Pembunuh Cantik Milik CEO Dingin

Pembunuh Cantik Milik CEO Dingin
Kalah


__ADS_3

Tring …


Bel yang terpasang di atas pintu sebuah penginapan bintang dua yang baru saja dimasuki Nyx berbunyi sehingga membuat pria bertubuh gempal yang duduk dibangku resepsionis memalingkan wajah ke arah pintu dimana Nyx masih berdiri dengan keadaan basah kuyup.


“Apakah masih ada kamar yang kosong?”


“Ada, tapi harganya naik dua kali lipat ditambah lagi dengan biaya pembersihan lantai yang kau kotori itu,” jawab sang resepsionis dengan sinis, dia merasa terganggu dengan kedatangan Nyx karena sudah mengganggunya bermain judi online di ponselnya.


Nyx mengangguk pelan. “Berapa harga yang harus aku bayar?”


“300 dolar!”


Senyum Nyx mengembang, harga yang baru saja disebut oleh pria menyebalkan yang masih duduk itu adalah harga yang tidak masuk akal. Pasalnya harga permalam di hotel bintang dua itu hanyalah 100 dolar.


Dengan langkah yang sedikit diseret Nyx berjalan ke meja resepsionis, menggunakan ponselnya yang sudah ketinggalan mode Nyx lantas melakukan pembayaran tanpa banyak bicara. Yang Nyx inginkan saat ini adalah segera mandi dan berganti pakaian kering sebelum istirahat, hari ini benar-benar menjadi hari yang sangat melelahkan untuknya.


“Kunci kamarmu,” ujar sang resepsionis sembari menyerahkan sebuah kunci dengan gantungan yang yang menunjukkan angka 1121.


“Terima kasih.”


“Dan jangan lupa untuk mengunci kamarmu rapat-rapat, biasanya saat hujan seperti ini ada banyak sekali pasangan kekasih yang lupa mencari kamar mereka.”


“Apa maksudnya?” tanya Nyx bingung.

__ADS_1


Pria bertubuh subur itu tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Nyx, dia terlihat menikmati kebingungan Nyx. Namun tidak sedikitpun dia memiliki niat untuk menjelaskan pada Nyx, dia justru berharap akan mendapatkan pertunjukkan yang menyenangkan setelah ini seperti biasanya ketika ada gadis bodoh yang datang ke penginapannya.


“Tidak ada, segeralah pergi ke kamarmu. Aku masih harus membersihkan kekacauan yang kau buat,” jawab pria bertubuh gempal itu dengan senyum yang mencurigakan.


Tanpa mengatakan apapun lagi Nyx lantas bergegas pergi menuju kamarnya yang kuncinya sudah ada di tangannya, saat berjalan menuju kamarnya Nyx melewati ruang tamu yang digunakan oleh empat pasang pria dan wanita untuk berpesta. Aroma alkohol dan ganja menguar dari ruangan itu. Tidak mau kedatangannya menjadi pengganggu, Nyx pun mempercepat langkahnya agar segera tiba dikamarnya.


“1121 ini kamarku,” ucap Nyx lirih tepat didepan kamar dengan nomor 1121, tanpa berpikir lama Nyx pun segera memasukkan kunci yang ada di tangannya kedalam lubang yang ada pada pintu. “Tidak buruk, sepertinya aku bisa istirahat dengan tenang malam ini.”


Karena hujan semakin deras, Nyx pun bergegas masuk kedalam kamar yang baru saja dia buka. Setelah meletakkan tas ranselnya keatas kursi Nyx lantas melakukan pemeriksaan pada kamar berukuran 4 kali 5 meter itu. Begitu memastikan tidak ada kamera tersembunyi dan lubang-lubang di dinding Nyx lantas bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang basah kuyup. Setelah berbicara banyak dengan dokter Angel di rumah sakit Nyx mengikuti proses pemakaman Nyonya Alen secara diam-diam, keberadaan pengawal pribadi Harry Portland yang jumlahnya cukup banyak itulah yang menjadi alasan kenapa Nyx terpaksa menyaru sebagai staf rumah sakit sampai di area pemakaman.


“Demi keamananmu lebih baik saat ini kita tidak berhubungan terlebih dahulu, mereka pasti akan mengawasiku lebih ketat setelah ini.”


“Mereka orang kuat, kita tidak akan mungkin bisa melawannya.”


“Pulanglah Rose, kembali pada ayahmu. jangan biarkan ibu dan dua saudara tirimu itu menikmati apa yang seharusnya menjadi milikmu.”


“Lebih baik aku …”


Tok … tok …


Nyx menghentikan perkataannya saat mendengar suara ketukan dari arah pintu kamarnya, meskipun terdengar samar namun Nyx sangat yakin jika ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya. Karena masih menggunakan handuk Nyx pun bergegas menggunakan pakaian yang sudah dia siapkan sebelumnya.


Tok … tok …

__ADS_1


Suara ketukan kembali terdengar dan kali ini jauh lebih keras dari sebelumnya beruntung Nyx sudah selesai berpakaian sehingga dia bisa segera berjalan menuju pintu untuk melihat siapa orang yang sedang coba mengganggunya semalam ini. Tidak mau waktu istirahatnya terganggu Nyx lantas membuka pintu tepat disaat suara ketukan itu kembali terdengar.


“Apa yang kau cari?!” hardik Nyx keras pada seorang pria berambut merah yang berdiri dengan posisi sedikit miring di depan kamar Nyx. “AKu bukanlah orang yang sabar, jadi jangan coba menguji batas sabarku lebih lama lagi.”


“Eh ini bukan kamar Ashley?”


“Jangan bermain-main denganku,” ucap Nyx kembali dengan nada naik dua oktaf. “Aku memiliki pistol dan beberapa senjata tajam lainnya, jika kau ingin bermain-main denganku silahkan masuk.”


Pria berambut merah itu membuka kedua matanya lebar-lebar, meski berada dalam pengaruh alkohol namun kesadarannya masih cukup banyak karena itulah dia bisa langsung menyadari bahaya yang ada di hadapannya. Seketika niat buruknya untuk mengganggu gadis cantik yang baru masuk ke kamarnya itu pun lenyap. Sadar jika gadis yang ada di hadapannya bukan gadis lemah pria berambut merah itu pun bergegas pergi dari kamar itu dan kembali bergabung bersama teman-temannya yang lain.


Setelah pria pengganggu itu benar-benar menghilang dari pandangannya Nyx pun kembali masuk kedalam kamar, tubuhnya yang sudah remuk redam minta segera diistirahatkan pun dengan kepalanya yang kini terasa sangat sakit karena sudah kehujanan lebih dari dua jam.


“Maafkan aku Nyonya … maaf karena gagal menepati janjiku,” ucap Nyx lirih. “Sampaikan juga permintaan maafku pada Eva.”


***


“Kau yakin dokter itu berkata jujur?” tanya Harry dengan suara bergetar.


“Dokter itu menyerahkan semua arsip serta rekaman cctv di healthcare selama wanita bernama Allen itu masuk ke tempat itu dan semuanya sesuai dengan penjelasan awalnya bahwasanya wanita bernama Allen itu mereka temukan secara tidak sengaja di depan klinik,” jawab pria bernama Jordan yang merupakan pengacara pribadi Harry Portland sembari menyerahkan berkas-berkas yang ada di tangannya ke arah Harry yang tengah duduk disofa. “Informasi yang sama juga aku dapatkan dari para pekerja di tempat itu.”


Harry mengerutkan keningnya. “Tapi aku merasa janggal.”


“Janggal?”

__ADS_1


“Iya, aku masih tidak habis pikir kenapa bisa mereka mau merawat wanita yang tidak dikenal selama berbulan-bulan. Bukankah biayanya tidak murah jika masuk ke tempat seperti itu, ya?”


Bersambung


__ADS_2