
Sejak putri semata wayangnya tewas dengan cara mengenaskan Nyonya Alen menjadi hilang kewarasan, wanita itu menjadi gila dan suka sekali mengamuk. Bahkan tidak jarang dia menyakiti dirinya sendiri hingga akhirnya Nyx memutuskan untuk membawanya ke tempat dimana dokter Angel berada.
Tanpa merasa takut Nyx berjalan ke arah Nyonya Alen yang sudah membuka kedua tangannya lebar-lebar dengan pandangan sendu berbalut kerinduan, sebuah kerinduan yang tidak akan pernah terobati karena Eva sudah terkubur dalam tanah.
“Oh putriku sayang,” isak Nyonya Alen dengan air mata berderai begitu berhasil memeluk tubuh kurus Nyx. “Ibu rindu sekali padamu, kenapa baru datang. Apakah bosmu itu terus memaksamu untuk lembur di akhir pekan seperti biasanya?” Nyonya Alen memberondong Nyx dengan beberapa pertanyaan sekaligus sembari terus mengeratkan pelukannya di tubuh Nyx tanpa peduli jika Nyx kesulitan bernafas.
“Ada beberapa pekerjaan yang harus aku selesaikan akhir-akhir ini, karena itu aku baru bisa datang. Anda tidak marah kepadaku, bukan?”
Nyonya Alen langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Nyx dan mencengkram kuat kedua pundaknya. “Kenapa bicara dengan bahasa formal seperti ini pada ibumu sayang.”
Nyx tersentak, dia akhirnya sadar jika saat ini wanita paruh baya yang ada di hadapannya sedang kehilangan kesadarannya sehingga menganggapnya sebagai Eva. Kematian Eva yang begitu tragis benar-benar mengacaukan ingatannya.
“Ouch,” rintih Nyx kesakitan, pasalnya saat ini Nyonya Alen mencengkram pundaknya dengan begitu keras.
“Kau bukan Eva!” jerit Nyonya Alen keras secara tiba-tiba. “Pergi, pergi dari hadapanku!!!”
Dokter Angel yang masih berdiri didepan pintu bergegas masuk kedalam untuk menyelamatkan Nyx, meski Nyx memegang sabuk hitam namun dokter Angel tahu jika gadis itu tidak akan melawan jika dilukai oleh Nyonya Alen. Karena itulah dia memutuskan untuk menyelamatkannya dari amukan Nyonya Alen sesegera mungkin supaya kejadian mengerikan yang terjadi beberapa minggu lalu tidak terulang lagi.
“Eva … Eva … kembalikan putriku huhuhu, kembalikan anakku,” jerit Nyonya Alen keras dengan air mata berderai begitu Dokter Angel berhasil menjauhkan Nyx darinya.
“Anakku, kembalikan anakku. Eva gadis yang baik, dia tidak pernah membangkang dan selalu baik pada semua orang. Kenapa kalian membunuhnya dengan kejam huhu … kenapaa!!!!”
Tidak tahan mendengar tangis memilukan seorang ibu yang kehilangan anak kesayangannya membuat dokter Angel memutuskan menutup pintu kamar perawatan Nyonya Alen meski Nyx melarangnya.
“Anakku huhuhu ... kembalikan anakku!!”
__ADS_1
“Kenapa kondisinya semakin parah seperti ini, dok? Apakah ini karena dia tidak meminum obatnya?”
Dokter Angel memalingkan wajahnya ke arah Nyx dengan tatapan sendu. “Kehilangan dan kemarahan yang memenuhi hatinya menjadikan semua obat yang selama ini dia minum tidak berfungsi dengan baik, luka hatinya terlalu besar untuk diobati oleh medis, Nyx.”
Nyx menundukkan kepalanya dengan mata terpejam, sebagai satu-satunya saksi hidup atas apa yang menimpa Eva beberapa bulan lalu Nyx pun juga merasakan kemarahan yang sama besarnya dengan Nyonya Alen. Karena itu dia bisa memahami kondisi Nyonya Alen yang semakin memburuk hari demi hari.
“Dan jika kondisinya seperti ini terus aku khawatir tidak akan bisa mengembalikan kondisinya seperti semula,” imbuh dokter Angel kembali dengan penuh sesal. “Aku harap kau bisa memahami ketidakmampuanku ini, Nyx.”
Nyx mengangkat wajahnya keatas dan kembali menatap dokter Angel yang baru saja mengatakan keterbatasannya dengan jujur.
“Wanita malang itu benar-benar tidak bisa ditolong dengan obat dan segala terapi yang aku tahu, Nyx. Apalagi dia juga memiliki gangguan ginjal yang cukup kronis, aku benar-benar tidak bisa memaksakan tambahan obat untuk menenangkannya.”
“Anda sudah melakukan yang terbaik untuknya, dok. Jadi jangan bersedih seperti ini,” balas Nyx cepat.
“Kau tidak kecewa padaku?”
“Nyx!”
“Hanya itu yang bisa kita lakukan saat ini, dok.”
Wajah dokter Angel berubah pucat, meski Nyx tidak bicara secara detail namun dokter Angel sudah tahu kemana arah pembicaraan Nyx.
“Apa kau sudah menemukan mereka?”
Alih-alih memberikan jawaban Nyx justru mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada dokter Angel setelah dia membuka artikel yang membahas tewasnya Felix Juan Brown. Dengan rasa penasaran yang besar dokter Angel menerima ponsel Nyx dan nyaris berteriak keras saat membaca artikel yang muncul di layar ponsel itu.
__ADS_1
“Jangan bilang jika ini …”
“Iya, aku yang melakukan ini.” Nyx memotong perkataan dokter Angel dengan tenang. “Felix Juan Brown adalah satu dari sekian tersangka yang memperkosa Eva dengan keji hari itu, aku mengenali Felix dengan cepat karena tato yang ada di lehernya ini.”
Kedua mata dokter Angel membeliak semakin lebar mendengar pengakuan jujur yang baru saja Nyx ucapkan.
“K-kau membunuh seseorang Nyx?”
“Sampah sepertinya tidak pantas berlama-lama hidup di bumi ini, begitupun dengan keempat temannya yang semua identitasnya sudah aku ketahui,” jawab Nyx dengan santainya tanpa rasa bersalah.
“Nyxie!!”
“Mereka memperkosa seorang gadis dengan brutal secara bergantian, dok. Seorang gadis perawan yang sudah susah payah menjaga kesuciannya demi suaminya kelak, seorang anak tunggal dari ibu tunggal yang sudah membesarkan anaknya secara mati-matian sejak kecil,” ucap Nyx ketus tanpa jeda. “Dan lebih parahnya lagi para penjahat itu kebal hukum, mereka sama sekali tidak tersentuh oleh laporan yang Nyonya Alen buat. Lantas apakah aku tetap harus diam saja, sementara aku melihat dengan kedua mataku sendiri bagaimana mereka memperlakukan Eva yang malang itu.”
Dokter Angel menggigit bibir bawahnya dengan kuat, ucapan Nyx membuatnya kembali teringat dengan berita kematian Eva yang menggemparkan seluruh Seattle empat bulan lalu. Eva Maria Carter ditemukan tewas di sungai dengan kondisi yang sangat mengenaskan, bukan hanya diperkosa dari depan dengan brutal Eva juga diperkosa melalui belakang hingga terdapat sobekan yang cukup besar di area pembuangannya itu. Dokter Angel yang saat itu diajak Nyx melihat kondisi Eva di kamar mayat bahkan sampai meneteskan air mata karena tidak tega melihat kondisi jenazah gadis malang itu.
Kondisi terakhir Eva itulah yang akhirnya membuat Nyonya Alen hilang kewarasannya, seorang anak yang dibesarkan dengan penuh kasih dan cinta diperlakukan tidak senonoh oleh para pria psikopat yang memiliki fantasi liar. Sebuah fantasi yang tidak seharusnya mereka salurkan pada gadis seperti Eva.
“Walaupun aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Eva dan Nyonya Alen namun hatiku sangat sakit melihat nasib ibu dan anak itu, dok. Orang-orang lemah seperti mereka tidak seharusnya mendapatkan perlakukan sekeji ini dari orang berkuasa seperti Harry Portland dan anak buahnya yang tidak waras itu.”
“Harry Portland?”
“Iya.” Nyx mengeraskan rahangnya ketika mengingat lagi soal Harry Portland. “Dia adalah orang pertama yang memperkosa Eva hari itu.”
“Tapi keluarga Portland bukan orang sembarangan Nyx, kau akan terlibat masalah besar jika sampai berurusan dengannya.”
__ADS_1
Nyx tersenyum. “Harry Portland boleh saja memiliki dukungan penuh dari keluarganya yang kuat itu, tapi dia lupa bahwa ada Tuhan yang menjadi pelindungku.”
Bersambung