Pembunuh Cantik Milik CEO Dingin

Pembunuh Cantik Milik CEO Dingin
Sumpah seorang penjahat


__ADS_3

Sc Corp Internasional.


Seorang wanita muda dengan potongan pendek berlari dengan tergesa menuju sebuah ruangan besar yang berada di lantai lima belas di kantor Sc Corp Internasional yang berada di pusat kota Seattle, karena terlalu terburu-buru wanita itu lupa mengetuk pintu dan masuk begitu saja sehingga membuat semua orang yang ada di ruangan paling penting di Gedung itu menoleh ke arahnya secara bersamaan.


“Miranda!”


Wanita bernama Miranda itu seketika menegakkan tubuhnya saat menyadari tatapan membunuh yang tertuju padanya.


“Aku harap kabar yang kau bawa saat ini cukup penting,” ucap Alexander Scott, sang CEO Sc Corp Internasional yang sedang melakukan meeting dadakan dengan orang-orang kepercayaannya.


Miranda membasahi bibirnya yang kering dengan tergesa sebelum akhirnya melangkahkan kakinya menuju meja sang CEO yang tidak pernah tersenyum itu. “Ini kabar terbaru yang baru saja saya terima, Tuan.”


Kedua mata hitam Xander menatap nanar ke arah tablet pintar yang baru saja diletakkan Miranda dihadapannya, selama dua menit ruangan besar itu mendadak hening. Semua orang yang ada di ruangan itu tidak ada yang berani berbicara, mereka bahkan menghembuskan nafas dengan sangat hati-hati karena khawatir membuat sang bos terusik.


“Mati tergorok diapartemennya, lantas apa yang dikatakan Harry Portland tentang ini?” tanya Xander pelan mengomentari kabar kematian mengenaskan Felix Brown pagi ini.


“Harry Portland belum memberikan pernyataan apapun terkait kematian teman baiknya ini, bahkan keluarga Brown juga belum memberikan komentar apapun.”


Xander menipiskan bibirnya. “Felix hanyalah anak haram Eugene Brown, dapat dimengerti jika keluarga itu belum komentar. Yang sangat aneh adalah si Portland brengsek itu, sebagai teman seharusnya dia berada di gardu paling depan untuk memberikan pernyataan resmi terkait hal ini.”


“Anak Eugene Brown meninggal, bos?”


“Iya.” Xander mendorong tablet pemberian Miranda kearah anak buahnya yang lain menggunakan jari telunjuknya yang ramping. “Dia mati tergorok di apartemennya tadi malam.”


“Apa?!”


“Siapa yang sudah membunuhnya?”


“Felix Juan Brown yang minggu lalu sempat menghancurkan proyek kita di Vancouver maksudnya?”

__ADS_1


“Iya, Felix Juan Brown yang itu. Dia ditemukan tewas oleh asisten rumah tangga-nya yang baru datang tadi pagi di apartemen dengan luka sayatan besar di lehernya.” Miranda menjawab semua pertanyaan teman-temannya secara bersamaan.


Miranda dan ketiga pria muda yang sedang berkumpul di ruangan itu adalah orang-orang kepercayaan Alexander Scott, meskipun penampilan mereka nampak seperti pekerja Sc Corp Internasional yang lain namun nyatanya mereka adalah staf khusus yang Xander sengaja pekerjakan di kantornya demi untuk membantunya mengurus perusahaannya yang bergerak di bidang properti dengan konsep modern itu.


“Lantas apakah pelakunya sudah ditemukan?”


“Belum, pihak polisi belum memberikan keterangan apapun.”


“Kenapa, bukankah polisi kota Seattle adalah polisi terbaik di negara ini?” tanya seorang pria muda yang berdiri paling dekat dengan Xander langsung menimpali perkataan Miranda.


Miranda mengalihkan pandangannya ke arah Xander yang sejak tadi menatapnya tanpa berkedip, meskipun Xander sudah membaca kabar yang diberikan oleh Miranda namun pria itu tetap ingin mendengar penjelasan secara langsung.


“Menurut info dari orang kita pembunuh Felix bukanlah orang sembarangan, bukan hanya rekaman cctv di apartemen Felix saja yang hilang. Semua rekaman cctv apartemen itu pun raib, bahkan kamera di mobil Felix juga hilang tanpa jejak. Dia juga menghancurkan mobil Felix menggunakan cairan asam berbahaya yang langsung menghancurkan semua bagian dalam mobil itu,” jelas Miranda panjang lebar.


Xander menganggukkan kepalanya secara perlahan mendengar perkataan Miranda, dia coba mencerna penjelasan yang Miranda berikan dengan begitu hati-hati


“Gila, orang itu benar-benar hebat,” celetuk Fabian tidak sengaja. “Sepertinya pelakunya adalah salah satu pembunuh bayaran yang disewa oleh rival bisnis Harry Portland.”


“Baik.” Miranda dan ketiga temannya menjawab perkataan Xander secara bersamaan.


“Sekarang tinggalkan aku sendiri.”


Titah yang baru saja terucap dari bibir Xander membuat keempat orang yang berada diruangan itu segera pergi tanpa membantah, setelah keluar dari ruangan sang bos satu demi satu kembali pada pekerjaan utamanya termasuk Miranda yang bertugas menjadi seorang resepsionis di lantai satu. Meski sebenarnya Miranda bisa menempati posisi yang lebih tinggi di perusahaan itu namun dia lebih memilih bekerja sebagai frontliner karena merasa jika dirinya lebih cocok menempati posisi itu yang mirip dengan profesi sebelumnya saat belum bertemu dengan Xander di Macau lima tahun lalu.


“Pembunuh bayaran,” ucap Xander pelan sembari menatap sayatan panjang yang membuat Felix tewas kehabisan darah melalui tablet yang ditinggalkan Miranda. “Seorang pembunuh bayaran tidak akan mungkin membunuh dengan cara sepasaran ini.”


Xander yakin sekali jika orang yang sudah membunuh Felix bukanlah seorang pembunuh bayaran seperti yang dikatakan oleh Miranda, cara orang itu menghilangkan jejak yang begitu rapi membuat Xander merasa jika pembunuh itu masih sangat amatir.


“Siapapun engkau, aku akan segera menemukanmu.” Xander kembali melanjutkan perkataannya dengan ekspresi wajah yang tidak terbaca, pertikaiannya dengan Harry Portland selama bertahun-tahun ini menjadi alasan utama kenapa Xander cukup peduli dengan kematian Felix Juan Brown yang minggu lalu mengacaukan proyek barunya di Kanada.

__ADS_1


***


“Felix putraku, kenapa nasibmu buruk sekali nak. Kenapa kau harus meninggal dengan cara sekejam ini anakku,” tangis Felicia Brown, ibu kandung Felix yang sebelumnya hanyalah pelayan di rumah keluarga Brown sebelum akhirnya naik keranjang Eugene Brown setelah dirinya memberikan pria itu obat perangsang demi untuk merubah nasib buruknya. “Felix sayang.”


Eugene Brown yang berdiri dibelakang Felicia yang tengah menangis putra mereka tidak bergeming, meskipun Felix terlahir karena ketidaksengajaan namun Eugene tetap mengakuinya sebagai anak walaupun tidak memberikan kasih sayang secara utuh kepada Felix selama dua puluh satu tahun ini. Eugene masih sedikit kesal pada Felicia yang sudah menjebaknya sehingga malam menjijikan itu terjadi.


“Berhentilah menangis Feli!” hardik Maria Brown, istri pertama sekaligus istri yang diakui oleh Eugene Brown dihadapan semua orang dengan keras. “Kau akan membuat orang-orang menertawakan keluarga Brown.”


Felicia yang sedang terluka karena melihat anaknya yang tewas secara mengenaskan mengabaikan perkataan mantan majikannya itu, dia terus menangis dan memanggil putra kesayangannya dengan suara yang lebih keras dan menyayat hati.


“Felicia!!!” Eugene yang habis kesabaran akhirnya membentak istri keduanya dengan suara menggelegar sehingga membuat semua orang yang ada di kamar mayat itu menoleh ke arahnya secara bersamaan.  “Apa kau tuli!!”


Felicia menatap nanar pada pria yang begitu dicintainya itu dengan bibir bergetar hebat, dia tidak menyangka jika pengorbanannya selama hampir dua puluh lima tahun di rumah keluarga Brown tidak dianggap. Dia bahkan dengan senang hati menyerahkan kesuciannya pada Eugene disaat usianya masih begitu belia karena terlalu percaya dengan kata-kata manis Eugene yang kala itu tengah berseteru dengan Maria, sang istri.


“Jika kau tidak bisa menahan diri lebih baik kau pergi dari ruangan ini!!”


“Kau memintaku pergi, apa kau tidak lihat apa yang terjadi pada putra kita?” Felicia membalas perkataan Eugene dengan berani. “Seseorang sudah membunuhnya dengan kejam, Eugene. Seseorang sudah mengambil nyawa putraku dengan biadab!!”


“Aku akan mengurusnya, lebih baik kau pulang dan …”


“Tidak, aku tidak akan meninggalkan putraku sebelum pelakunya tertangkap!!” Felicia memotong perkataan suaminya dengan berani, satu hal yang tidak pernah dia lakukan sebelumnya.


Eugene mengeraskan rahangnya, dia begitu terkejut melihat Felicia berani melawannya seperti itu. Dengan emosi yang sudah memuncak Eugene mengangkat tangan kanannya dan langsung mengarahkannya kepada Felicia, untung saja ada Harry Portland sehingga wajah cantik Felicia tidak terkena tamparan suaminya.


“Harry,” geram Eugene penuh peringatan.


“Jangan salahkan Aunty Feli, uncle. Aunty hanya sangat terpukul atas kematian Felix,” ucap Harry dengan berani. “Jangan khawatir Uncle, aku berjanji akan mencari dan membuat perhitungan dengan orang yang sudah membunuh Felix. Aku akan membuatnya membayar dengan nyawanya.”


Mendengar hal itu Felicia langsung menarik lengan Harry, memaksanya untuk berhadapan dengannya secara langsung. “Benarkah kau akan melakukan itu?”

__ADS_1


“Iya Aunty, aku bersumpah di depan jenazah Felix.”


Bersambung


__ADS_2