
“Ambil kembaliannya." Nyx menyodorkan uang yang baru saja diberikan sang kasir kepadanya.
"Tapi ini banyak sekali," balas sang kasir kaget.
Nyx tersenyum. "Gunakan itu untuk membeli makan malammu bersama yang lain."
Kedua mata kasir itu semakin berkaca-kaca mendengar perkataan customer yang baru saja memberikan tips yang jauh lebih besar dari harga makanan yang dia makan.
Nyx hanya senyum kecil melihat reaksi yang diberikan oleh sang kasir, sudah hidup cukup lama di jalanan membuat Nyx lebih peka pada orang-orang disekitarnya. Karena malam sudah cukup larut, Nyx memutuskan untuk pulang menggunakan bus meski harus mengganti bus sampai dua kali untuk sampai di gereja tempat tinggalnya. Bus adalah armada umum paling aman jika bepergian lebih dari jam sepuluh malam, banyaknya imigran gelap yang mencoba mencari peruntungan di Amerika membuat banyak kota besar seperti Seattle menjadi tidak aman. Bahkan walikota terpilih yang baru langsung memberikan himbauan kepada warganya untuk tidak bepergian seorang diri jika malam sudah tiba, pun dengan beberapa orang di pemerintahan yang lain.
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari tiga puluh lima menit akhirnya Nyx tiba di tujuan akhirnya, sebuah gereja yang cukup tua di pusat kota Seattle. Menggunakan pintu khusus Nyx berusaha naik ke loteng yang beberapa bulan ini menjadi kamarnya.
Brak …
Nyx membanting tubuhnya diatas ranjang reotnya dengan kasar tanpa melepas pakaian yang sebelumnya dia gunakan untuk menjalankan aksinya di bar, rasa lelahnya jauh lebih kuat untuk dikalahkan.
“Felix, Samuel, Johan … lantas Daniel.” Nyx menyebutkan satu demi satu pemerkosa Eva yang sudah berhasil dia kirim menyusul Eva. “Tinggal Harry Portland, pemerkosa pertama yang membuat Eva … membuat Eva begitu tersiksa dan menderita.”
Mengingat lagi apa yang terjadi pada Eva hari itu Nyx kembali diliputi rasa bersalah yang sangat besar, teriakan kesakitan yang Eva jeritkan hari itu masih belum bisa Nyx lupakan sampai hari ini.
“Jika saja waktu bisa diputar lagi,” isak Nyx serak dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya. “A-aku pasti akan melawan rasa takutku dan … dan langsung menolongmu.”
Satu detik setelahnya Nyx langsung memejamkan kedua matanya rapat-rapat bersamaan dengan jatuhnya air mata yang tidak berhenti, menyaksikan secara langsung sesamanya diperkosa secara brutal oleh lima orang pria secara bergantian tanpa henti benar-benar membuat kejiwaan Nyx terganggu selama berhari-hari hingga akhirnya Nyx pun memutuskan untuk mencari keadilan bagi Eva pasca melihat penolakan yang dilakukan para polisi atas laporan yang dibuat oleh Nyonya Alen yang tidak menerima kematian mengenaskan putrinya.
Karena sudah terlalu lelah Nyx pun memutuskan untuk langsung tidur tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, mengingat buruannya hanya tinggal satu membuat Nyx merasa jauh lebih tenang. Karena itulah dia tidak menyalakan ponselnya yang tidak dibawanya pergi menjalankan misinya, meskipun bekerja seorang diri namun Nyx tetap sangat berhati-hati saat bekerja. Dia akan memilih meninggalkan ponselnya dirumah daripada membawanya bekerja, toh hanya nomor dokter Angel dan kepala pendeta gereja tempatnya tinggal saat ini sajalah yang tersimpan dalam ponsel itu.
Ketenangan yang biasanya memenuhi Healthcare center dokter Angel malam ini berubah 180 derajat karena kedatangan tiga mobil serba hitam yang datang sepuluh menit lalu, ketidakadaan dokter Angel di Healthcare menjadikan keadaan semakin buruk karena para tamu tidak diundang itu menjadi semakin menggila dan beringas hingga akhirnya mereka berhasil menemukan apa yang mereka cari.
“Kau yakin wanita ini orangnya?” tanya seorang pria muda dengan rambut berantakan.
“Benar Tuan, wanita ini adalah orang itu.”
__ADS_1
“Sudah dipastikan ulang?”
“Sudah Tuan.”
Pria muda yang disebut “Tuan” tersenyum lebar, mata beringasnya menatap wanita paruh baya yang baru saja diseret dari kamar perawatannya tanpa berkedip. “Masukkan dia ke mobil.”
“Baik Tuan,” jawab sepuluh orang pria berbadan besar yang berdiri mengelilinginya.
Dalam hitungan menit suasana Healthcare center itu menjadi hening, para staf yang sebelumnya dipaksa bersembunyi satu demi satu keluar dari tempat persembunyiannya dan saling menguatkan satu sama lain setelah melepas penutup mulut mereka. Mereka semua masih begitu shock dengan apa yang terjadi sehingga tidak sadar jika Nyonya Alen sudah dibawa pergi oleh para pria misterius itu, hingga akhirnya dua puluh menit kemudian salah satu staff melihat pintu bangsal khusus yang ditempati Nyonya Alen telah rusak karena dibuka secara paksa. Sontak Healthcare center itu pun menjadi jauh lebih panik dari sebelumnya saat pasien paling penting di pusat Kesehatan itu tidak ada.
Para staff itu pun bergegas menghubungi dokter Angel untuk melaporkan masalah ini karena tidak mengetahui nomor ponsel Nyx, pasalnya Nyx memang tidak meninggalkan nomor ponselnya di pusat Kesehatan itu. Karena itulah mereka langsung menghubungi sang pemilik pusat kesehatan sekaligus dokter yang menangani Nyonya Alen.
Penthouse Alexander, pusat kota Seattle.
Sudah tidak terhitung banyaknya Xander melihat ke arah jam yang terpasang di tangan kirinya, keberadaan Antonio yang belum diketahui menjadi satu-satunya alasan kenapa Xander melakukan itu. Walau Antonio bukanlah seorang anak kecil namun tetap saja Xander tidak tenang, apalagi dia berada di tempat di mana Daniel tewas secara mengenaskan.
Brak …
"Antonio!!!"
"Tunggu!!" Antonio mengangkat tangan kanannya ke udara, menghentikan Xander agar tidak memarahinya karena masuk dengan cara yang sangat kasar. "Berikan aku air terlebih dahulu, aku benar-benar membutuhkannya."
Salah mengerti dengan keadaan Antonio saat ini, Xander pun bergegas menghampiri teman baiknya itu dengan membawa gelas berisi air putih miliknya yang belum tersentuh. Tanpa mengucapkan terima kasih terlebih dahulu, Antonio langsung menyambar dan menenggak habis isi gelas itu tanpa sisa dalam waktu cepat.
"Cukup atau … "
"Enough, thanks," jawab Antonio cepat. "Sekarang tolong bantu aku untuk duduk, kedua kakiku benar-benar sudah tidak bisa digunakan lagi."
Xander berdecak pelan beberapa saat sebelum akhirnya memapah Antonio menuju sofa yang berada tidak jauh dari pintu, alih-alih duduk dengan baik Antonio justru langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa panjang dan empuk itu dengan mata tertutup. Keringat dingin yang membanjiri tubuhnya menunjukkan betapa keras usaha pria itu sebelumnya dan Xander menyadarinya dengan baik.
__ADS_1
"Apakah ada seseorang yang mengejarmu?" tanya Xander pelan.
"Bukan hanya seorang tapi lebih dari lima orang," jawab Antonio dengan mata yang masih terpejam.
"Apakah identitasmu diketahui oleh para polisi itu?"
Antonio secara perlahan membuka kedua matanya dan menatap lurus ke arah Xander yang masih berdiri, dengan nafas yang masih belum normal Antonio menggelengkan kepalanya.
"Yang mengejarku bukan polisi tapi anak buah Harry Portland."
"Hah?"
"Mereka mengejarku karena melihatku yang sedang menguping pembicaraan Harry bersama seseorang yang berpakaian mirip seperti Sherlock Holmes."
Xander mengernyitkan keningnya. "Detektif?"
"Iya."
"Kenapa Harry Portland mengundang seorang detektif ke bar itu, apakah dia sudah menemukan siapa orang yang sudah menyebabkan Daniel meninggal?" tanya Xander kembali.
"Ini bukan tentang Daniel, tapi tentang seorang wanita bernama Eva yang tewas beberapa bulan lalu karena bunuh diri."
Kerutan di kening Xander menjadi semakin dalam karena dia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Antonio.
"Gadis bernama Eva itu disinyalir bunuh diri pasca diperkosa secara beramai-ramai di sebuah bangunan kosong di pinggiran kota dan …"
"Dan apa?" potong Xander mulai habis kesabaran pasca mendengar Antonio berbicara berbelit-belit.
"Dan Harry mengatakan jika dirinya dan keempat temannya yang sudah meninggal itu bertanggung jawab atas kematian gadis itu."
"Apaaaa???!!!!"
__ADS_1
Bersambung