
Teriakan tidak terduga dari arah belakang membuat Nyx memutuskan untuk berlari sekencang-kencangnya, meski tidak melihat sang empunya suara namun Nyx tetap memilih pergi dari tempat itu demi keselamatan dirinya. Banyaknya suara sirine mobil polisi yang datang ke arah bar pasca kematian Daniel diketahui menjadi alasan lain kenapa Nyx memilih segera angkat kaki dari tempat itu.
“Sepertinya aku sudah aman,” ucap Nyx lirih dengan nafas terputus-putus, berlari cepat selama hampir lima menit tanpa berhenti membuat dadanya terasa begitu sesak. “Siapa orang itu, tidak mungkin jika perbuatanku terekspose, bukan?”
Sepuluh menit yang lalu Nyx langsung mencampur dua bungkus kokain yang dia dapatkan kedalam satu botol air mineral berukuran kecil dan langsung memberikannya pada Daniel melalui pelayan yang sebelumnya dipanggil Daniel, sudah mengawasi Daniel cukup lama sebelumnya membuat Nyx sedikit mengetahui kebiasaan pria itu. Karenanya dia memilih cara paling primitif seperti itu untuk menaklukkan Daniel.
Masih teringat jelas dalam ingatan Nyx bagaimana Daniel meregang nyawa diatas tempat duduknya, tubuh pria itu bergetar hebat sebelum akhirnya kejang-kejang dengan mata melotot dan mulut yang mengeluarkan busa yang cukup banyak. Ciri paling jelas jika seseorang mengalami overdosis.
“Seharusnya kau menyusul ketiga temanmu dengan cara yang sama, Daniel. Mati karena overdosis tidaklah sepadan dengan apa yang sudah kau perbuat pada Eva,” geram Nyx dengan tangan terkepal, menjadi satu-satunya orang yang melihat kebejatan Daniel bersama Harry Portland dan teman-temannya yang lain membuat Nyx sangat membenci mereka.
Merasa sudah aman Nyx lantas berjalan dengan dengan tenang menuju ke restoran junk food yang berada tidak jauh dari tempatnya berdiri, bergabung bersama para pengunjung lain yang sedang menikmati makanan tidak sehat itu dengan begitu lahapnya. Dan keputusan Nyx masuk ke restoran itu tepat, pasalnya satu detik setelah dirinya masuk ke dalam restoran itu orang yang mengejarnya dari bar milik Frank muncul dari kegelapan dengan nafas tersengal-sengal.
“Sial, aku kehilangan jejaknya. Apakah dia mantan juara olimpiade, kenapa larinya cepat sekali,” umpat Xander kesal sembari terus mengedarkan pandangannya sekeliling berharap jika gadis dengan pakaian serba hitam itu terlihat. Meski belum melihat wajah orang itu secara langsung namun Xander yakin sekali jika orang yang sedang dia kejar adalah seorang wanita, mengingat liontin yang dia temukan di tempat gadis berpakaian serba hitam itu bersembunyi sebelumnya.
dddrrttt …
Xander tersentak saat merasakan ponsel dalam sakunya tiba-tiba bergetar.
Dengan cepat Xander pun segera mengeluarkan ponselnya dan langsung menekan tombol untuk menerima panggilan masuk itu tanpa melihat siapa orang yang sedang menghubunginya.
“Kau dimana?!!”
Xander segera menjauhkan ponsel pintarnya dari daun telinga pasca mendengar suara teriakan Antonio yang begitu keras.
“Bar sangat kacau, ada banyak sekali polisi disini. Sepertinya tebakanmu benar, Daniel tewas terbunuh,” ujar Antonio kembali melanjutkan perkataannya.
“Jaga ucapanmu!!” hardik Xander keras. “Keluarlah dari tempat itu, ada banyak hal yang ingin aku bicarakan denganmu sekarang.”
__ADS_1
“AKu tidak bisa keluar, polisi menutup semua pintu dan menahan kami semua disini,” balas Antonio cepat. “Sepertinya mereka ingin melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum kami diizinkan keluar.”
Xander mengeraskan rahangnya. “Kau bukanlah anak kemarin sore yang baru masuk bar pertama kali, apa perlu aku memberitahumu bagaimana caranya untuk keluar dari tempat itu?”
“Tapi kali ini aku benar-benar mati langkah Xander,” balas Antonio dengan nada tinggi. “Ada pengunjung tewas disini dan para gadis yang berteriakan tanpa henti, bayangkan sendiri bagaimana chaosnya keadaan disini saat ini.”
“Pergilah ke gudang bawah tanah tempat penyimpanan minuman, disana pasti ada semacam ruang atau pintu rahasia yang bisa kau gunakan untuk …”
“Kau benar!!” Antonio memotong perkataan Xander dengan teriakan keras. “Kenapa aku bisa lupa, bodohnya.”
“Memang sejak kapan kau pintar?” cibir Xander kejam.
“Sial, ya sudah aku pergi sekarang. Setelah aman aku akan menghubungimu lagi.” Tanpa menunggu respon dari Xander, Antonio lantas memutus sambungan telepon mereka dan bergegas pergi dari tempatnya berdiri untuk mencari ruang bawah tanah seperti yang dikatakan oleh Xander.
Sebagai pria yang tidak pernah bisa jauh dari tempat-tempat seperti ini Antonio tidak kesulitan sama sekali ketika harus mencari ruang bawah tanah sesuai dengan saran dari Xander, dalam waktu kurang dari dua menit Antonio sudah berada dalam tempat persembunyiannya di ruangan itu. Walaupun dia sudah melihat ada pintu lainnya di ruangan itu namun Antonio memilih untuk tidak menggunakannya, Antonio khawatir jika keberadaannya justru akan terekspos kalau menggunakan pintu itu.
Harry Portland melempar botol wine kosong ke lantai pasca melihat keadaan Daniel yang sudah tidak bernyawa, kembali melihat teman baiknya meregang nyawa dengan cara tidak wajar membuat Harry semakin menggila. Bayangan akan menjadi sasaran selanjutnya semakin memenuhi kepalanya saat ini.
“Kami akan membawa jenazahnya kerumah sakit untuk diperiksa lebih jauh lagi dan …”
“Untuk apa diperiksa lagi!” hardik Harry keras, memotong perkataan seorang petugas forensik yang datang bersama polisi beberapa saat lalu. “Sudah jelas jika Daniel dibunuh, dia diracuni oleh salah satu pengunjung yang ada di tempat ini.”
“Kami tidak akan bisa memberikan keterangan seperti itu sebelum melakukan pemeriksaan lebih jauh atas jenazah Daniel, karena itu izinkan kami membawanya kerumah sakit, Tuan,” ucap petugas forensik itu kembali dengan tegas.
“Arrrgggghhhh sial, kenapa jadi seperti ini,” teriak Harry keras melampiaskan kekesalannya yang begitu besar.
Dua orang polisi yang berdiri di dekat Harry lantas menepuk punggung Harry secara bersamaan, keduanya berusaha menenangkan Harry yang sangat shock melihat keadaan terakhir Daniel yang begitu mengenaskan.
__ADS_1
“Maafkan kami Tuan, maaf sudah gagal menjalankan tugas yang Anda berikan,” ucap Bruno penuh sesal dengan kepala tertunduk, mewakili teman-temannya yang sebelumnya ditugaskan untuk menjaga dan mengawasi Daniel yang sedang menjadi umpan.
Harry mengeraskan rahangnya. “Apakah kalian tidak menemukan orang yang mencurigakan?”
“T-tidak Tuan, Daniel benar-benar tidak meninggalkan kursinya sejak kami tiba ditempat ini.”
“Tidak meninggalkan kursinya,” ucap Harry dalam hati.
….
"Tunggu!" Harry tiba-tiba balik tubuhnya dan menghadap ke arah Bruno yang sedang berdiri bersama teman-temannya. "Tadi kau mengatakan jika hari tidak meninggalkan tempat duduknya lantas siapa yang membawakan minuman serta makanan untuknya?"
"Para gadis yang menemaninya minum, Tuan."
Satu alis Harry terangkat. "Apakah para gadis itu juga ikut minum?"
"Iya, mereka minum dari botol yang juga diminum oleh Daniel."
"Di mana mereka sekarang, bawa aku menemui mereka," ucap Harry keras, Harry harus melihat secara langsung menggunakan kedua matanya. "Sepertinya aku menemukan sebuah petunjuk."
Tanpa berani membantah Bruno lantas membawa Harry pergi menuju ke tempat para gadis itu berada, meskipun pihak kepolisian belum menentukan tersangka namun para gadis yang sebelumnya duduk menemani Daniel minum itu sudah dikumpulkan di sebuah tempat terpisah untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu keterangan mereka dibutuhkan.
Sebagai orang yang mengenal Daniel cukup lama Harry sangat yakin sekali jika teman baiknya itu tidaklah meninggal karena overdosis seperti dugaan awal yang dikatakan para polisi, Harry tahu seberapa besar kemampuan Daniel dalam mengontrol diri karenanya itu dia sangat percaya jika Daniel tidak mungkin sampai mengkonsumsi obat terlarang dalam jumlah berlebih. Harry tahu jika Daniel tidak sebodoh itu. Karena itulah Harry sangat yakin jika ada seseorang yang sudah sengaja meracuni Daniel dan orang pertama yang harus dicurigai adalah pembunuh yang sama yang sudah menghilangkan nyawa Felix, Samuel dan Johan.
"Aku pasti akan menemukanmu terlebih dahulu sebelum kau bisa mendekatiku," ucap Harry dengan suara bergetar penuh emosi.
Bersambung
__ADS_1