
Tanah masih baru, bunga mawar belum layu, satu persatu para pengantar jenazah sumi dan sang ibu pulang menuju rumah masing masing, kini yang tampak hanya mudawar bersama anak laki laki satu satunya di pusara itu.. keduanya belum berhenti menangis .
Tanpa mereka sadari, daru balik rimbunnya pohon sepasang mata tengah mengamati mereka..
Sepasang mata kanak kanak itu masih saja mengamati, sambil bertanya tanya... siapa yang sampai se malam ini masih berani di pusara.. sambil bertangisan pula..
Dengan hati hati, remaja tanggung berpakaian hitam, dengan ikat kepala hijau itu mendekati mereka.. ditangannya tergenggam sebuah tongkat bewarna emas.. kepala tongkat itu di hiasi ukiran seekor cobra yang menjulurkan lidah..
Pak.... om... ini kuburan siapa..??? Tanya Remaja itu yang kiranya adalah Pendekar Kobra Merah, dengan bahasa sopan..
Bagai di sengat helilintar, kedua orang itu terkejut.. setan... kau pasti setan kuburan... kata mereka seperti orang limbung..
Bukan pak.. aku bukan setan.. aku manusia biasa... masak setan ada yang keren seperti aku pak... kata si pemuda sambil tersenyum..
Kau yang memperkosa adikku kan teriak si pemuda yang tak lain mudawarsyah sambil mencabut golok yang terselip di pinggang..!
Pemerkosa..??
Apa .maksudmu bang..??
Setan jangan kau pura pura... teriaknya, sambil mengayunkan golok ke arah Pendekar kobra Merah, alias Bujang Galadia..
Dengan tangkas Bujang mengelak.. hingga golok lewat sejengkal dari kepalanya.. mudawarsyah penasaran.. golok terus di ayunkan kian kemari tak tentu arah.. hingga bujang dapat menilai.. kalau pemuda ini tidak memiliki dasar silat apapun...
Tunggu.........bemtak bujang dengan sedikit mengarahkan tenaga dalam...
Mudawarsyah yang tak memiliki isi apa apa terkejut, sedangkan ayahnya sampai ternganga di hadapan pusara anak serta istrinya, bagi mereka berdua, suara bujang tak ubah seperti gelegar halilintar di tengah hari...
Maaf abg dan bapak... saya adalah Bujang Galadia, saya sampai disini karna dalam perjalanan ke kamping saya, telaga dewi.. dan ingat.. usia saya baru tigabelas tahun..tak mungkin saya melakukan apa yang kalian tuduhkan... kencing saja belum lurus.. katanya lagi..
Hati hati dengan golok bang,.. nanyi kamu terluka kata bujang sambil menunjuk ke arah Mudawarsyah..
Mudawarsyah yang tengah menganga kembali tersadar, tapi sebuah bayangan telah membuat goloknya berpindah tangan... rupanya pendekar kobra merah telah merampas golok dingannya..
Bangsat.. maki mudawarsyah..
Bang... coba pikir lagi denga jernih... aku baru sampai.. malah kau tuduh yang bukan bukan.
Sudah, aku pergi dulu.... golok mu.. pinjam dulu.. buat aku nyari kayu, karna malam ini dingin... Bujang galadia membalikkan tubuh.. hendak pergi dari hadapan mereka berdua..
Tunggu anak muda.. kata mudawar dengan lesu..
Ada apa pak.. aku tak mau dicincang anakmu kata bujang lagi..
Mudawarsyah.. tahan amarahmu.. kita berdua memang sedang berduka.. tapi kita harus mampu berpikir jernih pinta ayahnya..
Tapi ayah... kata mudawarsyah..
Sudah nak.. diam kau dulu..
Biar aku menanyai anak ini.. tegas Mudawar, hingha anaknya hanya diam seribu bahasa... tapi matanya masih merah... penasaran dipermalukan anak kecil..
anak muda.. siapa nama mu tadi tanya mudawar pada pendekar kobra merah..
Saya Bujang pak... guru saya memberi nama Bujang Galadia..
Kamu dari mana,..??
Emang kenapa pak..??
Maaf... tidak apa apa.. tapi kami sedang bersedih.. karna siang tadi anak saya dibunuh orang, istri saya juga baru meninggal... hu..hu hu... tangisnya...
Pak... Jodoh, rezeki, pertemuan, maut sudah di atur yang kuasa... nasehat bujang..
Ia nak.. tapi ini terlalu cepat kata mudawar lagi..
Kau tak merasakan apa yang kami rasakan kata Mudawrsyah dengan kasar..
Maaf bang.. abang salah... aku sudah tak memiliki ayah serta ibuku..bahkan itu berlangsung ketika aku baru beberapq waktu saat dilahirkan... tak sampai sepeminuman teh aku dipeluk ibu... sementara belum pernah kurasakan sentuhan ayahku..keduanya tewas di bantai Perambok.. desisnya..
Keda anak beranak itu terdiam.. tak bisa berkata kata.... sunyi..
Bujang kemudian, duduk di tempat yang agak lapang,...
Pak.. bang.. yang telah pergi.. tak kan kemabali... lebih baik pak.. kita sekarang memikirkan apa yang akan dilakukan kedepannya..
Ia dik.. seru mudawarsyah..
Ayah.. ayo kita pulang.... pibtanya lagi sambil membimbing tanngan si ayah..
Nak.. kata mudawar... karna sudah malam.. kau ikut kami saja... ayo.. pintanya pada bujang..
Aw..... tiba tiba mudawar terkejut.. ketika tangannya tak sengaja menyentuh tangan Bujang.. tangan bapak ini tersa seperti kesemutan..
Maa.. maaf pak.. kata bujang...
__ADS_1
Ti tidak apa apa nak...
Kalau boleh tau, siapa kau sebenarnya.. kau pasti berasal dari dunia Persilatan..
Ah.. aku bukan siapa siapa, bapapk panggil saja bujang...
Baik lah nak tanya lagi... tapi tak berani menyentuh bujang..
dari ujung jalan, mereka bertiga berjalan menuju rumah Mudawar, hanya beberapa saat mereka telah sampai.... Nagari itu terlihat sepi.. penduduk begitu takut keluar rumah semenjak kejadian siang tadi....
silahkan nak, masuk lah kata Mudawar pada bunjang.
mereka bertiga lantas memasuki rumah tersebut.. mudawar menyalakan lampu..
pak.. sebetulnya apa yang terjadi tqnya bujang memecah kesepian..
begini nak...
pagi tadi anak ku, tengah mencucu di sungai Masang... tempat kami semua biasa membersihkan diri.. tidak tahunya menurut teman teman sumi, anak kami.. mereka diserang seorang yang turun dari puncak beringin..
mereka semua dikejar.. tapi kqrna anak kami yang paling belakang... manusia biadab itu berhasil mendapatkan anak kami..
ketika semua kqmi datang, semua sudah terjadi, dan aku sempat pingsan.. ketika ku sadar.. istrikupun sudah tiada... sungguh malang.. semua berlalu karna waktu tak bisa kembali.. kata mudawarsyah bersyair..
Waktu...
Waktu berjalan cepat istriku
Bagai daun ditiup angin
Raib di telan hilang
kalian tinggalkan kami.. oh anak istriku
Waktu...
Sudah terlalu lama kita beku terpaku
Pucat di bawah kebersamaan
Kebersamaan yang perlahan hilang
apa hendak ku kata
Waktu...
Di bawah rasa sepi kita berteduh
Menunggu sang waktu menerkam
membalikkan keadaan
tanpa meninggalkan luka
Waktu...
anak istriku kita jauh melangkah
Bersama kita duduk di kotak yang bernama keluarga
Kita bermain bersama hujan kering, dedaunan layu
Waktu...
Masa bersama kita teramat indah
Semua warna bercampur menjadi bahagia
Bersama kita menari, mengukir sakinah, mawaddah wa rahmah
Waktu...
Sekarang kita adalah langit yang jauh
Hitam biru menjadi saksi
__ADS_1
Saksi bawa waktu tidak akan beku
kalian meninggalkan kami kesisi tuhan
selesai bersenandung, mudawar sesunggukan... bujqng dan mudawarsyah pun ikut terbuai dengan syair sang bapak yang begitu indah...
pak... kau dengarkanlah syaiku kata bujang pula..
silahkan nak.. kata mudawar..
Aku belajar dari sang rembulan
Yang selalu setia menyinari langit malam dengan cahayanya
Walau awan menyapa kelam
Walau bintang terlihat suram
Seperti aku yang mencintaimu dari balik kegelapan
Menjagamu di balik bayangan
Tersembunyi, tanpa pernah kau tau ibu bapak ku
Aku akan tetap menjagamu dalam bentangan sayapku
disertai doa doaku pada yang kuasa
Ku maknai arti cinta dalam renungan
Cinta bagiku adalah ketulusan
Mengihlaskan saat cintamu bukan lagi milikku
Dan melepaskanmu, saat kau tak lagi bahagia bersamaku.
karna ku yakin tuhan juga merindukan kalian.
semua larut dalam kesedihan.. hingga subuh menjelang, mereka sampai tertidur diruangan depan.. tak asa rasa lapar.. itulah persamaan nasib..
manusia hidup saling rasa, saling sapa, satu luka, semua merana..
bujang yang pertama bangun, terkejut mendengar ketukan pintu..
tok..tok tok..
pak Mudawar .. apa kalian dirumah... teriak seseorang dari luar...
pak.. pak .. bang.. bangun.. ada tamu kata bujang..
hm....ada apa Bujang kata musawarsyah...
ada tamu bang... dan hari sudah siang...
baiik.. aku akan buka pintu, kau dan bapak tunggu disini..
siapa.. teriak Mudawarsyah dari rumah..
tamu diluar menjawab... aku bang.. panji...
mudawarsyah membukan pintu,
tamu itu menjawab.. gak usah bang.. cuma mau mengabarkan bahwa Nilam hilang diculik semalam..
apa.... teriak musawarsyah...
paaaak... nilam diculik.. teriak mudawarsyah ke ayahnya.....
tenang.. kita dengarkan dulu penjelasan panji.. kata begitu sampai di depan pintu yang disusul Bujang..
begini pak, semalam.. nilam diculik oleh seseorang yang tak dikenal... orang itu terlihat mengenakan pakaian seperti yang diceritakan oleh kawan kawan Sumi..
hm....
pukul kentongan.. kita cari sama sama, kata mudawar seolah lupa kalau dia juga kemalangan..
baik pak.. seru panji sambil berlari..
kalian berdua, tutup pintu.. ikuti aku.. ke balai desa katanya pula pada mudawarsyah dan Bujang..
dengan bergeges mereka berdua mengikuti si bapak dari belakang menuju balai desa
__ADS_1
bersambung