
Happy Reading.
Bik Sum berlari ke kamarnya untuk mencari ponselnya. Dia harus memberitahu Tuan-nya kalau Katrine datang ke rumah. Bik Sum tidak bisa diam saja karena dia harus menyelamatkan majikannya dari ular berbisa seperti Katrine.
"Ya Allah, mana ponselku!" Bi Sum kelabakan mencari ponselnya yang entah di taruh di mana. Bik Sum lupa, maklum sudah tua. Tapi kalau masalah gawean rumah dia pasti selalu ingat.
"Kok nggak ada sih!" wanita paruh baya itu membuka lemari pakaian, laci meja rias dan akhirnya menatap kasur dan matanya meneliti.
"Ah, ini dia!" Bik Sum melihat ponselnya yang ternyata ada di bawah bantal. Dia harus segera menghubungi Tuan William dan menyuruhnya pulang.
Buk Sum membuka layar ponsel dan segera mencari nomor kontak Tuan William. Tangannya terasa bergetar saat memegang ponsel, Bik Sum merasa ketakutan. Takut kalau nanti ada perkelahian antara mantan kekasih dan istri dari tuannya itu.
Saat mendial nomor kontak William, tiba-tiba tidak ada jaringan sambungan.
"Ya Allah!! ini kenapa malah habis paket data-nya!! mana gak ada Wi-Fi di rumah ini, belum dipasang!"
Rumah baru William memang belum sempat pasang Wi-Fi. Terbilang baru seminggu mereka menempati rumah ini.
Bik Sum malah mondar-mandir seperti setrikaan, dia bingung bagaimana caranya mengadukan masalah ini pada Tuannya itu.
"Mudah-mudahan tidak akan ada perang dunia antara istri sah dan mantan calon istri, Aamiin!"
Sedangkan di sisi lain.
Katrine kesal karena Hanum tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapannya, bahkan wanita itu mendelik ke arahnya sekarang. Padahal Katrine mengira jika Hanum akan takut padanya dan terintimidasi. Huh, dia salam mengambil lawan.
__ADS_1
"Aku mau Mas I'am sendiri yang mengatakan jika dia mau balik ke kamu dan milih kamu, maka aku akan undur diri dan pergi dari sini!" seru Hanum masih tidak takut.
"Oke, aku akan buktikan padamu jika memang William menginginkan kembali padaku, dan kamu seharusnya sadar diri jika kamu itu hanya pengganti dan aku adalah yang asli!"
"Tapi yang asli malah kabur dan akhirnya digantikan oleh orang yang tepat, pengecut!" Katrine mengepalkan tangannya melihat Hanum yang semakin menantang diri.
Padahal dia yang ingin membuat Hanum kesal tapi kenapa sekarang malah dia yang terpancing dan kesal setengah mati.
"Sialan, asal kamu tahu ya, aku sudah tidur sama William berkali-kali sejak kami pacaran, jadi aku yakin William tidak akan bisa melupakan aku begitu saja, dan lihatlah aku akan membuat William menceraikan mu sebentar lagi!" tunjuk Katrine ke arah Hanum, dia tersenyum sinis kemudian berbalik pergi dari rumah itu.
Hanum sejak tadi menahan diri untuk tidak menjambak, menampilkan atau bahkan menangis seperti sekarang ini. Tubuhku merosot ke lantai sambil memegangi dadanya yang terasa sesak.
'Ya Allah, astaghfirullah! astaghfirullah!' Hanum melafalkan istighfar dalam hati. Sungguh dia hampir tidak kuat dalam menghadapi orang seperti Katrine.
"Non Hanum!! Non baik-baik saja kan?" Bik Sum berlari melihat majikannya yang terduduk di lantai. "Ayo Non, bangun!" Bik Sum membantu Hanum duduk di sofa dan segera memberikan jus jeruk yang tadi dia bawa.
Hanum menggeleng, "nggak usah Bik, kemarin dia juga sudah mendatangi Mas I'am di kantor, tapi mas I'am diam aja nggak ngomong apa-apa sama aku, Bik. Jadi biarin aja aku nggak akan ngomong apa-apa, sama seperti mas I'am yang nggak mau cerita sama aku soal kedatangan Katrine kemarin, rasanya sakit Bik kalau tau Mas I'am nggak mau cerita jujur, aku takut kalau ternyata memang mas I'am masih menginginkan Katrine, aku harus gimana bik?"
Bik Sum yang melihat Hanum merasa kasihan. Bik Sum tahu bagaimana perjalanan kisah cinta William dan Katrine yang memang sejak dulu selalu membuat orang iri. Keduanya sangat romantis dan serasi, bahkan tidak akan pernah ada yang menyangka jika William akan ditinggalkan begitu saja oleh Katrine saat tahu jika pria itu lumpuh.
Tapi karena hal itu jadi membuka mata semua orang jika Katrine bukanlah wanita sebaik yang mereka kira seperti selama ini.
"Non Hanum yang sabar ya, Bibik yakin kok jika Tuan William itu bukan pria yang seperti itu, Tuan juga tidak akan kembali sama wanita yang pernah membuat nya terluka, apalagi sekarang Tuan terlihat sayang sama Non,, Bibik yakin kalau apa yang di katakan oleh Non Katrine itu tidak benar, non tenang saja, ya?"
Hanum hanya bisa menunduk lesu, mengusap air matanya yang mengalir tiba-tiba, sungguh dia tidak siap dengan semua ini. Hanum juga tidak pernah berpikir jika Katrine akan kembali.
__ADS_1
"Bik, aku mau kembali ke kamar dulu, Bibik nggak usah cerita apa-apa sama mas I'am, biar aku saja nanti yang kasih tau sama dia," ujar Hanum.
Sebenarnya Bik Sum tidak mau mengiyakan permintaan Hanum, dia bakalan cerita pada William kalau Majikannya itu sudah pulang. Tapi Bik Sum terpaksa mengangguk agar Hanum lega.
"Terima kasih ya Bik, aku ke atas dulu," Hanum beranjak dari duduknya, dia ingin menenangkan diri dan tidak mau bertemu siapapun dulu sampai suaminya datang. Hanum ingin mengadukan semuanya pada sang Khaliq agar diberi ketenangan dalam hatinya.
Bik Sum melihat punggung Hanum yang sudah menjauh naik ke lantai atas. "Ya Allah non, kamu wanita yang baik, semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan dan pernikahan yang sakinah, mawadah, warahmah Amin!"
****
Rion sejak tadi curi-curi pandang ke arah William yang masih sibuk dengan pekerjaannya, Rion di tugaskan untuk menggantikan Umar karena beberapa hari ke depan.
Sebenarnya Rion ingin sekali mengatakan pada Atasannya itu jika kemarin Hanum sempat melihat Katrine keluar dari dalam ruangan William. Tapi sepertinya keduanya tidak ada masalah, jadi Rion berpikir mungkin William sudah menceritakan tentang kedatangan Katrine kepada istrinya.
"Rion, nanti sore ikut aku meninjau proyek ini, buat laporan pada mandornya karena ada sedikit kendala di lapangan," ujar William.
"Baik Tuan," jawab Rion.
Selama sore itu William tidak mengabari Hanum karena banyaknya pekerjaan yang harus dia selesaikan seperti meninjau proyek pembangunan yang terjadi kendala.
William hanya mengirimkan pesan pada sang istri saat makan siang tadi, itupun belum dibalas isterinya.
Mungkin sibuk. Pikir William.
Pekerjaan yang banyak membuat William dan Hanum jadi jarang berkomunikasi, padahal saat ini hubungan mereka belum benar-benar dikatakannya sempurna karena sama-sama belum memberikan haknya.
__ADS_1
Bersambung.