Pengantin Pengganti Tuan Lumpuh

Pengantin Pengganti Tuan Lumpuh
Bab Dua Puluh Enam


__ADS_3

Happy Reading.


Sebelumnya.


Katrine merasa jengkel dengan Hanum yang tidak terprovokasi sama sekali dengan cerita karangannya. Bahkan Hanum meninggalkan begitu saja entah kemana, yang jelas wanita itu ternyata benar-benar tidak mudah dipengaruhi.


Tapi Katrine tetap tidak akan tinggal diam, dia akan membuat rumah tangga William dan Hanum menjadi berantakan. Katrine tidak suka melihat William yang sekarang bahagia. Padahal dirinya begitu terpuruk saat ini.


Pada saat akan pergi dari tempat itu, tiba-tiba mata Katrine melihat sosok yang sejak tadi memenuhi pikirannya. Keluar dari sebuah mobil mewah dan berjalan menuju toko buku itu. Sosok yang sudah berhari-hari tidak pernah mau menemuinya atau bahkan membalas pesan dan mengangkat panggilannya.


Ya, Dia adalah William. Setelah tidak menjadi miliknya pria itu nampak semakin tampan dan mempesona. Hal itu pula yang membuat Katrine menginginkan William kembali ke pelukannya.


"Will, Kamu tidak akan pernah bisa lepas lagi dari genggamanku! Mungkin dulu aku telah salah besar dengan melepaskan mu begitu saja, meninggalkanmu dalam keadaan terpuruk karena aku begitu takut dan tidak akan bisa mengurus mu, tapi tenang saja setelah ini aku pasti akan mengeluarkan seluruh tenagaku untuk mengurus dirimu, honey!" Gumam wanita itu.


Katrine berjalan ke arah William, yang sebenarnya juga sedang berjalan ke arahnya. Namun William tidak menyadari adanya Katrine di depannya.


William yang sedang terburu-buru untuk mencari keberadaan Hanum begitu terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang menubruk tubuhnya.


"Hon, aku kangen!"


William sadar siapa yang memeluk tubuhnya saat mendengar suara itu dan di saat itu pula dia mendengar suara Hanum yang memanggilnya.


"Hanum!!"


Katrine didorong oleh William begitu kuat sehingga dia tersungkur di tanah.


"Aawww!! Honey!!"


Katrine menatap William yang pergi mengejar wanita yang berstatus sebagai istrinya itu dengan tatapan sendu. Pria yang dulu selalu menatap ke arahnya kini benar-benar tidak mau berbalik menatapnya.


William memilih mengejar istrinya, wanita yang dijadikan pengganti dirinya. Katrine berusaha bangun dan membersihkan tubuhnya yang pasti kotor itu. Bahkan orang-orang hanya melihatnya tanpa mau membantu. Miris sekali nasib Katrine.


Pada saat dia sudah mampu berdiri seimbang, tiba-tiba William datang memakinya, bahkan sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.

__ADS_1


PLAK!


Sakit sekali rasanya ditampar oleh orang yang sangat dicintainya seperti ini.


"Will!" Gumam wanita itu tapi sama sekali tidak mempengaruhi William.


Pria itu sibuk berteriak kepada orang kepercayaannya dan pergi begitu saja meninggalkan Katrine.


"Aaagggrrrkk!"


Sedangkan di sisi lain.


Hanum tidak bisa menyembunyikan air matanya ketika berada di dalam taksi, gadis itu menangis sejadi jadinya dan mengeluarkan segala unek-unek yang ada di dalam hatinya yang sejak beberapa hari ini batinnya memang sudah terluka.


"Hiks! Tega ya kamu Mas, ternyata benar apa yang dikatakan oleh Katrine kalau selama ini kamu sudah kembali padanya. Kenapa nggak bilang sama aku yang sebenarnya kalau kalian telah balikan, aku siap kok untuk mundur!!! Aku siap menjadi janda di usia yang muda." Hanum memukul dadanya yang sesak.


Hanum tidak peduli jika dia sejak tadi menjadi tontonan untuk sang supir taksi.


Hanum yang merasa tidak enak akhirnya mengusap air mata yang masih mengalir di pipinya. "Maaf pak," cicit Hanum. "Antarkan saya ke ..." Hanum berpikir.


Dia tidak mungkin kan balik ke rumah Paman dan bibinya, kabarnya William mengatakan jika pamannya masuk ke penjara karena ketahuan mencuri dan juga di laporkan oleh William dengan tidak kejahatan yang lain. Seperti telah menggunakan harta Hanum dan dipakai untuk foya-foya.


"Ke jalan X ya pak," akhirnya hanya tempat itu yang Hanum ingat.


"Baik Mbak, jangan sedih lagi ya, semangat," Hanum tersenyum ketika supir taksi itu memberinya semangat dengan menggerakkan tangannya.


"Makasih Pak," jawab Hanum.


"Eh, neng,, sepertinya mobil di belakang itu mengikuti kita," ujar sopir itu ketika melihat spion ada sebuah mobil SUV warna hitam yang semakin mempercepat kecepatannya untuk mengejar.


Hanum pun refleks menoleh ke belakang, matanya membulat sempurna ketika dia melihat mobil yang sangat dia kenali sedang mengejar taksi yang ditumpanginya.


"Pak tolong lebih cepat sedikit dong, jangan sampai kita terkejar oleh mobil hitam itu," ujar Hanum.

__ADS_1


Saat ini dirinya memang tidak ingin bertemu dengan William setelah apa yang dia lihat tadi, Hanum ingin menenangkan diri dahulu sebelum dia nanti akan bicara kepada William.


Dia masih belum siap dengan segala hal kemungkinan yang akan diucapkan oleh suaminya itu. Hanum sebagai wanita yang menggantikan posisi Katrine untuk menjadi istrinya tentu harus siap dengan segala resiko yang akan terjadi nanti.


Bagaimanapun juga dia hanyalah seorang figuran yang ada di antara kisah dua protagonis utama yaitu William dan Katrine. Meskipun demikian Hanum terkadang menyesali semua kenangan indah yang telah terjalin bersama dengan William meskipun itu hanya sebentar saja.


Hanya terkejut ketika tiba-tiba mengerem mendadak. Untung saja sang sopir tidak terlambat menanjak pedal rem, karena mobil suami itu menghadang jalan taksi ini.


"Maaf Non, sepertinya kita berada dalam masalah, mobil yang mengejar kita tadi tiba-tiba menghadang," ujar sopir taksi itu panik.


"Tidak apa-apa Pak sebenarnya itu adalah mobil suami saya, kami sedang ada sedikit masalah," jawab Hanum tersenyum.


Kemudian dia membayar taksi itu karena tahu apa yang akan terjadi setelah ini. William pasti menginginkannya ikut bersama dirinya. "Terima kasih ya Pak atas tumpangannya saya akan pulang bersama suami saya," ujar Hanum.


William sudah terlihat mengetuk jendela kaca taksi itu, bahkan terdengar jika William berteriak memanggil namanya. Hanum menghirup nafas dalam dalam kemudian mengeluarkannya secara perlahan. Sepertinya kali ini dia juga harus menurut pergi bersama William, meskipun sejatinya dia sama sekali belum siap.


Hanum membuka pintu mobil taksi itu, dan dia bisa melihat wajah William yang terlihat frustasi.


"Hanum, tolong! Aku bisa jelaskan semuanya, sekarang kita pulang dulu ya?" Hanum mengangguk dan berjalan lebih dulu. Dia tidak akan mendebat suaminya.


William merasa begitu lega ketika melihat istrinya yang tidak melawan sama sekali, di Hanum juga mau mendengarkan penjelasannya. William sudah meminta salah satu anak buahnya untuk mengurus Katrine agar wanita itu tidak berani lagi mengusik kehidupan Hanum dan juga dirinya.


William mengikuti sang istri dan masuk ke dalam mobil setelah pintu dibukakan oleh Rion. Senyum lebar terbit di bibirnya, William begitu bahagia ketika Hanum menurut seperti ini.


Sedangkan Hanum sendiri hanya diam dengan keadaan wajah yang datar dan dingin. Dia ataupun sekedar menatap suaminya.


"Hanum ..."


"Dirumah saja mas ngomongnya!"


Bersambung.


William tuh bikin geram 😔

__ADS_1


__ADS_2