
Happy Reading.
Katrine menatap bangunan mewah dihadapannya ini, bangunan yang tidak lebih mewah dari rumah yang dulu pernah hampir dia tempati ketika akan menikah dengan William. Meskipun rumah itu tidak lebih besar dari rumahnya yang akan diberikan William untuknya, tapi Katrine tetap saja merasa jika rumah William kali ini lebih mewah dan mahal.
Lagi-lagi Katrine hanya bisa meremat setir untuk menyalurkan kemarahannya. Dia begitu iri dan cemburu terhadap wanita yang menjadi istri dari William yang sekarang.
"Aku harus mengingatkan mu siapa yang pantas untuk menjadi pendamping seorang William Atmaja!" Gumam wanita itu.
Akhirnya setelah berdiam dua puluh menit lamanya di dalam mobil, Katrine membuka pintu dan turun dari sana. Wanita itu sudah bertekad akan menyingkirkan istri pengganti William.
"Maaf Pak, saya temannya Ibu Hanum, bisa saya bertemu dengan beliau?" Tanya Katrine sopan kepada satpam rumah itu.
Katrine memang menyelidiki total tentang William dan istrinya, di mana mereka tinggal dan siapa nama istri dari William.
"Oh, baik Bu, silahkan masuk, Bu Hanum ada di dalam," jawab Satpam itu membuka gerbang tanpa curiga sama sekali.
"Terima kasih," Akhirnya Katrine masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya masuk ke dalam rumah Hanum. Ya, benar rumah itu adalah milik Hanum bukan.
Katrine turun dari dalam mobil dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Ada beberapa tanaman bunga di halaman yang cukup luar itu, semuanya tertata apik. Lagi-lagi rasa iri merasuki tubuh wanita cantik itu.
'Sebentar lagi rumah ini akan jadi milikku!'
Katrine berjalan ke arah pintu dan membunyikan bel yang ada di sana. Tidak lama setelah itu pintu terbuka dan menampilkan sosok wanita paruh baya yang melihatnya dengan tatapan terkejut.
"Siang Bik, aku mau ketemu sama Hanum, boleh masuk?" Tanya Katrine to the poin, mengacuhkan pandangan wanita paruh baya itu yang masih menatapnya dengan tatapan garang.
__ADS_1
"Maaf ya, Nyonya Hanum sedang istirahat dan tidak bisa diganggu!" Insting Bik Sum langsung bekerja. Bik Sum tidak suka Katrine muncul di depannya dan mencari Hanum.
"Oh ya? Apa sekarang kamu sudah berani sama aku? Dasar pembantu!" Katrine mendorong tubuh bik Sum yang sejak tadi menghalangi nya untuk masuk.
Bik Sum hampir saja jatuh, tapi untung saja masih bisa mengendalikan tubuhnya hingga bisa berdiri tegak kembali.
Katrine sudah berteriak memanggil nama Hanum dengan lantang.
"HANUM, HANUM!!"
Hanum yang baru saja menunaikan ibadah sholat Dzuhur terkejut mendengar seseorang memanggil nya dengan berteriak seperti itu.
"Siapa ya?" Karena penasaran, akhirnya Hanum segera keluar dari dalam kamar setelah mengambil hijab instannya dan menuruni tangga.
Mata Hanum membulat sempurna saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini. Wanita masa lalu suaminya mendatangi rumahnya, ada apa sebenarnya.
Bik Sum tidak bisa menolak perintah majikannya, meskipun hatinya begitu khawatir, tapi Bik Sum yakin jika Hanum pasti bisa mengatasi wanita ular itu.
"Hai, kamu istrinya William ya?" Katrine menatap Hanum dari atas sampai bawah dengan tatapan meremehkan.
"Silahkan duduk, kita bicara sambil duduk!" Hanum mengabaikan ucapan Katrine dan duduk di sofa di susul dengan Katrine yang tampak kesal karena melihat reaksi dari Hanum yang nampak tenang-tenang saja.
'Apakah dia tidak tahu kalau aku adalah kekasih William!'
"Ada apa kesini? Apa keperluan anda?" Tanya Hanum to the poin. Dia sudah menyiapkan diri jika hal ini terjadi. Sejak mengetahui kepulangan Katrine, Hanum memang sudah waspada.
__ADS_1
"Heh, apa kamu tahu siapa aku?" Tanya Katrine sinis.
"Tentu, siapa yang tidak tahu dan tidak mengenali wanita tidak malu seperti dirimu, Katrine!" Hanum tidak mau memanggil Katrine dengan embel-embel Mbak atau Kak meskipun usia Katrine jauh diatasnya.
"Brengsek! Beraninya kamu menghinaku!"
"Memang kenyataannya seperti itu!" Hanum tidak mau kalah.
Seorang William saja bisa dia hadapi, masa hanya wanita ular tidak punya urat malu saja dia tidak berani.
"Asal kamu tahu, kamu disini cuma sebagai pengganti ku untuk menikah dengan William, dan sekarang sebaiknya kamu kembali ke asalmu karena pemilik asli dari posisimu sudah kembali!"
Hanum mengepalkan kedua tangannya mendengar ocehan tidak berguna wanita itu.
"Kenapa kamu percaya diri sekali?" ujar Hanum tidak mau terpancing.
"Tentu saja, karena William sudah memaafkan ku dan mau kembali padaku!"
Hanum tercekat ketika mendengar itu, seperti ada sebuah tangan tak kasat mata yang meremas jantungnya. Dadanya terasa sesak, air matanya ingin mengalir tapi berusaha Hanum tahan.
"Kalau memang seperti itu, aku ingin Mas I'am sendiri yang bicara padaku!"
Katrine terkejut melihat Hanum yang sama sekali tidak terprovokasi.
'Sial, ternyata gadis ini kuat juga!'
__ADS_1
Bersambung.