
Happy Reading.
"Omong kosong, apa aku sebodoh itu mau kembali dengan wanita yang pernah mencampakkan ku? Sayang, jangan pernah percaya omongan dia karena semua itu tidak benar, dia hanya ingin membuat mu goyah dan membenciku, karena aku tahu sifatnya yang tidak suka orang lain yang dibencinya lebih bahagia daripada dia."
Hanum terpaku dengan ucapan William, apa benar yang dikatakan oleh suaminya itu, jika Katrine berbohong?
"Kamu benar-benar sudah tidak mencintai Katrine lagi?" Tanya Hanum menatap mata hazel sang suami dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Tidak, aku sudah tidak mencintai dia lagi, karena hatiku telah berlabuh di hatimu, hatiku sepenuhnya sudah menjadi milikmu, Hanum," jawab William mantap.
Hanum masih menatap mata tegas itu, mencari kebohongan di dalam sana. Siapa tahu jika apa yang dikatakan William hanya sebuah dusta hanya untuk menutupi skandalnya dengan Katrine.
Namun, Hanum tidak mendapatkan kebohongan itu, tatapan William tegas menatapnya tanpa keraguan sama sekali. Hanum menghela nafas, meredam segala amarah yang tadi sempat bercokol dihatinya.
"Hanum, sekarang bagaimana perasaan mu padaku?" Tanya William. "Apakah kamu memiliki perasaan yang sama untukku? Apakah kamu juga mencintai ku? Apakah cintaku bersambut?"
William ingin memastikan perasaan istrinya itu, wanita yang sudah membuatnya jatuh cinta sedalam-dalamnya. Wanita yang berhasil membuatnya bangkit setelah hampir putus asa karena kelumpuhan yang menimpanya.
"Mas, sejujur aku sudah mencintai mu sejak lama, aku juga berharap jika kamu menyambut perasaan ku meskipun itu sangat mustahil. Tapi aku percaya jika Allah pasti akan mengabulkan doa hambanya yang bersungguh-sungguh," jawab Hanum disertai senyuman tulus di bibirnya.
Membuat hati William membuncah bahagia, ternyata istrinya itu juga mencintainya. Sungguh William tidak menyangka jika gadis seperti Hanum akan mencintai dengan cepat. Padahal selama awal-awal nikah William bahkan menganggap nya tidak pernah ada. William juga tahu jika Hanum diam-diam masih sering memperhatikannya ketika sedang menatap foto Katrine di ponsel.
Saat itu William tidak pernah dengan sengaja memamerkan pada Hanum jika dia masih menyimpan foto Katrine di ponsel. Hanya saja William menatap foto itu untuk mengeluarkan segala bentuk emosinya karena wanita itu telah meninggalkan nya. Mungkin ketepatan Hanum juga melibatkan tingkah dirinya yang terkesan seperti bucin itu.
Dan jangan tanya dimana foto itu sekarang? Sudah William hapus sejak sebelum dia bisa berjalan dengan normal lagi. Nama Hanum lebih mendominasi harinya sehingga bayang-bayang Katrine lenyap begitu saja.
William membawa Hanum ke dalam pelukannya, dia begitu bahagia dengan kejujuran sang istri. William berjanji akan memberikan banyak kebahagiaan untuk istrinya itu.
"Terima kasih, sayang. Terima kasih karena telah mencintai pria buruk seperti aku, ku harap kamu tidak akan pernah goyah meski akan ada badai di dalam rumah tangga kita nanti," ujar William.
__ADS_1
Pria itu menangkup wajah sang istri yang terlihat sayu dan sembab. Mengusap pipi chubby itu dengan ibu jarinya.
"Iya mas, insya Allah, kita lalui semua ini bersama," jawab Hanum yang langsung mendapatkan ciuman dari sang suami di bibirnya.
Mudah-mudahan masalah ini sudah selesai dan tidak akan ada masalah yang terlalu besar seperti kesalahpahaman ini.
"Aku janji akan mengatakan apapun padamu dan tidak akan menyembunyikan nya lagi, maafkan aku yang telah melakukannya, sayang?" Hanum tersipu malu saat William memanggil dengan kata-kata sayang.
"Mas ihh, udah aku malu ditatap terus seperti ini," Hanum memalingkan wajahnya ke arah lain, dia tidak siap ditatap seperti itu oleh suaminya.
"Kenapa harus malu? Tidak boleh malu karena kita adalah pasangan halal," ujar William lembut.
Tiba-tiba terdengar suara adzan Maghrib, memang sudah waktunya menunaikan ibadah tiga rakaat itu.
"Ayo kita sholat berjamaah, setelah itu kita melakukan ibadah yang lainnya," bisik William.
"Ibadah yang lainnya?" Tanya Hanum masih belum paham dengan ucapan sang suami ke arah mana.
"Mas ih,, udah ayo kita ambil wudhu!"
William terkekeh melihat reaksi istrinya yang wajahnya sudah seperti kepiting rebus.
Sementara di sisi lain.
"Lepas!" Teriak Katrine.
Dua orang berbadan besar menarik tangannya dan menjauhkan tubuh wanita itu dari pagar rumah William.
"Aku ingin bertemu dengan William!! Willy, Honey, aku ingin bicara!!" Katrine berteriak seperti orang kesetaraan.
__ADS_1
Bahkan dia tidak takut dengan beberapa anak buah William yang berjaga. Ari mengkode dua orangnya itu untuk menarik Katrine agar tidak mendekat. Mereka tidak peduli meskipun wanita itu berteriak.
"Jangan pernah muncul kembali di hadapan Nyonya dan Tuan kami, kalau kamu tidak mau skandal mu bersama walikota tersebar!" Ujar Ari dengan datar, Tapi mampu membuat Katrine bungkam.
'Sial, darimana dia tahu hubungan ku dengan walikota!' batin Katrine.
Wanita itu mengepalkan kedua tangannya, tentu saja skandal itu terjadi setelah dia meninggalkan William. Katrine memang sempat keluar negeri, tapi dia pernah kembali ke Indonesia dan bertemu dengan seorang pria yang membuatnya langsung jatuh hati.
Namun, pria itu sudah memiliki istri dan Katrine hanya dijadikan simpanan sebelum akhirnya ibu dari walikota itu tahu hubungan keduanya. Ibu sang walikota yang bernama Dika itu memintanya Katrine melepaskan putranya dan memberikannya sejumlah uang agar Katrine mau pergi atau sang ibu bisa memenjarakannya karena kasus perselingkuhan dan perzin*han.
Karena merasa usahanya menemui William akan sia-sia, akhirnya Katrine memilih pergi dari depan rumah itu. Setelah mengetahui berita jika William sudah sembuh memang membuat tekad Katrine untuk merebut William lebih kuat lagi.
Apalagi ternyata masih ada sisa cinta untuk pria itu. Dan Katrine yakin jika William juga masih mencintai nya.
'Aku akan merebut mu kembali karena kau adalah miliknya!'
Wanita itu masuk ke dalam mobil dan meluncur pergi ke sebuah tempat di mana dia akan bersenang-senang setelah sempat merasa marah dan kesal karena William dan Hanum.
Sementara Hanum dan William baru saja selesai sholat Maghrib berjamaah. Kemudian mereka memutuskan untuk makan malam bersama.
"Tadi sepertinya ada yang berteriak memanggil namamu mas?" Tanya Hanum disela makan malamnya.
"Sepertinya itu hanya wanita gila yang terobsesi padaku, jadi kamu jangan terkejut jika nanti-nanti akan ada kejadian seperti ini lagi, ya?"
"Tapi tadi suaranya seperti suara Katrine?" Tanya Hanum membuat William menghentikan kegiatannya menyuap nasi.
Pria itu terlihat menghela nafas, "iya, tadi itu memang wanita tersebut, dia masih berusaha untuk merusuh kita, tapi tadi sudah diurus oleh Ari," jawab William.
"Huh, kenapa dia begitu terobsesi padamu mas?"
__ADS_1
Bersambung.