
101 Park Avenue Penthouse, pusat kota Seattle.
"Benar-benar tidak masuk akal," gumam Xander lirih seraya terus menatap layar monitor yang sedang menampilkan artikel yang membahas teror pembunuh bayaran di kota Seattle.
Satu minggu sudah berlalu sejak kematian tidak wajar Felix Juan Brown, namun kota Seattle kembali digegerkan dengan temuan dua mayat pria bertato dengan kondisi leher tersayat sepanjang 8 cm di sebuah diskotik yang ternyata masih memiliki kedekatan dengan Felix Juan Brown. Kedua pria itu adalah Samuel dan Johan.
"Apakah menurutmu pelakunya orang yang sama?"
Xander menyandarkan tubuhnya pada kursi. "Aku belum bisa menebak."
"Really?" cibir Antonio Smith, teman baik Xander. "Bukankah buktinya sudah jelas, ya?"
"Justru karena terlalu jelas aku menjadi ragu," balas Xander cepat.
"Eh?"
"Karena jika pelakunya orang yang sama sudah pasti dia tidak akan meninggalkan jejak sejelas ini, luka sayatan di leher yang panjangnya nyaris sama pada ketiga korban yang saling mengenal benar-benar akan membuat orang langsung berpikir jika pembunuhnya adalah orang yang sama,” ucap Xander lirih.
Antonio menegakkan tubuhnya. “Jadi pembunuhnya orang yang berbeda begitu?”
Xander kembali menggelengkan kepalanya.
“Aku juga belum akan yakin akan hal itu.”
“Xander,” geram Antonio mulai habis kesabaran. “Sebenarnya apa yang kau pikirkan saat ini, kenapa jawabanmu jadi rancu seperti ini!!”
Xander tersenyum lebar. “Tujuanku saat ini adalah segera menemukan pelakunya, Aku ingin belajar bagaimana caranya menangani ketiga orang terdekat Harry Portland ini dengan begitu mudahnya tanpa mengalami kesulitan."
"Xander."
"Karena itu aku ingin mendekati Daniel, aku merasa jika Daniel adalah target terakhirnya sebelum …"
__ADS_1
"Target terakhir, bukankah sebelumnya kau mengatakan jika target pelaku adalah Harry Portland. Lantas kenapa sekarang kau mengatakan jika Daniel adalah target terakhirnya?"
Xander tersenyum. "Sebelum menjadikan Harry Portland sebagai tujuan akhirnya, entah kenapa aku merasa jika pelakunya sedang bermain petak umpet dengan Harry Portland."
"Jadi pelakunya satu orang?" Antonio kembali mengulangi pertanyaan pertamanya yang belum dijawab oleh Xander.
"Akan lebih baik jika pelakunya satu orang karena aku bisa melakukan pendekatan jauh lebih mudah."
"Alexander Scott!!!"
"Hahahaha."
Xander tertawa terbahak-bahak mendengar teriakan Antonio yang sudah benar-benar kesal kepadanya, meski terdengar seperti sebuah candaan namun sebenarnya Xander bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Xander berharap jika dirinya mampu merekrut orang yang sudah membunuh ketiga anak buah Harry Portland.
Prank ….
Botol wine keempat kembali jatuh di lantai apartemen mewah milik Harry Portland yang ini sudah mirip seperti area perang karena banyaknya benda tajam yang berserakan, sejak kembali dari acara pemakaman Johan dan Samuel tiga puluh menit yang lalu Harry terus menghancurkan semua barang pecah belah yang ada di dekatnya. Jiwanya benar-benar terguncang melihat kematian satu demi satu orang-orang terbaiknya dengan cara yang nyaris sama.
"Bodoh, apa kerja para polisi itu. Kenapa sampai saat ini pelakunya belum ditemukan….Aarrrrgggghhhhh!!!!"
Harry yang sedang melampiaskan kekesalannya sontak memalingkan wajahnya ke arah Daniel dengan gerakan cepat, kedua matanya yang sudah berubah merah menatap Daniel dengan penuh kemarahan yang begitu besar.
"Apaaa, coba ulangi lagi ucapanmu?"
Daniel menelan ludahnya. "Pertama Felix, lantas Johan dan Samuel. Bagaimana jika setelah ini aku yang menjadi targetnya, Harry? Aku tidak mau mati, aku masih terlalu muda untuk meninggalkan dunia yang menyenangkan ini. Aku tidak mau mati, Harry!!!"
Plak …
Tamparan keras yang dilayangkan Harry mendarat sempurna di wajah Daniel yang sudah sepucat kertas.
"Jaga ucapanmu, kau pikir kematian Felix Johan dan Samuel adalah sebuah kematian yang sudah direncanakan, begitu?!! Penyebab kematian mereka masih diselidiki oleh polisi begitupun dengan motif pelakunya, jadi jangan bicara sembarangan!!"
__ADS_1
"A-aku juga sungguh berharap seperti itu, tapi bagaimana jika ketakutanku itu benar, Harry?" Daniel menimpali perkataan Harry tanpa rasa takut, dia tidak memperdulikan rasa sakit yang tertinggal di pipi kanannya saat ini.
"Bagaimana jika pelakunya memang sudah mengincar kita sejak awal?"
"Omong kosong!!"
"Aku serius Harry, tidakkah kau merasa jika kematian ketiga teman kita itu sangat rapi. Maksudnya cara membunuh orang itu sangat profesional, luka sayatan di leher Felix, Johan dan Samuel sangat mirip dan berada di tempat yang sama tanpa melukai anggota tubuhnya yang lain terlebih dahulu. Jika pembunuhnya bukanlah orang yang mahir sudah pasti dia akan melakukan sesuatu pada tubuh mereka sebelum akhirnya menggorok leher ketiganya seperti itu, ditambah lagi Samuel dan Johan pernah belajar karate saat mereka masih kecil. Kau harus segera melakukan sesuatu, Harry. Kau harus bertindak!! Gunakan kekuatan keluargamu untuk melindungi kita berdua, aku takut Harry. Aku benar-benar takut!" ucap Daniel panjang lebar.
Harry mengeraskan rahangnya. "Kenapa harus takut, memangnya sudah pasti jika kita akan menjadi target selanjutnya orang itu? Lagipula kita tidak membuat masalah dengan siapapun akhir-akhir ini, jadi rasanya tidak perlu sampai sejauh itu hingga …"
"Tunggu!" Daniel secara tiba-tiba memotong perkataan Harry. "Apakah menurutmu ini ada kaitannya dengan kejadian di dermaga beberapa bulan yang lalu?"
"Kejadian di dermaga beberapa bulan yang lalu?" Harry mengulangi perkataan Daniel tanpa ekspresi.
"Iya." Daniel mengangguk cepat. "Apakah mungkin keluarga dari gadis itu yang melakukan ini semua?"
"Jangan bodoh, gadis itu berasal dari keluarga miskin. Dia tinggal bersama ibunya sejak masih kecil, mana mungkin dia mampu menyewa pembunuh bayaran untuk melakukan ini semua. Menyewa pengacara untuk membantunya saja dia tidak mampu."
Daniel meremas jemarinya dengan kuat. "Kalau begitu siapa pelakunya?"
"Sudah aku bilang jangan bicara yang aneh-aneh, kasus ini masih dalam penyelidikan polisi dan jangan kaitan dengan kejadian itu. Kita tidak ada hubungannya dengan kematian gadis bodoh itu, ingat itu baik-baik!" hardik Harry kembali dengan keras. "Sekarang lebih baik kau masuk kedalam kamarmu dan jangan ganggu aku."
Tanpa diperintah dua kali Daniel pun bergegas masuk ke dalam kamarnya, sejak mendengar kematian Johan dan Samuel dua hari yang lalu Daniel memutuskan untuk tinggal bersama Harry di apartemennya karena merasa jauh lebih aman. Penemuan jenazah Samuel dan Johan yang sama mengenaskannya dengan Felix benar-benar membuat Daniel terguncang.
Brak …
Harry memukul lukisan dari abad pertengahan yang tergantung tepat disampingnya.
"Tidak mungkin orang miskin itu mampu menyewa pembunuh bayaran, lagipula gadis bodoh itu membunuh dirinya sendiri dengan melompat kedalam sungai," ucap Harry serak dengan wajah semerah tomat, membahas soal Eva yang sudah dia perkosa secara brutal beberapa bulan lalu di gudang kosong yang ada di dekat dermaga.
Meskipun Eva menghabisi nyawanya sendiri dengan melompat kedalam sungai namun dia membawa wallet card milik Harry Portland yang menjadi petunjuk Nyonya Alen menuduh Harry Portland sebagai salah satu pelaku pemerkosa putri semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Sepertinya aku harus menemui wanita tua sialan itu."
Bersambung