Pengantin Pengganti Tuan Lumpuh

Pengantin Pengganti Tuan Lumpuh
Bab Dua Puluh Lima


__ADS_3

Happy Reading.


William sudah sampai di rumah, dia keluar dari dalam mobil setelah Rion membukakan pintunya. Istrinya tidak ada dirumah karena tadi berpamitan pergi. Mungkin Hanum pikir William akan lembur lagi seperti biasanya. Salah William juga kenapa tidak mengabari sang istri kalau akan pulang cepat. Alhasil Hanum pamit pergi dan William tidak bisa melarang.


William berjalan masuk ke dalam rumah dan disambut antusias oleh Bik Sum. Wanita paruh baya itu menatap majikannya dengan rasa haru dan sedih.


"Ya Allah den,, Bik Sum tunggu-tunggu kehadiran Den Willy, Bibik mau cerita den, gawat darurat ini!" Seru Bik Sum.


William mengerutkan keningnya, "cerita apa Bik?"


Bik Sum mengambil nafas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan, menyuruh William untuk duduk dulu.


"Gini Den, ini masalah tentang Non Hanum dan Non Katrine!" William terkejut mendengar ucapan Bik Sum.


"Bik, ada masalah apa!" tanya William dalam mode serius. Wajahnya sudah nampak menegang.


"Anu Den, kemarin Non Katrine datang ke rumah dan nyari Non Hanum!"


Deg!


"Apa Bik? Katrine datang kesini?" Bik Sum mengangguk takut.


William mengeraskan rahangnya, Katrine ternyata sudah bermain sejauh itu. Sepertinya dia harus memberikan pelajaran untuk wanita yang pernah menjadi masa lalunya itu.


"Kenapa Bibik nggak cerita?"


"Anu Den, kemarin Bibik udah mau telepon Den Willy, tapi kuota Bibik habis dan Non Hanum bilang ke Bibik nggak boleh cerita sama Den Willy, padahal niatnya Bibik mau langsung cerita kalau Aden udah pulang," Bik Sum menunduk takut.


"Astaga!" William mengusap wajahnya kasar. "Bik Sum tahu apa yang dibicarakan Katrine?"

__ADS_1


"Bibik cuma sempat dengar Non Katrine bilang jika Non Hanum harus pergi karena dia telah kembali, gitu den, tapi Non Hanum malah nantang, Non Hanum tidak percaya jika Aden mau kembali sama Non Katrine," lirih Bik Sum ketakutan. Apalagi dia melihat wajah majikannya yang sudah memerah.


"Sekarang Hanum pergi kemana Bik?" William harus segera bertemu dengan sang istri untuk menjelaskan segalanya. Dia bahkan langsung mengambil ponsel dan menelepon isterinya. Tapi tidak ada tanggapan.


William takut, takut kalau dia ditinggalkan lagi. William sudah benar-benar terpaut hatinya dengan Hanum. Dia tidak bisa kehilangan orang yang dicintainya lagi.


"Tadi pamitan ke toko buku den, tapi ...!" Belum selesai Bik Sum berucap, William sudah pergi keluar dan meminta Umar untuk mencari toko buku dimana Hanum berada melalui GPS yang ada di ponsel Hanum.


William benar-benar tidak percaya dengan tindakan Katrine yang ternyata telah melangkah lebih jauh. Padahal sebenarnya dia telah merencanakan sesuatu untuk membuat wanita itu jera.


"Rion, masih jauh tidak? Cepat sedikit!" Seru William tidak sabar.


"Lumayan tuan, sekitar 10 menit lagi," jawab Rion.


William mencoba menghubungi ponsel Hanum kembali, tetapi ternyata sudah tidak aktif. "Hanum! Kamu kenapa mematikan ponsel!!" William menggeram frustrasi.


Rion bisa melihat kekalutan atasannya itu. Dia merasa ada hal yang terjadi antara William dan Hanum, tapi Rion juga tidak berani menanyakan hal apa.


Ah, sepertinya dugaan Rion benar, jika atasannya itu tidak mengetahui jika istrinya tahu tentang kedatangan Katrine.


"Iya tuan, Nona Hanum sempat melihat Nona Katrine keluar dari dalam ruangan anda, tapi Nona Katrine tidak melihat karena Nona Hanum bersembunyi tuan," jawab Rion.


William menarik rambutnya ke belakang, dia lakukan berkali-kali karena gelisah dan khawatir, perasaan nya sungguh tidak enak, ternyata Hanum sudah tahu jika Katrine sudah kembali. Tapi kenapa istrinya itu tidak cerita padanya?


Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa Hanum diam saja. Seharusnya Hanum bercerita padanya agar semuanya jelas dan katrine tidak seenaknya saja masuk ke dalam rumahnya untuk mengusik sang istri.


"Tuan, sudah sampai," William melihat ke arah bangunan toko buku yang didatangi Hanum, dari GPS yang tadi ada di ponsel Hanum memang mengarah ke tempat ini.


Rion turun dari mobil dan langsung membukakan pintu untuk William. Atasan itu langsung keluar dan berjalan cepat menuju ke pintu masuk toko buku.

__ADS_1


Hanum yang saat itu baru saja dari kamar mandi setelah berusaha mengendalikan dirinya agar tidak menjambak rambut Katrine yang bergelombang itu, dia memutuskan untuk langsung pulang. Tadi dia meninggalkan Katrine begitu saja setelah mendengar ocehan wanita itu yang begitu menyakitkan hatinya.


Hanum langsung ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya agar tidak kelihatan akan menangis, mau jadi apa nanti kalau sampai Katrine tahu kalau dia menangis karena terprovokasi ucapannya, yang ada Katrine akan besar kepala karena berhasil menjatuhkan harga diri Hanum


Jujur Hanum tidak kuat, meskipun semua belum tentu benar, tapi menurut Hanum apa yang dikatakan oleh Katrine sedikit masuk akal. Meskipun begitu Hanum tetap akan meminta penjelasan dari suaminya.


Jika William memang ingin kembali pada Katrine, bisa kan dibicarakan baik-baik. Hanum nggak akan marah kok meskipun tentu saja kecewa. Jangan dengan main rahasia dibelakangnya seperti ini.


Hanum bukan wanita sempurna yang akan siap menerima berita besar yang berpotensi akan menyakiti hatinya. Seperti saat ini, Hanum keluar dari toko buku dan matanya melihat pemandangan yang membuat hatinya begitu sakit.


"Mas I'am," Hanum menutup mulutnya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.


Dia melihat Katrine dan William berpelukan di tempat umum. Lebih tepatnya katrine yang memeluk. Rasanya dadanya seperti ditikam belati tajam. William melihat istrinya yang berlari ke arah barat, pria langsung mendorong tubuh Katrine dengan kuat hingga membuat tubuh Katrine terjatuh ke tanah karena limbung saking kuatnya dorongan William.


"Hanum!!" William berusaha berlari mengejar istrinya yang pasti sudah salah paham itu.


Tapi Hanum sudah berhasil menghentikan taksi dan masuk ke dalam. William yang keadaan kakinya belum bisa berlari cepat akhirnya tidak bisa mengejar Hanum.


"Hanum! Hanum! Aarrggkkk! Sial!! Semua ini gara-gara kamu wanita murahan!" William mendatangi Katrine dan menampar pipi wanita itu. Seumur-umur William bersama Katrine, baru kali ini dia melakukan kekerasan fisik terhadap wanita tersebut.


"Will!" Katrine memegang pipinya yang terasa panas dan perih. Dia tidak menyangka jika William akan melakukan hal ini padanya.


"Rion, kejar taksi itu!" William masuk kedalam mobilnya dan Rion langsung menancap gas.


William berkali-kali menjambak rambutnya karena keadaan yang semakin memanas.


"Kejar istriku Rion!! Aku harus menjelaskan semuanya padanya!!" Seru William.


"Baik Tuan!" Rion semakin mempercepat laju mobilnya. Dia tahu sekali bagaimana keadaan Tuan-nya itu. Hanum juga pasti salah paham dengan melihat kejadian yang sangat tiba-tiba itu.

__ADS_1


'Kenapa jadi seperti di film-film drama?' batin Rion.


Bersambung.


__ADS_2