
"Sampai mati kau harus bekerja di tempatku!!”
Nyx tersenyum lebar
sehingga deretan gigi putihnya terlihat jelas, perlahan dia melipat kedua
tangannya didada. “Atas dasar apa aku harus bekerja di tempatmu sampai mati,
adakah perjanjian tertulis yang aku tandatangani sebelumnya?”
“K-kau …”
“Jadi kau tidak
memiliki alasan untuk menahanku ditempat ini.”
Frank yang begitu
terobsesi pada Nyx lantas menekan tombol rahasia yang berada dibawah meja
kerjanya, tombol rahasia itu terhubung dengan ruangan bodyguard yang berada di
samping pintu masuk bar. Sebelum menikmati tubuh Nyx seperti yang dia inginkan
sejak pertama kali melihat Nyx dua bulan lalu Frank tidak akan membiarkan Nyx
keluar dari bar.
Dalam hitungan menit enam orang pria berbadan besar masuk ke ruang kerja Frank secara tergesa, meski saat ini Nyx sedang membelakangi mereka namun Nyx terlihat begitu tenang dan santai. Bertahun-tahun menimba ilmu di Dojo membuat Nyx memiliki ketenangan luar biasa disaat-saat seperti ini.
“Kau tidak akan bisa keluar Nyx, tidak sebelum aku merasakan keindahan tubuhmu.” Frank akhirnya mengatakan niatnya yang sebenarnya.
“Merasakan tubuhku, apa maksudnya?”
Frank tertawa terbahak-bahak. “Jangan munafik Nyx, kau sudah cukup dewasa untuk mengetahui maksud dan ucapanku. Jadi bersikaplah manis sebelum aku berubah pikiran.”
Nyx menundukkan kepalanya secara perlahan sambil memejamkan kedua matanya, ternyata kecurigaannya benar. Sikap baik dan tidak wajar yang Frank berikan kepadanya ternyata hanyalah sebuah kebohongan yang ditunjukkan demi menutupi tujuan sebenarnya, seketika ingatan Nyx akan apa yang menimpa Eva pun kembali muncul dalam kepalanya. Semua laki-laki ternyata sama!
“Kemarilah Nixie,” ujar Frank kembali. “Jangan khawatir, kau akan hidup enak setelah menjadi wanitaku. Kau tidak perlu lagi bekerja dan naik bus seperti yang kau lakukan saat ini. Hidupmu akan sangat bahagia dengan uang yang aku miliki.”
Secara perlahan Nyx mengangkat wajahnya keatas, menatap lurus pada Frank yang tengah menatapnya penuh nafsu.
“Sebelum menikmati kebebasan ini aku sudah puas menikmati semua kemewahan yang kau janjikan itu, Frank. Jadi aku dengan tegas menolak penawaranmu dan …. Srak!!
__ADS_1
Sebuah pisau lipat tiba-tiba saja mendarat tepat di belakang telinga Frank, menancap pada kursi besar yang menopang tubuhnya. Bukan hanya Frank yang terkejut, enam orang bodyguard kepercayaan Frank yang baru datang itu pun juga ikut kaget melihat apa yang baru saja Nyx lakukan. Sebagai orang yang pernah belajar ilmu bela diri mereka tau apa yang dilakukan Nyx bukanlah teknik yang bisa dilakukan sembarang orang, pasalnya meleset sedikit saja nyawa lah yang menjadi taruhan dan itu yang terjadi pada Frank saat ini.
“Bukan kau target utamaku, jadi jangan paksa aku untuk membunuhmu Frank,” ucap Nyx pelan, satu detik setelahnya Nyx membalik tubuhnya menghadap kearah para bodyguard yang masih mematung tanpa kata. “Menyingkir dari hadapanku jika kalian tidak mau membuang tenaga sia-sia.”
Seperti terkena hipnotis, keenam pria berbadan besar itu lantas menyamping - memberikan jalan untuk Nyx. Melihat jalan terbuka lebar dihadapannya Nyx lantas mulai melangkahkan kakinya menuju pintu keluar, akan tetapi saat nyaris tiba di pintu tiba-tiba Nyx menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Frank yang masih sangat shock menerima perlakuan Nyx yang begitu tidak terduga.
“Terima kasih untuk dua bulan ini dan sampai jumpa.”
Tanpa menunggu balasan, Nyx lantas meneruskan langkahnya dan segera keluar dari ruang kerja Frank yang tidak bisa dimasuki oleh sembarang orang. Nyx segera merentangkan kedua tangannya lebar-lebar begitu keluar dari bar terbesar di kota Seattle itu, rasanya sangat lega bisa keluar dari tempat yang penuh dengan aura negatif itu. Tempat yang sebelumnya tidak pernah ada dalam list Nyx untuk dia kunjungi, namun perjumpaan tidak terduganya dengan Eva beberapa bulan lalu merubah semuanya.
“Ayo kita kunjungi Mami Alen, dia pasti senang melihatku datang,” ujar Nyx pelan, bibirnya melengkung membentuk senyum yang begitu tulus. Khawatir jam kunjung tempat wanita yang dipanggilnya ‘mami’ itu habis, Nyx lantas segera menghentikan taksi yang melintas di hadapannya untuk segera pergi ke tempat tujuannya.
Jalanan kota Seattle yang tidak begitu padat membuat Nyx sampai ditempat tujuan lebih cepat dari perkiraannya, setelah turun dari taksi Nyx lantas segera masuk ke sebuah bangunan berwarna putih yang diperuntukkan bagi mereka orang-orang yang mengalami gangguan mental dan trauma.
“Nona Nyx, apakah Anda ingin mengunjungi Nyonya Alen?” sapa seorang wanita muda bernama Karina yang berada di meja penerimaan tamu dengan ramah.
Nyx mengangguk seraya mengangkat satu kantong besar berisi cake ke udara. “Iya, saya datang membawakan cake kesukaannya.”
“Nyonya Alen pasti senang mendapat kunjungan darimu.”
“Apakah kondisinya baik-baik saja?” tanya Nyx pelan, meski wanita yang ada di depannya tidak bicara secara jelas namun entah kenapa Nyx bisa membaca ada maksud tersembunyi dibalik ucapannya.
“Dua hari yang lalu Nyonya Alen menangis tanpa henti dengan terus menyebut nama putrinya, tidak ada satupun petugas yang berhasil menenangkannya. Karena itu kami terpaksa …”
“Karina!” hardik seorang wanita paruh baya keras. “Jangan bicara sembarangan!!”
“Apa kabar, dok?” sapa Nyx sopan sembari mengulurkan tangannya ke arah dokter Angel.
Dokter Angel yang memang sudah rindu pada Nyx lantas meraih tubuh Nyx dan memeluknya erat. “Gadis nakal, kenapa baru datang,” ucapnya pelan.
Nyx tersenyum. “Ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan akhir-akhir ini, dok. Karena itulah saya belum sempat datang.”
Jawaban Nyx membuat dokter senior itu melepaskan pelukannya. “Apakah kau sudah kembali kerumah??”
Nyx menggeleng. “Tidak dok, saya belum pulang sejak memutuskan keluar dari rumah satu tahun lalu.”
“Nyx.”
“Ini adalah bagian dari tahap kedewasaan yang sedang saya lalui, dok,” ucap Nyx pelan memotong perkataan dokter Angel, dokter Angel adalah satu-satunya orang yang mengetahui siapa jati diri Nyx yang sebenarnya adalah dokter Angel. Dokter psikiater yang pernah membantunya melewati masa-masa kelamnya saat masalah dalam keluarganya muncul secara bertubi-tubi.
Dokter Angel tersenyum. “Baiklah aku mengerti, bagaimana kalau kita pergi bersama ke kamar Nyonya Alen.”
“Sure!” Nyx mengiyakan ajakan dokter Angel tanpa ragu.
__ADS_1
Dokter Angel lantas meraih tangan Nyx dan mengajaknya pergi menuju kamar Nyonya Alen yang berada dibangsal khusus, meskipun Healthcare center miliki dokter Angel tidak begitu besar namun banyak sekali pasien yang datang karena itu tidak heran jika bangunan empat lantai itu nampak megah dan luas.
“Sebenarnya apa yang terjadi pada wanita malang itu, dok?” tanya Nyx pelan.
“Seperti yang sudah kau ketahui, Nyonya Alen kembali hilang kendali saat teringat pada putri semata wayangnya yang tewas secara mengenaskan itu. Dia menolak semua obat dan makanan hari sebelumnya sehingga hari itu dia hilang kendali dan nyaris melukai salah satu petugas dengan garpu yang sudah disembunyikan sebelumnya,” jawab dokter Angel jujur. “Wanita itu masih belum bisa melupakan apa yang terjadi pada putrinya.”
“Tidak ada satupun ibu didunia ini yang bisa ikhlas menerima kematian putrinya yang begitu tragis dok, apalagi Eva adalah satu-satunya anak yang dia miliki. Satu-satunya harapan yang dia impikan sejak lama.”
Dokter Angel tersenyum tipis. “Kau benar dan luka seorang ibu yang patah hati karena ketidakadilan yang menimpa anaknya tidak akan sembuh dalam waktu singkat.”
Nyx meremas kedua tangannya dengan kuat saat dokter Angel kembali menyinggung ketidakadilan yang menimpa Eva. Meskipun tidak menemani Nyonya Alen saat membuat laporan ke polisi hari itu namun Nyx tau betapa besar kekecewaan Nyonya Alen yang laporannya diabaikan para polisi karena dianggap laporan palsu karena tidak adanya bukti yang valid bahwa Eva sudah menjadi korban pemerkosaan sebelum akhirnya ditemukan tidak bernyawa di sungai keesokan harinya oleh anak sekolah.
“Keadilan hanya untuk orang-orang yang memiliki banyak uang dan kekuasan besar, dok,” balas Nyx pelan.
Dokter Angel menghentikan langkahnya, perlahan dokter paruh baya itu meraih lengan Nyx dan membuat gadis itu menghadap ke arahnya.
“Kau tidak bersungguh-sungguh melakukan niatmu saat itu, bukan?”
“Dok …”
“Jangan kotori tanganmu dengan darah orang-orang itu, Rose.”
“Dokter.” Nyx bereaksi keras saat dokter Angel menyebut nama aslinya.
Dokter Angel tersentak kaget saat menyadari kesalahannya. “Maaf, maafkan aku Nyx. Aku benar-benar tidak sengaja.” Dokter Angel lantas mengedarkan pandangannya, memastikan tidak ada orang yang mendengar perkataannya.
“Anda tidak perlu meminta maaf dok,” balas Nyx cepat. “Ya sudah jangan dibahas lagi, bagaimana kalau kita segera ke kamar Nyonya Alen. Aku benar-benar sudah rindu padanya.”
Dokter Angel mengiyakan ajakan Nyx dengan sebuah anggukan kecil, tidak lama setelahnya kedua perempuan berbeda usia itu pun bergegas menuju kamar Nyonya Alen yang letaknya terpisah dari kamar pasien yang lain. Ketidakstabilan emosi Nyonya Alen itulah yang menjadi penyebab utama kenapa dirinya ditempatkan di kamar yang berbeda dan cukup jauh dari kamar pasien lainnya.
Prank …
Food tray berbahan stainless yang terbanting di lantai menyambut kedatangan Nyx dan dokter Angel begitu tiba di kamar Nyonya Alen, wanita berusia empat puluh lima tahun itu terlihat sangat kacau sehingga membuat penampilannya terlihat lebih tua dari usianya.
“Pergi, pergi kalian!! Kalian orang-orang jahat yang tidak berpihak pada orang miskin,” teriak Nyonya Alen keras, beruntung kaki sebelah kiri wanita itu terborgol dengan tempat tidur sehingga kekacauan lebih besar bisa dihindari.
“Ini aku Nyonya,” ucap Nyx pelan. “Maaf baru bisa mengunjungi Anda.”
Suara lembut Nyx berhasil membuat Nyonya Alen tenang, raut wajahnya pun perlahan melembut seiring keluarnya cairan bening dari kedua matanya yang sayu.
“N-nyx .. kaukah itu?” tanya Nyonya Alen terbata nyaris tidak terdengar.
“Iya, ini aku.”
__ADS_1
Nyonya Alen lantas membuka kedua tangannya lebar-lebar. “Nyx … putriku, kemarilah nak.”
Bersambung