Pendekar Kobra Merah

Pendekar Kobra Merah
Pendekar Kobra Merah serial Manusia Pembawa Bencana


__ADS_3

Keparat sialan.. keluar kalian semua... hadapi aku teriak Manusia Pembawa Becana karna dari tadi semua orang mengolok olok dirinya...


Merasa jiwa satrianya terusik, Pendekar Harimau Campa dengan gesit melompat kedepan, diikuti oleh Pendekar Belang serta Pendekar Bulai... tak lama kemudian Dewi Rembulan yang terlebih dahulu menotok jalan darah sang Raja.. kemudian menyembunyikannya di tempat aman,  juga melompat saling susul bersama Dewa Gentong dan kakek Bocah Setan. Sementara Bujang galadia yang dikenal sebagai Pendekar Kobra Merah masih asik ongkang kaki di gundukan  batu yang hanya berjarak sepuluh tombak dari mereka.


Hallo Pendekar Penghisap Bangkai... ngapain kamu panggil kami tanya Deaa gentong sambil mengunyah paha ayam bakar di tangan kanannya..


Heh kerbau bunting dan Setan Cebol, kalian ternyata masih berani menampakkan muka di hadapanku ya... ejek Pendekar Pengisap Bunga.


Dan kau cantik.. lebih baik kau menyingkir... nanti selesai urusanku dengan manusia manusia ini.. kita bersenang senang... ha ha ha ha... tinjuknya sembari menudingkan telunjuk ke arah dewi Rembulan..


Mulut kotor, manusia hina... makan ini... kata dewi rembulan tak terima dilecehkan, Dewi Rembulan tanpa perhitungan..


Dewi.. tunggu... teriak Pendekar harimau campa kaget.. tak menyangka tindakan dewi rembulan begitu emosi.. tapi semua terlambat. Pedang Rembulan meleset laksana kilat kedepan tepat menuju dada Manusia Pembawa Bencana. Manusia Pembawa Bencana yang audah bersiap dari segala kemungkinan cepat menghirup nafas dalam dalam.. kemudian ditiupnya pedang rembulan.. pedang rembulan seperti tertahan dinding tak kasat mata. Adu tenaga dalam tingkat tinggi sedang berlangsung...


Sambil terkekeh, Pendekar penghiaap bunga kembali meniup, hingga kini ujung pedang secara perlahan berputar arah.. dewi rembulan menjadi pucat takut terluka oleh senjatanya sendiri. Karna dia tau, kalau racun di tubuh pedang tak ada penyembuhnya,


Melihat kalau Dewi Rembulan kewalahan, dewa gentong secara diam diam membantu dewi rembulan.. begitu juga kakek Bocah Setan, mereka menyalurkan tenaga dalamnya melalu punggung sang dewi.. hingga pedang kini seperti baling baling.. berputar diudara,.. maki  lama makin tinggi..


Tiga orang dihadapan Manusia Pembawa Petaka bukan tokoh sembarangan, akan tetapi bagi Manusia Pembawa petaka, mereka bertiga  belum layak menjadi tandingannya.


Manusia Pembawa Petaka kembali  meniup kedepan... kini pedang mulai berderak.. laksana mau hamcur..


Hea... bentak Manusia pembawa bencana... sambil menghentakkan tangannya kedepan...


Ach..


Aduh


Awasss..


Dewi Rembulan mental kebelakang dikejar senjatanya sendiri, untung tubuhnya cepat di sambut oleh Dewa gentong. Sementara pedang yang mengejar dewi rembulan cepat di tangkap Pendekar Harimau Campa dengan mulutnya.


Kurang ajar.. maki Pendekar Penghisap bunga gusar.. tak ingin berlama lama, dari balik pakaiannya Pendekar Penghisap Bunga mengeluarkan segenggan kerikil membara.. kerikil itu di lemparkan kedepan.. tujuh kerikil segera menderu menghanguskan apa saja yang dilewatinya..


Melihat gelagat tak menguntungkan pendekar belang dan pendekar bulai kebutkan pedang di tangan masing masing.. kerikil mental kedepan.. tapi malang bagi Bocah Setan, kerikil tepat mengenai keningnya.. dess.. ach... pendekar bertubuh cebol itu lansung mebggelepar, mati dengan mata melotot..


Disisi lain.. batu yang menderu kearah dewi rembulan dan Dewa gentong berhasil di elakkan dew gentong sambil mengapit tubuh mungil Dewi Rembulan..


Hei lihat,.."seru pendekar harumau campa menunjuk ke arah pendekar kobra merah begitu lolos dari serangan kerikil membara.. karna dia sempat melirik pendekar kobra merah tengah asik menimang kerikil membara tanpa merasakan panas yang tadi menyerangnga,..


Kakek gendut.... mohon maaf.. tolong selamatkan mayat kakek cebol itu seru pendekar kobra merah... sambil melompat ke arah Manusia Pembawa Bencana. Kakek gendut segera melompat menyelamatkan mayat sahabatnya.. sambil berlinangan air mata..


Hmm.. kalau tak salah.. ilmu bocah ini sama dengan Kobra Emas sialan, Pasti dia pakai Ajian dari Kitap Kobra merah.. maka dia tak merasakan panas kawah Gunung Pasaman yang ku salurkan..


Bocah.. siapa kau.. seru Manusia Pembawa Bencana... pada Pendekar Kobra Merah.. sambil melotot..


Kau bertanya pada ku..???


Anjing kurap, kepada siapa lagi ku bertanya... seru Manusia Pembawa Bencana..


Oh...


³

__ADS_1


Aku, bujang galadia, jawab Pendekar kobra merah..


Apa hubungan kau dengan si Kobra emas....??


Aku tak ada hubungan darah, àpa lagi hubungan cinta, karna kata kakekku aku boleh cuma jalin hubungan dengan wanita. Bukan dengan laki laki.. bos...


Ha ha ha ha... terdengar gelak tawa dari para pendekar yang tadi sudah saling mendekat.. awalnya mereka kagum dengan kemampuan bocah itu menangkap kerikil membara yang dilemparkan pendekar penghisap bunga. Tapi kini mereka lebih kagum melihat si pemuda tanggung tanpa rasa takut mengejek Lawannya.


Setan, sekali lagi kau bermain main.. ku cabut kepala kau..


Jangan bos.. kepalaku cuma satu.. dan kepala lain.. masih kecil...belum berambut..  he he he.. kata bujang lagi..


Bukan main panasnya hati Pendekar Penghisap Bunga dipermainkan seperti itu.. dengan sekali sentak dia bermaksud menghabisi Pendekar Kobra Merah.. sebuah tendangan mau dilayangkan ke arah perut kobra merah.. mampus kau bocah busuk


Pendekar kobra merah dengan manis mundur beberapa Tindak kebelakang.. hingga tendangan Manusia Pembawa Petaka hanya mengenai angin..


Bos.. aku disini.. kau mau menendang lalat ya.. seru si bocah cengengesan.


Tanpa menjawab.. gerakan tubuh Manusia Pembawa Petaka dalam jurus pertamanya langsung dilakukan dengan sungguh sungguh.. tapi sekali lagi pukulan yang dilayangkan ke arah kepala berhasil di elakkan Pendekar Kobra Merah dengan enteng.


Hai bocah bau pesing, apa kau hanya bisa mengelak seperti anjing liar dipukuli??? Tanya Manusia Pembawa Petaka..


Hei manusia jahat, tadi kau mengajak main main.. kok sekarang kasar sih..??? Cibir Kobra Merah.


Jadi kau ingin main main, oke.. terimalah tiga rangkaian ilmu Silat Kawah Berapiku ini... jawab Pendekar Penghisap bunga.


Kaki kiri pendekar penghisap bunga sedikit terbuka ke depan.. semntara tangan kanan berubah membara..


Pendekar kobra Merah tak mau ambil tesiko, karna setiap gerakan Manusia Sesat Pembawa Bencana selalu mengincar titik titik mematikan ditubuhnya.. kini pendekar kobra merah tidak lagi bermain main seperti tadi, tubuhnya terlihat meliuk liuk seperti seekor ukar tengah menari..


Hap... yea.... plak.. bunyi pukulan bertenaga dalam tinggi saling beradu..


Tak sampai sepeminuman teh, pertarungan antara Pendekar Kobra Merah dengan Pendekar Penghisap Bunga telah mencapai seratus jurus.. nqmun belum ada tanda tanda siapa yang lebih unggul..


Hm... anak itu luar biasa, belum pernah Manusia Biang Bencana Itu sampai sejauh uni.. paling beberapa jurus.. lawan pasti mati.   gumam Pendekar Harimau Campa,.... tidak salah lagi.. bocah ini adalah Murid Dewa Kobra Merah.


Tunggu kata Pendekar Kobra Merah tiba tiba.. sehingga perkelahian terhenti sejenak..


Apa bocah, kau melihat malaikat maut di depanmu tanya Manusia Pembawa Bencana.


Bukan.. aku malah pengen kentut sebentar.. bruut.. preet..., si bocah kentut sambil menungging ke arah Manusia Pembawa Bencana..


Hai Pendekar Kobra Merah.. aku juga pengen teriak dewa Gentong.. Brum... prooot...prooot.. ha ha ha ha..


Ha ha ha... tawa Kobra Merah..


Sial, kau gendut seru Pendekar bulai..tapi ikutan tertawa.. hi hi hi..


Heea...mendadak kembali Manusia Pembawa Bencana Menyerang Kedepan... kedua tangannya mencengram leher Pendekar Kobra Merah yang tadi lengah... pendekar kobra merah tak kehilangan akal, leher yang tadi di kepit mengeluarkan racun Kobra merah,.... tak tanggung tanggung, Pendekar Kobra Merah juga meniupkan racun dari mulutnya, racun itu mengenai muka Manusia Pembawa Bencana..


Ach.... Manusia Pembawa Bencana sampai bergulingan ke depan.... tangan dan mukanya melepuh akibat Bisa Kobra Merah yang dikeluarkan Pendekar Kobra Merah..


Manusia Pembawa Bencana yerus bergulingan.. hingga tubuhnya masuk kedalam sungai di samping istana.. 

__ADS_1


Blub...blub... blub..


Air sungai mendidih dan berubah kehitaman... ach.... aduh.... setan.. sakit.. teriak Pendekar Pembawa Bencana..terus bergulingan dalam sungai.. serangan bisa kobra merah belum lagi reda di tubuhnya..


Semua orang tercenung melihat akibat yang di timbulkan dari serangan Pendekar Kobra Merah..


Sementara itu, pendekar kobra merah yang tadi kelihatan konyol, kini wajahnyabtelah berubah beringas... racun yang mengendap di tubuhnya membuat prabawa Remaja Tanggung ini jadi angker.. laksana seekor ular yang siap menyerang siapapun.


Perlahan tapi pasti, Manusia Pembawa Bencana Merangkak ke pinggir sungai.. tangannya kini sudah mulai tenang, walau kulit ke dua tangan serta wajahnya telah mengelupas, mengeluarkan bau menjijikkan.. bahkan matanya sampai rabun sebelah..


Hei bocah sialan, sekarang jelas.. kau lah penerus si Kobra Emas..


Memang.. aku murid Dewa Kobra, eyang Kobra emas adalah eyang guruku, yang pernah membenamkan kau di Kawah Gunung Pasaman.. sekarang aku tak akan mengampuni mu.. kejahatanmu sudah sedalam lautan, setinggi gunung... kau perusak para wanita..


Seratus tahun terpendam, bukan kau jadikan sebagai waktu untuk memperbaiki diri.. malah kau makin sesat.. bentak Kobra Merah di penuhi hawa kemarahan..


Ha ha ha ha.. Sekarang ini kau boleh menang bocah...tapi coba kau tahan Ilmuku ini.. bentak  Pendekar Penghisap bunga.


Kedua tangannya dia angkat ke arah kepala, kedua kaki di renggangkan.. ajian Kawah Mendidih Gunung Meletus  teriak Pendekar Pemetik Bunga. ..


Cuaca cerah mendadak  berubah kelam... hujan dan petir langsung bersahutan.. kilat menyambar kemana mana, tanah serta batu berpentalan di udara mengarah pendekar kobra merah..


Kalian para pendekar yang di belakang.. aku harap menyingkir.. teriak bujang galadia terhadap teman temannya..


Tapi kau bagai mana bocah kobra teriak Dewa Gentong..


Aku akan coba menghalau ilmu manusia sesat ini.. teriak bujang galadia sambil memutar mutar tongkatnya..


Dua pusaaran angin bertemu di tengah tengah..


Brum...


Brak..


Dwar .. krak..


pohon pohon hancur berantakan.. tanah yang semuala rata, kini terlihat seperti digali tangan raksasa, sehingga tercipta sebuah lubag sebesar kubangan kerbau.. dua ilmu dengan tenaga dalam tinggi di mainkan orang orang sakti menghancurkan semuanya.. kabut hitam menyelimuti arena pertarungan.. gelap.


Beberapa saat suasana nampak sepi..


Dua tubuh terkaapar berjauhan.. sari mulut pendekar kobra merah meleleh darah hitam.. sementara tubuh manusiap Pembawa  Bencana Terselip di cabang pohon... ach.. mulut serta hidungnya juga mengeluarkan darah hitam..


Pendekar Kobra Merah  berinsut duduk, untuk memulihkan tenaga melalui semedi.. semntara lawannya mulai mengherakkan tubuh untuk melepaskan diri dari Pohon..


hoek.. darah terus mengalir dari mulut dan hiduhng pendekar kobra merah... hingga ia merasa ajalnya mungkin sudah dekat...


tiba tiba di telinganya terngiang suara pendekar Kobra emas Dari jauh .


amarah awal kehancuran. tongkat ditangan adalah pelurus masa depan, salah langkah nyawa taruhan.. ingat itu cucuku.. hancurkan yang tersembunyi.. induknya akan mati.. jangan lupa pisahkan kelapa dengan sabut. agar ia tak tumbuh


kakek.. seru Bujang... tak ada jawaban.. sepi..


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2