
Happy Reading.
Setelah acara mesra-mesraan habis subuh tadi, Hanum langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan. Karena William baru ingat jika nanti akan ada rapat pagi. Dia terpaksa menunda kemesraan bersama sang istri dan harus segera bersiap diri menuju kantor.
Hanum sudah menyiapkan masakan untuk sarapan sang suami, kini William sudah terbiasa makan dengan sayur dan lauk yang sehat. Jika dulu William lebih suka sarapan hanya dengan roti tawar dan susu tapi semenjak ada Hanum, William selalu makan makanan yang sehat.
"Maaf ya Hanum, mas terburu-buru, jadi nggak bisa makan banyak," ujar William saat Hanum akan menuangkan nasi yang sedikit banyak.
"Nggak apa-apa mas, yang penting mas sarapan," jawab Hanum kemudian mengambil sayur oseng kangkung saus tiram yang tadi dia masak.
Setelah sarapan akhirnya William berangkat dengan tergesa-gesa, entah kenapa Hanum merasa perasaannya tidak enak. Kenapa sekarang Hanum jadi curigaan.
'Astagfirullah!'
Bukan maksud su'udzon, tapi tadi saat William mandi, Hanum melihat notifikasi pesan dari sebuah nomor yang tidak sengaja terbaca oleh Hanum mengatakan jika itu nomor Katrine. Ya, Hanum tahu jika William memang telah memblokir nomor wanita itu, tapi kenapa sekarang William tidak cerita jika Katrine sudah menghubunginya lagi. Apakah mereka sering bertemu diluar?
'Ya Allah, kenapa aku jadi seperti ini? Kenapa aku tidak bisa mempercayai suami ku sendiri?'
Mungkin juga karena waktu kedatangan Katrine dan William juga sama sekali tidak cerita, sehingga menimbulkan persepsi yang tidak-tidak.
"Non, kenapa, sakit? Kok sepertinya non Hanum pucat?" Tanya Bik Sum saat melihat majikannya itu memijit pelipisnya.
"Nggak kok Bik, sepertinya Hanum cuma butuh istirahat," jawab Hanum berusaha tersenyum.
"Ah, apa jangan-jangan non Hanum isi ya?"
"Isi apa Bik?"
__ADS_1
"Isi tuh, Hamil non, biasanya kalau hamil muda muda itu badan lemes, muntah-muntah dan wajah pucat seperti Non ini," Hanum merasa dadanya di hantam batu tak kasat mata.
Bagaimana dia bisa hamil, selama ini William belum menyentuhnya melebihi pelukan dan ciuman saja. Bahkan setelah Hanum bersih dari haid, William juga tidak kunjung menyentuhnya karena sibuk bekerja. Hanum tidak mungkin kan meminta, apalagi sekarang kondisi rumah tangganya seperti sedang rapuh karena kehadiran Katrine.
"Nggak kok Bik, aku baru saja selesai haid, nggak mungkin kalau aku lagi isi," Hanum tersenyum simpul.
Bik Sum mengelus lengan Hanum dengan tatapan iba, sungguh dia tidak tahu apa yang terjadi antara Hanum, William dan Katrine, tapi Bik Sum bisa melihat dengan jelas jika wanita didepan ini terlihat sedih dan kecewa.
"Bibik doakan semoga non Hanum kuat ya, pokoknya jangan menyerah, kalaupun terjadi apa-apa dengan rumah tangga Non harus kuat, Bibik juga hanya bisa mendoakan saja, semoga Gusti Allah selalu memberikan kebahagiaan pada Non Hanum," ujar Bik Sum berkaca-kaca.
Hanum juga ikut menitikkan air matanya, sungguh hatinya sebenarnya tidak siap jika dia harus merelakan William kembali bersama Katrine, tapi kalau semua sudah menjadi takdir, Hanum bisa apa. Yang penting dia sudah berusaha dan mencoba agar suaminya selalu menatapnya tanpa menoleh kembali ke belakang.
****
Sore itu William pulang dari kantor, dia tidak lembur hari ini. Entah kenapa dia begitu merindukan istrinya, William juga ingin mengungkapkan semua perasaannya meskipun sejak beberapa hari yang lalu dia sudah dibuat oleng oleh kehadiran Katrine. Ya, wanita itu selalu menggangunya dengan datang ke kantor maupun dengan telepon dan pesan terus menerus. Untung saja William selalu tidak ada dikantor saat Katrine datang dan dia juga tidak pernah mengangkat panggilan dari Katrine.
Entah itu dengan nomor yang mana, karena setiap hari ada saja nomor asing yang menghubungi nya. William tidak akan mengangkat jika itu bukan nama yang penuh karena kalau itu panggilan dari kliennya, Umar atau Dion yang pasti dihubungi oleh mereka.
Sebuah panggilan masuk dari sang istri, William langsung mengangkatnya karena sejak kemarin komunikasi antara dirinya dan Hanum sepertinya sedikit kurang baik.
"Assalamualaikum, Num?"
"Wa'alaikumsalam, mas aku mau minta izin, mau pergi ke toko buku sebentar, aku jenuh mas dirumah, nggak ngapa-ngapain."
William terkekeh mendengar ucapan istrinya itu.
"Iya, nggak apa-apa, kamu di antar Ari?"
__ADS_1
"Nggak mas, Pak Ari sepertinya nggak ada, aku naik taksi online aja, ini udah pesan kok."
William akhirnya mengizinkan Hanum pergi keluar sendiri, Ari biasanya standby di rumah utama sang Papa. Dan Hanum memang sangat jarang keluar rumah, jadi William belum menyiapkan sopir pribadi untuk istrinya.
Sedangkan disisi lain.
Hanum akhirnya sampai di toko buku yang letaknya sedikit jauh dari rumahnya. Sebenarnya dia memang sengaja pergi ke tempat itu karena juga akan bertemu dengan seseorang.
Orang itu adalah Katrine, wanita itu meneror nya dan menginginkan Hanum segera pergi dari kehidupan William karena dia sudah kembali. Bahkan Katrine mengatakan jika dia baru saja bersenang-senang dengan William saat William bekerja dikantor.
Ingin sekali Hanum tidak percaya, tapi ketika pernah melihat Katrine keluar dari dalam ruang kerja suaminya, entah kenapa hal itu membuat Hanum percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Katrine.
"Hai, maaf lama!" Ujar Katrine yang langsung duduk di salah satu kursi yang ada di samping toko buku.
Hanum menatap tajam wanita itu dan dia tidak akan pernah takut untuk menghadapinya.
"Sebenarnya apa sih mau mu, Katrine!"
"Bukankah kamu sudah tahu jawabannya? Aku ingin kamu pergi dari kehidupan William, karena aku sudah kembali, kamu harus ingat dan tahu diri jika kamu itu hanya pengganti yang diambil keluarga Atmaja karena Paman mu memiliki banyak hutang terhadap keluarga William!" Hanum tersentak mendengar ucapan Katrine.
Kenapa wanita itu bisa tahu semuanya, dari dia yang dipaksa menikah dengan Tuan muda dari keluarga Atmaja karena untuk menebus hutang.
"Dari mana kamu tahu?" Geram Hanum, kedua tangannya sudah terkepal erat. Ingin sekali rasanya dia menampar mulut wanita itu.
"Heh, memangnya dari siapa lagi, tentu saja dari William, bukankah hal ini adalah rahasia besar keluarga Atmaja yang tidak sembarangan orang tahu?" Hanum melototkan matanya tidak percaya dengan apa yang dia dengar dari Katrine.
Tapi memang benar jika itu adalah rahasia yang tidak akan diungkap ke publik, lalu benarkah Katrine tahu semuanya dari William?
__ADS_1
Tidak, ini tidak mungkin? Mas I'am tidak mungkin cerita pada Katrine tentang hal ini!!
Bersambung.