakan kepadamu bahwa barangku tidak terlalu banyak, ya. Jadi aku tidak membutuhkan waktu lama untuk berkemas."


"Alasan saja!!"


"Aku pasti akan merindukanmu Oliver," balas Nyx pelan. "Terima kasih sudah menjadi teman yang baik untukku."


Oliver mengerucutkan bibirnya mendengar perkataan Nyx, karena dirinya sedang dalam pendidikan Oliver tidak bisa merengkuh tubuh Nyx untuk mengucapkan salam perpisahan kepada gadis itu.


Karena hari sudah semakin siang, Nyx pun mengajak Oliver untuk segera keluar dari gereja. Meskipun saat ini tidak ada jemaat yang datang namun keduanya keluar melalui pintu samping yang hanya diketahui oleh staf gereja dan orang-orang tertentu saja.


"Hati-hati dan jangan lupa dengan janjimu," pesan Oliver untuk ketiga kalinya pada Nyx yang sudah bersiap naik ke dalam bus yang baru saja berhenti tepat di hadapan mereka.


"Aku tidak akan lupa dan sampai jumpa lagi Oliver."


"Sampai jumpa lagi."


Karena dua orang yang sebelumnya berdiri di hadapannya sudah naik ke dalam bus, Nyx pun bertugas melakukan hal yang sama karena bus tidak akan berhenti lama. Tepat setelah Nyx duduk bus itu pun segera meninggalkan halte untuk melanjutkan perjalanan, Nyx menurunkan tangannya dari udara begitu Oliver tidak terlihat lagi.


Meskipun sebenarnya berat meninggalkan gereja namun Nyx tidak memiliki pilihan lain, sejak memutuskan untuk keluar dari rumah Nyx menjadi begitu peka pada orang lain.


"Bodohnya, kenapa aku lupa mengisi daya ponsel tadi malam," ucap Nyx kesal menatap ponselnya yang sudah kehabisan daya. "Sepertinya aku harus …


Deg.


Detak jantung Nyx berpacu begitu cepat saat melihat sebuah artikel yang sedang dibaca oleh penumpang yang duduk disampingnya.


"B-bolehkah saya ikut membaca artikel yang sedang Anda baca, Nyonya?" tanya Nyx terbata, kedua matanya tiba-tiba terasa panas saat membaca nama yang tidak asing untuknya muncul di internet.


"Kemarilah Nona, lihatlah ini," balas wanita paruh baya yang duduk disebelah Nyx pelan sembari mengarahkan ponselnya pada Nyx agar dia bisa ikut membacanya. "Pagi ini ditemukan mayat lagi di dermaga."


" ….. N-nyonya Alen…


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2