
“Ouuuch...”
Pria bertubuh besar yang baru saja memberikan laporannya pada Harry Portland mengaduh kesakitan saat kepalanya mengucurkan darah segar pasca dilempar gelas oleh Harry, Harry yang sedang gelisah karena pembunuh ketiga temannya belum ditemukan hilang kontrol saat anak buahnya itu tidak membawa laporan yang dia inginkan.
“Apa kerjamu, mencari seekor tikus got saja tidak bisa hah!” hardik Harry penuh emosi.
“Maafkan saya Tuan.”
“Percuma aku membayarmu dengan upah yang tinggi.” Harry kembali melanjutkan perkataannya dengan nada tinggi.
“Sepertinya kita harus mengubah strategi,” ujar Daniel ikut bicara. “Kita harus memancingnya keluar alih-alih mencari keberadaannya.”
“Memancingnya keluar, ya?”
Daniel mengangguk cepat. “Iya, kita hanya perlu memasang umpan yang pas untuk membuat buruan kita keluar dari tempat persembunyiannya.”
“Memasang umpan yang pas,” gumam Harry lirih sembari berpikir keras.
“Kau benar!!!” tiba-tiba saja Harry berteriak keras sembari menggebrak meja menggunakan kedua tangannya penuh semangat. “Dan kau adalah umpan yang cocok untuk itu.”
“APA?!!”
Harry menyeringai lebar, dia sama sekali tidak memperdulikan teriakan Daniel yang memprotes rencananya. Setelah berhari-hari diliputi ketakutan akhirnya dia bisa kembali bernafas dengan bebas, keinginannya untuk membuat perhitungan dengan pembunuh yang sudah menghilangkan nyawa ketiga temannya semakin berkobar.
Tanpa peduli dengan protes yang Daniel lakukan Harry lantas menyusun rencana baru bersama anak buahnya yang lain dengan menjadikan Daniel sebagai umpan.
“Baik Tuan, kami akan segera mengatur semuanya dengan rapi.”
Harry tersenyum lebar. “Good, sekarang kalian pergi dari hadapanku dan lakukan semua rencana kita dengan baik tanpa ada kesalahan sedikitpun.”
“Baik Tuan,” jawab enam pria berbadan besar yang berdiri disamping Daniel secara bersamaan sebelum akhirnya meninggalkan ruang kerja Harry menyisakan Daniel yang masih terus mengajukan keberatannya atas rencana yang baru saja Harry buat.
“Harry,” desah Daniel gelisah. “Kenapa harus aku, bukankah kau masih memiliki anak buah yang lain?”
“Anak buahku yang lain tidak dikenal oleh pembunuh itu.”
“Jadi kau berpikir kalau orang yang sudah membunuh Felix dan yang lain ada kaitannya dengan gadis di dermaga itu, j-jadi benar kalau ibu dari gadis itu sudah menyewa pembunuh bayaran untuk menuntut balas pada kita?” tanya Daniel secara bertubi-tubi tanpa jeda.
Ekspresi wajah Harry berubah gelap, begitupun dengan tatapan matanya. Kalimat yang baru saja diucapkan oleh Daniel membuat kebahagiaan yang sempat memenuhi dadanya banyak dalam sekejap berganti dengan rasa cemas yang begitu besar rasanya sampai detik ini dia masih belum berhasil menemukan keberadaan ibu dari gadis yang dia perkosa beberapa bulan lalu di pinggir kota.
__ADS_1
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, saat ini tujuan kita adalah memancing pembunuh itu keluar supaya kita bisa melakukan pembalasan atas kematian Felix dan yang lain. Yang perlu kau lakukan hanyalah mempersiapkan diri sebaik mungkin supaya tidak ada kesalahan," balas Harry dengan suara yang sedikit bergetar. "Kembalilah ke kamarmu dan kemasi barangmu, malam ini juga kau pergi ke tempat terakhir Felix kunjungi."
"Secepat itu?" tanya Daniel dengan wajah panik.
"Iya!"
"Apakah tidak ada cara lain lagi?"
"Jika kau tidak mau mati lebih cepat seperti Felix, Johan dan Samuel maka segera lakukan perintahku," ucap Harry serak seraya menodongkan sebuah pistol ke arah kening Daniel. "Waktumu hanya tiga puluh menit untuk berkemas."
Mendapat ancaman tidak terduga dari Harry membuat Daniel bergegas pergi dari hadapan Harry untuk segera pergi ke tempat yang sudah mereka pilih untuk dijadikan area penjebakan.
Prank …
Harry kembali melempar gelas kosong ke arah pintu tidak lama setelah Daniel melangkah keluar dari ruang kerjanya.
"Aku benar-benar harus segera menemukan wanita tua sialan itu," ujar Harry dengan wajah memerah menahan emosi yang sudah memenuhi kepalanya.
Dengan tergesa Harry pun segera mengeluarkan ponselnya dari dalam saku baju dan langsung menghubungi salah satu detektif swasta paling populer di seantero Seattle akan kehebatannya, walaupun sebenarnya Harry tidak terlalu suka dengan pria sombong itu namun hari tidak memiliki pilihan lain.
"Wo wo wo… look at this, siapa yang baru saja menghubungiku." Pria bernama Rudolf yang berprofesi sebagai detektif itu langsung mengiringi lebar begitu bertatapan langsung dengan Harry melalui sambungan panggilan video.
Harry mengeraskan rahangnya. "Aku tidak memiliki waktu untuk melayani kegilaanmu Rudolf, jadi dengarkan ucapanku baik-baik. Aku akan membayarmu sangat mahal untuk sebuah pekerjaan kecil yang sudah biasa kau lakukan."
"Nama wanita sialan itu Alen dan informasi lainnya aku tidak tahu."
"What!!" pekik Rudolf dengan suara naik dua oktaf. "Menurutmu di Seattle ada berapa juta orang wanita bernama Alen, kau pikir aku cenayang yang bisa …"
"Dua juta dolar!" Harry memotong perkataan Rudolf dengan menyebut nominal yang akan dia berikan kepada setiap swasta itu sebagai bayaran atas pekerjaannya. "Cash di saat kau berhasil membawa wanita tua itu ke hadapanku dalam waktu kurang dari 48 jam."
"Kau gila!!"
"Yes, I'm," jawab Harry cepat. "Karena itulah aku menghubungimu. Kenapa, apakah tugas ini terlalu sulit dilakukan untuk seorang detektif hebat seperti Rudolf Morgan yang terkenal seantero kota Seattle?"
Skakmat.
Balasan sarkas dari Harry membuat batin Rudolf terkoyak, pria itu merasa tertantang akan tugas yang baru saja diberikan oleh putra dari pemilik kasino terbesar di kota Seattle itu. Sangat pantang baginya direndahkan seperti ini.
"Baiklah, aku menerima tugas darimu tapi sebelum itu katakan kepadaku di mana aku bisa menemukan sosok wanita bernama Alen ini. Kau tentu tidak mungkin menginginkan aku membawa seluruh wanita bernama Alen yang tinggal di kota ini ke hadapanmu, bukan?"
__ADS_1
Karena tidak memiliki pilihan lain akhirnya hari pun memberikan foto nyonya Alen yang dia dapatkan dari kantor polisi sewaktu wanita tua itu melaporkan kasus kematian tidak wajar putrinya beberapa bulan yang lalu, sebenarnya Harry bisa saja memberikan tambahan informasi kepada Rudolf tentang siapa nyonya Alen dan kenapa dirinya menginginkan wanita itu namun dia tidak melakukannya karena khawatir detektif swasta itu akan menggunakan informasi penting itu untuk memerasnya mengingat kelicikan Rudolf yang begitu terkenal.
"Hmm, di sekitar dermaga bagian selatan, ya," gumam Rudolf dengan suara yang nyaris tidak terdengar.
"Ingat Rudolf, waktumu hanya 48 jam jika lewat dari itu maka kau tidak akan mendapatkan sepeserpun uang dariku jadi bekerjalah dengan cepat aku yakin seorang Rudolf Morgan yang sangat terkenal tidak mungkin gagal dalam melakukan tugas ini," ucap Harry kembali.
"Sebelum batas waktu yang kau berikan habis aku pasti akan membawakan wanita tua ini ke hadapan jadi lebih baik kau duduk manis dan siapkan uang bayaranku ingat uang cash yang baru keluar dari bank tanpa ada kurang satu lembar pun," balas Rudolf penuh percaya diri.
"Aku tidak akan mungkin mengecewakanmu Rudolf, kau tenang saja."
Setelah mendengar hari mengucapkan janjinya untuk kedua kali akhirnya Rudolf pun memutus sambungan teleponnya dan mulai bergerak untuk melakukan pencarian atas wanita bernama Alen yang fotonya saat ini sudah ada di tangannya, meskipun foto itu diambil dari CCTV kantor polisi namun bagi Rudolf foto tersebut sudahlah cukup untuk digunakan pasalnya dalam foto itu wajah Nyonya Alen dan postur tubuhnya terlihat sangat jelas dan untuk orang seperti Rudolf semua petunjuk itu sudah bisa digunakan untuk melakukan pencarian.
"Pembunuh sialan itu pasti tertangkap kali ini."
Delapan jam kemudian.
"Daniel muncul di bar yang menjadi tempat terakhir Felix terlihat?" Xander mengulangi perkataan Antonio yang saat ini tersambung dengannya melalui panggilan telepon.
"Iya, pria itu bahkan saat ini sedang duduk dengan tenang bersama para wanita tepat di hadapanku."
"Sial, berhenti memamerkan kehidupanmu yang liar itu!" sengit Xander kesal.
Antonio tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan teman baiknya yang sedang merutuki gaya hidupnya.
"Share lokasimu, aku yakin sekali pembunuh Felix, Johan dan Samuel akan muncul kembali di tempat itu."
"Kenapa kau yakin sekali pembunuh itu akan muncul lagi ditempat ini?" tanya Antonio cepat.
"Aku hanya mengira-ngira saja, jika memang pembunuh itu muncul di tempat Daniel berada malam ini maka sepertinya tebakanmu benar."
"Jadi target selanjutnya benar-benar Harry Portland?!"
"Jaga ucapanmu Antonio," hardik Xander ketus. "Kirim saja lokasimu padaku secepatnya!!"
"Oh, aku akan …. Tuttt.."
Xander yang malas berbicara tidak penting kepada Antonio memilih untuk memutus sambungan teleponnya alih-alih mendengarkan perkataan Antonio sampai selesai.
Tring …
__ADS_1
Pesan berisi lokasi bar tempat di mana Antonio melihat Daniel berada akhirnya masuk ke ponsel Xander, begitu menyambungkan pada GPS yang terpasang di mobilnya Xander pun segera memacu mobilnya menuju alamat yang baru saja dikirimkan oleh Antonio. Entah kenapa Xander yakin sekali jika pembunuh yang sudah menghilangkan nyawa ketiga teman Harry akan muncul lagi malam ini dan Xander berniat untuk menangkapnya secara hidup-hidup.
Bersambung