
Matahari belum sepenuhnya terbit namun ratusan polisi dengan senjata lengkap sudah mengerubungi sebuah komplek apartemen mewah yang berada di tengah kota Seattle, apartemen 40 lantai itu pagi ini tiba-tiba geger setelah berita kematian salah satu penghuni apartemen mewah itu tersebar. Felix Juan Brown ditemukan tewas kehabisan darah dengan leher tergorok sepanjang 10 cm diruang tamu oleh asisten rumah tangga yang datang setiap pagi ke apartemennya, teriakan wanita paruh baya yang shock melihat keadaan sang majikan sontak membuat beberapa penghuni lain yang berada satu lantai dengan Felix berdatangan dan terjadilah kekacauan itu.
Kedatangan Bugatti Centodieci yang berhenti tepat di samping mobil salah seorang detektif swasta paling terkenal di Seattle membuat tiga orang pemuda dengan wajah panik yang tengah berdiri dengan cemas menoleh secara bersamaan, saat melihat sang pengemudi mobil mahal itu keluar.
“Apa ini Harry, kenapa hal semacam ini terjadi?”
“Bagaimana kau menjelaskan ini Harry?”
“Felix tewas secara mengenaskan, apakah ini ada kaitannya dengan proyek baru kita di Vancouver?”
“Diam kalian!!” pengemudi Bugatti Centodieci bernama Harry membentak ketiga temannya dengan suara tinggi. “Apa kalian buta, kalian tidak lihat ada banyak polisi di tempat ini!”
Ketiga orang pria yang baru saja berbicara itu sontak menundukkan wajah dengan bibir terkunci rapat, mereka nyaris saja membongkar bisnis baru Harry yang disembunyikan dari banyak orang itu.
“Lebih baik kita segera naik ke atas untuk melihat kondisi Felix, aku harus tau apakah ini ada kaitannya dengan rival bisnisku atau tidak.”
“B-baik.”
Setelah memastikan penampilannya sempurna Harry lantas melangkahkan kakinya ke arah kerumunan polisi yang tengah menghalau para wartawan yang coba masuk kedalam apartemen, karena Harry merupakan salah satu penghuni apartemen mewah itu para polisi yang berjaga memperbolehkannya masuk. Meskipun sebenarnya begitu gelisah namun Harry berusaha keras untuk tetap tenang, hal ini dia lakukan supaya para wartawan yang tidak mau menyia-nyiakan kabar berharga itu tidak mencurigainya.
“Maaf, Anda tidak boleh masuk,” ucap seorang petugas forensik pada Harry dan ketiga temannya yang sudah tiba di depan pintu masuk apartemen Felix.
Harry mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dengan tulisan M besar di bagian depan dan menunjukkannya pada sang petugas. “Pemilik apartemen yang menjadi tempat tewas Felix adalah aku, apakah sebagai pemilik tempat ini aku dilarang masuk?”
“A-anda pemilik apartemen ini?”
“Apakah perlu aku jawab lagi pertanyaan itu?”
Karena sudah merasa malu akhirnya petugas forensik itu pun mempersilahkan Harry bersama teman-temannya masuk, Harry hanya tersenyum tipis ketika melewati sang petugas yang kini sudah berdiri menyamping untuk memberi jalan bagi mereka masuk. Tanpa petugas itu tau sebenarnya Harry bukanlah pemilik apartemen Felix, apartemennya berada satu lantai tepat diatas apartemen Felix. Dia terpaksa berbohong agar tidak dihalangi masuk untuk melihat keadaan Felix.
“Tidak ada barang yang hilang, bisa dipastikan jika motif pembunuhan ini adalah dendam pribadi.”
“Felix tidak memiliki musuh.” Harry menimpali perkataan seorang polisi muda yang baru saja berbicara dengan atasannya.
Kelima polisi yang tengah mengerubungi mayat Felix yang sudah tertutup kain putih itu pun secara bersamaan menoleh kearah Harry dan ketiga temannya yang baru saja datang.
“Anda siapa?”
“Harryson Portland, teman sekaligus rekan bisnis Felix Juan Brown yang kalian tutupi dengan kain putih itu,” jawab Harry memperkenalkan diri.
__ADS_1
“Harryson Portland, pemilik Casino terbesar di kota ini?”
“Yes, I’am.” Harry menjawab dengan angkuh. “Jadi apa temuan kalian, apa kalian menemukan jejak yang ditinggalkan pelakunya?”
Seorang polisi dengan pangkat paling tinggi melangkah maju mendekati Harry yang sudah melipat kedua tangannya didada.
“Pelakunya tidak meninggalkan jejak apapun, bahkan semua rekaman cctv yang ada di rumah ini tadi malam hilang. Pun dengan semua rekaman cctv di Gedung ini,” jawab kepala polisi itu dengan serius.
“Jadi maksudmu pelakunya sudah menghilangkan semua bukti di bangunan ini, begitu?” pekik Harry keras tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya yang nyata.
“Iya.”
“Fuck,” umpat Harry keras. “Felix tidak memiliki musuh, mana mungkin dia berurusan dengan psikopat seperti itu.”
“Darimana Anda tau jika korban tidak memiliki musuh?” selidik sang polisi dengan rasa penasaran yang tidak bisa disembunyikan.
Harry menaikkan dagunya. “Felix bekerja denganku dan nyaris berada disisiku seharian, tentu saja aku tau siapa saja yang ditemuinya atau dikenalnya.”
“Lalu bagaimana dengan tadi malam, apakah Anda dan korban berada ditempat yang sama?”
Harry lantas menjelaskan pada polisi itu dimana posisinya tadi malam, dia bahkan meminta Daniel untuk menunjukkan foto-foto kebersamaan mereka di salah satu casino miliknya tadi malam. Para polisi itu pun segera melihat foto dan video yang diberikan Daniel.
“Mobil, apakah kalian sudah memeriksa mobil Felix?” celetuk Johan dari arah belakang secara tiba-tiba.
Celetukkan Johan sontak membuat para polisi itu saling pandang, terlalu fokus menemukan jejak serta bukti di tempat kejadian perkara membuat mereka lupa untuk memeriksa mobil korban. Dua orang polisi pun bergegas turun menuju basement untuk mencari mobil Felix ditemani oleh Johan dan Daniel, sementara Harry memilih untuk tetap berada di apartemen Felix. Sebagai teman yang selalu menghabiskan waktunya bersama Felix selama hampir sepuluh tahun Harry ingin melihat kondisi terakhir teman baiknya itu. Setelah mendapatkan izin dari polisi secara perlahan Harry membuka kain putih penutup jenazah Felix yang sudah diletakkan diatas ranjang dorong.
“Jesus.” Samuel yang berdiri dibelakang Harry memekik kecil saat melihat kondisi Felix yang mengerikan, luka sayatan di lehernya yang terbuka membuat siapapun yang melihatnya bergidik ngeri.
“Sayatan sepanjang 10 cm ini sangat rapi, hal ini menunjukkan sang pelaku sangat ahli menggunakan pisau,” ujar sang kepala polisi.
Harry memalingkan pandangannya ke arah sang kepala polisi yang baru saja berbicara. “Sangat ahli, maksudnya pembunuh Felix adalah seseorang residivis?”
“Untuk hal itu kami belum bisa memastikannya, hanya saja kami sudah mengambil kesimpulan bahwa pelakunya sudah terbiasa melakukan hal semacam ini sebelumnya. Mengingat tidak adanya jejak yang dia tinggalkan di sekitar TKP hingga hilangnya semua rekaman cctv dalam bangunan ini tadi malam menunjukkan betapa dia sangat memperhitungkan semuanya,” jawab polisi itu kembali. “Dan biasanya yang mampu melakukan hal semacam ini adalah para pembunuh bayaran yang sudah memiliki jam terbang tinggi.”
“Pembunuh bayaran.” Harry mengulangi perkataan polisi bernama Edward itu dengan suara bergetar. “Untuk apa pembunuh bayaran membunuh Felix, Felix bukanlah orang penting. Keluarganya juga tidak terlalu kaya, bahkan Felix bukanlah pewaris utama keluarga Brown. Lantas kenapa dia harus dibunuh oleh seorang pembunuh bayaran? Sangat tidak masuk akal!!”
“Memang tidak ada yang masuk akal jika sudah berhubungan dengan kasus seperti ini Tuan Portland,” balas kepala polisi itu kembali dengan senyum tipisnya. “Saya berjanji akan mengusut kasus ini sampai tuntas, saya akan membawa pelakunya ke meja hijau supaya dia bisa mempertanggung jawabkan semua perbuatannya.”
Harry tidak memberikan respon, otaknya masih bekerja keras memproses semua yang terjadi hari ini. Bagaimana mungkin pesuruhnya menjadi sasaran pembunuh bayaran, meskipun Felix menyandang nama belakang keluarga Brown tapi sebenarnya dia hanyalah bayangan dari sang pewaris utama keluarga itu, George. Nasib Felix yang buruk itu dikarenakan dia hanyalah anak haram sang ayah yang tidak sengaja meniduri pembantunya yang memberikannya obat perangsang sehingga Felix muncul ke dunia dan ibunya diangkat menjadi istri ketiga Eugene Jon Brown yang terkenal.
__ADS_1
“Harry … Harry …” Daniel yang baru saja memeriksa mobil Felix datang dengan tergopoh-gopoh, wajahnya yang pucat disempurnakan dengan keringat dingin yang terus mengucur deras tanpa henti.
Harry mengernyitkan kening melihat penampilan Daniel yang kacau. “Ada apa?”
“Mobil Felix … kami tidak menemukan jejak di mobilnya, bahkan mobil itu juga sudah …”
“Sudah apa? Bicara yang jelas!!!” hardik Harry tidak sabar.
“Bagian mobil itu sudah dihancurkan oleh cairan asam yang berbahaya, sehingga kecil kemungkinan kami untuk menemukan jejak didalamnya,” ucap seorang polisi muda yang baru saja ikut memeriksa mobil Felix.
“Apa?” Edward memekik kaget. “Lantas bagaimana dengan kamera dan ….”
“Gone, kami tidak menemukan kamera dashboard ataupun sdcardnya. Pelakunya benar-benar menyingkirkan semua jejaknya dengan begitu rapi.”
“Fuck!!!” jerit Harry keras. “Siapa orang itu dan apa motifnya melakukan ini, brengsek!!!”
Sementara itu di sebuah kamar kecil yang berada di atas bangunan sebuah gereja Nyx tersenyum lebar mendengar semua percakapan yang terjadi di apartemen buruan pertamanya, meskipun tidak membawa banyak uang saat memutuskan keluar dari rumah namun Nyx memiliki tabungan yang cukup untuk melanjutkan hidupnya apalagi gaji yang diberikan oleh Frank si pria mesum di bar cukup besar sehingga dia bisa membeli beberapa peralatan penting dari penadah barang-barang curian itu di dunia bawah sehingga saat ini Nyx memiliki banyak stok peralatan canggih seperti alat penyadap yang sudah dia pasang dirumah Felix Juan Brown yang tadi malam dia gorok seperti ayam. Masih teringat jelas dalam kepala Nyx bagaimana suara Felix saat meregang nyawa, tapi mau bagaimana lagi. Hukuman itu pantas diterima pemerkosa arogan sepertinya.
“Harry Portland,” gumam Nyx lirih. “Seperti apa wajah pria bernama Harry Portland itu, jika mendengar bagaimana para bajingan itu bicara sepertinya pria bernama Harry ini adalah pimpinan para bajingan gila ini.”
Tidak bisa menahan rasa penasarannya yang begitu besar akhirnya Nyx pun segera melakukan pencarian di internet mengenai pria bernama Harry Portland itu.
“Tebakanku benar,” ucap Nyx dengan suara bergetar. “Rupanya Harry Portland itu adalah pimpinan para cecunguk tidak bermoral ini.”
Kedua mata Nyx terasa panas saat melihat wajah Harry Portland di ponselnya, pun saat dirinya membaca artikel tentangnya yang tentu saja sebuah kebohongan. “Nikmati sisa kejayaanmu Harry, dalam waktu dekat aku akan mendatangimu dan menuntut keadilan untuk Eva yang sudah kau perkosa dengan beringas.”
PS. Harry Portland adalah orang pertama yang memperkosa Eva, dia yang merenggut keperawanan Eva secara beringas sebelum akhirnya Eva diberikan pada Felix dan yang lain untuk dinikmati secara bergantian.
“Bajingan gila, arrgghhh!!!” Nyx menjerit keras. “Ternyata setelah mengetahui para penjahat itu aku menjadi semakin tidak tenang, sialan.”
Bruk …
Nyx membanting tubuhnya ke atas Kasur lapuk yang menjadi alas tidurnya selama satu tahun terakhir, kedua mata birunya menatap langit-langit kamarnya yang usang tanpa berkedip. Keadaan kamarnya saat ini berbanding terbalik dengan kamarnya dahulu tapi apa boleh buat Nyx sudah memilih untuk meninggalkan semua miliknya itu dengan hidup bebas tanpa beban seperti ini.
“Tidurlah Ev, aku akan menjadi badai atas angin yang dibuat para bajingan itu. Aku berjanji padamu.”
***
“Mati tergorok diapartemennya, lantas apa yang dikatakan Harry Portland tentang ini?”
__ADS_1
Bersambung